Di Hotel Sriwijaya, Teluk Betung

/1/  Untuk: M. Arman AZ
serupa apa haru
yang tiba-tiba gagu
ketika berjumpa masa lalu
di hotel yang menggetarkan kenangan

sepi saja di sini
saat jemari waktu mengukir hari
di dinding-dinding suram kota
apa angin garam telah menumpas sisa asa
pada jiwa yang lena
di setiap musim persinggahan

perempuan-perempuan di tikungan
di bawah tiang listrik
masih menyisakan jejak perjalanan
di kota tua yang rahasia

cahaya lampu merkuri
membasuh wajahnya
dan tahulah kita
segala bermula dari fana

/2/  Untuk: Ahmad Syubbanuddin Alwy
alwy, dimana akhir birahi
ketika langkah kata
bersijingkat dari lantai bawah
ragu menapaki tangga
sebab cemas pada diri
yang begitu belia

pada pucuk malam
kita hanya sekelumit bayangan
gemetar meraba arah
di jalan-jalan kota yang murung

ada kupu-kupu begitu lugu
belum sempurna lepas
dari lendir kepompongnya
menghampiriku di kamar terakhir
sayap yang indah dan polos
mencoba belajar terbang
mengarungi malam demi malam

alwy, dimana akan gugur
sayap kupu-kupu itu
di hampar kasur lapuk
atau di ladang kering jiwaku
 

Lampung, Agustus 2007
 

(dimuat di Media Indonesia, 28 Oktober 2007)
 

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php