- untuk: nike ardilla -
hujan belum tuntas menderas
ketika kau menyeruak tiba
dari kerumunan taman silam
dari tilas-tilas getas usia belia
kau masih seperti dulu
raut parasmu yang lugu
menyapaku dengan lagu pilu
nirwana macam apa
kau peram dalam muram matamu
cinta apa bergetar pada alur alismu,
yang serupa bayang samar sepasang camar
mengembara di hari terakhir,
di langit akhir
ketika kata dan cinta […]
- mengenang asia carera -
geletar pinggulmu merasuki malam pualam
dimana kematian sembunyi
dalam nyaman liang ular liar
pecundang itu tertatih mendaki licin bukitmu
berkali-kali terpeleset di jalan setapak
yang berliku dan menanjak
hingga terdampar pada hamparan lembah kelabu
dimana rumput alang-alang mengering
sebelum tiba musim semi
dalam garbamu yang gulita
aku nyalakan pelita
agar cahaya memberkati aksara
hingga sehelai puisi selesai
[…]
Jengki kolaborasi dengan koreografer Nyoman Sura, Sabtu 22 September 2007 di Togamas Denpasar.
Jengki bersama Rumi di Ubud, Oktober 2007
Cerpen: Wayan Sunarta
Maafkan orang dungu ini. Apa yang mesti kutulis? Kau berulangkali menyuruhku menulis. Tulis! Tulis! Tulislah! Aku muak dengan huruf-huruf yang memenuhi tubuhmu, dengan kata-kata yang beterbangan, melesat dari ubun-ubunmu, dengan frase-frase yang menggumpal-gumpal serupa muntahan yang keluar dari mulutmu. Aku muak dengan kalimat-kalimat kosong yang serupa tarian telanjang menipuku dengan birahi pura-puranya.
Tapi kau […]
Kumpulan Puisi “Impian Usai” (Kubu Sastra, Agustus 2007)
Wayan Sunarta baca puisi pada Festival Kesenian Yogyakarta 2007
(dari kanan: Umbu, Jengki, GPS) Minum Bir Bersama Umbu di emperan Circle K Denpasar, Minggu 18 November 2007, 00:20 wita.
kau masuki rimba penuh halimun
hingga bayang tubuhmu jadi nanar
menggigilkan cuaca di puncak takdir
sekilas pertemuan, seutas kenangan
meramu senja penghabisan
tapi usia belum usai melata
pada paras belia yang jelita
yang seindah bunga sakura
miyabi, mengapa mesti
kau luruhkan busana
hanya untuk ilusi
yang tak jenuh kau suguhkan
pada akhirnya hari akan tahu
dimana mesti berhenti
untuk tidak kembali
menjenguk masa lalu
(Karangasem, Bali, November […]
Cerpen: Wayan Sunarta
Setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya Putu Dauh berhasil menemukan jejak kuburan ayahnya. Ternyata kuburan tanpa nisan itu terletak tidak jauh dari desanya, berada di tengah hutan bambu di pinggiran desa.
Selama ini Dauh hanya mendapatkan informasi yang simpang siur perihal keberadaan kuburan ayahnya. Orang-orang yang ia tanya seakan kesulitan membuka mulut. Bahkan teman-teman terdekat ayahnya […]