Estetika (Puisi) dan Spiritualitas Post-Relegi

Oleh: Yudhis M Burhanuddin 

 malam
 

Judul       : Malam Cinta
Penulis    : Wayan Sunarta
Penerbit  : Bukupop
Cetakan   : Desember 2007
Tebal        : v-xii 104 halaman

DELAPAN puluh lima puisi dalam karya ini bernafaskan cinta. Tetapi dalam Pura Jati, Batur, Pura Sakenan, dan Puisi XXII, cinta itu bernafaskan spritualitas: cinta fisik mampu disublimasi menjadi cinta mistik-vertikal. Karya sastra “menggantikan” agama-lahiriah ketika ia menjadi pengabdian mistik-vertikal, mampu membebaskan dari ikatan duniawi (dukha), dan jauh dari keindahan artifisial. Beberapa karya sastra sekarang ini mencoba mengartikulasikan semangat itu dengan cara memasukkan teks kitab suci ke dalamnya dan atau diungkapkan secara implisit. Celakanya, upaya itu gagal secara estetis. Taruhlah misalnya interteks dijadikan pembenaran untuk itu; diskursus intertekstualitas mesti dipahami dalam teks-konteks hologram dan pengaruhnya terhadap teks-teks sesudahnya sebagaimana maksud Julia Kristeva.

Sejarah kesusastraan mencatat bahwa kidung-kidung Nirartha, puisi-puisi Rumi, Tagore, dan Amir Hamzah misalnya, adalah contoh terbaik sublimasi percintaan fisik menjadi percintaan mistik-vertikal antara hamba dan sang adikodrati yang melampaui agama lahiriah sehingga pembaca berlatar-belakang budaya apapun bisa menerimanya. Dalam karya seperti ini, keindahan tubuh juga disublimasi sehingga ikonisasi tubuh perempuan misalnya, tidak terjebak keindahan artifisial yang keropos.

Bagaimanapun, puisi adalah hasil olah rasa estetis dalam wujud kata dan atau untaian kata. Sutardji Calzoum Bachri pernah mendobrak estetika kata dalam bunyi. Bagi kaum strukturalis, olah rasa estetis diwujudkan melalui ungkapan kiasan, serta diksi denotatif dan konotatif, dan bukan sekadar “muntahan” yang bersifat psuedo-kebebasan. Pada sisi lain, estetika sebagai filsafat keindahan menelusup jauh ke dalam, merangsang kontemplasi, dan membangkitkan spritualitas. Pada akhirnya, puisi adalah sublimasi objek dan peristiwa.

Dalam Pura Jati, Batur, tertulis: pepohonan memekarkan bunganya / pinus, endapan lahar batur, cemara / bersahutan dalam nyanyi sunari / begitu dalam percintaan kita / cinta yang dihantar wangi bunga / wangi dupa, hening tirta / dan tatapan lugu mata bocah. Kiasan epos perbandingan (epic simile) dalam teks ini bagai lukisan percintaan fisik. Tidak satupun kata dalam puisi ini yang merujuk pada objek adikodrati, pun juga bebas dari teks kitab suci.

Larik sebelumnya yang berbunyi: kini pesonamu begitu memukau / merangkum lahir dan batinku mengantarkan imaji pembaca pada figur tertentu meski masih tebakan. Selanjutnya, ungkapan tak henti membungkus semadiku / aku hangat dalam dekapmu yang menutup stanza ini memperjelas figur tersebut melalui diksi ‘semadi’. Meski demikian, ini belum memadai.

Lapis metafisis dimensi vertikal-mistik puisi di atas dapat dicermati dari: pemahaman hereustik, konteks peristiwa, dan kode budaya yang melingkupinya. Semua ini saling terkait dalam gerak melingkar penafsiran (hermeneutical circle) menurut bacaan Hermeneutika karena kegiatan menafsirkan, demikian Ricouer, bersamaan dengan kegiatan memahami sehingga tidak ada penafsiran tanpa pemahaman. Dengan kata lain, untuk mencapai pemahaman lapis metafisis kandungan cinta mistik-vertikal puisi di atas, teks-teks puisi tersebut pertama-tama harus dipahami secara hereustik (semantik). Artinya, kata ‘semadi’ misalnya, atau frase ‘endapan lahar batur’, secara hereustik dipahami masing-masing sebagai ‘hubungan-intens’ dan ‘gejala alam’. Dari sana kemudian direfleksikan dengan “ke-situasi-an” (situatedness) dalam istilah Gadamer. Setelah itu, barulah terbayang lapis peristiwa yang sebenarnya bahwa paling tidak, itu menggambarkan kegiatan tertentu yang merujuk pada kegiatan spritual di tempat tertentu pula.

Pemahaman ini masih kasar dan karena itu, kode budaya yang melingkupinya juga harus dikuak yang dalam hal ini misalnya, dimulai dari menguak kata ‘wangi bunga’, ‘wangi dupa’, dan ‘hening tirta’. Kata-kata ini merujuk ke kode budaya masyarakat Hindu-Bali. Kode budaya dalam gerak melingkar penafsiran berperan penting untuk memahami makna simbol-simbol secara eksistensial—makna simbol dalam-dirinya.

Kecuali judulnya, dalam puisi Pura Sakenan juga tidak ditemukan diksi tertentu yang dengan itu pembaca dengan gampang menebaknya bersifat spritual. Tetapi, ungkapan: terlahir aku kembali / dengan wujud yang berbeda / hingga kesunyian rindu / melabuhkan aku di pesisirmu; adalah simbolisasi untuk itu. Kode budaya berada dalam pengertian luas dan sempit sehingga agama dan filsafat mencakup di dalamnya. Bahwa berdasarkan prinsip intertekstualitas dan hermeneutika, teks-teks ini bisa ditelusuri sampai ke lontar-lontar tattwa-jnana, bahkan Weda, tentang reinkarnasi, moksa, dan sunyata. Dalam Puisi XII misalnya kata ‘sunyata’ digunakan. Filsafat Hindu sebagai kode budaya sangat berperan atas interpretasi simbolik konsep moksa, reinkarnasi,dan sunyata dalam teks puisi ini.

Pura Jati, Batur, Pura Sakenan, dan Puisi XXII adalah puisi yang mengandung spritualitas post-religi. Alasannya, ia menyublimasi percintaan fisik menjadi percintaan mistik-vertikal antara hamba dan sang adikodrati. Kedua, meskipun terminologi Hindu digunakan sebagai judul, namun ketiga puisi ini tidak menonjolkan aspek lahiriah ke-Hindu-an dan karena itu, pembaca non-Hindu bisa menikmatinya tanpa merasa “di-Hindu-kan” oleh teks. Ini berarti, Wayan Sunarta membebaskan terminologi-terminologi khas Hindu dari ikatan-ikatan partikularnya karena ketika teks telah terbebas dari belenggu lahiriah, di saat itu ia diterima secara luas. Kesenian, sebagai bahasa universal, melampaui agama-lahiriah karena esensi berkesenian adalah: “siwam-satyam-sundaram”.

Sumber: Bali Post, Minggu, 13 April 2008

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php