Pulang

Cerpen : Wayan Sunarta
Udara gemetar dingin. Aroma tanah basah. Daun-daun tua yang digugurkan angin memenuhi jalan. Gerimis masih terasa derainya. Lampu-lampu merkuri sepanjang jalan bersinar muram. Sebagian besar penghuni kota telah nyenyak di bawah selimut tebal.
Satu dua motor berlalu menyalip motor yang ditunggangi Dampar. Hanya motor tua, seringkali mogok bila terguyur hujan. Lajunya juga tidak [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 9th, 2008

Kekasih Menjelma Cahaya

Cerpen: Wayan Sunarta
Bekas jejak pada pasir basah itu masih tampak jelas. Jejak-jejak kaki orang dewasa itu seperti mengarah pada suatu tempat. Yang jelas bukan menuju laut, tapi ke arah rerimbunan semak belukar.
Laut menghempaskan gulungan-gulungan gelombang ke tepian pantai. Sesekali mendamparkan beberapa cangkang kerang yang kosong, sebab penghuninya telah mati atau mungkin berpindah tempat. Kekasihku memunguti [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 9th, 2008

Serenade Jakarta

Cerpen : Wayan Sunarta
 
Pagi belum sempurna. Aku masih betah membungkus tubuh dalam selimut. Hangat tubuhmu menjalari tubuhku. Kau menggeliat, aku mempererat dekapan. Kau melenguh. Pagi akan segera merekah, mekar seperti bunga.
Tapi ini Jakarta, bisikmu, tidak ada pagi yang mekar seperti bunga. Pagi selalu layu diinjak orang-orang yang bergegas berangkat kerja, seakan ngeri ditinggalkan waktu. Ya, [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 9th, 2008

Lelaki Tua dan Tas Kresek

Cerpen : Wayan Sunarta
Hampir semua penduduk di kota kecil itu, terutama kusir dokar dan penjaja batu akik, mengenal lelaki tua yang suka menenteng tas kresek itu. Di kalangan kusir dokar, lelaki tua yang tubuhnya masih sehat dan tegap itu, biasa dipanggil Randu. Sedangkan di kalangan penjaja batu akik, lelaki yang topinya hampir tidak pernah lepas [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 9th, 2008

Mangku Teguh

Cerpen: Wayan Sunarta
Sejak kedatangan orang-orang berbadan tegap itu ke desanya, wajah keriput Mangku Teguh sering terlihat murung. Sakit rematiknya juga sering kambuh. Bahkan rambutnya yang separuh uban banyak yang rontok. Sementara itu, wajah-wajah warga desa tampak sumringah.
Orang-orang berbadan tegap itu sejak tiga bulan lalu telah melakukan survei dan pendekatan dengan tetua adat dan masyarakat desa. [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 8th, 2008

Boneka Monyet

Cerpen : Wayan Sunarta
Hampir dua jam aku menunggu di terminal ini. Namun, bus yang penuh gelisah kutunggu itu, belum juga tampak memasuki terminal. Lewat SMS yang kuterima sebelum baterai ponselku mati, istriku memang sempat mengabarkan bahwa sekitar pukul tujuh malam bus yang ditumpanginya sudah akan tiba di terminal. Aku masih berusaha bersabar, meski pikiran-pikiran ngawur [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on January 4th, 2008
Page 2 of 2«12