Di Bawah Bayang Determinisme, Tentang Cakra Punarbhawa Wayan Sunarta
Oleh Arif Bagus Prasetyo
We have gained a crucial insight: history consists of a swarm of narratives, narratives that are passed on, made up, listened to and acted out; the people does not exist as a subject; it is a mass of thousands of little stories that are at once futile and serious, that are sometimes attracted together to form bigger stories, and which sometimes disintegrate into drifting elements, but which usually hold together well enough to form what we call the culture of a civil society.
Jean-François Lyotard, Lessons in Paganism
CAKRA Purnabhawa (Gramedia Pustaka Utama, 2005) adalah buku kumpulan cerpen perdana karya Wayan Sunarta (kelahiran Denpasar, 1975). Buku ini memuat 14 cerpen yang ditulis pada tahun 2000-2004. Kecuali 3 judul, semua cerpen sudah pernah dipublikasikan di sejumlah media-massa dan berbagai lomba penulisan cerpen tingkat nasional (kemudian dibukukan dalam antologi cerpen bersama karya penulis lain). Beberapa cerpen pernah meraih penghargaan, termasuk dari institusi bergengsi seperti Koran Kompas dan Majalah Sastra Horison.
#
Determinisme, lewat satu atau lain cara, membayangi sebagian besar cerpen Sunarta yang terhimpun dalam buku Cakra Purnabhawa. Paham ini mengklaim bahwa setiap kejadian atau tindakan, baik yang menyangkut jasmani atau rohani, merupakan konsekuensi dari kejadian-kejadian sebelumnya dan di luar kemauan. Manusia (juga alam semesta) tercipta dengan maksud dan tujuan tertentu, sesuai desain tunggal yang kekal, final dan permanen, sejak dari sono-nya dulu sampai akhir zaman kelak. Dunia mempunyai suatu tujuan dan dikendalikan oleh hukum-hukum tertentu. Segala sesuatu, makhluk hidup maupun benda mati, memiliki suatu “kodrat” dan mengejar tujuan yang “kodrati” baginya, yang ditetapkan oleh seorang pencipta dari luar, atau memang sudah tertanam pada dirinya secara internal.
Segenap kehidupan, karakter dan perilaku individu – pokoknya segala yang kita alami dan lakukan – bukan terjadi secara acak dan kebetulan belaka, melainkan bagian dari, serta dikendalikan oleh, “keseluruhan” yang lebih besar, lebih luhur dan lebih sejati. Setiap peristiwa sejatinya tidak pernah berdiri sendiri. Tiap kejadian adalah tak lebih daripada satu mata-rantai dalam jalinan panjang sebab-akibat dengan berbagai kejadian lain yang mendahuluinya di masa lampau atau menyusulnya di masa depan (determinisme kausal), dan keseluruhan rantai-kejadian itu terulur ke arah tertentu (determinisme teleologis).
Keyakinan deterministik akan rantai-kejadian yang niscaya itu telah dikumandangkan oleh berbagai tradisi mistis dan religius sejak zaman kuno, misalnya lewat doktrin tentang Karma atau Suratan Takdir. Kedatangan zaman Pencerahan di Eropa meruntuhkan determinisme teistik, tapi hanya untuk menggantinya dengan determinisme sekuler. Pemikiran Pencerahan menggulingkan Tuhan, atau kekuasaan supra-manusiawi lainnya, dengan menobatkan rasionalitas sebagai satu-satunya Tuan. Nalar rasional percaya bahwa ada kebenaran objektif yang universal dan abadi, dan kebenaran ini pasti bisa diketahui dengan memberlakukan prosedur baku yang dapat dipelajari dan diajarkan – seperti terbukti dalam sukses ilmu pengetahuan alam. Sebagaimana determinisme teistik pra-modern, determinisme sekuler modern mengklaim bahwa segala sesuatu pada hakikatnya saling terkait mengikuti hukum kausalitas, dan membentuk suatu harmoni universal yang sempurna.
Dalam kosmologi deterministik, tak ada tempat bagi kehendak bebas manusia. Manusia ibarat robot yang hanya bergerak menurut mekanisme yang telah diprogramkan padanya. Tanpa kebebasan bertindak atas dasar kehendak dan pilihannya sendiri, manusia tidak dapat dikenai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya. Segenap ukuran moral ataupun kriteria etis – baik-buruk, bejat-bajik, benar-salah – tidak relevan. Di haribaan determinisme, bahkan bajingan yang paling jahanam pun hanyalah “korban” dari kuasa Tuhan, atau alam, atau struktur sosial, atau apapun di luar kedaulatan si bajingan sendiri. Inilah konsekuensi determinisme yang ditentang para penganut paham kebebasan manusia.
#
Dalam bentuknya yang cukup purba, yakni doktrin tentang kelahiran-kembali (reinkarnasi), determinisme tampil mencolok sebagai tulang-punggung bergulirnya rangkaian peristiwa fiksional dalam cerpen “Cakra Purnabhawa” – sebuah cerita yang mutu literernya memuncaki kumpulan cerpen Sunarta. Lewat sudut-pandang orang pertama (pencerita akuan), cerpen ini secara kronologis memaparkan kejadian demi kejadian yang dialami tokoh Aku yang lahir dan mati berkali-kali, sejak zaman Majapahit pada abad ke-14 hingga Peristiwa Bom Bali pada abad ke-21.
Berulang-kali mengalami reinkarnasi, tokoh Aku terus terpuruk tanpa bisa lolos dari rantai kenistaan yang digariskan untuknya oleh keniscayaan karma. Bukan tuan atas nasibnya sendiri, ia harus pasrah menjalani hidupnya yang “berputar seperti roda yang tak bisa ditolak oleh manusia” – mengutip pengantar di sampul belakang buku Cakra Purnabhawa. Di bagian penutup cerpen “Cakra Purnabhawa”, tokoh Aku dengan memelas mengutarakan keletihannya setelah sekian lama, dan entah untuk berapa lama lagi, ruhnya mesti terperangkap dalam pengapnya penjara raga yang silih-berganti, sambil menelan pahitnya karma. Keletihan yang sama diungkapkan tokoh Aku dalam cerpen “Penggalan Kepala Patung”, yang tepekur mempertanyakan dasar eksistensinya di hadapan segumpal patung yang terpenggal kepalanya di pelataran candi tua.
Menurut doktrin reinkarnasi yang deterministik, kehidupan-kini adalah buah dari kehidupan-silam, sekaligus benih bagi kehidupan-kelak. Dikisahkan dalam cerpen “Laut Kelabu”, pada abad ke-19 ada seorang abdi istana menjalin asmara rahasia dengan selir raja. Hubungan cinta terlarang ini ketahuan raja, dan dua sejoli pelakunya diganjar hukuman mati dengan ditenggelamkan ke laut. Terlaknat mengusung dursila kehidupan-silam, berabad kemudian sepasang kekasih gelap itu dilahirkan kembali sebagai kembar buncing – kembar laki-perempuan yang sampai sekarang dianggap aib oleh tradisi kolot di beberapa desa di pelosok Bali. Warga desa, yang takut kelahiran kembar buncing akan mengundang malapetaka ke desa mereka, mengucilkan si jabang bayi-kembar beserta orang-tuanya ke pinggiran desa dekat kuburan selama tiga bulan. Tapi sanksi adat ini belum cukup. Warga terus meneror keluarga kembar buncing, sehingga akhirnya mereka terpaksa menyingkir dari desa, dan bermukim di daerah pantai.
Berbeda dari cerpen “Cakra Purnabhawa”, posisi narator cerpen “Laut Kelabu” tidak konsisten. Fragmen cerita kehidupan-kini dituturkan dari sudut-pandang orang pertama (pencerita akuan), sementara fragmen cerita kehidupan-silam dibawakan lewat sudut-pandang orang ketiga (pencerita diaan). Perubahan posisi narator ini mengisyaratkan bahwa terjadinya reinkarnasi tidak disadari oleh tokoh-tokoh yang mengalaminya. Itu sebabnya, tokoh Aku di kehidupan-kini hanya bisa bertanya-tanya heran tentang ketertarikannya kepada panorama laut kelabu yang selalu memedihkan hatinya, juga tentang rasa cintanya kepada saudari kembarnya yang melebihi hubungan kakak-adik biasa. Tanpa tahu kenapa.
Determinisme menata carut-marut realitas ke dalam sistem yang koheren, sehingga realitas menjadi masuk-akal dan bermakna. Kepercayaan deterministik akan hukum karma, misalnya – bahwa setiap perbuatan, cepat atau lambat, pasti akan menuai balasan – memberikan kepastian sekaligus rasa aman di tengah kalut dan kejamnya dunia. Atas garansi determinisme, sebagaimana dikisahkan cerpen “Kutukan”, seorang preman benar-benar mampus dibacok setelah dikutuk agar mati tak wajar oleh korban yang pernah diperasnya. Itulah keniscayaan mutlak.
Biar bagaimana pun bobrok dan brengseknya, kenyataan hidup yang dialami seseorang tidak terjadi secara acak atau kebetulan belaka, bukanlah khaos yang berhamburan tanpa kendali, melainkan bagian integral dari skema Kebenaran (the Truth) yang melampaui ruang dan waktu. Determinisme memaknai kesalahan, keburukan, kekacauan, sebagai tak lebih daripada batu penghalang, atau justru gerbang yang tersamarkan, menuju terpenuhinya tujuan yang sejati. Di mata determinisme, segala sesuatu pasti ada alasannya, ada hikmahnya. Dalam cerpen “Birgit”, betapa pun terasa menyebalkan, perlakuan diskriminatif yang menimpa Dika dan batalnya agenda pertemuan Birgit di sebuah klub terkenal di Legian ternyata justru menyelamatkan mereka dari ledakan maut bom teroris. Begitu pula, kesadaran tokoh Aku dalam cerpen “Cakra Purnabhawa” yang menstrukturkan riwayat kelamnya dalam kerangka deterministik reinkarnasi adalah langkah awal untuk menyingkap hikmah di balik kenyataan yang porak-poranda, dan menjadikan hidupnya bermakna. Karena itu di ujung cerita ia masih bisa berharap suatu saat Tuhan berkenan membebaskannya dari kubangan karma. Mengizinkannya untuk moksa. Mencapai kesejatian paling sejati.
Dengan menerakan suatu pola yang pasti pada semua kejadian, determinisme menebus absurditas kehidupan. Tapi mungkin, karena bodoh atau alpa, seseorang gagal melihat pola itu. Kegagalan ini rawan terhadap jebakan fatalisme. Pandangan deterministik bahwa “semua pasti ada penyebabnya” bisa merosot jadi pandangan fatalistik bahwa “apa yang terjadi pasti terjadi”. Dunia seorang duda tua budiman, dalam cerpen “Penjaga Kamar Mayat”, berubah menjadi panggung fatalisme yang murung, manakala segala karma baiknya selama bertahun-tahun ternyata berbuah duka kehilangan anak lanang semata wayang yang teramat dicintai dan dibanggakannya. Dalam cerpen “Menunggu Hening Malam”, tiga lelaki menderita krisis batin akibat terjebak fatalisme teologis yang memulangkan begitu saja semua perkara duniawi kepada takdir atau kehendak Tuhan belaka. Karena ditinggal mati istri saat melahirkan, seorang lelaki jadi pemabuk berat dan penghujat Tuhan, dan seorang lelaki lain mendekati gila – tanpa pernah memeriksa, misalnya, kemungkinan terjadinya kasus malapraktik. Sementara lelaki yang satu lagi begitu ketakutan diteror hantu nasib buruk, sehingga malah lari dari kenyataan bahwa istrinya sedang terkapar menanggung beratnya proses persalinan.
Seringkali seseorang memang tidak bisa menjawab kenapa sesuatu harus terjadi sebagaimana yang terjadi, dan bukan sebaliknya. Tapi berbeda dengan fatalisme yang menihilkan semua jawaban, determinisme mendalilkan bahwa jawaban yang benar pastilah ada, dan pasti ada yang mengetahuinya – entah orang lain atau Tuhan, entah kini atau nanti. Pada cerpen “Puncak Ketujuh”, referensi kepada episode “Pandawa Naik ke Surga” dalam epos Mahabarata – kisah lima-bersaudara Pandawa dan Drupadi masuk surga setelah melunaskan karma masing-masing – menjadi perspektif yang menerangi ekspedisi pendakian gunung yang absurd, di mana enam warga desa bertaruh nyawa demi mencapai puncak gunung yang tak ada, tanpa alasan yang jelas. Lakon pewayangan yang sama, dalam cerpen “Anjing dan Dendam”, mengurapkan cahaya hikmah pada peristiwa terbunuhnya seekor anjing kesayangan, sehingga perseteruan antar-kerabat tidak pecah jadi pertumpahan darah.
Di tingkat sosial, determinisme mereduksi jaringan pengalaman individual yang kompleks dan majemuk ke dalam pola kehidupan umum yang diyakini bersama oleh anggota suatu masyarakat. Ketika mayoritas orang pada masa tertentu berbagi sikap dan perasaan yang sama tentang suatu realitas, maka sikap dan perasaan itu pun dianggap terbukti kebenarannya, dan menjelma jadi konstruksi sosial yang spesifik. Masalahnya kemudian, karena didukung oleh orang banyak dalam waktu yang lama, hakikat konstruksi sosial sebagai realitas kultural lambat-laun cenderung terlupakan. Masyarakat jadi gampang memperlakukan konstruksi sosial sebagai realitas alami, seolah konstruksi itu ajek dan tak pernah dikondisikan secara kultural.
Determinisme sosial menaturalkan realitas kultural, lalu menggaransinya dengan seperangkat aturan atau pakem yang berlaku untuk semua individu. Setiap penyimpangan terhadapnya harus dihukum, bukan saja karena melanggar kesepakatan sosial, tapi terutama lantaran melawan “kodrat”. Dalam cerpen “Kembar Buncing”, sebuah keluarga yang baru saja dianugerahi bayi kembar buncing, yang dianggap aib bagi desa, terpaksa hijrah ke kota demi menghindari sanksi adat. Cerpen “Ratih” menyoroti rapuh dan repotnya posisi perempuan yang harus memenuhi berbagai tuntutan kehidupan modern dalam sistem sosial tradisional-patriarkhal, yang menggariskan bahwa perempuan (istri) mesti tunduk di bawah lelaki (suami). Dan dalam cerpen “Kematian Ayah”, seorang anak yang berbakti merasa senang ketika maut akhirnya membebaskan ayahnya dari derita dunia, tapi itu bertentangan dengan norma kepatutan sosial yang penuh hipokrisi, sehingga dia dianggap gila dan harus diberangus.
Buku Cakra Purnabhawa adalah sebuah interogasi terhadap kedaulatan manusia di tengah pelbagai kekuatan deterministik yang mengepungnya.
#
Pada dasarnya, cerpen-cerpen dalam buku Cakra Purnabhawa bertendensi realis. Berbagai peristiwa fiksional dalam cerpen Sunarta bisa terjadi dalam kehidupan nyata, mungkin saja dialami oleh manusia berdarah-daging betulan di luar teks.
Memang ada cerita yang sepintas kelihatan aneh bin ajaib, misalnya cerpen “Cakra Purnabhawa”. Tapi cerpen ini sebetulnya tak aneh amat. Cobalah baca masing-masing fragmen riwayat kehidupan tokoh cerpen ini sebagai cerita-lepas yang mandiri, tak terkait dengan fragmen riwayat sang tokoh pada masa yang lain. Dijamin, keanehannya langsung punah. Apa anehnya, misalnya, kisah tentang anak-haram raja Majapahit yang dibuang, lalu akhirnya gugur di medan laga sebagai prajurit kerajaan. Atau kisah tentang orang yang lahir pada zaman geger Gestok ’65, dari bapak yang mati digorok dan ibu yang gila, terus menjadi wartawan, dan belakangan raib diculik tentara. Kalau pun ada yang menganggap aneh, kejadian semacam itu jelas bukan mustahil.
Cerpen “Cakra Purnabhawa” hanya tampak ganjil ketika fragmen-fragmen riwayat itu digandengkan dalam satu kesatuan, sehingga tokoh cerita terkesan lahir dan mati berulang-kali – kejadian yang menurut logika normal adalah muskil. Tapi ingat, cerpen ini berbicara tentang reinkarnasi. Dan dalam perspektif reinkarnasi, justru peristiwa kelahiran dan kematian berulang itulah yang real, normal, masuk-akal. Karakter realis cerpen ini bahkan kian terasa tajam dengan banyaknya acuan yang menunjuk pada fakta historis yang nyata: Gajahmada, penjajahan Belanda dan Jepang, Soekarno, pembantaian ’65, penculikan aktivis, gigolo Pantai Kuta sampai Bom Bali.
Peristiwa dalam cerpen “Jimat Tikus” dan “Rumput Liar” memang ajaib, tapi tetap gampang dinalar, bukan irasional atau mengada-ada. Kedua cerpen ini cuma menyindir realitas dengan gaya parodik. Acuannya kepada kondisi sosial real (korupsi) dan situasi politik real (perlawanan rakyat tertindas, people power) terlalu gamblang. Begitu pula dengan cerpen “Puncak Ketujuh” yang terlalu terang-terangan merujuk kepada produk kultural real berupa lakon pewayangan “Pandawa Naik ke Surga” – bahkan nama tokoh-tokohnya pun cuma dibolak-balik hurufnya. Adegan ngobrol dengan malam dalam cerpen “Menunggu Hening Malam” juga masuk-akal, karena dilakukan oleh orang yang kondisi kejiwaannya terguncang.
Karena mengusung referensi yang kuat kepada realitas, cerpen Sunarta cenderung memancing pikiran pembaca untuk mencocokkan kenyataan-fiksional dengan kenyataan-faktual. Sayangnya, justru kecenderungan itulah yang kurang diantisipasi pengarang. Sejumlah ketimpangan antara gambaran dalam cerpen dan referensinya di alam nyata bukan menghasilkan subversi cerdas atas realitas, tapi sekedar mengundang senyum konyol.
Sekadar contoh, cermatilah fragmen ke-2 pada cerpen masterpiece Sunarta, “Cakra Purnabhawa”. Di situ dituturkan bahwa ibunda tokoh cerita keseringan ditiduri para penjajah “bermata biru” dan “lelaki kuning bermata sipit”, sehingga sang tokoh tak tahu lagi siapa sesungguhnya ayahnya – serdadu Belanda ataukah Jepang. Artinya, perempuan itu hamil ketika balatentara Nippon sudah masuk ke Indonesia, yaitu tahun 1942. Taruhlah pada tahun itu ibu sang tokoh langsung mengandung, maka sang tokoh paling cepat dilahirkan pada tahun 1943.
Selanjutnya sang tokoh mengisahkan: “Aku tumbuh menjadi penjudi, centeng pelabuhan, pemain perempuan, sekaligus mucikari bagi priyayi. Hingga tiba suatu waktu, aku tersihir api revolusi yang menyembur dari mulut Soekarno”. Kemudian dia menjadi pejuang kemerdekaan dengan “pin merah-putih di peci…revolver di pinggang dan senapan di tangan”. Kita tahu Soekarno memproklamirkan kemerdekaan RI pada tahun 1945. Maka logikanya, jika sang tokoh lahir tahun 1943, maka pada tahun 1945, ketika dia sudah menjadi preman-tengik dan berangkat memenuhi panggilan tugas Revolusi, usianya sekitar 2 tahun. Hebat betul!
Dokumen sejarah mencatat, pada bulan Agustus/November 1949, berlangsung penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda ke Pemerintah Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Sejak itu berakhirlah konflik bersenjata antara tentara Belanda dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Tapi cerpen menuturkan bahwa sang tokoh gugur saat “memimpin pasukan menyerbu tangsi dan gudang senjata”, dan ini berarti sebelum KMB. Kesimpulannya, sang tokoh (kelahiran 1943) mati terhormat sebagai komandan dan kusuma bangsa di medan laga selambat-lambatnya pada pertengahan tahun 1949, dalam usia 6 tahun. Apa ini Irasionalisme? Surrealisme? Jangan-jangan lebih pas disebut “pelecehan akal-sehat”..
Sunarta adalah penyair yang tergoda menulis cerpen. Puisinya digarap dengan intensitas tinggi, dan jelas jauh lebih kuat dan lebih lezat dibanding cerpennya. Ruh puisi, teristimewa puisi lirik seperti yang lazim ditulis Sunarta, bersemayam dalam imaji (visual-musikal) yang digali kata demi kata. Sementara cerpen pada dasarnya adalah cerita, dan hakikat cerita adalah narasi peristiwa. Rata-rata cerpen Sunarta lemah dalam mengeksplorasi bangunan peristiwa, lahir maupun batin, yang dihuni tokoh-tokohnya. Kebanyakan cerpennya laksana tarian yang ditarikan oleh penari yang berbakat, tapi malas menari. Tak ada sengatan gairah dalam gerak. Tiada didih. Tiada merih.
Di masa depan, kedangkalan dan kehambaran peristiwa dalam cerpen adalah problem yang seyogianya dipecahkan oleh Sunarta.
Sumber: Makalah dalam Acara Launching “Cakra Punarbhawa” pada Minggu, 22 Mei 2005, di Danes Art Veranda, Denpasar.
Trackbacks
Leave a Reply