Perempuan yang Mengawini Keris

cerpen Wayan Sunarta

Berdebar-debar aku menantikan hari yang membahagiakan itu. Hari yang akan menyelamatkan martabat keluargaku dari cemooh dan sindiran orang-orang sedesa. Cemooh dan sindiran yang seringkali menyakitkan hati orang tuaku, meski belakangan mereka tidak menghiraukannya lagi. Atau lebih tepatnya menyimpannya diam-diam dalam lubuk hati paling dalam sebagai suatu nasib yang mesti dijalani.

Karena aku perempuan, sungguh berat rasanya menjadi anak tunggal yang harus menanggung sendiri kecemasan orang tua. Duh, seandainya aku memiliki seorang adik, kalau bisa mesti adik lelaki. Tapi Hyang Widhi berkehendak lain, karena suatu alasan medis ibuku tidak bisa lagi melahirkan. Maka jadilah aku pewaris tunggal segala kekayaan keluargaku: sehektar tanah sawah di desaku di Tabanan, sebuah rumah cukup mewah di Denpasar, dua mobil sedan terbaru, sebuah hotel melati di Kuta. Mungkin ini pula yang membuat beberapa teman perempuanku seringkali iri padaku. Mereka sering menyebutku perempuan beruntung! “Sudah cantik, kaya, berpendidikan tinggi, wanita karier dan terkenal lagi!” begitulah rata-rata komentar mereka. Pendek kata, di mata mereka, aku perempuan yang sempurna! Tapi sayang, mereka tidak pernah paham, apa yang sedang bergejolak dalam batinku akhir-akhir ini.

Aku selalu gagal menjalin percintaan. Kisah cintaku selalu berakhir tragis justru pada saat menjelang pernikahan. Sebenarnya tidak sulit bagiku untuk mendapatkan lelaki yang setara denganku. Seperti ucap beberapa temanku, aku cantik, kaya, berpendidikan tinggi, dikenal luas. Lelaki mana yang tidak bertekuk lutut di hadapanku? Tapi, seperti jamaknya laki-laki, mereka mirip penjual obat keliling. Mereka, mantan-mantan pacarku yang kebanyakan eksekutif muda itu, juga suka mengobral janji-janji cinta penuh bunga-bunga harapan. Janji-janji pernikahan yang kuidam-idamkan selalu mereka bisikkan di kupingku sembari mereka mencumbuiku di kamar-kamar hotel mewah yang kami sewa. Namun, setelah mengetahui keadaanku yang sebenarnya, mereka segera mundur teratur.

Pada mulanya jelas aku kecewa dengan sikap laki-laki seperti itu. Sampai aku pernah berpikiran bahwa lelaki yang mendekatiku atau yang hendak memacariku hanya kedok untuk mengeruk keuntungan dariku: menikmati tubuhku sekaligus mencicipi kekayaan orang tuaku. Tapi lama kelamaan aku berusaha maklum mengapa setiap lelaki yang pernah menjadi kekasihku akan mundur teratur ketika aku membicarakan masalah pernikahan secara serius. Dan ini pula yang menjadi kecemasan orang tuaku dan yang membebani perasaanku.

Sebagai anak yang mencoba berbakti, aku pun memaklumi harapan dan kecemasan orang tuaku. Tentu mereka ingin segera momong cucu yang akan meneruskan keturunannya kelak. Lagi pula kini usiaku hampir kepala tiga, namun belum juga menemukan pasangan hidup, atau lebih tepatnya belum menemukan lelaki yang mau kuajak menikah. Cemooh dan sindiran bahwa aku dianggap tidak laku seringkali mampir di telinga orang tuaku yang membuat mereka terus mendesakku untuk segera menikah. Namun, seperti yang telah kuungkapkan, mencari pacar jauh lebih mudah bagiku ketimbang mencari seorang calon suami. Sungguh susah mencari lelaki yang sudi nyentana di keluargaku.

Tahukah kamu, kebanyakan lelaki Bali sangat menghindari jenis perkawinan yang disebut nyentana itu. Sedangkan bagi perempuan Bali yang tidak memiliki saudara lelaki, justru nyentana merupakan perkawinan yang sangat diharapkan. Bagaimanapun juga, di Bali, kelahiran anak lelaki merupakan suatu berkah tak terkira yang harus dirayakan. Anak lelaki adalah penerus garis keturunan suatu keluarga. Maka keluarga yang tidak memiliki anak lelaki, terpaksa mengawinkan anak perempuannya dengan tradisi nyentana.

Maka aku pun mengemban amanat berat dari orang tuaku untuk mencari lelaki yang mau diajak nyentana. Boleh kukatakan berat karena memang susah mencari calon suami yang sudi nyentana. Ini menyangkut harga diri dan kehormatan keluarga si lelaki. Sebab lelaki yang memilih untuk nyentana akan tinggal dan menjadi milik keluarga mempelai perempuan. Secara spiritual status lelaki akan berubah menjadi perempuan dan pihak keluarga si lelaki tidak lagi berhak terhadap anaknya. Pendek kata, dalam tradisi nyentana, lelaki dipinang oleh perempuan.

Pada banyak kasus yang pernah kudengar, keluarga besar si lelaki biasanya akan menentang keras keinginan anaknya untuk nyentana. Bagi sebagian masyarakat Bali, pernikahan ini dianggap suatu yang memalukan dan penuh dengan cemooh dan sindiran. Si lelaki biasanya akan disindir hanya ingin mengeruk kekayaan orang tua si perempuan, ingin menadah warisan dengan mudah. Bahkan sering pula terjadi kasus si lelaki dilecehkan dan menjadi bulan-bulanan dalam keluarga si perempuan. Menghindari kejadian-kejadian seperti itulah yang menyebabkan lelaki enggan nyentana meski ia mencintai perempuan pujaannya itu.

Hal itu pula yang membuatku cukup maklum kenapa para mantan pacarku mundur teratur ketika kuajak menikah. Inilah persoalan yang menderaku akhir-akhir ini. Pernah aku mencoba melupakan persoalan pernikahan dengan menyibukkan diri mengurus hotel melati yang kukelola. Tapi nyaris setiap malam ketika aku tidak mampu memejamkan mata, bayang-bayang pernikahan muncul menghantui pikiranku.

Hingga tiba pada suatu hari, aku berkenalan dengan seorang lelaki dalam suatu pesta peresmian galeri lukisan di Ubud. Aku merasakan debar yang lain ketika mata kami saling bersitatap. Aku kira lelaki itu pun merasakan hal yang serupa. Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pelukis. Pada pesta itu kami banyak bicara tentang seni lukis, suatu bidang yang belum kupahami, tapi sungguh menarik perhatianku. Pelukis yang lumayan ganteng dengan rambut setengah gondrong itu berasal dari Ubud. Ia tiga tahun lebih tua dariku dan menurut pengakuannya belum berkeluarga.

Perkenalan kami terus berjalin lewat sms dan telpon-telpon mesra. Entah mengapa aku bisa tertarik dan jatuh hati dengan lelaki itu. Mungkin gaya bicaranya yang terdengar matang dan dewasa, atau sikapnya yang begitu lembut dan mesra terhadapku. Beberapa kali ia berkunjung ke kantorku dan lebih sering lagi mengajakku melihat-lihat pameran lukisan. Ia juga suka mengundangku ke studionya yang sederhana di Ubud. Aku pun telah diperkenalkan sebagai pacar pada keluarganya yang ramah. Begitu pun sebaliknya, aku perkenalkan ia pada keluargaku yang menyambutnya dengan hangat pula.

Suatu kali pelukis itu mengutarakan isi hatinya untuk mengajakku menikah. Dari mimiknya yang serius aku merasa ia sungguh-sungguh dengan keinginannya itu. Aku merasa pelukis itulah pelabuhan dan harapan terakhirku untuk mencari lelaki yang bersedia nyentana. Sebelumnya aku telah menceritakan keadaanku, juga harapan orang tuaku. Di luar dugaanku, ia bersedia nyentana, dan orang tuanya pun tidak keberatan. Aku girang alang kepalang mendengar itu semua. Aku memeluk dan menciumnya. Aku merasa bunga-bunga serentak mekar dan semerbak mewangi dalam taman hatiku.

Aku pun segera menceritakan kabar gembira itu pada orang tuaku. Mereka sangat suka cita dan terharu mendengarnya. Mereka segera mencari hari baik untuk melangsungkan pernikahan kami. Undangan dicetak mewah dan telah disebar ke sanak saudara, kenalan, kolega bisnis, pejabat lokal, tetangga, kerabat desa. Pesta pernikahan akan dirayakan secara meriah di rumah keluargaku yang berhalaman luas.

***

Berdebar-debar aku menunggu hari yang menobatkan aku menjadi mempelai itu. Besok pagi upacara perkawinan kami akan digelar secara adat Bali. Malam harinya aku tidak bisa memejamkan mata. Besok pihak keluargaku akan meminang lelaki pujaanku. Dari jendela kamarku, aku mengintip kesibukan para kerabat mempersiapkan upacara untuk esok pagi. Wajah-wajah mereka nampak sumringah. Kursi pelaminan telah pula dihias dengan kain prada dan bunga warna-warni, terlihat indah dan megah.

Aku bangun sebelum ayam sempat berkokok menyambut pagi. Juru rias pilihan telah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Hampir dua jam aku dirias. Pagi ini aku bagai putri dari Kahyangan yang akan menyambut pangeran impiannya.

Sekitar jam sembilan, para undangan mulai berdatangan. Keluargaku menjamu mereka dengan berbagai jenis hidangan pembuka yang lezat-lezat dan mengundang selera. Terlihat wajah-wajah mereka dihiasi senyum dan tawa ceria. Aku duduk dengan anggun di pelaminan, menunggu kedatangan mempelai lelaki. Pendeta yang akan memimpin upacara telah datang dan menunggu dengan sabar. Rencananya, setelah upacara adat selesai, akan disambung dengan pesta resepsi pernikahan sampai malam.

Ayah dan ibuku terlihat sibuk menyambut para undangan. Tapi beberapa saat kemudian, Ayah dipanggil oleh seorang kerabat kami. Aku melihat mereka bercakap-cakap dengan wajah serius. Sebentar kemudian wajah ayahku berubah pucat dan tegang. Wajah bahagia ayahku seketika sirna. Aku belum paham apa yang sedang terjadi. Tapi aku juga melihat ketegangan dan keganjilan yang serupa pada wajah para kerabat dekat. Mereka menatapku dengan sorot mata yang memancarkan rasa iba.

Aku penasaran dengan perubahan suasana yang mendadak itu. Aku bangkit dari pelaminan dan menghampiri Ayah yang langsung menggiringku ke dalam kamar. Di luar, undangan semakin banyak berdatangan. Sekilas kulihat mereka saling bertegur sapa dan berbincang-bincang penuh tawa canda. Tentu mereka juga merasakan kebahagiaan karena pada akhirnya aku menikah.

“Ada apa, Ayah? Mengapa nampak murung?” aku langsung menumpahkan rasa penasaranku pada Ayah.

“Betul-betul malang nasibmu, putriku…” Ayah tidak kuasa meneruskan kata-katanya. Aku semakin penasaran. Suara gamelan Semarpegulingan mengalun lamat-lamat, begitu syahdu dan romantis.

“Apa yang terjadi, Ayah?” aku merasakan ketegangan menjalari syaraf-syaraf halus pada wajahku. Perasaanku campur aduk. Aku teringat si pelukis kekasihku, calon suamiku, pangeran pujaanku.

Ayah menatapku dengan trenyuh. Nampak kepedihan mengambang pada mata tuanya. “Putriku, perkawinanmu harus tetap berlangsung, meski Ayah menanggung malu di hadapan para undangan,” Ayah terdiam, wajahnya nampak tegang, “kamu akan Ayah kawinkan dengan keris…”

“Keris!? Saya akan kawin dengan keris!? Maksud Ayah bagaimana?” Aku tidak kuasa menyembunyikan kekagetanku.

Aku bingung. Mengapa aku harus kawin dengan sebilah keris? Ayah menunduk. Nampak Ayah juga kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan masalah pernikahanku yang mendadak menjadi rumit dan menyedihkan ini.

“Ya, kamu akan kawin dengan sebilah keris, putriku! Keris itu sebagai simbol, pengganti calon suamimu yang ingkar janji. Ia minggat dari rumahnya. Keluarganya pun tidak tahu keberadaannya.”

Mendadak mataku berkunang-kunang mendengar penjelasan Ayah. Aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Tapi aku berusaha untuk tabah dan menguasai diri. Musnah sudah impianku. Aku tidak habis mengerti, mengapa lelaki itu mengingkari janjinya? Rasa cintaku perlahan menjelma kebencian pada lelaki itu. Dan kenyataan pahit ini harus kujalani bersama keluargaku. Bagaimanapun juga, upacara perkawinan sudah tidak bisa dibatalkan.

Kini, di hadapan para undangan dan kerabat yang saling berbisik, di tengah gema genta dan mantra pendeta yang terasa sumbang, aku melangsungkan upacara perkawinan dengan sebilah keris. Menjelang siang upacara usai, tapi hatiku masih terasa perih disayat-sayat keris hitam yang dingin itu.***

Cengkilung, Denpasar, November 2005

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php