Buku Kumpulan Puisi “Malam Cinta” (bukupop, Desember 2007)

1 Comment »Filed under: BukuPosted on January 25th, 2008

Tilas-tilas Kecil

/1/
fajar gemetar di ufuk dini
mengantar pilu lengking tangis
   mantra pertama yang digumamkan
rasa tak rela berpisah dengan ari-ari,
                       saudara setia di gua garba
      tahi lalat di pangkal paha kiri
oleh-oleh dari negeri seberang,
                dari bapa tua penunggu waktu
      sebagai bekal kali pertama 
                mengakrabi kilau matahari
merasakan hangatnya
                    sehangat dada ibuku
/2/
tanganku menggapai-gapai udara
sendiri di kasur tua
            ibu, di mana […]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on January 11th, 2008

Rastiti

Cerpen: Wayan Sunarta
Meski belum begitu yakin, Darta merasa sangat bahagia mendengar kabar dari istrinya, Rastiti. Akhirnya setelah lima tahun menunggu dalam kesabaran dan ketidakpastian, benih yang ditebarkannya ke dalam rahim Rastiti agaknya telah menunjukkan tanda-tanda tumbuh. Menurut surat keterangan dokter yang ditunjukkan di hadapannya, Rastiti positif hamil. Itu artinya Darta akan segera memiliki seorang bayi […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 11th, 2008

Naga Dasar Danau

Cerpen: Wayan Sunarta
Sudah berabad-abad aku menghuni danau. Di dasar danau aku bermain-main, berenang-renang dari tepian ke tepian bersama ikan-ikan dan ular-ular air. Sesekali aku bercengkerama dengan kerang dan ganggang. Aku menjadi raja dan memimpin segala jenis hewan air di danau yang damai ini. Danau ini telah menjadi kerajaan abadiku.
Aku tidak bisa lagi mengembara dari hutan […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 10th, 2008

Gadis Warung Kopi

Cerpen: Wayan Sunarta
Hanya gerimis. Ya, hanya gerimis masih turun renyai. Bulan tidak muncul. Bintang-bintang juga tidak. Seakan-akan para penghuni langit itu sepakat untuk menciptakan suasana malam yang muram.
Di pinggir jalan sepi di sebuah desa yang dikelilingi hutan jati, sebuah warung berdiri bersahaja. Hanya sebuah warung kopi. Ya, sebuah warung kopi di tengah gerimis. Penjaga warung […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 10th, 2008

Lembah Batur

Cerpen : Wayan Sunarta
 
Langit senja dihiasi kabut tipis putih keabuan dan rapuh. Udara dingin menyusup ke dalam pori-pori tubuh. Kami bertiga saja, tiba di Lembah Batur tepat sebelum senja berangkat petang. Rencana pendakian besok pagi telah kami susun sedemikian rupa. Gunung Batur memang terlihat gampang didaki. Tapi tetap saja kami perlu mempersiapkan segala sesuatunya. Kami […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 10th, 2008

Aryati

Cerpen: Wayan Sunarta
 
Lagu dangdut mengalun lirih. Lampu di ruang itu menyala temaram. Aku duduk di sudut remang. Sebotol bir hitam di meja dan rokok kretek kukepit di jari tangan. Malam minggu kulalui bersama uap alkohol dan rayuan-rayuan manja perempuan penjaja cinta. Mungkin dengan cara ini aku bisa mengobati luka batin dan kesepian-kesepianku. Sudah hampir lima […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 10th, 2008

Tajen

Cerpen: Wayan Sunarta
 
Debu-debu dari kibasan sayap ayam yang beradu menerpa wajah-wajah tegang para bebotoh. Wajah-wajah itu penuh dialiri keringat masam bercampur debu. Arena tajen minggu itu begitu ramai dan sumpek, penuh riuh-rendah para bebotoh yang sedang bertaruh.
“Mana Tangeb?” seorang lelaki kekar dengan tatto di kedua lengannya berteriak lantang ke tengah arena. “Hari ini aku harus […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 10th, 2008

Muli Sikep

Cerpen: Wayan Sunarta
Muli sikep yang mengayuh perahu itu kembali muncul dari balik gumpalan kabut. Dia mengayuh perahu sangat tenang, penuh irama, penuh rasa,
seakan menghayati gerak kabut yang perlahan tersibak oleh alunan laju perahu.
Dia terus mengayuh perahu menyibak permukaan danau. Air danau berkecipak bercumbu dengan dayung. Kabut masih setia membuntutinya. Bentangan
gemunung penuh sapuan […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 10th, 2008

Dua Kisah Sedih

Cerpen: Wayan Sunarta
Ia, lelaki yang sejak pertemuan pertama telah menggetarkan hatiku karena rayuan-rayuannya yang romantis, entah mengapa menjelma sosok mengerikan melebihi monster yang pernah kami tonton saat pacaran dulu.
Ia memanggilku Oni. Panggilan mesra, kata ia. Aku baru mengenalnya lima bulan ketika memutuskan menerima lamarannya. Saat itu usiaku dua puluh dua. Tergolong masih bau kencur bagi […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 9th, 2008
Page 1 of 212»