Dermaga dan Ranjang

“jangan jadi dermaga
hanya untuk satu perahu,”
                           desahmu
lalu kita nikmati
dan hikmati ciuman
dan pelayaran
yang memabukkan
lalu, apa setelah itu?
andai ranjang ini perahu
aku ingin kembangkan layar untukmu
                   agar selekasnya kau mampu
merengkuh dermaga yang menunggumu
tapi yang ada hanya
dua nyawa
                 dua tubuh
bergumul
seraya menggarami
            luka sendiri
usai itu, dermaga akan kembali sepi
perahu-perahu berlalu tanpa tuju
                   ranjang berhenti menyanyi
dan bulan nglangut
                   di lelangit kamar [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 13th, 2008

Di Emperan TIM Jakarta

apa yang bisa ditawarkan si pemabuk
                  kecuali dirinya sendiri
lalu, segalanya kembali nisbi
seiring denting gitar pengamen jalanan,
gemerincing receh gadis cilik pengemis,
                 bau baju kucel penyemir sepatu,
                       dan seniman gelandangan
tapi rinduku padamu
serupa suara bising bajaj
yang menumpahkan aku
                di emperan ini
paripurnalah sunyata
sempurnalah sudah rasa arak
         ketika aku reguk
sambil membayangkan Li Po
bercinta dengan bulan di telaga
tapi tidak ada bulan [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 12th, 2008

Gelegak Tuak

dalam bumbung bambu
tuak menggelegak bagai birahi liar perawan belia
pohon asam di sepanjang jalan menuju rumahmu
                            telah menyempurnakan diri
dalam siraman cahaya purnama
aku melihat bayangmu berkelebat di antara jubah malam
                                      yang tersepuh halimun
aku tidak tahu siapakah sesungguhnya Kau?
sebab aroma tuak menyihirku
serupa lidah dan ludah manis penjaga kedai
                        yang kukulum di belakang gubug
para sahabat masih berceloteh
perihal padi yang [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 10th, 2008

Di Warung Diggers, Lampung

dari ketinggian
yang kita ratapi hanya cahaya
dan perahu-perahu layu
di teluk lampung
malam melamun
dalam cangkir kopi
jiwaku mengaca
pada bening parasmu
o, haiku yang gagu
serpih kisah yang pasrah
dari perahan waktu
kapan kita akan berjumpa kata
dan mengakhiri air mata
pada semesta cahaya
jangan biarkan waktu melaju
kita belum usai meramu malam
rindu belum tuntas diserap meja kayu
atau terlunta pada pagar bambu
celah-celah bukit kelabu
pada hamparan jiwamu
penyap dari tatap [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 5th, 2008

Menyeberangi Selat Sunda

/1/ Keberangkatan
yang menggoda adalah peluit perahu
melengking pilu
dan daratan perlahan menjelma detak nadi
gemetar di ujung buritan
kompas tak terbaca
dan peta tak punya garis lintang
masih adakah yang aku tuju?
tapi di lubuk jiwa
masih tersimpan getir debar
hari akan tahu apa yang dirasa hati
mungkin camar-camar menunjuk arah
menuntunku meraba celah indah pulaumu
muli, muli, muli
jangan biarkan impianku usai
di helai-helai rambutmu
yang gemetar dibelai [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 3rd, 2008
Page 2 of 2«12