Rastiti
Cerpen: Wayan Sunarta
Meski belum begitu yakin, Darta merasa sangat bahagia mendengar kabar dari istrinya, Rastiti. Akhirnya setelah lima tahun menunggu dalam kesabaran dan ketidakpastian, benih yang ditebarkannya ke dalam rahim Rastiti agaknya telah menunjukkan tanda-tanda tumbuh. Menurut surat keterangan dokter yang ditunjukkan di hadapannya, Rastiti positif hamil. Itu artinya Darta akan segera memiliki seorang bayi mungil. Dan tentu saja ia tidak peduli lagi apakah bayi itu nantinya berkelamin laki atau perempuan. Sekarang yang terpenting bagi Darta, ia bisa punya anak dari benihnya sendiri.
Sebelumnya, menjelang setahun usia pernikahan mereka, Darta telah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan anak dari rahim Rastiti. Ia berkali-kali mengajak Rastiti periksa ke dokter. Berkali-kali pula dokter menyatakan bahwa Rastiti kurang subur, meski bukan berarti mandul. Dokter lain mengatakan ada penyumbatan pada saluran indung telur Rastiti. Mereka diminta agar bersabar dan berdoa, sebab anak adalah anugerah Tuhan yang tiada bisa diduga kehadirannya.
Memang mereka pada akhirnya terus bersabar dan berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai buah hati. Sampai pada akhirnya mereka bosan bersabar dan berdoa. Darta lalu mengajak Rastiti konsultasi ke dukun. Dukun memberikan ramuan-ramuan, minyak berkhasiat, berbagai jenis terapi sampai pijitan-pijitan pada perut Rastiti. Tapi semua itu belum juga menunjukkan hasil yang memuaskan. Beberapa dukun menyarankan agar mereka mendatangi sejumlah tempat keramat yang biasa dipakai tempat pemujaan untuk memohon anak. Namun tempat-tempat yang disarankan oleh dukun tidak juga memberikan mereka bayi mungil. Akhirnya, seperti saran dokter yang dianggapnya gagal itu, dukun juga menyarankan agar mereka lebih bersabar dan rajin berdoa.
Setelah sekian tahun menunggu tanpa kepastian, Darta akhirnya yakin Rastiti mandul. Rastiti pun meyakini hal yang sama. Tapi rasa kasih sayang dan cinta Darta pada Rastiti tidak pernah memudar. Darta pun telah bisa menerima nasibnya yang tidak akan mungkin memiliki keturunan. Sejak itu, hari-harinya diisi dengan berbagai kesibukan, seperti mengembangkan usaha toko klontongnya, memelihara ikan hias, memancing, dan berbagai kesibukan yang tidak merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
Rastiti pun menyibukkan dirinya dalam berbagai kegiatan arisan bersama para tetangga dan memulai usaha bisnis, yakni jual beli perhiasan emas dan batu permata yang dimodali suaminya. Hanya sayangnya, Rastiti kurang memiliki bakat dan naluri bisnis sehingga sudah dua kali ditipu konsumennya. Sebab Rastiti mengkreditkan perhiasan mahal hanya bedasarkan rasa saling mempercayai, tanpa ada bukti hitam di atas putih. Darta masih bisa bersabar menghadapi kekonyolan Rastiti dengan harapan istrinya lebih hati-hati dalam menjalankan bisnis. Namun kekonyolan serupa kembali terulang untuk ketiga kalinya. Darta memarahi Rastiti dengan kata-kata yang cukup menusuk perasaan karena kerugian yang dideritanya tidak bisa dibilang sedikit. Rastiti mengkerut ketakutan dan merasa terhina. Dia tidak menyangka Darta yang selama ini dikenalnya sebagai suami penyabar dan penyayang bisa murka begitu rupa. Namun tidak lama setelah itu, Darta pun menyesali kemarahannya, ia segera minta maaf pada Rastiti. Ia sungguh tidak tega menambah beban batin Rastiti.
Sesungguhnya tanpa ikut bekerja pun, Rastiti tidak kekurangan apa pun selama berumah tangga bersama Darta. Namun sebagai perempuan yang merasa dirinya tidak utuh karena tidak dikarunia anak dari rahimnya, dia merasa malu kalau hanya duduk berpangku tangan di rumah tanpa ikut membantu suami mencari nafkah. Karena itulah, tanpa pengalaman bisnis yang memadai, Rastiti nekat mengkreditkan perhiasan emas kepada ibu-ibu muda peserta arisan. Sebab dalam diri Rastiti telah tumbuh ketakutan suatu waktu kasih sayang Darta akan memudar pada dirinya; dia takut diceraikan. Ketakutan itu semakin menguat menghuni batinnya seiring dengan berita-berita perceraian para selebriti yang ditontonnya di televisi.
Kemudian, tanpa sepengetahuan suaminya, Rastiti pergi ke dokter. Berkat bantuan dokter dia mendapatkan surat keterangan yang menyatakan dirinya hamil. Berbekal surat keterangan dokter itu, Rastiti mencoba mengambil hati suaminya.
“Apa kamu yakin positif ?”
“Lho, apa Bapak tidak baca surat yang diberikan dokter?” kata Rastiti dengan manja. Ia menggelayut mesra di bahu suaminya.
“Ya, aku sudah baca sampai dua kali, tapi aku belum yakin.”
Wajah Darta memang nampak sumringah, tapi keningnya berkerut. Ia masih belum percaya Rastiti bisa hamil. Bukankah Rastiti telah dinyatakan susah punya anak? Darta benar-benar nampak seperti orang bego di hadapan istri tercintanya.
Rastiti kemudian menampakkan tanda-tanda mengidam. Dan yang namanya ngidam tentu aneh-aneh permintaannya. Darta pun memaklumi permintaan ngidam Rastiti yang begitu sulit dimengerti. Rastiti yang memang nampak seperti orang hamil muda itu minta pulang kampung.
“Wah, agaknya bayi kita rindu kampung halaman ibunya. Demi bayi kita, Ibu bersantai saja dulu di kampung, sekalian nengok orang tuamu,” saran Darta mesra.
“Tapi, saya akan tinggal kampung sampai bayi kita lahir dan selama itu Bapak tidak boleh menjenguk saya,” pinta Rastiti dengan wajah pucat.
“Lho, kenapa begitu, Bu? Kalau Bapak kangen, bagaimana?” Darta kaget.
“Saya juga tidak mengerti, Pak. Agaknya ini keinginan si jabang bayi. Pokoknya saya tidak mau Bapak menjenguk saya di kampung. Kita cukup melepas kangen lewat telepon saja!” Si istri nampak bingung dan sesenggukan menahan tangis.
Darta yang sejak kecil dikaruniai kesabaran berlebih, hanya bisa pasrah dengan permintaan aneh Rastiti. Sekaranglah ia punya kesempatan belajar memahami perilaku perempuan yang sedang ngidam. Darta pun merelakan Rastiti tinggal di kampung sampai bayi mereka lahir. Tentu saja ini suatu keputusan yang sangat berat. Darta tidak bisa membayangkan betapa membosankan hari-hari yang akan dijalaninya sambil menunggu kelahiran si bayi.
“Apa sama sekali Bapak tidak boleh menengok Ibu? Kalau begitu Ibu saja yang menengok Bapak, bagaimana?” Darta mencoba menawar.
Wajah Rastiti nampak lebih pucat. Tentu ini bawaan ngidam, pikir Darta. Ia menjadi tidak tega dan perasaan cintanya kepada Rastiti semakin tumbuh menjalar dalam hatinya.
“Ibu tidak berani, Pak! Ini juga petunjuk mimpi yang saya alami,” ujar Rastiti dengan bibir gemetar.
Darta semakin bingung dan penasaran dengan perilaku ngidam Rastiti, apalagi hal itu juga dikait-kaitkan dengan mimpi.
“Ibu mimpi apa sih? Apa hubungannya dengan kita?”
Rastiti menjelaskan, masih dengan bibir gemetar, “Dalam mimpi saya, seorang kakek berbusana serba putih meminta saya agar selama kehamilan tidak boleh ketemu Bapak. Kita baru bisa ketemu jika bayi yang saya kandung sudah lahir dan itu pun mesti dilahirkan di kampung halaman saya. Kakek aneh itu bilang, kalau kita melanggar pesannya maka bayi kita akan mati.”
Darta hanya bisa terbengong-bengong mendengar penuturan Rastiti. Ia tidak bisa berbuat apa lagi kecuali menuruti semua keinginan dan saran Rastiti.
Begitulah. Rastiti pulang ke kampung halamannya dan menetap di sana selama masa kehamilan. Tentu saja orang tua Rastiti senang melihat kedatangan anak semata wayangnya, namun sekaligus bingung setelah mendengar penjelasan dan rencana Rastiti.
“Gila kamu! Mengapa mesti menempuh jalan konyol seperti itu?! Kalau suamimu tahu, apa jadinya kalian?” ujar ayahnya dengan wajah heran dan cemas.
“Tidak ada jalan lain, Ayah! Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan Darta. Saya mohon Ayah dan seluruh keluarga di sini mendukung rencana saya. Jangan sampai bocor ke telinga Darta!” jelas Rastiti berusaha meyakinkan orang tuanya.
Karena tidak tega dan sayang pada Rastiti, orang tuanya akhirnya menuruti saja semua rencana dan keinginan Rastiti. Darta pun rajin menelepon Rastiti menanyakan perkembangan kehamilan dan kesehatannya. Dan setiap Darta ingin menjenguk karena tidak kuasa menahan kangen, Rastiti selalu mengingatkan tentang mimpi yang dialaminya dan kemungkinan si bayi akan lahir tanpa nyawa. Tentu saja Darta ngeri membayangkan kesulitan Rastiti kelak jika melahirkan bayi yang mati dalam kandungan. Kembali Darta pasrah menerima pesan mimpi Rastiti.
Rencana Rastiti telah berjalan sembilan puluh persen. Tapi Darta masih belum sadar kalau sedang dikelabui, demi kebahagiaan dirinya. Seminggu sebelum waktu melahirkan, Rastiti pergi diam-diam ke sebuah rumah sakit di sebuah kota besar. Di sana ia membeli bayi telantar. Kemudian dia kembali pulang ke kampung halamannya dengan membawa serta bayi merah berkelamin laki-laki. Dia meminta pada seluruh keluarga agar mau menjadi saksi dan mengakui bayi itu anak yang baru dilahirkannya. Dan yang lebih penting lagi mengabarkan kepada Darta bahwa itu anak kandungnya.
Orang tua Rastiti semakin cemas dengan rencana anaknya. “Ayah tidak bisa membayangkan kalau suatu saat nanti Darta mengetahui semua kebohonganmu!” ujar ayahnya.
“Sekali ini saja, Ayah! Tolonglah saya. Akuilah bahwa ini anak kandung saya, demi Darta, demi masa depan perkawinan kami!” rengek Rastiti.
“Darta itu lelaki budiman. Ia sudah lapang dada menerima keadaanmu, mengapa kamu mesti membohonginya?” kata ayahnya dengan wajah cemas.
Tapi lama kelamaan ayahnya luluh juga dengan permohonan Rastiti yang mengiba-iba. Akhirnya orang tuanya mengakui bahwa bayi itu anak kandung Rastiti.
Kemudian Rastiti menelepon Darta mengabarkan bahwa ia telah melahirkan bayi laki-laki. Darta sangat gembira dan bahagia mendengar kabar itu dan segera bergegas menjemput Rastiti ke kampung halamannya.
Sampai di rumah mertuanya, Darta tidak sabar menemui Rastiti yang berbaring di ranjang sambil pura-pura menyusui bayi merah itu. Rastiti menyerahkan bayi itu kepada Darta. “Ini anakmu, Pak!” kata Rastiti lembut.
Darta mengamati bayi merah dalam dekapannya bagai melihat suatu keajaiban. “Ini anakku? Apakah benar ini anakku?” ujar Darta pada dirinya sendiri, setengah tidak percaya, tapi hatinya diliputi kebahagiaan.
Darta menyerahkan kembali bayi itu kepada Rastiti. Perlahan ia mencium kening bayi itu, kemudian mencium kening Rastiti, mesra sekali.
Darta segera menemui mertuanya yang sedang duduk di bale-bale depan rumah. Seraya berlinang air mata, Darta menjabat hangat tangan mertuanya.
“Pak, akhirnya Bapak punya cucu juga!” ujar Darta gembira, bagai anak kecil yang mendapat hadiah mainan baru.
Mertuanya merasa iba melihat tingkah Darta. Tapi ia juga tidak sampai hati mengungkapkan rahasia yang tersimpan rapi di hati Rastiti.
“Ya, akhirnya Bapak punya cucu! Rawatlah bayi itu baik-baik, Darta,” ucap mertuanya dengan wajah bahagia yang dibuat-buat. Beribu kecemasan berkubang pada mata tuanya. ***
(2007)
Trackbacks
Leave a Reply