Membaca Cakra Punarbhawa
oleh: Sigit Susanto
Membaca bagiku adalah kegiatan yang melelahkan. Tapi bila bacaan itu
menarik, bisa bikin dahi mengkerut atau merenung serius, tertawa, dan
setidaknya bisa menghibur hati. Tentu saja bacaan itu akan cepat tuntas.
Kalau kita hanya sekadar membaca karya, aku kira tak begitu sulit. Yang
lebih sulit, kalau kita juga punya inisiatif untuk memberikan catatan kecil
atau sejenis apresiasi atau lebih umumnya disebut komentar. Karena jenis
apresiasi, komentar ini tentu akan cenderung menuruti isi hati pembaca.
Seandainya ada 10 pembaca yang ingin memberi apresiasi, bisa jadi akan
terjadi 10 apresiasi atau komentar yang berbeda. Kritik, komentar, dan
apresiasi menurutku bagian dari sastra itu sendiri. Sehingga tidak
berlebihan, bila seseorang sehabis membaca karya, kemudian timbul gagasan
pribadi untuk membuat catatan-catatan di benaknya. Usaha ini bukan
berpretensi gagah-gagahan atau mengumbar kritik. Tanpa usaha kecil-kecilan
seperti itu, buku sastra akan jadi pajangan belaka. Lama-kelamaan akan
menjadi barang antik, yang dipuja-puji luarnya, tanpa menyinggung isinya
atau menunggu dilap debunya di rak buku sebulan sekali.
Kendala lain yang muncul, ketika kita akan memberi komentar sebuah karya.
Ternyata penulisnya sudah kita kenal secara pribadi. Ada semacam beban
psikologis, apabila kita memberi komentar pedas. Tapi demi sebuah kejujuran
berapresiasi, selayaknya perkenalan dengan penulisnya harus diabaikan.
Angankan, bila kita tak mengenal penulisnya sama sekali.
Kumpulan cerpen „Cakra Punarbhawa“ karangan Wayan Sunarta ini sudah aku baca
di atas kereta api. Buku terbitan Gramedia setebal 146 halaman itu memuat 14
cerpen. Tema-tema yang diangkat Wayan, kebanyakan tentang kehidupan
sehari-hari di Bali. Baik kehidupan anak-anak muda, perubahan modernitas
maupun hiruk-pikuk adat Bali. Karena Wayan juga penyair, terasa sekali pada
kalimat-kalimat pendeknya sering puitis. Persamaan akhiran, bunyi, dan
ungkapan sering tersisipkan secara sadar atau sudah terjaga rapi. Akan
tetapi, ketika Wayan menceritakan tema yang agak genting. Maka kalimatnya
mengalir deras, tak pedulikan lagi; apakah akan bernada puitis atau tidak.
Sepertinya dia sedang mengejar alur cerita yang sudah di otak. Kalau sudah begini,
rasanya pilihan bunyi dan metafora tak
menjadi hal penting lagi. Atau mungkin jauh dari kesadaran itu.
Dari 14 cerpen itu yang menjadi favouritku ada 3 buah yang berjudul:
1.„Jimat Tikus“, 2.“Cakra Punarbhawa“, 3.“Birgit“. Sedang 11 cerpen sisanya
aku anggap biasa. Maksudnya biasa, aku sering menemukan jenis cerpen seperti
itu di media lain atau pada cerpenis lain. Misal, cerpen „Ratih“, kisah
seorang pemandu wisata perempuan bernama Ratih yang dilematis. Satu sisi dia
diharapkan incomenya oleh suaminya. Dan di sisi lain, dia harus dicurigai,
karena sering terlambat pulang malam. Bagiku cerpen ini kurang menggigit.
Tema kecemburuan pada cerpen ini terasa biasa. Toh si Ratih hanya
dicemburui, karena dia diantar pulang oleh sopirnya. Tak ada bukti otentik
dan riel. Tak ada kasus yang mendasari.
Kemudian cerpen berjudul „Penjaga
Kamar Mayat“, menurutku faktor kebetulan sangat dominan. Meskipun kebetulan
itu bisa terjadi dalam kehidupan nyata, tapi 1001 saja kebenarannya. Mayat
Mr.X dimungkinkan adalah anak Pak Tabah. Faktor kebetulan yang lain pada
cerpen „Kutukan“ diakhiri dengan berita dikoran tentang pemeras yang dibacok
orang. Sebelumnya sang tokoh sudah sumpah serapah dan mendoakan akan terjadi
karmaphala pada si pemeras. Nah, karma phalanya atau harapan si penulis
sendiri terkabulkan di ending cerita. Hal ini juga terjadi pada cerpen
„Birgit“, si tokoh gondrong sendirian di pantai Kuta. Dia muram, karena
cewek Jerman si Birgit tak menghubungi lagi lewat HPnya. Karena Birgit masuk
cafe yang melarang orang lokal. Di sini tokoh gondrong bersumpah serapah di
pantai Kuta;“Seandainya aku bisa bikin bom, cafe yang diskriminatif itu
sudah aku bom. Eh,…ending cerita ini ada suara gelegar, yang dikira gardu
listrik yang meledak. Ternyata benar-benar ada bom meledak. Padahal kata
bom tadi sudah disinggung terlebih dahulu di pantai Kuta. Kesanku, penulis
tergesa-gesa akan memasuki klimaks yang dahsyat. Seandainya penulis tak
mengumbar kata karmapala dan bom di kedua cerpen itu. Pembaca akan menikmati
dengan begitu sempurna.
Wayan suka memakai objek yang sama di sekitar Renon, Denpasar. Ini bisa
dibuktikan pada dua cerpennya berjudul „Kutukan“dan „Birgit“, kedua cerpen
tersebut ada objek di Renon. Memang aku tahu, lapangan Renon itu asyik untuk
pacaran. Tokoh cerpen Wayan juga sering makan jagung bakar di Renon.
Cerpen „Jimat Tikus“ aku nilai paling bagus. Penulis mampu membawa pembaca
secara perlahan mengikuti cerita dukun pemberi jimat tikus. Sebuah cerpen
yang penuh kritik sosial maha halus. Apalagi zaman sekarang budaya korupsi
sudah menjamur di mana-mana. Parodi tikus di kantor dan tikus jadi-jadian,
sungguh menyentuh. Sehingga tikus jadi-jadian dari waker itu bisa
mendengarkan bahasa tikus kantor yang ternyata bosnya sendiri.
Günter Grass menulis „Tikus dan Kucing“, Kafka menulis „Metamorfosa“. Wayan
berhasil membuat kritik lewat sastra dengan sangat memukau.
Cerpen „Cakra Punarbhawa“ aku anggap lebih berjiwa puisi. Maksudku tak hanya
isi yang menonjol, namun metafora dalam cerpen itu bertumpuk-tumpuk.
Apalagi, kita tahu cikal bakal cerpen itu berasal dari sebuah puisi panjang
yang dipermak menjadi berantai. Baris-baris itu seperti ditambal lem,
sehingga menjadi kalimat yang punya cerita. Membaca cerpen ini, kita rasakan
pilihan katanya sangat kuat.
Cerpen „Birgit“ ini tentang skripsi dan sedikit bayangan romantis. Si
gondrong membayangkan dapat menggaet si Birgit. Meskipun hanya dalam impian.
Sumpah serapah, kejengkelan si gondrong tertumpah-ruah. Alur bergerak maju
dan tak terasa kita terbuai dengan ritme lamban yang menuntut kita
menyelesaikan bacaan.
Sekian saja, mungkin ada kawan yang sudah baca kumpulan cerpen ini. Bolehlah
berbagi rasa dan kesan dari hasil bacaan kita.
sumber: Milis Apresiasi-Sastra
Trackbacks
Leave a Reply