Tafsir Reinkarnasi Gaya “Jengki”

Oleh: Yudhis Muh. Burhanudin

ANATOMI antologi cerpen Cakra Punarbhawa secara keseluruhan bisa dibagi ke dalam tiga pembagian teks dan konteks. Yang pertama adalah teks-konteks yang merujuk pada sifat-sifat manusia yang simbolis dan keyakinan yang bersifat filosofis, terutama filsafat Hindu (Bali). Yang kedua adalah teks-konteks yang membincangkan soal sosio-budaya Bali (Hindu-Bali), sesekali berkaitan dengan yang pertama tadi. Dan yang ketiga adalah teks-konteks yang mengajak pembaca untuk menyimak persoalan sosial dari sudut pandang sosiologis, tepatnya sosiologi-sastra, terhadap persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan yang masih tersisa hingga saat ini, semisal korupsi.

Cerpen-cerpen (cerita pendek) yang keseluruhannya digarap oleh I Wayan “Jengki” Sunarta adalah cerpen-cerpen yang ditulis dalam proses perjalanannya menulis cerpen di tahun 2000 hingga 2004. Sehingga, praktis beberapa cerpen dari keempat belas cerpen yang diterbitkan oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2005 ini, sangat kental nuansa sosio-budayanya (Hindu-Bali) dan beberapa tema dan pesannya masih relevan untuk pembaca hari ini.

Misalnya cerpen Kembar Buncing, Anjing dan Dendam atau Ratih, adalah cerpen-cerpen yang menjadikan persoalan sosio-budaya Bali sebagai refleksi hidup. Sedangkan cerpen yang lain seperti Kematian Ayah masih terkesan ambigu teks-konteksnya. Maksudnya, cerpen ini mengangkat tema yang bersifat filosofis tapi juga secara implisit ia pun bersifat sosio-kultural Bali. Cerpen lain yang juga ambigu seperti yang tadi adalah Menunggu Hening Malam, dan Kutukan.

Kemudian, ada dua cerpen yang tumben menyelinap, dan ini bisa dikatakan keluar dari diskursus Cakra Punarbhawa sebagai judul keseluruhan antologi tersebut adalah Rumput Liar dan Birgit. Kedua cerpen ini secara umum bertemakan persoalan sosiologis saja. Dan kalaupun ada teks-teks di dalamnya yang bersangkut paut dengan soal-soal filosofis dan budaya Bali, hal itu hanya sebagai pelengkap alur cerita (plot) dan settingnya saja. Sedangkan cerpen-cerpen lain yang memang berhubungan dengan, yang pertama judul antologi cerpen ini dan yang kedua dengan benang merah antologi ini secara keseluruhan ialah, cerpen Cakra Punarbhawa, Penggalan Kepala Patung, Puncak Ketujuh, Laut Kelabu, Kutukan dan Penjaga Kamar Mayat.

Garis besar dari antologi ini memang tidak bisa dilepaskan dari konsepsi-konsepsi filosofis (filsafat Hindu-Bali) dan sosio-budaya di Bali. Kedua persoalan ini bisa disimak dari berbagai sudut pandang khasanah kesusastraan yang ada.

Apabila pembaca teks sastra cukup jeli memperhatikan setting, tentu ia akan cepat menangkap apa dan bagaimana kemauan sang pengarang dalam cerpen-cerpennya. Akan tetapi, apabila seorang pembaca mengedepankan aspek plotnya, tentu ia sedikit kebingungan dengan lompatan-lompatan cerita dan peristiwa yang terjadi di sana-sini, terutama cerpen-cerpen yang bertemakan persoalan filsafat Hindu.

Di sisi lain, penampakan atau penguatan unsur karakter (characterization), baik itu secara psikologis dan fisiologis (psychological and physiological characters) tokoh-tokoh yang terdapat di dalam cerpen-cerpen ini, secara kesuluruhan, kecuali tokoh “aku” pada cerpen-cerpen filosofis misalnya, tidak ada yang bisa mengejutkan atau membuat pembaca terenyuh. Mungkin yang bisa dikatakan hampir mendekati dan menggelitik rasa (emosional) empati ataupun simpati dari pembacanya adalah tokoh Darsa dan istrinya Luh Sarni dalam Kembar Buncing. Namun, itupun belum maksimal karena masih ada persoalan teknis atau keterbatasan yang namanya cerpen. Sebenarnya, tokoh Pak Tabah dalam cerpen Penjaga Kamar Mayat bisa mendekati aspek penggelitikan rasa emosional pembaca misalnya, jika saja, pengarang mampu menghadirkan klimaks cerita dan antiseden di dalamnya.

Tapi perlu diingat juga, seperti kata Dr. Nyoman Dharma Putra yang mengulas beberapa bagian cerpen ini pada peluncurannya 22 Mei 2005 yang lalu di Danes Art Veranda, bahwa cerpen-cerpen ini lebih menyerupai novel yang belum selesai. Hal itu benar jika meyimak tematiknya dan bukan struktur cerpen tersebut. Karena, belum ada batasan yang jelas tentang berapa (halaman) panjang pendeknya sebuah naskah cerita pendek.

Dan terakhir, dari aspek intrinsik susastra lainnya seperti introduction dan denoument dari keseluruhan cerpen dalam antologi ini sama sekali tidak diperhatikan. Hal ini mungkin disebabkan adanya otoritas sebuah rekonstruksi struktur cerita dari pengarangnya. Dan kedua, mungkin juga ini disebabkan oleh keterbatasan ruang yang namanya cerita pendek. Padahal, sebenarnya dua unsur cerita ini tidak bisa disepelekan mengingat, dengan kemampuan menghadirkan pembuka dan penutup dengan narasi yang betul-betul menyengat pembaca teks sejak awal, adalah salah satu daya tarik sebuah cerita sehingga cerita itu bisa menyentuh jidat dan jantung pembacanya.

KATA ‘Cakra’ dan kata ‘Punarbhawa’ bagi yang memercayai filsafat Hindu, tentu sudah tidak asing lagi. Tapi bagi pembaca teks susastra yang masih awam dengan konsepsi filsafat (agama) Hindu, tentu kedua kata tersebut perlu dicarikan kamus (kamus filsafat) dulu. Kata Cakra bagi penganut Hindu sendiri paling tidak memilki dua konotasi makna. Dan kata Punarbhawa bagi ummat Hindu adalah sebuah pandangan hidup. Dan ketika, orang Hindu (Bali) mendengar kata ini, ia akan diingatkan pada: Karma dan Reinkarnasi.

Pertama bahwa Cakra merupakan senjata Dewa Vishnu yang menyerupai bentuk cakram dan kedua ia merupakan sebuah sesuatu yang berputar: siklus kehidupan. Sedangkan kata ‘Punarbhawa’ sendiri bisa dipahami sebagai proses kelahiran kembali.

Sehingga, secara kontekstual, frase ini merujuk pada sebuah “keyakinan” akan sebuah proses siklus kehidupan yang berulang-ulang—sampai ke titik tertentu, moksa, dari sebuah realitas fisik dan non-fisik terhadap apa yang ada (kehidupan dengan segala warna di dalamnya) di hadapan kita manusia. Pertanyaannya, apakah teks-teks dalam antologi cerpen Cakra Punarbhawa ini berbicara seperti itu?

Membaca teks-teks cerpen Cakra Punarbhawa, Penggalan Kepala Patung, Puncak Ketujuh, Laut Kelabu dan Kutukan akan menggiring alam imajinasi pembacanya pada sebuah titik: perjalanan spritual, mistisme Hindu, dan takdir atau nasib. Cerpen-cerpen ini begitu kuat ingin menjembatani atau menyampaikan kepada pembaca perihal konsepsi pandangan hidup sang pengarang, walaupun, di bagian lain beberapa teksnya terkesan masih bersifat verbal. Artinya bahasa simbol yang digunakan dalam ragam ceritera ini memang sudah tepat, akan tetapi, pembaca belum bisa menemukan karakteristik diri sang pengarang tentang filsafatnya umpamanya, atau kekuatan “aku”-nya si pengarang dalam bernarasi. Yang didapat adalah, kita pembaca, disuguhi beberapa bentuk wacana pemikiran langsung dari mulut (pena) sang pengarang dan yang hadir di situ bukan diri sang pengarang.

Perkecualian di sini adalah cerpen Cakra Punarbhawa, yang memang diakui sendiri oleh pengarang, awalnya cerpen ini adalah puisi panjang. Kesuksesan pengarang yang mampu menghadirkan dirinya, terdapat dalam cerpen ini. Penilaian ini terlepas dari sudut pandang tokoh “aku”. Artinya, bagaimana pengarang mengolah gejolak pemikiran dan jiwanya dalam cerpen ini bisa dirasakan ketika tokohnya diambil alih oleh pembacanya. Secara tidak sadar, pembaca akan ikut terobsesi mengikuti alur teksnya. Akan tetapi, di sisi lain, tokoh “aku” dalam cerpen Cakra Punarbhawa adalah ke-aku-an yang hanya bisa diselami oleh mereka yang memang yakin dengan pemikiran Hindu.

Mistisme Hindu dan nasib (pre-destination), secara tematis terdapat dalam beberapa bagian dalam alur ceritera cerpen-cerpen tersebut, kecuali Kutukan. Dalam cerpen Kutukan, konsep karma dihadirkan oleh pengarang dalam plot kontemporer—situasi dan kondisi yang sering kita saksikan di lapangan Renon misalnya.

Lebih spesifik lagi pada cerpen Penggalan Kepala Patung. Di sini pengarang menunjukkan sebuah keterkungkungan lingkaran siklus kehidupan dan konsep kehidupan kembali. Pada halaman 26 paragraf kedua, di situ ditemukan sebuah makna teks yang merujuk pada sebuah penolakan akan kembalinya jiwa itu kepada jiwa yang lebih tinggi atau perjalanan Atman menuju Brahman. Akan tetapi, paradoks yang coba dihadirkan ada pada paragraf keempat di halaman yang sama. Di sini, lagi-lagi, pengarang menujukkan sikap penolakannya yang halus dan bersifat puitis.

Walaupun sebenarnya, pengarang berusaha menghadirkan sebuah “penolakan” atas kepercayaan reinkarnasi umpamanya, akan tetapi, jika ditelusuri dan dikaitkan dengan isi ceritera dalam Puncak Ketujuh dan Laut Kelabu, pengarang bisa dikatakan mengakui lingkaran atau siklus kelahiran kembali itu.

Cerpen Laut Kelabu menampilkan penggambaran simbolis dan metaforis akan sebuah keyakinan pada kehadiran jiwa yang belum sempurna ke dalam tubuh orang lain. Dalam agama Hindu-Bali, keyakinan seperti sangat melekat. Bagaimana misalnya, tokoh Nadha dan Nadhi, keduanya ternyata adalah titisan dari selir dan pembantu raja yang selingkuh dan dihukum mati. Karma yang didapatkan adalah, kedua jiwa ini akan terus menerus hidup dalam tubuh yang lain, di lain waktu dan tempat selama karmanya belum bisa menebus kesalahannya di masa lampau.

Cerpen Puncak Ketujuh adalah cerpen yang tokoh dan alur ceriteranya mudah ditebak bagi pembaca yang sudah akrab dengan kisah dan tokoh Mahabharata. Cerpen ini juga merupakan penggambaran simbolis akan sebuah perjalanan spritual manusia. Konteksnya, manusia hidup di dunia ini sama dengan perjalanan yang dipenuhi cobaan-cobaan hidup. Pada akhirnya, manusia akan menemukan dirinya sendiri, yaitu Puncak Ketujuh setelah ia berhasil melewati rintangan. Dan rintangan yang paling berat, dalam konsep Hindu, adalah mengalahkan ego-sendiri. Untuk mencapai ini, latihan Yoga dan semadi adalah salah satu cara untuk mengendalikan itu.

Selain dari cerpen-cerpen yang telah disebutkan di atas, seperti cerpen Kembar Buncing, Ratih, Anjing dan Dendam, dan Kematian Ayah, adalah cerpen-cerpen yang kental nuansa sosio-kultur Bali-nya. Artinya, secara kontekstual, pengarang menghadirkan situasi dan kondisi masyarakat Bali, baik itu secara langsung atau tidak langsung, dalam sebentuk struktur narasi. Bagi pembaca, hal ini memudahkan untuk mempelajari apa dan bagaimana budaya sangat berperan dalam lingkungan si pengarang. Di lain kasus, pengarang, ia juga menelanjangi sebagian dari sekian banyak unsur-unsur sakral dari pemahaman budaya setempat. Khusus dalam cerpen Ratih, pengarang menyampaikan sebuah kasus patriarki dan ungkapan misoginis serta status perempuan dalam keluarga Bali.

Ungkapan yang misoginis dan bersemngat patriarki dalam cerpen Ratih misalnya: “Kau selalu pulang larut malam. Apa saja kerjamu dengan bule-bule itu!” Lalu ungkapan misoginis lainnya misalnya: “Ah! Banyak omong kau. Mentang-mentang gajimu besar, beraninya kau melawanku. Aku suamimu, kepala keluarga di rumah ini…”

Bentakan suami  Ratih di atas merupakan potret keluarga patriarki yang sudah umum dan terkesan masih wajar terjadi di negeri yang masih berbau feodal dan bercita rasa agraris. Sedangkan ungkapan yang misoginis, menurut kalangan feminist seperti Dr. Gadis Arivia, adalah ungkapan yang berkonotasi pada memojokkan, menghina dan mengasosiasikan perempuan dan kelamin permepuan dengan sesuatu yang nista, buruk dan selalu salah. Bukan saja kalangan awam yang terbiasa berpikir dan berbicara yang misoginistik, bahkan orang-orang yang berpendidikan pun masih demikian. Dalam desertasi Arivia disebutkan bahwa, filsuf pun menilai dan memperlakukan perempuan sedemikian rendah dan nistanya, termasuk proposisi-proposisi filsafat yang masih memihak kaum laki-laki. Artinya kenyataan ini adalah sebuah realitas budaya patriarki, bukan kepintaran apalagi titel, semisal S.S, M.Si, M.Hum atau SH, MH umpamanya. Titel-titel ini bukan jaminan laki-laki pasti bersikap adil dan menghargai perempuan sebagai manusia.

Sedangkan cerpen Menunggu Hening Malam, di sini pengarang berusaha mengolah sebuah kertekungkungan nasib dan keyakinan akan nasib itu sendiri. Dalam cerpen ini, kematian dan nasib adalah dua hal yang identik bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Kenyataan ini juga tidak jauh dari konsepsi filsafat dan agama Hindu itu sendiri.

Cerpen Jimat Tikus, Rumput Liar dan Birgit adalah cerpen-cerpen yang keluar, atau tidak berhubungan dengan wacana antologi ini, Cakra Punarbhawa. Cerpen-cerpen ini bersifat sosiologi mentah. Bahasa-bahasa simbol dan metafor bisa ditemukan dalam cerpen-cerpen ini, meskipun tidak seluruhnya dikatakan berhasil dalam pengemasannya. Artinya, terlepas dari persoalan sosial yang dihadirkan dalam ceritanya, cerpen ini masih datar dari segi narasi dan tokoh. Yang kuat justru adalah narasi sosialnya. Pada titik ini, cerpen ini relevan dengan konsep sosiologi sastra: “cermin masyarakat” dari Abrams. Namun untuk mengulas lebih jauh, ceritera ini terlalu pendek untuk itu. Tapi secara tematik, ia sudah masuk dalam kategori Abrams dan Ian Watts, yaitu sastra sebagai dokumen sosial.

Yang merusak keseluruhan antologi ini dari sudut pandang diskursus Cakra Punarbhawa adalah “menyusupnya” atau “terselipnya” tiga cerpen barusan: Jimat Tikus, Rumput Liar dan Birgit. Karena hermenutika teks melihat wacana Cakra Punarbhawa secara keseluruhan: dari semua isi cerpen di dalamnya, walaupun mungkin pilihan ketiga cerpen ini bersifat aksidensi (kebetulan), akhirnya pilihan frase Cakra Punarbhawa itu sendiri lebih bersifat pragmatis ketimbang mewakili isi frase tersebut: alam pikiran, hasrat, kekuatan, imajinasi dan ekspresi pengarang. Semoga diskursus Cakra Punarbhawa dipilih bukan karena “keanehan” kata itu saja. Semoga ia dipilih sebagai sebuah kesadaran diri.

Sumber: Majalah Suardi, Bali, tahun 2005

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php