Melukis dari Kemurnian Batin


Oleh : Wayan Sunarta

Dengan penuh pertimbangan matang, Made Budhiana kembali tampil berpameran tunggal, bertajuk “Melintas Cakrawala”. Pameran itu digelar di Maha Art Gallery, Sanur, Bali, sejak 26 Mei hingga berakhir baru-baru ini. Dia menyuguhkan 29 karya dari tahun 1983 hingga 2010, berbahan kertas dan kanvas berbagai ukuran. Pameran juga dirangkai dengan peluncuran buku biografinya, workshop drawing dan kolaborasi seni.

Memang, dia sangat jarang berpameran tunggal. Meski sangat produktif berkarya, dia sangat selektif menerima undangan pameran. Visi dan misi suatu pameran menjadi hal utama baginya. Jika sesuai dengan idealismenya, pameran bersama perupa-perupa “bau kencur” pun mau diikutinya.

Budhiana dikenal luas sebagai penekun aliran abstrak. Mengandalkan kekuatan guratan garis dan torehan warna yang memukau, yang lahir dari hasil perenungan mendalam terhadap alam dan kehidupan. Hal itu, misalnya, bisa dinikmati pada lukisannya yang berjudul “Tebing-Tebing Perjalanan” (2009). Dalam lukisan abstrak itu, terlihat kepiawaiannya memainkan gurat-gurat garis dan torehan-torehan warna yang mampu membawa apresian ke dalam renungan perihal kehidupan.

Kalau dicermati lebih jauh, Budhiana juga sering melukis figur atau membuat sketsa/drawing dengan memakai kawan-kawan dekatnya sebagai model. Misalnya, terlihat pada karyanya yang berjudul “Suwardi Membaca” (2001), “Termenung” (2003), “Bengong” (2003), “Made Sudana” (2009). Bagi Budhiana, model-model itu hanya sebagai pemantik inspirasinya saat melukis. Sebab kebanyakan hasil karyanya yang dibuat berdasarkan model tidaklah bersifat realis, melainkan hanya gurat-gurat garis menyerupai manusia. Budhiana berupaya menekankan pada pelukisan spirit dari modelnya, melukis jiwa manusia.

Ketika melakukan perjalanan ke alam bebas, dia juga suka melukis lanskap alam pantai dan pegunungan. Misalnya, terlihat pada karya “Orang Aborigin dan Alam” (1990), “Gelombang Pesinggahan” (1991), “Foggy Temple” (2001), “Jeritan Alam” (2007), “Suara-suara Alam” (2008), “Echo” (2009). Lukisan-lukisan lanskap ini dibuat dengan teknik abstraksi dengan alam sebagai sumber inspirasinya. Terkadang di beberapa lukisan lanskap menyembul juga figur-figur yang dibuat distorsif.

Bagi Budhiana, semua media dan bahan memiliki keunikan tersendiri dan sama menariknya. Dia suka merespon benda-benda temuan dengan guratan-guratan garis dan warna. Misalnya, sobekan koran bekas yang berisi ilustrasi/foto yang menarik perhatiannya, hasil sablon tak jadi, bongkahan kayu, triplek bekas, dan sebagainya. Begitu juga dengan bentuk dan ukuran karya tidak menjadi masalah baginya. Melukis di bidang kanvas ukuran besar sama asyiknya dengan melukis di kertas ukuran kartu pos dan kartu nama.

Budhiana berkeyakinan bahwa keindahan berserakan dimana-mana, termasuk di sekitar lingkungannya. Perlu kepekaan tersendiri untuk mewujudkan keindahan itu menjadi karya seni. Maka, tak mengherankan jika dia mampu menampilkan objek-objek remeh temeh menjadi karya-karya yang sublim. Ketika melukis pun, dia tidak terlalu peduli dengan gaya, aliran, atau metode standar seni rupa. Dia hanya berpedoman pada kebebasan imajinasi dan kemurnian jiwa. Namun karya-karyanya tetap memiliki ciri khas yang jelas, baik yang abstrak maupun yang figuratif. Semuanya khas sentuhan tangan Budhiana.

Budhiana lahir di Denpasar, 27 Maret 1959. Dia tamatan ISI Yogyakarta. Sejak 1989, dia telah lima kali tampil dalam pameran tunggal, antara lain di Sika Contemporary Art Gallery Ubud (2001), Ganesha Gallery, Jimbaran, Bali (1998), The Northern Territory Museum of Art and Sciences, Darwin, Australia (1989). Dia juga pernah mengikuti sejumlah pameran bersama di dalam dan luar negeri. Sejumlah penghargaan dalam bidang seni lukis telah pula diraihnya.

Kegemarannya menggauli alam beserta keindahan yang terkandung di dalamnya berpengaruh pada proses kreatifnya. Aroma garam pesisir pantai, sengat matahari tanah gersang, dingin halimun pegunungan, basah  hutan tropika, telah berkelindan dalam jiwanya. Kepolosan tatapan mata bocah pegunungan, gerak ringkih nenek yang menjunjung kayu bakar, keringat petani garam, tawa renyah gadis warung kopi, selalu mampu mengharukan jiwa dan membuatnya senantiasa rindu mengunjungi alam pedesaan.

Sejak kecil dia telah jatuh hati dengan alam pedesaan. Hampir setiap bulan dia menyempatkan diri mengunjungi pelosok-pelosok desa terpencil di Bali. Misalnya, dia pergi ke Desa Ban, sebuah sudut gersang di lereng Gunung Agung di Karangasem. Di desa terpencil itu dia menemani dan mengajari anak-anak desa melukis, dan yang terpenting lagi adalah membimbing anak-anak mengenali diri dan alam lingkungannya sendiri. Atau di lain waktu dia hanyut dalam kesibukan petani garam di Kusamba, Klungkung. Dia selalu membekali dirinya dengan kamera ketika bepergian. Dia suka memotret objek-objek menarik dan unik, yang suatu saat dituangkannya menjadi lukisan di kertas atau kanvasnya.

Pergi ke pelosok desa bukan hanya sekedar untuk mencari inspirasi dan melukis. Namun merupakan salah satu cara untuk membongkar sudut pandangnya terhadap alam dan kehidupan. Dengan kata lain belajar melihat alam dan kehidupan secara polos, tanpa pretensi apa-apa.  “Sudut pandang kita terhadap suatu hal mesti diperbarui terus agar batin kita semakin kaya dengan hal-hal yang beraneka ragam,” tutur Budhiana.

Alam dan kehidupan, bagi Budhiana, merupakan sumber inspirasi dan keindahan yang tiada pernah habis-habisnya. Keindahan terkandung dalam kebersahajaan atau kepolosan.

“Terkadang alam yang terlihat tenang pun sebenarnya mengandung gejolak yang tidak kita sadari. Itulah keunikan alam yang mesti dilihat secara esensial,” ujarnya.

Bagi Budhiana, menjadi seniman yang matang harus melewati proses alamiah yang lahir dari keinginan dalam diri sendiri. Yang terpenting lagi mesti ada kemerdekaan dalam berkarya. Dia melihat sekarang ini intervensi-intervensi berbagai kepentingan terlalu kuat merasuki dunia kesenian sehingga tanpa sadar seniman telah hanyut dalam arus besar yang bergejolak. Baginya, menjadi seniman adalah menolak menjadi mesin.

“Karya bagus hanya lahir dari pencapaian diri sendiri, dari kemurnian batin, bukan karena pengaruh pasar. Dunia seni rupa sekarang hanya ramai di permukaan dan lebih menonjolkan kemeriahan pasar. Banyak seniman tidak memiliki pijakan yang kuat sehingga mudah ikut arus trend yang sedang laris di pasaran,” ujarnya prihatin.

| Seni Rupa | Jul 9

8 Artikel Terakhir