Rumput Liar

Cerpen: Wayan Sunarta
Sepanjang sejarah Kecamatan A, baru kali ini dijumpai kejadian yang betul-betul tidak masuk akal. Pak Camat bingung. Seluruh pegawai kecamatan gundah.. Masyarakat resah dan panik. Pangkal dari kejadian aneh itu hanya perkara rumput. Rumput-rumput tumbuh sangat subur dan liar. Rumput tumbuh di mana-mana. Juga kantor-kantor pemerintahan, tak luput dari serangan rumput liar itu. [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Puncak Ketujuh

Cerpen: Wayan Sunarta
Kami mendaki. Masih terus mendaki. Puncak ketujuh, yang kami rindukan selama hidup kami, belum juga terlihat. Kakiku terasa gemetar. Tubuhku menggigil menahan dingin yang dihembus angin kabut. Aku baru tiba di lambung gunung. Puncak ketujuh masih jauh, teramat jauh, seakan tak mampu kami jangkau. Namun, kami terus mendaki.
Saudara seperjalananku yang berjumlah lima orang [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Penggalan Kepala Patung

Cerpen: Wayan Sunarta
Pada sebuah pelataran candi tua di tepian sungai yang juga tua, aku menyaksikan patung tua berlumut. Patung setinggi tubuhku itu mencitrakan sosok dewi (atau bidadari?). Meski berlumut dan nyaris lapuk, wajah patung itu begitu anggun dengan mahkotanya yang terukir indah. Kedua tangannya di dada mencakup kendi yang terus mengucurkan air bening, mengairi sebuah [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Laut Kelabu

Cerpen: Wayan Sunarta
 
Laut itu masih selalu kelabu, sejak berabad-abad lalu. Warna langit yang biru dan sedikit kelam terpantul di lautan kelabu. Pasir yang menghampar hitam seperti tersepuh warna muram. Angin menyisir pohon-pohon nyiur. Jiwaku berdesir…
Entah apa yang memedihkan hatiku ketika menatap lautan kelabu itu? Selalu saja kakiku ingin melangkah ke situ, duduk di sebuah warung [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Birgit

Cerpen: Wayan Sunarta
 
Pantai Kuta. Malam Minggu. Hampir jam delapan. Beberapa pasangan kekasih asyik bercumbu. Pasir masih menyisakan hangat matahari senja.
“Dika, tolong antar aku ke Legian, ya.”
Dengan perasaan berdebar lelaki gondrong itu menatap mata biru Birgit yang bagai lautan musim panas. Dalam mata itu, terbayang kamar hotel yang sederhana, namun hangat. Birgit mengambil bir dari kulkas. [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008
Page 2 of 2«12