Kepiawaian Penyair Membangun Metafora
Oleh: Yudhis M Burhanuddin
Judul : Impian Usai
Penulis : Wayan Sunarta
Penerbit : Kubu Sastra, Denpasar
Cetakan I : Agustus 2007
Tebal : ii + 131 halaman
BEGITU LUAS dan dalamnya lautan puisi sehingga alam dasar-bawahnya pun beribu panorama. Maka, mengarungi dan menyelami lautan puisi bagaikan menyaksikan keindahan dasar-bawah yang, setiap kali mata berkedip secara refleks, setiap kali itu pula, warna mutiara berganti. Sebagai salah satu capaian estetik, puisi yang luas dan dalamnya bak lautan itu, bisa dihampiri, dikenali, dikaji, dan dipahami dari dua aspek: aspek dalam dan luarnya.
Adalah penyair muda Bali, Wayan Sunarta, dalam sebuah buku kumpulan puisinya yang bertajuk Impian Usai, menyuguhkan beribu panorama dan sekaligus ruang pengenalan, pengkajian, dan pemahaman dari dua aspek tersebut di atas. Sebanyak sembilan puluh sembilan puisi di dalamnya, yang rentang kelahirannya sejak tahun 1992 hingga 2006, mewakili kesaksian sang penyair akan perjalanan hidup.
Dalam suatu perbincangan singkat di kamarnya yang kecil, di antara sesaknya buku-buku, majalah-majalah, kertas-kertas koran serta kertas-kertas kerja lainnya, ia mengungkapkan bagaimana sulit dan beratnya menerbitkan buku puisi di zaman “dikte pasar” ini. Mungkinkah kegundahan itu yang kemudian merangsangnya untuk menorehkan: mimpi terpanjangku adalah keheningan / angan yang menyesatkan pengembara pada / rahasia cuaca dan getar cahaya / guratkan lagi aksara penghabisan / agar sempurna kepedihan demi kepedihan… Petikan ini adalah stanza terakhir dari puisinya, Impian Usai (hal. 126). Sebelumnya, di stanza awal pada puisi yang sama, ia memekikkan: galau membaca jejak aksara di tapak tangan. Sebelum meneliti struktur puisi itu sendiri, sebaiknya kita tinggalkan pertanyaan tentang makna puisi.
PADA hakekatnya, puisi adalah “reinkarnasi” sistem tanda konvensional yang beredar lepas di kehidupan maha luas ini menjadi sistem tanda yang lebih segar dan menggugah rasa. Sistem tanda yang kini menjadi puisi menyuguhkan cita-rasa plus ruang-ruang tafsir baru. Kecerdasan seniman dan atau sastrawan terletak di sini: bahwa ia telah “me-reinkarnasi-kan” sistem tanda. Tidak sulit untuk melacak reinkarnasi ini. Misalnya, kata aksara pada larik puisi di atas, yang dalam sistem tanda konvensionalnya berarti huruf, “berubah” makna seratus persen menjadi garis hidup—atau sederhananya garis tangan. Kesimpulan ini berangkat dari: pertama, bahwa diksi-puitik yang relevan bagi kata ‘huruf’ atau ‘garis-garis’ adalah ‘aksara’; kedua, secara keseluruhan (koherensi) dan korespondensi, kata ini terdeterminasi oleh kata-kata pada periodesitas (baris sajak menurut sistem) sebelumnya, misalnya oleh ‘rahasia cuaca’ dan ‘agar sempurna kepedihan demi kepedihan’.
Di samping itu, beberapa petikan bait puisi di atas adalah salah satu contoh metafora-implisit (implied-metaphor), dengan kehadiran tenornya (principal-term) saja, tanpa kehadiran vehicle-nya yang mengikat sebagai term-kedua (secondary-term). Kealpaan term-kedua itulah kemudian, metafora-implisit yang banyak ditemukan dalam puisinya mengakibatkan ruang-ruang tafsir terbuka dan bisa ( seringkali secara arbitrer) dikaitkan dengan apa saja yang lain yang relevan.
Metafor sesungguhnya seringkali ditemukan di setiap, atau bahkan di semua puisi. Prinsip metafor adalah menyatakan persamaan sesuatu hal—yang sama ataupun tidak sama—dengan sesuatu yang lain walaupun yang dipersamakan itu memang tidak sama. Ambiguisitas berlaku di sini—dan memang puisi selalu demikian. Metafora adalah cara yang paling pas—untuk menghindari kata “gampang”—dalam mengekspresikan rasa. Dengan medium ini estetika bahasa tercapai. Penyair-penyair terdahulu semisal Amir Hamzah, WS Rendra atau Subagio Sastrowardoyo seringkali menggunakan medium ini dalam beberapa puisi mereka (Pradopo, 2005:66-68).
Dari hampir seratus puisi yang terangkum dalam buku ini, setidaknya sepuluh persen di antaranya menggunakan metafora, baik yang implisit maupun yang non-implisit. Puisi-puisi yang dimaksud adalah Nyanyian Menara (hal.7), Laut Jiwamu (hal.17), Perempuan Kupu-Kupu (hal.42), Bermalam Di Toyabungkah (hal.47), Birahi Biru (hal.60), Requiem (hal.89), Larik Ombak (hal.92), Bulan pun Layu - buat: pelukis kardana- (hal.95), Malam Pantai Canggu (hal.100), Bukit Venus (hal.102), Di Kafe Tera, Rawamangun, Jakarta (hal.106), Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam (hal.116-117), dan Surat dari Rumah Pantai (hal.127).
Dalam puisi Bukit Venus misalnya, Wayan Sunarta berharap: aku tiba pada hamparan bukit venus / milikmu yang penuh pesona / pada tebing merah muda / di antara rerimbun pinus / sebuah pancuran di atas gua / mengalir air ibu bumi. Pada bait ini dan seterusnya ia menyamakan (metafor) seseorang yang lain dan juga “diri” (nya) dengan katakanlah masing-masing perbukitan dengan segala isinya dan seorang pertapa dengan hasrat dan perasaannya setelah menikmati perjalanan itu. Yang menjadi tenor (principal-term) dalam puisi ini adalah keindahan-tubuh (perempuan) dan kelezatan “senggama”, sementara tenor-keduanya (secondary-term) berada di masing-masing benak pembaca. Itulah kepiawaian dan kelenturan-rasa Wayan Sunarta dalam membangun metafora untuk mencapai estetika bahasa dan makna-di-balik-makna.
Sumber: Bali Post, Minggu, 26 Agustus 2007
Trackbacks
Leave a Reply