tilas-tilasku akan usai di rimba keramat ini
malam demi malam telah kurambah
dan tibalah aku padamu
wahai bomo tua bermata saga
mantra dari mula mantra
aksara bergantang aksara
tergurat di gulungan lontar lapuk
yang kau semayamkan
pada bubungan rumah panggung
telah kau rafal seirama tafakur
apalah aku kini
selain menyusuri titahmu
aku cenaku dikutuk menghuni malam
mengembara dari jiwa ke jiwa celaka,
gunjo-gunjo yang penasaran […]
/1/ Untuk: M. Arman AZ
serupa apa haru
yang tiba-tiba gagu
ketika berjumpa masa lalu
di hotel yang menggetarkan kenangan
sepi saja di sini
saat jemari waktu mengukir hari
di dinding-dinding suram kota
apa angin garam telah menumpas sisa asa
pada jiwa yang lena
di setiap musim persinggahan
perempuan-perempuan di tikungan
di bawah tiang listrik
masih menyisakan jejak perjalanan
di kota tua yang rahasia
cahaya lampu merkuri
membasuh wajahnya
dan tahulah kita
segala […]
/1/
jerit adzan merambat
dari urat nadi toko-toko tua
di kota niaga teluk betung
burung-burung sriti
menaburi udara dengan janji
hari perlahan menanti
sebelum tiba senja
jalanan lengang
angin aroma ganggang
/2/
dari loteng
jalanan serupa bayang-bayangmu
petang akan tuntas di ujung ranjang
sisa gincu pada sarung bantal dan ujung selimut
tilas kenangan kecil pada dinding kamar pucat
dari loteng
kau lekang
aku gamang
Lampung, Agustus 2007
(dimuat di Media Indonesia, 28 Oktober 2007)
malam hampir mencekikku
sebab aku alpa pada janji semesta
sampai di mana aku kini?
kulit tubuhku dilapisi sisik ular
pundakku ditumbuhi sepasang sayap kelelawar
aku merasa hanya berputar-putar
pada lingkaran tahun yang kau bangun
segala berhala segala pelacur segala pujangga
hanya menanak mimpi jadi kerak hitam hari
apa yang mampu disembunyikan malam dariku?
malam yang dicipta dari kutukan para pendosa
kau hanya pendurhaka laknat […]
memasuki gapura ke tiga puluh dua
akan sampai dimana kau tiba
duka telah lama berlalu dari parasmu
enyah serupa bayang-bayang pudar
selalu kau nyalakan unggunan api bagi jiwa pengembara
umpama purnama yang rekah di legam rambutmu
dingin pun menyingkir dari kerumunan halimun
agar udara leluasa berbagi cahaya dengan jiwa,
nuansa nelangsa yang memabukkan pejalan
iringi irama hari yang pergi sendiri
gairah […]
aku mengikuti bayangmu
hingga menuju jalan berbatu itu
jalan masa lalu di bawah naungan gunung agung
aku tertegun:
rindu kepadamu begitu menggebu
apakah di tikungan itu
kau senantiasa menunggu
kehadiranku?
batu-batu lahar di rumahmu
telah ditatah menjadi candi dan arca
suatu waktu aku pun rela
menjadi patung batu
karena dikutuk rindu menggebu
rindu kepadamu
kini aku mengikuti bayangmu
ke mana pun pergi
sebab aku tidak mau […]
- buat feybe & robert sroka -
dua purnama bersemi
di awal dan akhir mei
berkilau begitu wangi
dua purnama bersitatap
saling membaca isyarat jiwa
begitu sumringah
bagai senyum pengantin
dua purnama berkaca di telaga
punah sudah kepedihan
sebab terbuka rahasia
dalam celah indah cahaya
bayang-bayang senja
dua purnama tertawa
dunia masih sebatangkara
Mei 2007
- buat ole dan onya-
akhirnya kalian berjalan
memasuki bui
yang dibuai angin sepoi bulan mei
wajah sumringah, jiwa pasrah
pada nafas cinta
yang menghembus dari lubuk hati
sejak bertahun-tahun lampau
ketika dermaga di utara pulau
membuka rahasia pertemuan asam gunung
dan asin laut
di jalan-jalan subak
dan pematang sawah
yang dibasuh embun dinihari
bui itu dibangun dari buai cinta
sangkar keramat sang waktu
yang […]
masih ada sisa hari
yang memberi arti
untuk kembali
senja meresap di rel-rel kereta
di pilar-pilar peron
dan roda-roda bus yang bergegas
tapi waktu tak pernah tumpas
masih ada sisa hari
malam yang gemulai berdandan
menunggu tiba birahi
masih ada sisa hari
untuk pergi
tanpa kembali
(2007)
* dimuat di Jurnal Nasional, 20 Januari 2008
kini segala kenangan mulai memuai
menjelma serpih-serpih cahaya,
sungai-sungai cahaya,
hamparan cahaya…
aku membuncah dalam udara malam
[…]