Kuburan Ayah

Cerpen: Wayan Sunarta
Setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya Putu Dauh berhasil menemukan jejak kuburan ayahnya. Ternyata kuburan tanpa nisan itu terletak tidak jauh dari desanya, berada di tengah hutan bambu di pinggiran desa.

Selama ini Dauh hanya mendapatkan informasi yang simpang siur perihal keberadaan kuburan ayahnya. Orang-orang yang ia tanya seakan kesulitan membuka mulut. Bahkan teman-teman terdekat ayahnya yang masih hidup atau yang selamat dari peristiwa berdarah itu juga hanya bisa menduga-duga, seakan ada rahasia yang ditutup-tutupi. Ada yang bilang ayahnya dikubur di tepi pantai. Ada kabar mayat ayahnya dihanyutkan di laut. Ada pula yang mengatakan ayahnya tidak dikubur, melainkan langsung dibakar.

Karena bingung dengan informasi yang berlainan itu, Dauh menanyakan keberadaan ayahnya pada seorang balian sakti di desa tetangga. Berdasarkan petunjuk niskala, alam gaib, balian itu menyarankan agar Dauh tidak usah jauh-jauh mencari kuburan ayahnya, sebab ayahnya ditanam di dalam hutan bambu tidak jauh dari desanya. Dengan mata berlinang haru dan bahagia karena secercah harapan membentang di depannya, Dauh pulang ke rumah dan mengabarkan berita itu pada keluarganya.
Tanpa menunggu waktu lama, Dauh dibantu anggota keluarga yang lain menelisik hutan bambu yang berada di pinggiran desa itu. Dauh berusaha mencari informasi dari orang-orang tua yang ditemuinya kalau-kalau pernah mendengar peristiwa pembunuhan di hutan bambu tersebut. Lagi-lagi Dauh menemukan kebuntuan, sebab tidak satu pun informasi meyakinkan yang bisa dipakainya sebagai pedoman melacak kuburan ayahnya. Sampai akhirnya seorang tua renta yang tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan bambu menunjukkan sebuah arah yang tersembunyi di rerimbunan rumpun bambu. Orang tua aneh itu mengatakan ayah Dauh dikubur dalam satu lubang besar bersama orang-orang lain yang dianggap mengotori desa.

Kini Dauh telah menemukan lokasi kuburan ayahnya. Ia segera menggelar rapat keluarga untuk membicarakan upacara pengabenan ayahnya. Bagaimana pun juga ayahnya harus segera diaben sebagaimana layaknya manusia Bali yang beragama Hindu. Keluarga besar menyepakati upacara pengabenan akan digelar bulan depan sesuai hari baik menurut tradisi Bali. Sebelum upacara pengabenan dilaksanakan tentu kerangka ayahnya mesti segera diangkat dari liang kubur. Dauh akan berbicara di rapat adat mengenai rencananya itu, meski Dauh menyadari kesulitan yang akan dihadapinya.
Sebagaimana biasanya, rapat adat digelar di balai desa setiap akhir bulan untuk membicarakan berbagai permasalahan yang sedang terjadi, rencana dan usulan warga dan berbagai hal yang berkaitan dengan desa. Rapat tersebut dihadiri warga desa dan sejumlah pinisepuh desa. Sambil mengikuti jalannya rapat, Dauh menunggu kesempatan berbicara dan mengutarakan rencananya.
“Bapak Klian Adat dan warga desa yang saya hormati, saya telah menemukan kuburan ayah saya dan bulan depan keluarga kami akan menggelar pengabenan…” ujar Dauh mengagetkan warga yang hadir dalam rapat tersebut.
Warga saling berbisik satu sama lainnya. Pak Klian berusaha menenangkan warga.
“Maaf, Dauh, kami kurang mengerti dengan perkataanmu tadi. Tolong bisa lebih diperjelas,” kata Pak Klian pura-pura tidak tahu permasalahan yang sebenarnya.
Dauh berusaha menenangkan diri dan mengatur perkataannya.
“Saya atas nama keluarga memohon kebijaksanaan Pak Klian, pinisepuh dan warga desa agar diijinkan membongkar kuburan ayah saya yang berlokasi di dalam hutan bambu di pinggiran desa ini,” jelas Dauh setenang mungkin.
Warga desa terkesiap mendengar Dauh menyebut hutan bambu itu sebagai kuburan ayahnya.
“Dauh, dari mana kau tahu dan yakin bahwa kuburan ayahmu ada di dalam hutan bambu itu?!” sela Basur, salah sorang warga yang dikenal sebagai berandal desa, dengan emosi yang kurang terkendali.
Dauh memandang Basur dengan perasaan jijik dan muak. Dauh pernah mendapat informasi dari teman ayahnya yang selamat bahwa ayah Basur merupakan salah satu tukang jagal saat kejadian memilukan tersebut. Tapi Dauh belum mempunyai bukti-bukti kuat untuk menuduh ayah Basur sebagai pembunuh ayahnya.
Pak Klian menoleh ke arah Basur dan mengisyaratkan untuk tenang. Situasi rapat mulai menunjukkan tanda-tanda akan memanas.
“Teruskan penjelasan dan rencanamu, Dauh,” pinta Pak Klian.
“Tidak ada lagi yang perlu saya jelaskan. Saya hanya menyampaikan dan mohon ijin agar kami diperkenankan membongkar kuburan itu dan melaksanakan upacara pengabenan dalam waktu dekat ini.”
“Dauh, semua rencanamu itu akan diputuskan dalam rapat ini,” jawab Pak Klian pelan sambil memandang warga desa yang hadir dalam rapat tersebut.
Pak Klian memijit-mijit dagunya dengan kening berkerut. Pak Klian merasa rencana Dauh bisa mengancam keamanan dan ketertiban desa. Lagi pula kalau Dauh diijinkan membongkar kuburan massal itu tentu jabatannya sebagai klian akan terancam pula dan citra desanya akan tidak baik di mata pemerintah dan masyarakat luas. Tapi di sisi lain, menggelar upacara pengabenan merupakan hak warga desa dalam menjalankan agama dan sebagai salah satu bentuk bakti kepada leluhur. Pak Klian sendiri bingung untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat buat Dauh dan keluarganya.
Lama Pak Klian terdiam. Warga desa semakin ramai berbisik-bisik satu sama lainnya.
“Tolong tenang semua,” Pak Klian memandang warga dengan wajah gundah dan seperti mengharapkan pertolongan dari warga untuk mengambil sebuah keputusan. “Bagaimana menurut hadirin sekalian?”
Warga desa terdiam. Satu pun belum ada yang berani berkomentar. Takut salah atau disalahkan. Dauh juga terdiam, tapi matanya mulai memerah karena memendam luka, duka dan juga amarah.
“Pak Klian, ijinkan saya bicara, saya merasa tidak yakin kalau Dauh telah menemukan kuburan ayahnya. Sebab sepengetahuan saya di sana tidak ada kuburan, yang ada hanya hutan bambu yang dikeramatkan oleh desa. Tidak sembarang orang bisa memasuki hutan bambu itu. Tapi kalau mau, kita bisa buktikan bersama dengan membongkar apa yang diyakini Dauh sebagai kuburan ayahnya,” ujar Basur dengan tegas dan berani.
Serentak warga desa menoleh ke arah Basur. Beberapa warga manggut-manggut menyetujui pendapat Basur. Warga yang lain sinis mendengar sesumbar Basur, tapi tetap saja mereka tidak berani berkomentar.
“Kita tidak perlu buang-buang waktu membuktikan apakah di hutan bambu keramat itu ada kuburan atau tidak. Yang perlu kita pikirkan adalah apa keputusan kita jika memang benar Dauh telah menemukan kuburan ayahnya?” tanggap Pak Klian mencoba menjernihkan permasalahan.
“Kalau benar Dauh menemukan kuburan ayahnya, itu artinya kita mesti menyetujui rencana pengabenan ayahnya. Bukankah begitu sepatutnya orang yang beragama?” ujar Nyoman Balik, seorang guru yang cukup disegani di desa itu.
“Boleh tanya kepada para tetua desa, hutan bambu itu bukan tanah kuburan! Jadi buat apa kita memperdebatkan sesuatu yang tidak ada!” tegas Basur dengan suara keras berapi-api yang menyebabkan warga desa terkesiap dan bungkam.
Dauh yang dari tadi diam, kini angkat bicara sambil memandang tajam kepada Basur. “Basur, saya akui kau memang pintar dan pandai berdebat. Tapi saya telah mendapatkan petunjuk dan punya keyakinan bahwa di hutan bambu itulah ayah saya dibantai dan dikubur tanpa tahu kesalahan apa yang diperbuatnya. Ayah saya telah diperlakukan tidak adil dengan menuduhnya sebagai orang komunis! Kalian tahu betapa sakit hati dan hancurnya perasaan saya kalau mengingat kejadian yang menimpa ayah saya!”
Warga dan para pinisepuh desa menunduk memandangi lantai yang beralaskan tikar pandan. Tidak ada yang berani menatap langsung kepada Dauh. Bahkan Basur pun mengalihkan pandangannya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Beberapa pinisepuh desa yang hadir dalam rapat itu memang mengetahui kejadian yang menimpa ayah Dauh. Tapi mereka juga tidak mampu membuka mulut untuk mengungkap peristiwa kekejian itu. Bahkan Bapak Klian pun sebenarnya mengetahui kalau hutan bambu itu sebagai ladang pembantaian orang-orang yang dituduh komunis. Sebab saat itu ia sudah remaja dan sempat menonton drama pembantaian di hutan bambu itu bersama beberapa warga pemberani lainnya.
Tapi kini jaman sudah berubah, meski tidak sepenuhnya bisa memulihkan keadaan. Orang-orang yang anggota keluarganya pernah dituduh komunis dan dibantai menuntut keadilan. Sementara itu, orang-orang yang pernah terlibat dalam penjagalan dan pembantaian tersebut banyak yang telah mati dengan cara mengenaskan. Ada yang gantung diri, jatuh ke jurang, tertimpa pohon, dibunuh musuhnya. Bahkan ayah Basur yang pada jaman itu terkenal sebagai tukang jagal komunis paling sadis mati dipatuk ular hijau di hutan bambu itu ketika ia sedang menebang bambu. Beberapa yang masih hidup telah menjadi gila dan diusir keluarganya. Itulah hukum karmaphala yang sangat diyakini oleh orang-orang Bali sampai saat ini.
“Begini saja, Dauh. Kamu boleh menggelar upacara ngaben untuk ayahmu. Tapi kamu tidak perlu membongkar hutan bambu yang keramat itu. Cukup menggelar ngaben dengan memakai sarana simbol dari badan wadag ayahmu. Ngaben seperti itu dibenarkan dalam agama kita. Bagaimana menurut hadirin sekalian?” ucap Pak Klian mencoba menawarkan pemecahan dari masalah tersebut.
Dauh terperangah mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Pak Klian yang selama ini dihormatinya. Apa artinya ngaben tanpa mayat atau kerangka yang jelas-jelas sudah diketahui keberadaannya? Itu tentu tidak masuk akal dan akan semakin memedihkan perasaan keluarganya. Beda halnya jika mayat atau kerangka tidak ditemukan, ngaben seperti yang diusulkan Pak Klian bisa diterimanya.
Dauh berharap sebagian besar warga menolak usulan Pak Klian. Dauh juga berharap agar Nyoman Balik sebagai seorang guru yang disegani bisa memberikan pandangan dan penjelasan yang lebih masuk akal. Tapi semua yang hadir dalam rapat terdiam, seakan mereka hanyut dengan kecamuk pikirannya masing-masing.
“Mengapa kalian diam? Berikan saya keputusan!” ujar Dauh setengah membentak. Dauh sendiri kaget dengan kata-katanya dan tidak tahu darimana datangnya keberanian seperti itu. Yang jelas Dauh merasa diombangambingkan, yang membuat hatinya semakin sakit dan pedih.
“Baiklah. Kalau kalian tidak berani mengambil keputusan, maka saya akan putuskan sendiri masalah ini. Permisi!” Selesai berbicara seperti itu, Dauh angkat kaki dari rapat adat yang terhormat itu. Tidak ada satu pun warga yang berusaha mencegah kekurangajaran Dauh meninggalkan rapat adat dengan cara tidak sopan seperti itu. Tidak pinisepuh desa, tidak Pak Klian, tidak juga Basur yang diam-diam memendam benci pada Dauh.

***

Malam harinya Dauh menyusup ke dalam hutan bambu yang terkenal angker itu. Berbekal lampu senter dan cangkul kecil, Dauh membongkar kuburan ayahnya yang sebelumnya telah ditandainya dengan sebongkah batu cadas. Dingin malam dan hujan gerimis tidak menyurutkan niat Dauh untuk terus mencangkul. Justru suasana seperti itu menguntungkan Dauh sebab warga desa pasti sedang terlelap dalam mimpinya masing-masing. Lagi pula tidak ada satu pun warga yang berani melintasi hutan bambu itu, apalagi malam-malam. Dauh merasa hanya dirinya yang memiliki keberanian untuk itu sebab rasa baktinya yang tinggi pada leluhurnya, pada ayahnya.

Dauh terus mencangkul. Gerimis banyak membantunya sebab tanah menjadi lembek dan lebih mudah digali. Gemerisik dedaun bambu yang tertimpa gerimis mampu menggetarkan bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya. Tapi Dauh telah bulat dengan keyakinannya. Apa pun yang terjadi kuburan ayahnya harus dibongkar. Kerangka ayahnya harus ditemukan untuk dibuatkan upacara ngaben sebagaimana layaknya orang Bali yang telah meninggal.

Malam semakin hanyut dalam gerimis yang turun rinai. Malam itu pula yang menyembunyikan sepasang mata yang sejak tadi menguntit dan mengawasi gerak-gerik Dauh dalam kegelapan.
Kedalaman tanah yang digali Dauh kini telah mencapai pinggang. Mendadak mata cangkul Dauh menyentuh benda keras. Jantung Dauh berdetak kencang. Ia menyorotkan lampu senternya ke benda tersebut. Sebongkah tengkorak manusia menyembul dari tanah yang basah. Kini Dauh gemetar. Buku kuduknya merinding. Tapi ia terus menggali sambil menangis tertahan-tahan. Lampu senter ia kalungkan di leher agar memudahkan penggalian. Tulang belulang manusia semakin banyak menyembul dari tanah galian.
“Ayahhh…..!!!” Dauh tidak kuat lagi menahan perasaannya. Ia berteriak histeris menyaksikan tulang belulang itu. Tapi seiring teriakannya yang menggetarkan malam, tubuh Dauh tumbang ke dalam lubang galian.

Basur yang sejak tadi mengintip dan menunggu kesempatan yang tepat dari balik rerimbun bambu, telah menghunjamkan sebatang tombak panjang yang runcing ke arah tubuh Dauh, tepat mengenai jantungnya.

***
Karangasem, Bali, Juli 2007

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php