Romantisme “Pada Lingkar Putingmu”
Oleh: Gde Phalayasa Sukmakarsa (GPS)
Judul Buku : Pada Lingkar Putingmu
Penulis : Wayan Sunarta
Penerbit : Bukupop, Jakarta
Cetakan I : Juli 2005
Tebal : vi + 53 halaman
Puisi-puisi yang terdapat di dalam buku kumpulan puisi Pada Lingkar Putingmu memperlihatkan pada kita mengapa Wayan Sunarta dipandang sebagai salah satu figur utama di antara penyair-penyair Bali lainnya. Baris-baris yang mengalir jernih yang mencoba untuk membawa pembacanya ke dalam suatu suasana puitik, pemaparan-pemaparan bening yang seringkali memperlihatkan sisi-sisi dalam yang tak kita sadari sebelumnya, dan suatu cara penggambaran bercenderungan romantik yang mampu memberikan jarak tanpa kehilangan keakraban sama sekali; semua itu menunjukkan sebuah keterampilan berkata yang diasah dan dilatih secara sadar dalam suatu jangka waktu yang panjang. Suatu pencapaian yang tidak instan sifatnya.
Selain kenyataaan tersebut puisi-puisi di dalam buku ini juga memperlihatkan dengan jelas betapa kuatnya kecenderungan romantisme klasik pada kepenyairan Wayan Sunarta. Dalam puisi-puisinya yang terdapat di dalam buku ini seringkali kita menemukan figur diri yang terasing dari orang-orang sekitarnya, perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat yang terkesan berada jauh dari dunia keseharian sebagai bagian penyembuhan luka diri, dan pertemuan sosok diri dengan figur-figur lain yang mendorong terjadinya suatu kontemplasi diri. Suatu cara pandang yang terkesan lebih dekat dengan René karya Chateaubriand dan Candide-nya Voltaire dibandingkan cara pandang modern yang melahirkan keterasingan serta kegalauan eksistensialis tokoh utama novel Orang Asing karya Camus. Suatu cara pandang yang lebih menekankan kedekatan pada sisi emosional dibandingkan sisi intelektual kita.
Mungkin karena itu tanpa banyak kesulitan kita dapat dengan mudah membaca serta mencerna puisi-puisi yang terdapat dalam buku ini. Terkadang membaca buku ini terasa hampir menyerupai membaca sebuah buku catatan perjalanan seseorang yang akrab dengan diri kita. Yang menceritakan dalam bentuk puisi tempat-tempat persinggahannya, hal-hal di perjalanan yang menarik minatnya, atau pikiran-pikiran yang melintas di kepalanya dengan pelukisan yang hampir menyerupai pelukisan sebuah haiku.
Tentu saja cara pengungkapan dan pelukisan semacam itu tidak selalu berhasil. Setiap kali Wayan Sunarta melangkah ke sebuah situasi dimana tidak terdapat suasana puitik, kita dapat langsung merasakan bagaimana puisi-puisinya, baris-barisnya, kehilangan kewajaran bicara mereka. Mereka terasa menggurui saat mencoba berbicara mengenai masalah kasta secara langsung dan lantang pada “kita” dalam Matahari Kita Sama, berakhir sebagai sekedar deskripsi kosong saat berhadapan dengan simbolisasi abstrak masalah kesetaraan gender dalam Ibu Bali, dan sama sekali tidak meyakinkan saat menawarkan sebuah soliloqui penuh kepastian dalam Cahaya Senja.
Yang aneh kemudian adalah bagaimana puisi Abu Aku Dalam Baramu nampak seolah berada tidak pada tempatnya di dalam kumpulan puisi ini. Di antara puisi-puisi lain yang terdapat dalam buku ini, baris-barisnya yang dipenuhi dengan kata-kata kuat nampak lebih menyerupai kepahlawanan yang dibuat-buat daripada suatu pernyataan diri dan pemasrahan diri yang ditunjukkan di bait terakhirnya lebih mengesankan sebagai sesuatu yang jamak dan teramat cengeng. Berbeda dengan Sungai, Puisi XXV, dan Uluwatu, yang juga menawarkan bentuk pemasrahan diri yang hampir sama dengan pemasrahan diri yang terdapat dalam Abu Aku Dalam Baramu.
Menarik juga untuk dicatat bahwa beberapa puisi di dalam buku ini menyebutkan nama tempat-tempat di Yogyakarta. Hal yang membuat pemilihan judul buku ini, yang merupakan judul salah satu puisi yang terdapat di dalam kumpulan ini, selain nampak sensasional tapi juga terkesan sebagai semacam kerlingan sebelah mata terhadap gaya guyonan ala lingkungan sastra Yogyakarta.
Terlepas dari beberapa titik lemah, secara keseluruhan buku Pada Lingkar Putingmu ini adalah sebuah buku kumpulan puisi yang utuh dan enak dibaca. Ukuran bukunya yang lebih kecil dari ukuran buku-buku kumpulan puisi lainnya yang beredar di pasaran disertai dengan macam puisi yang dikandungnya membuat buku ini tidak saja menyenangkan untuk dibaca saat bersantai di rumah tapi juga dapat menjadi bacaan yang mengasyikkan dalam perjalanan.
Yang terutama amat disayangkan adalah tidak adanya kata pengantar, baik dari penyair, editor, ataupun pihak penerbitnya. Ketiadaan penjelasan akan tujuan pembuatan buku ini, dasar-dasar pemilihan puisi-puisi di dalamnya (yang tidak mengikutsertakan beberapa puisi Wayan Sunarta yang lebih dikenal serta nampaknya lebih mengutamakan pada puisi-puisi yang tidak terlalu panjang), dan cara penyusunan puisi-puisi tersebut di dalam buku ini (berdasar tahun, alfabet, atau secara acak) akan menyulitkan pihak-pihak yang berusaha memahami kepenyairan Wayan Sunarta secara keseluruhan dan berusaha mencari ketegasan dari buku yang merupakan buku kumpulan puisi pertama dari Wayan Sunarta ini.***
Trackbacks
Leave a Reply