walau cuaca galau dan
angin memeram benih malam
namun kau masih setia berjalan
dari waktu ke waktu pertemuan
antara kenangan dan kerinduan
lebih puisi hari-harimu kini
endapan semerbak wangi rambutmu
o, kilau cahaya yang ragu
pada batas kelam kelopak mata
ombak merayap mencapai mulus betismu
letih telah paripurna di tepian senja
dan camar yang mengembara sendiri
akan kembali pulang ke sarang jiwamu
Karangasem, […]
Oleh: Wayan Sunarta
Rabu, 21 Mei 2008. Langit di atas Desa Ababi, Karangasem, Bali, cukup segar dan cerah. Cahaya matahari sore berbinar-binar bagai mata jelita gadis perawan yang menanti sang kekasih tiba. Namun hal itu seakan bertolak belakang dengan perasaanku yang gundah. Kantor Yayasan Metropoli Indonesia (YMID) tampak sepi. Dua orang kawan kantorku sedang bertugas ke […]
Oleh: Wayan Sunarta
Rabu, 30 April 2008
Aku janjian dengan Sigit Susanto di Terminal Ubung. Dia telah lebih dulu tiba di Bali. Saat ketemu di terminal, kami saling bertukar salam dan ngobrol ngalor ngidul. Dia memberiku oleh-oleh sebuah buku kumpulan puisi tentang kota-kota. “Ini bisa kamu jadikan perbandingan untuk menulis puisi tentang nama-nama tempat,” ujarnya. Aku menerima […]