Tokoh-tokoh Rekaan dan Pengarang Tiran
Oleh: Warih Wisatsana
Belakangan ini, setiap kali membaca karya fiksi terutama cerita pendek, saya kerap tergoda untuk menelisik lebih jauh bagaimana tokoh-tokoh rekaan itu dilahirkan dan sekaligus dihadirkan oleh para pengarangnya. Seringkali, mungkin seperti pembaca lainnya, saya dibuat tercengang, bukan oleh jalan ceritanya yang menakjubkan, melainkan karena tokoh-tokoh itu dituturkan bertingkah-polah aneh dan ganjil. Peristiwa-peristiwa yang dialami mereka pun cenderung terjadi serba kebetulan, tak disertai suatu hubungan sebab-akibat yang meyakinkan. Sisi lainnya, tak jarang juga ditemui sosok wong cilik yang kelewat cerdas, kelewat tak masuk akal dalam jalinan kejadian yang pada dasarnya biasa-biasa saja.
Tokoh-tokoh “kikuk” itu (bukan unik), baik yang mencoba absurd, yang ingin sureal, atau bahkan yang tampil real-senyatanya, akhirnya mengesankan tengah “diperalat” oleh sang empu cerita. Sosok mereka tidak lebih semacam duplikasi angan dan ingin yang tak terkendali dari si pengarangnya. Karena itu karakter dasar atau perwatakan mereka akhirnya pun menjadi tak terjaga. Tokoh-tokoh itu tampil klise atau stereotipe; moralis atau jahat umumnya, dan akibatnya terkesan kurang leluasa mengekspresikan sikapnya, bahkan kehilangan peluang untuk menjadi dirinya sendiri. Sang pengarang, justru disebabkan otoritas penciptaannya, terdorong untuk bersikap tiran; sesuka hati memberkati para tokoh itu dengan nasib baik, atau sebaliknya menghukumnya dengan takdir buruk.
*
Purnama di Atas Pura adalah buku kumpulan cerpen kedua sastrawan Wayan “Jengki” Sunarta, yang memuat 15 cerita pendek, dengan rentang waktu penciptaan sepuluh tahun (1995-2005). Berbeda dengan kumpulan cerpennya yang pertama, Cakra Punarbhawa (Gramedia, Februari 2005), buku kedua ini justru menyertakan karya-karya awal dari karier kepenulisannya. Tentu saja fakta ini menarik disimak lebih jauh, dan dengan sendirinya hal itu memungkinkan kita untuk memperoleh gambaran yang jernih dari proses dan perkembangan kreatif Wayan Sunarta.
Kesan awal dari keseluruhan cerpen-cerpen ini memang menunjukkan adanya usaha yang cukup gigih dari pengarang, yang tidak hanya melakukan eksplorasi atas kemungkinan “bentuk” kisahannya, melainkan juga dalam upayanya untuk menggali dan menyuguhkan tema-tema yang beraneka.
Sebagaimana kumpulan cerpennya yang terdahulu, kali ini Sunarta juga mendalami aneka gaya tutur; antara lain bersifat absurd-imajinatif, realis, atau bercorak filosofis. Sebagian besar tokoh-tokoh yang dihadirkannya lebih merupakan gambaran dari orang-orang biasa, lelaki atau perempuan yang tengah murung, sedih oleh patah hati atau oleh bentuk-bentuk kekecewaan lainnya. Tidak ada tokoh-tokoh luar biasa, yang tampil dengan citra heroik atau dilukiskan memiliki kelebihan yang menakjubkan. Kalau pun hadir figur-figur yang terbilang misterius, seperti sosok perempuan dalam cerpen Muli Sikep atau nenek sakti tanpa identitas dalam Kekasih Menjelma Cahaya, juga gadis penjual kopi di Lembah Batur, pengarang tidak berpretensi untuk mendeskripsikannya secara berlebihan.
Berbeda halnya dengan buku Cakra Punarbhawa, yang memang kebanyakan tokoh-tokohnya bukan dari kalangan orang biasa, atau setidaknya tampil dengan gambaran yang lebih heroik/dramatik. Semisal sosok camat, dalam cerpen Rumput Liar, yang dilukiskan mati secara tragis dililit oleh rumput liar; atau sosok simbolik yang nan karikatural dalam cerpen Jimat Tikus; juga tokoh sang aku yang menitis berulang dan mengalami aneka kekerasan dalam cerpen Cakra Punarbhawa.
Tokoh-tokoh “sakit hati” ini, ditangan Sunarta, tidak dipertautkan dalam suatu jalinan cerita yang penuh kompleksitas. Sebagian besar cerpen dalam buku keduanya ini cenderung realis, tak jauh berjarak dari kenyataan sehari-hari. Kisahannya mengalir linear, bahkan dalam cerpen-cerpen awalnya mudah ditebak akan berakhir di mana. Unsur surprise di akhir cerita, yang oleh sebagian pengarang diyakini sebagai salah satu kekuatan genre ini, tak terlalu mengobsesi Sunarta.
Disadari atau tidak, dan memang terbukti mendominasi kumpulan ini, pengarang justru lebih terobsesi untuk mengisahkan tokoh-tokoh penuh kecewa dan bernasib malang karena kasihnya yang tak sampai, atau pengharapannya yang harus kandas di tengah jalan. Misalnya, pertemuan melankoli antara dua sosok yang terluka karena dikhianati pasangan sebelumnya (Dua Kisah Sedih), tokoh “aku” yang ditinggal berulang oleh kekasih-kekasihnya (Boneka Monyet), sosok Dampar yang menyaksikan selingkuh kekasihnya (Pulang), atau tokoh “aku” yang gamang dalam Pondok Bambu dan juga dalam Serenade Jakarta. Mereka memang sosok-sosok yang mengalami trauma cinta. Begitu dalam luka batin itu, bahkan di antaranya ada yang nyaris hilang kepercayaannya akan sisi baik dari manusia.
Sunarta juga menghadirkan sosok-sosok sakit hati yang problemnya tidak lagi persoalan cinta antar kekasih, namun satu pergolakan batin yang menggambarkan tema kekerasan adat dan tradisi, atau tema kekerasan terhadap kehidupan. Sosok Mangku Teguh, contohnya, dalam cerpen yang judulnya sama dengan tokohnya, digambarkan berjiwa teguh-kukuh atas panggilan hidupnya. Sebagai pemangku di sebuah pura, orang tua yang telah ditinggal mati istrinya itu, harus berhadapan dengan kenyataan yang tak terelakan, yaitu intimidasi dari para penanam modal yang bersikeras ingin memiliki tanah pelaba pura, yang hendak dijadikan proyek pariwisata. Pertentangan kepentingan dan ketakberdayaan tercemin di dalam gejolak batin Mangku Teguh. Ia seakan mewakili satu tipikal kesetiaan dari orang-orang tradisi, yang taat dan patuh akan wasiat leluhurnya. Di akhir cerita, sosok Mangku Teguh yang digambarkan soleh dan religius itu justru memilih gantung diri sebagai bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan. Sebuah pilihan sikap yang mencerminkan kenyataan yang paradoks; taat dan religius di satu sisi, dan di sisi lainnya justru bertindak menyalahi ajaran-ajaran agama yang diyakininya itu: membunuh diri atau mati ulah pati. Sedang dalam cerpen Aryati dan Purnama di Atas Pura, tema kekerasan ditampilkan hanya sebagai latar, bukan sebagai pokok cerita.
Selain itu, cerpenis yang juga penyair ini, punya kecenderungan untuk menghadirkan sosok tokoh yang sedari awal digambarkan secara misterius. Simak saja cerpen Lelaki Tua dan Tas Kresek, Muli Sikep, Kekasih Menjelma Cahaya atau pun juga cerpen Pondok Bambu. Bila pada ketiga judul cerpen terakhir ini, Sunarta menghadirkan aroma mistis sebagai latar penjelas sosok tokoh-tokohnya, sebaliknya dalam Lelaki Tua dan Tas Kresek, ia mengedepankan kemisterian sehari-hari dari sesosok lelaki tua yang biasa berjalan seorang diri sambil membawa tas kresek.
Ke empat cerpen ini memiliki peluang membangun jalinan cerita yang memikat, seandainya penggambaran watak dan karakter tokohnya dilakukan lebih rinci serta lebih mencerminkan konflik psikologi yang dialami mereka. Tuturan yang berlebihan tentang latar cerita yang kasat mata, atau suatu deskripsi fisik belaka, sepatutnya dihindari. Sebab boleh jadi hal itu akan mendorong cerita menjadi artifisial, disamping memperlemah kecamuk batin yang tengah dialami para tokoh itu. Akibatnya, misteri yang telah terbangun sejak awal, akan kehilangan pesona-pukaunya sebelum sampai ke akhir cerita.
Menariknya, pengarang ini tidak melulu menciptakan tokoh-tokoh yang berasal dari Bali, dia juga menghadirkan tokoh-tokoh legenda yang hidup dalam masyarakat Lampung, semisal kisah seorang kakak yang dikutuk jadi Naga dalam cerpen Naga Dasar Danau, atau sosok perempuan misterius yang konon mati bunuh diri dalam Muli Sikep. Upaya menggali cerita dari latar kultur yang lain, memang patut diteruskan, dan ini tentulah akan menjadi tantangan kreatif tersendiri.
*
Tidak dapat dipungkiri lagi, tokoh-tokoh dalam cerita pendek sejatinya memang memegang peranan yang sentral. Mereka tidak hanya bagian dari cerita, melainkan kerap juga menjadi cerita itu sendiri. Oleh sebab itu, justru atas nama kebebasan dalam penciptaan, seyogyanya pengarang mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sewenang-wenang. Bukankah salah satu ciri kematangan seorang pengarang adalah ditentukan juga oleh kemampuannya dalam mengendalikan imajinasi, bukan sebaliknya malahan hanyut atau jadi tawanan dari keliaran imajinasinya sendiri.
Dan patut disadari, upaya menahan diri dan mengendalikan imajinasi, pada galibnya berbanding lurus dengan usaha pengarang untuk menemukan (sekaligus menyelaraskan) stilistik dan tematik yang akan menjadi ciri dan kekuatannya. Ini bukan pekerjaan gampang. Apalagi cerita pendek, terlebih bila dibandingkan dengan novel, kenyataannya memang menuntut penggunaan bahasa yang lebih hemat dan ketat. Maka dengan sendirinya, kesewenang-wenangan pengarang atas nasib tokoh rekaannya akan berakibat pada goyah dan lemahnya bangunan peristiwa dalam cerpen secara keseluruhan. Jalinan kejadian akhirnya menjadi tidak utuh, tokoh-tokoh kehilangan hakikat kisahannya, dan akhirnya cerpen tergelincir menjadi serpihan pernyataan-pernyataan, bukan suatu penggambaran “kenyataan” yang padu, atau sebuah “dunia yang menjadi” sebagaimana yang dicapai dalam penciptaan puisi yang mumpuni.
*
Tokoh-tokoh orang biasa dalam Purnama di Atas Pura, memang telah diusahakan oleh pengarangnya, setidaknya secara tersirat, untuk tampil “wajar” dan selaras dengan gaya bertutur pilihannya. Namun, yang tersurat mengesankan tokoh-tokoh itu masih “tersandera” oleh obsesi kesedihan dan kemurungan yang tampaknya amat mengungkung keseharian pengarangnya. Keunikan watak para tokoh itu belum sepenuhnya tergarap, dan sikap mereka tidak terpaparkan secara konsisten.
Ke depan, selain terus berjuang untuk mempercanggih teknik tutur dan mempertajam konflik antar-tokohnya, Wayan Sunarta juga patut berusaha melepaskan diri, minimal berupaya menciptakan jarak dari kungkungan obsesi tersebut. Sosok tokoh Mangku Teguh, yang leluasa mengekspresikan karakter dan kecamuk batinnya, adalah salah contoh dari kepiawian yang selayaknya terus diupayakan oleh cerpenis ini.***
Sumber: Esai Penutup Buku Kumpulan Cerpen “Purnama di Atas Pura” (Grasindo, 2005)
Trackbacks
Leave a Reply