Di Bali Timur Kami Bertemu
Oleh: Wayan Sunarta
Rabu, 21 Mei 2008. Langit di atas Desa Ababi, Karangasem, Bali, cukup segar dan cerah. Cahaya matahari sore berbinar-binar bagai mata jelita gadis perawan yang menanti sang kekasih tiba. Namun hal itu seakan bertolak belakang dengan perasaanku yang gundah. Kantor Yayasan Metropoli Indonesia (YMID) tampak sepi. Dua orang kawan kantorku sedang bertugas ke Borobudur, Magelang. Kawan lain sudah lebih pulang sebab mesti mengikuti piodalan/upacara Dewa Rambut Sedana, Sang Penguasa Harta. Hampir di setiap sudut jalan di desa berlangsung piodalan yang meriah itu.
Sebenarnya aku juga sudah bosan di kantor seorang diri, kalau saja tidak sedang menunggu kedatangan dua kawan penting Apsas/milis Apresiasi-Sastra (sebab mereka moderator hehehe..), Kang Sigit Susanto dan Cak Bono. Mereka sengaja bersepeda motor sejauh 80 km dari Denpasar hanya untuk menemuiku, yah..mungkin juga sekalian jalan-jalan menyusuri buntut pulau Bali hehee….Aku jadi terharu dengan kebaikan kawanku ini. Setahun lalu Kang Sigit bersama Phutut EA juga datang mengunjungiku di Ababi. Kali ini dia datang dengan Cak Bono. Maka dengan sabar aku menunggu, tentu saja sambil mengusir kebosanan dengan mengubek-ubek dunia maya (internet) yang difasilitasi kantor tempatku bekerja.
Sekitar jam 16.15 mereka nongol di pintu gerbang. Ah,..akhirnya mereka mendarat (naik motor maksudnya) dan tiba jua dengan selamat di Desa Ababi, meski nampak agak keletihan. Tubuh mereka menyisakan aroma perjalanan dan bau knalpot truk-truk pasir sepanjang by-pass Denpasar-Kusamba. Begitu tiba kami bersalaman, bertegur sapa sambil membagi senyum lebar. Sigit memperkenalkan Cak Bono padaku. Meski sudah cukup lama saling kenal nama di milis Apsas, baru kali itu aku bersapa muka dengan Bono, dan langsung jadi akrab.
Dua pejalan yang kelelahan itu nampak santai dengan celana kolor warna biru dan kaos oblong. Yang paling santai dalam setiap perjalanan tentu saja Kang Sigit, kemana-mana lebih sering hanya pakai celana pendek dan kaos oblong sambil menggendong ransel ukuran sedang warna merah. Cak Bono yang bertindak sebagai pengemudi sepeda motor bebek itu memakai jaket jenis perasut. Mungkin dia takut masuk angin hehehe…
“Ada tempat untuk rebahan, Jeng?” tanya Sigit.
Oya, aku lupa kalau semua ruangan di kantor, kecuali ruang kerjaku, sudah dikunci. Aku buru-buru mengambil kunci aula yang merangkap perpustakaan kantor. Aku menggiring mereka masuk ke aula yang dilapisi karpet merah yang sudah bulukan karena terlalu sering diinjak dan diduduki anak-anak yang ikut kursus seni budaya di kantor YMID. “Silakan istirahat dulu,” saranku. “Mau minum apa? Kopi? Teh? Pakai gula atau pakai garam?” tawarku sambil bercanda.
Cak Bono dengan mantap memesan kopi. Sedang Kang Sigit minta teh manis. Aku mengambil kunci dapur dan mulai merebus air sambil menyiapkan minuman buat mereka. Tak lupa aku menyediakan camilan ringan buat pengganjal perut. Tak beberapa lama minuman “selamat datang” racikanku telah terhidang di hadapan tamu-tamu agung itu hehee…”Monggo, Mas, silakan diminum, sekalian aja sama gelasnya ya..hehee..”
Sigit merogoh ransel, mengeluarkan berlembar-lembar poster penulis dunia, postcard dan majalah. “Jeng, ini poster-poster buatmu,” katanya. Wah…asyik juga poster-poster itu untuk meramaikan dinding-dinding perpustakaan kantorku. Kemudian kami foto-foto dengan latar kantor YMID dan ruang baca perpustakaan. Sayang fotonya sebagian besar buram karena kurang cahaya saat pemotretan.
“Wah…pantas banyak dapat puisi-puisi perawan di sini,” ujar Cak Bono, mungkin terpukau dengan keindahan Karangsem di sepanjang perjalanan. Aku cuma cengar-cengir aja. “Ya…nanti Cak juga bisa mencari hawa puisi perawan di sini,” celetukku.
Sambil minum kopi dan teh, kami ngobrol-ngobrol tentang rencana launching buku Sigit Susanto “Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 2” di Togamas Denpasar, tanggal 24 Mei. Juga ngobrol tentang perjalanan dan acara Kang Sigit di Semarang, Malang dan Surabaya. “Wah…kenapa Gita Pratama gak diajak, dia ngambek tuh!” ujarku. Cak Bono ketawa-ketawa. Kemudian Cak Bono dan Sigit menceritakan pertemuan dengan kawan-kawan Apsas Surabaya di Stasiun Gubeng. Wah…seandainya Gita bisa ikut ke Bali kan seru ya…hehehe
Sekitar jam 17.00 kami cabut dari kantor YMID. Rencana awalnya mereka mau langsung balik ke Denpasar, tapi aku cegah. “Kalian nginap di kosku aja. Cukup kok buat tidur bertiga, kan tubuh kita mungil-mungil…” ajakku. Mereka nampak berpikir. “Nanti kita jalan-jalan menikmati kota Amlapura dan Taman Ujung yang asri…dan kita bisa mencicipi tuak,” bujukku lagi. Mereka saling pandang dan akhirnya menyanggupi.
Aku ajak mereka ke Taman Ujung, sebuah taman air milik Kerajaan Karangasem yang berlokasi dekat laut. Taman yang sangat eksotis dengan bangunan-bangunan kuno bergaya Eropa (Belanda) dan bersebelahan dengan perkampungan Islam (Bugis). Dulu ketika Kerajaan Karangasem menyerbu Kerajaan Seleparang di Lombok, mereka juga menggunakan tentara bayaran dari Bugis. Kerajaan Karangasem menang dan tentara Bugis mendapat hadiah tanah yang berlokasi dekat Taman Ujung. Di tanah itulah mereka membentuk komunitas Islam dan beranak-pinak hingga sekarang.
Perjalanan ke Taman Ujung sangat memukau karena melewati kota tua Amlapura dan persawahan luas yang dilatari Gunung Agung dan Gunung Lempuyang. Sesungguhnya wilayah Kabupaten Karangasem masih banyak menyimpan da(e)rah perawan yang belum terjamah turis. Aura spiritual dan magisnya masih terasa. Itu pula sebabnya wilayah Karangasem dicanangkan sebagai daerah tujuan wisata spiritual.
Tiba di Taman Ujung kami langsung menghampiri pedagang ikan bakar dan sate ikan laut. Kang Sigit membeli tiga ekor ikan bakar, ketupat, sayur urap, pisang goreng, air mineral, camilan. Di sebuah pendopo tua tanpa atap, yang mirip bangunan Yunani kuno, makanan tersebut digelar. Kami bersantap sore sambil duduk lesehan menghadap hamparan Selat Lombok. Maka jadilah kami seperti turis yang sedang piknik di Taman Ujung. Sempat pula foto-foto dengan latar bangunan antik itu. Dulu pada jaman kerajaan, bangunan dengan pilar-pilar antik itu biasa dipakai oleh raja Karangasem beserta permaisurinya sebagai tempat bersantai dan melamun seraya mengagumi keindahan Taman Ujung dan Selat Lombok yang membentang biru. Dan kini kami pun merasakan keindahan yang sama, meski pada waktu yang jauh berbeda.
Beberapa pengunjung nampak duduk-duduk santai sambil menatap keindahan Taman Ujung. Ada juga sepasang calon pengantin dengan pakaian ala Kerajaan Karangasem sedang berpose di depan bangunan kuno itu. Mungkin foto itu akan dicetak di kartu undangannya agar terkesan lebih elegan dan artistik. Beberapa pasang remaja tanggung asyik pacaran di sudut-sudut taman. Sedangkan kami tenggelam dalam obrolan-obrolan ngalor ngidul seputar dunia kesusastraan dan perjalanan.
“Wah…kunci motornya mana ya?” tiba-tiba saja Cak Bono kebingungan mencari kunci motornya. Wajah Kang Sigit mulai cemas. Hari sudah hampir gelap. Aku juga ikut-ikutan bingung. Aku periksa tempat kami duduk. Tapi tak ada kunci yang tergeletak.
“Coba inget-inget, tadi naruh kuncinya dimana,” saranku. Aku juga menyarankan agar memeriksa ke tempat kami beli ikan bakar tadi. Siapa tahu jatuh di sana. Cak Bono buru-buru keluar ke arah gerbang taman, kemudian balik lagi ke arah kami duduk.
“Ketemu?” seru Kang Sigit.
Sambil cengar-cengir, seakan menyadari kepikunannya, Cak Bono menunjukkan dompetnya. “Ternyata aku masukkan ke dompet tadi. Aku pikir uang recehan,” serunya dengan wajah tanpa dosa. “Ternyata pikun itu menular ya?” katanya lagi.
Kang Sigit yang ternyata juga mengidap pikun mesem-mesem, sebab merasa kena sindiran Cak Bono. Aku ketawa-ketawa, ”Ah, kalian dua-duanya pikunan hehee..Udah pada tuek seh…”
Senja semakin merambat ke arah malam. Sebenarnya aku ingin mengajak mereka lebih lama di Taman Ujung untuk menyaksikan bulan yang jelita muncul dari bawah laut. Pada tahun lalu (2007) di tempat yang sama dan pada hari yang sama (sehari setelah Waisak) aku pernah begitu terpukau dengan cahaya purnama yang berpendaran memenuhi hamparan Selat Lombok. Tapi kini bulan terlambat muncul atau mungkin tertutup awan atau bisa jadi malu melihat kami yang akan menatap dan menggodanya. Akhirnya aku memutuskan mengajak mereka pulang ke kos.
Tiba di kosku yang berantakan, Kang Sigit langsung menceburkan diri ke kasur, membaca buku sambil tiduran. Aku menyalakan komputer, menghidupkan musik. Cak Bono duduk-duduk sambil merokok. Aku menunjukkan foto-foto saat perjalanan ke Yogya dan Boja. Kang Sigit dan Cak Bono antusias mengamati foto-foto di layar komputer. Naluri guide Kang Sigit kambuh lagi. Dia langsung menjelaskan dan mengomentari peristiwa, orang-orang dan tempat-tenpat di foto-foto itu. Cak Bono hanya manggut-manggut sambil senyum-senyum.
Kemudian aku putarkan film dokumentar Bali 1930-an. Cak Bono terpukau menonton perempuan-perempuan Bali yang menari bertelanjang dada. Pada jaman itu semua perempuan Bali memang telanjang dada. Hanya mengenakan kain penutup dari pinggang hingga tumit kaki. Itulah budaya Bali tahun 1930-an. Akhirnya kami pun terlibat diskusi ringan tentang budaya Bali dan Jawa. Saat itu keluar juga ilmu Antropologi yang dulu kupelajari di kampus.
Sekitar jam setengah sepuluh aku mengajak Sigit dan Bono mencari minum di warung yang tidak jauh dari kos. Kadang-kadang ketika lagi sumpek aku suka nongkrong di warung itu sambil minum sebotol bir. Penjaga warungnya manis sih….Namun sayang malam itu dia kehabisan bir. Jadi terpaksalah kami minum greensand sambil ngobrol-ngobrol dengan penjaga warung yang asyik SMS-an dengan penggemarnya yang lain..Jam sepuluhan kami balik ke kos.
Tetangga kosku sedang pesta tuak di halaman kos. Kami diundang ikut minum. Aku memperkenalkan Kang Sigit dan Cak Bono kepada para tetangga kosku yang bekerja sebagai sales rokok, penjaga hotel dan pekerja bengkel sepeda motor. Kami minum tuak sambil ngobrol ngalor ngidul. Entah bagaimana awalnya, kemudian malam itu Kang Sigit menjadi bintang dan pembicara tunggal. Kang Sigit Bondet banyak berkisah tentang pengalamannya selama menjadi guide di Bali, tentang pertemuan-pertemuan indah dengan beberapa turis yang dipandunya, sejarah awal mula dia menekuni yoga dan meditasi, tentang trik-trik mendekati cewek bule, perihal menumbuhkan kepercayaan diri, tips-tips agar nampak mengesankan, cara menjalin relasi dan interaksi personal agar tidak mudah dilupakan orang, dan masih banyak lagi. Bondet benar-benar menggeber ilmunya. Kawan-kawan tetangga kosku pada bengong melongo. Cak Bono nampak tepekur menikmati tegukan demi tegukan tuak bagiannya.
Di hadapan Kang Sigit, malam itu kami menjadi pendengar yang takzim, sesekali tersenyum dan berkomentar kalau ada kisah-kisah lucu dan konyol. Waduh…malam itu Kang Sigit nampak sebagai kepala suku atau suhu sebuah perguruan silat yang sedang menurunkan ilmu kepada murid-muridnya. Atau mungkin malam itu kami lebih mirip gerombolan suku Indian yang sedang berpesta di bawah purnama. Duduk bersila di halaman membentuk lingkaran kecil. Di tengah-tengah kami satu morong (tempat air dari plastik) berisi tuak, beberapa bungkus kacang dan kue-kue. Kami minum bergantian dengan gelas yang sama. Nampak hangat dan kekeluargaan. Sayang kami lupa bikin api unggun…
Gerombolan tuak itu baru bubar sekitar jam setengah dua dinihari. Embun sudah membasahi rambut kami sejak tadi. Cak Bono nampak mengantuk. Aku juga. Kami masuk kamar. Kang Sigit langsung nyungsep di kasur dan tak bangun-bangun lagi hingga keesokan harinya. Ajaib banget ini orang, pikirku. Baru saja bicara berbusa-busa tentang berbagai hal, kini sudah langsung bisa melayang ke alam mimpi.
“Itu berkat latihan yoga-nya, dia bisa menyetel kapan ngoceh, kapan tidur,” ujar Cak Bono sambil membaca buku, seakan tahu apa yang kupikirkan. Wah…malam itu aku tidur ditemani dua tamu yang “sakti-sakti” rupanya.
Hingga jam setengah tiga pagi aku belum bisa tidur. Cak Bono juga gak bisa tidur. Dia asyik baca Satre sambil tiduran. Sesekali kami ngobrol tentang trauma masa lalu masing-masing. Ah…lucu juga pertemuanku dengan Bono, ternyata kami punya trauma yang sama.
Beberapa saat kemudian aku terlelap. Kang Sigit tidur di sebelah kiriku, Bono di sebelah kananku, aku di tengah-tengah mereka. Lucu juga. Aku yang berambut panjang dan kuping beranting-anting diapit dua lelaki berambut pendek. Kalau ada orang iseng mengintip, mungkin dipikirnya ada dua lelaki sedang mengeloni seorang cewek manis…hehehe…
Karangasem, Bali, 22 Mei 2008
Trackbacks
Leave a Reply