kota telah menemukan namamu
tertoreh di batang-batang pohon asam
saat aku meruwat sejumput hasrat
yang digali dari batu-batu
sejauh alur waktu
kita tidak akan tersesat lagi dalam labirin itu
sebab cahaya yang merumuskan kabut
telah mencatat setiap jejak hujan
dan juga kenangan
maka biarkan bibirmu membasuh bibirku
dengan segala rindu
sebelum kasih tertimbun
puing-puing reruntuhan puri
kelak seorang pengembara akan mencatat jejak kita
dan [...]
mesti dengan apa lagi kukisahkan padamu
nubuat yang kubuat bagi keturunanmu
telah sempurna terbuka
namun kau lebih suka merayu waktu
tanpa mau menjenguk kawasanku
masa lalu telah menyerpih
dan jadi abu dalam diriku
tertimbun dalam periuk tanah liat,
bersama kalung manik-manik, gelang perunggu,
tombak usang dan kenangan lapuk
mengapa kau tiada mampu membaca nujuman itu
aku telah guratkan segala tanda di dinding tebing
[...]
Wawancara dengan Wayan Sunarta
Apa kabar?
Agak baik dan agak sehat. Cuaca di dalam diri dan di luar diri semakin tidak menentu akhir-akhir ini.
Bisa digambarkan proses kreatif Anda sejak awal?
Saya mulai jatuh hati dengan puisi ketika duduk di kelas 2 SMP. Di perpustakaan sekolah saya menemukan buku tipis berjudul “Hari-hari Akhir Si Penyair” yang disusun Nasjah Djamin. [...]