Dilema Kekerasan Antologi Cerpen “Cakra Punarbhawa”

Oleh: I Nyoman Darma Putra

Cerpen-cerpen dalam antologi Cakra Punarbhawa (2005) karya Wayan Sunarta berada di antara puisi dan novel. Karakter di antara kedua genre ini menguntungkan sekaligus merugikan. Inilah salah satu kesan saya setelah membaca ke-14 cerpen dalam antologi Cakra Punarbhawa. Kesan lain, gaya cerpen tampak beragam yang mengindikasikan bahwa pengarangnya masih dalam proses mencari jati diri sebagai cerpenis. Yang ini adalah sesuatu yang wajar bagi cerpenis muda.

Karakter puisi terlihat dalam sejumlah cerpen yang menggunakan bahasa liris, seperti ungkapan-ungkapan bahasa puitik. Kesan ini nampak kuat pada cerpen “Cakra Punarbhawa” dan “Puncak Ketujuh”.  Kesan bahasa puitis cerpen “Cakra Punarbhawa” sempat memikat perhatian kritikus sastra Melani Budianta ketika mengomentari cerpen ini dalam buku kumpulan cerpen pilihan Kompas 2004. Melani menulis bahwa dalam menuturkan kisahnya, cerpen ini menggunakan “larik-larik prosa liris” dan kemudian menyandingkannya dengan novel Cala Ibi, suatu komparasi yang promotif bagi Sunarta.

Sifat novel terlihat dari tema yang jamak yang bertaburan dalam cerpen. Dalam cerpen yang baik, tema biasanya tunggal. Tema tunggal itu digarap secara mendalam dan menyentuh. Dalam cerpen-cerpen Sunarta, tema-tema yang bertaburan itu tidak digarap dengan tuntas sehingga mau tak mau cerpen-cerpennya menyerupai novel yang belum jadi. Hal ini terlihat dalam cerpen “Anjing dan Dendam” yang dilumuri topik konflik keluarga, nyentana , kekerasan, dan moral. Tidak satu pun dari tema-tema potensial itu digarap dengan fokus, dengan menyentuh, sehingga pembaca bingung apa sebetulnya yang hendak disampaikan pengarang. Contoh lain adalah cerpen “Kutukan” yang menawarkan tema percintaan remaja, hukum karma, kutukan, dan kekerasan. Pengarang membiarkan tema-tema tersebut bertaburan.

Dalam tema-tema yang bertaburan itu, ada satu tema atau topik yang muncul berulang dan hampir dalam semua cerpen antologi Cakra Punarbhawa. Tema itu adalah kekerasan. Tema kekerasan muncul dalam berbagai bentuknya. Tema ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu kekerasan politik/kekuasaan, kekerasan adat/tradisi, dan kekerasan terhadap kehidupan.

Tema kekerasan politik/ kekuasaan terpancar kuat dalam cerpen “Cakra Punarbhawa”, salah satu cerpen terbaik yang pernah ditulis Wayan Sunarta. Dalam cerpen ini, meminjam istilah Melani Budianta, siklus ‘kekerasan Nusantara’ digambarkan dengan bahasa dan narasi yang dinamis dan menakjubkan, mulai dari kekerasan perang zaman Majapahit, revolusi, dan zaman Orde Baru. Kekerasan itu selalu membuat tokoh ‘aku’ mampus atau terbunuh. Rentang waktu yang dicakup cerpen ini begitu panjang sehingga narasi menjadi meloncat-loncat. Penulis kekuarangan ruang untuk memperdalam temanya. Konsekuensinya, cerpen menjadi semacam novel yang belum rampung.

Tema kekerasan politik/ kekuasaan yang tergambar dalam cerpen “Rumput Liar”, yang menggambarkan secara simbolik kemarahan rakyat dalam proses menjatuhkan penguasa (sayang dalam cerpen ini, penguasa itu hanya disimbulkan sebagai seorang ‘Camat’). Tindakan anarkisme Rakyat yang disimbulkan dengan ‘rumput liar’ berhasil membuat Pak Camat mampus, mati dililit rumput liar.

Tema kekerasan adat/ tradisi bisa dibaca dalam cerpen “Kembar Buncing” dan “Laut Kelabu”. Kedua cerpen ini menggarap kelahiran kembar buncing yang dianggap sebagai aib dalam sistem kepercayaan adat Bali. Cerpenis mencoba menunjukkan ironi dalam cerpen-cerpen ini dengan mempertanyakan mengapa si kembar buncing dan keluarga mereka harus dikucilkan, dikenakan sanksi adat, padahal hukum adat seperti itu sudah lama dihapuskan di Bali. Tema kekerasan adat/tradisi seperti ini dan juga yang lain seperti ihwal “kasta”, sudah kerap menjadi santapan para sastrawan Bali, namun kebanyakan di antara mereka takluk dalam perlawanan yang direkayasa dalam cerita. Artinya, nyaris tidak ada tokoh cerita yang bisa keluar dan menjungkir-balikkan kekerasan adat dalam karya-karya sastrawan Bali. Kebanyakan sastrawan Bali yang mencoba menggugat kekerasan adat dan tradisi menghasilkan cerita-cerita yang mengukuhkan kekuatan tradisi yang hendak dilawan.

Tema kekerasan kehidupan, mungkin karena politik/ kekuasaan atau tradisi, terdapat dalam cerpen “Jimat Tikus”, “Birgit”, “Kutukan”, dan “Ratih”.  Dalam cerpen “Jimat Tikus”, Sunarta secara simbolik berbicara tentang tradisi korupsi yang sulit diberantas. Istilah ‘tikus’ dalam cerpen ini dengan mudah diberi makna sebagai ‘koruptor’. Cerpen ini diungkapkan dari sudut pandang pegawai kelas rendah, seorang waker (penjaga malam). Dari sudut pandang itu, pembaca diajak memasuki dunia perusahaan milik negara yang penuh koruptor, termasuk dan terutama pimpinan perusahaan tersebut. Usaha si waker untuk memberantas tikus, atau korupsi, berakhir dengan kegelian, karena dia sendiri ditemukan berubah menjadi tikus oleh istrinya akibat minum ‘jimat tikus’. Korupsi telah menjadi semacam tradisi sehingga tidak saja sulit diberantas tetapi menimbulkan efek kekerasan dan penindasan pada rakyat kebanyakan.

Pada cerpen “Ratih”, cerpenis mencoba berbicara kekerasan rumah tangga dalam konteks kesetaraan gender. Tokoh cerpen, seorang istri muda,  yang bekerja sebagai pemandu wisata dicurigai selingkuh oleh suaminya. Konflik mereka berakhir pada sebuah tamparan suami terhadap istri. Cerpen ini tidak bisa dipisahkan dari usaha untuk menyindir tradisi kekerasan patriarkhi dengan mengambil setting dunia domestik. Kekerasan ini tidak menimbulkan kematian fisik, tetapi kematian gagasan memperjuangkan kesetaraan gender, khsusunya dalam lapangan pekerjaan.

Kekerasan dalam kehidupan yang menimbulkan kepedihan fisik dan bahkan kematian tertuang dalam cerpen “Birgit” dan “Kutukan”. Cerpen Birgit (dan juga “Cakra Punarbhawa”) mendapat inspirasi dari ledakan bom di Kuta Oktober 2002 yang menewaskan lebih dari 202 orang. Sedangkan dalam cerpen “Kutukan”, terungkap tokoh pemeras yang biasa melakukan kekerasan dilukiskan mati dibacok orang. Pembacokan itu dikaitkan pengarang dengan ‘kutukan’ yang diucapkan tokoh perempuan cerpen ini yang pernah hendak diperas saat pacaran di lapangan gelap (Renon).

Pertanyaan yang muncul kini, mengapa Sunarta gemar melukiskan kekerasan dan juga kematian-kematian dalam cerpen-cerpennya? Adakah ini dilakukan secara sadar, atau hasil proses bawah sadar yang tidak pernah dirancang sebagai suatu kekhasan? Jawabannya mungkin terkait dengan kegemaran pengarang terhadap cerita-cerita Mahabharata, yang disaksikan dalam pentas pewayangan dan dijadikan dasar cerpen-cerpennya dalam antologi ini. Epos Mahabharata dan juga Ramayana serta  sekian banyak lakon drama gong Bali selalu dipenuhi dengan perang dan tindak kekerasan. Aspek kekerasan itu menjadi bagian dari penuangan konflik yang membuat cerita menjadi memikat. Sayangnya, dalam cerpen-cerpen Sunarta, kekerasan itu kurang berhasil dijadikan landasan untuk membangun konflik. Akibatnya, cerpen-cerpen Sunarta, termasuk dalam arus kebanyakan cerpen-cerpen sastrawan Indoensia yang lemah konflik.

Alasan lain yang bisa diberikan adalah karena Sunarta menulis dalam rentang waktu ketika Indonesia dipadati dengan tindakan kekerasan. Jika dilihat tahun-tahun cerpen-cerpen ini ditulis, antara 2000-2004, jelaslah bahwa Indonesia diliputi berbagai tindakan kekerasan dalam periodi tersebut. Kekerasan menjadi menu percakapan, berita koran, tayangan televisi, dan wacana publik. Sadar atau tidak, pengarang yang memang merupakan makhluk sosial yang kesadaran dirinya ditentukan oleh kesadaran sosial daripada sebaliknya, ikut terbawa dalam arus kekerasan sosial. Tema-tema kekersan juga menjadi salah satu trend tema cerpen-cerpen Indonesia, seperti bisa dibaca dalam cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS, yang melukiskan pembantaian dan pemerkosaan etnis Cina di Jakarta.

     ***

Ada yang menarik dalam cerpen-cerpen Sunarta jika dilihat dari kaca mata kajian budaya (cultural studies). Tokoh Kajian Budaya berkulit hitam, Stuart Hall (1992) menegaskan bahwa salah satu perhatian penting dari kajian budaya adalah miatnya yang kuat pada hubungan antara kekuasaan dan politik (connection to matters of power and politics), kebutuhan pada perubahan reresentasi kaum marginal atau yang dimarjinalkan khususnya dalam klass, gender, dan ras. Hal ini disampaikan karena bagi Hall, pengetahuan (yang menjadi sumber kekuasaan), bukanlah sesuatu yang netral tetapi tergantung dari sudut pandang mana dan siapa yang merepresentasikan. Dalam cerpen-cerpen Sunarta, kita melihat terbukanya ruang bagi kaum marginal seperti waker (penjaga kantor), rakyat (rumput liar), wanita (dalam cerpen “Ratih” dan “Kembar Buncing”), aku anak jadah atau anak pelacur (dalam ‘Cakra Punarbhawa), untuk berbicara dan melukiskan realitas kehidupan sosial politik. Narasi kehidupan dan catatan sejarah dihidangkan Sunarta dari kaca mata kelas yang termajinalkan dalam wacana besar bangsa, di mana sejarah dan politik selalu menjadi urusan laki-laki, penguasa dan orang-orang besar.

Cerpen-cerpen Sunarta menunjukkan adanya perubahan sudut pandang representasi. Akan tetapi, dari kebanyakan cerpennya, nada representasi dari wong cilik itu selalu berakhir dengan kemurungan. Kita tidak melihat kemenangan perjuangan kaum yang termajinalkan dalam cerpen-cerpen Sunarta. Tokoh suami dan istri yang pindah ke kota dalam usaha menentang kekerasan tradisi (adat), toh masih digelayuti pemikiran akan kerinduan untuk kembali ke desa yang dicintainya. Mencintai desa identik dengan menerima kekersan tradisi yang tidak pernah lenyap dimakan zaman. Tokoh Ratih yang menjadi guide tidak bisa dijadikan lambang keberhasilan perjuangan kesetaraan gender karena profesinya tidak diterima oleh suaminya secara utuh. Perkecualian yang melukiskan kemenangan perjuangan kaum marjinal bisa dilihat dalam cerpen “Rumput Liar”, karena cerpen diakhiri dengan matinya sang penguasa dililit rumput (grass root). Akan tetapi, cerpen ini tidak memberikan optimisme masa depan dalam sistem kekuasaan di wilayah tersebut. Di sinilah dilema kekerasna cerpen-cerpen Sunarta.

     ***

Dalam hal gaya penceritaan, cerpen-cerpen Sunarta menunjukkan dia sedang memamerkan gaya-gaya absurd-imajinatif, gaya realis, dan filososfis. Dalam beberapa cerpen, gaya realis bercampur baur dengan imajinatif seperti dalam cerpen “Jimat Tikus”. Gaya filosofis bisa dibaca dalam cerpen “Puncak Ketujuh”, yang mengisahkan perjalanan sejumlah tokoh, yang namanya adalah kebalikan dari nama-nama tokoh Pandawa, seperti Mabi (Bima) dan Lakuna (Nakula), ke alam impian. Gaya ini bisa dilihat sebagai teknik yang biasa diterapkan penulis dalam menulis sajak karena sajak cenderung filosofis.  Gaya realis kentara dalam cerpen “Kutukan”.

Persoalannya, apakah Sunarta akan bertahan dalam salah satu dari tiga gaya yang telah dia coba selama ini atau justru meramu ketiga gaya itu menjadi ‘gaya khas Sunarta Jengki’. Gaya apa pun yang dipakai, kewajiban mengebor tema sampai dalam dan menyentuh adalah tugas penting cerpenis daripada menjajarkan banyak tema dalam satu cerpen seperti yang menjadi masalah dalam cerpen-cerpen antologi  Cakra Punarbhawa.

Sumber: Makalah dalam Acara Launching “Cakra Punarbhawa” pada Minggu, 22 Mei 2005, di Danes Art Veranda, Denpasar.
 

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php