Ibu yang Terlupakan
(Mother, karya Wayan Kun Adnyana)
Ibu merupakan asal mula segala kehidupan. Tak bisa dibayangkan sebuah kehidupan akan tercipta tanpa adanya Ibu. Oleh sebab itulah bumi disebut Ibu Pertiwi, sumber segala kesuburan yang mengembangkan kehidupan hingga pada batas yang tak terbayangkan. Itu pula sebabnya muncul konsep “ibu kota” yang menandai sebuah sistem kota besar di mana kehidupan berlangsung dengan meriahnya. Bukankah tidak ada konsep “bapak kota”?
Ibu merupakan sebuah konsep yang sangat mulia untuk merujuk pada kesuburan, kelembutan, keikhlasan, kasih sayang, ketabahan, kesabaran, penerus generasi, pengasuhan dan pemelihara kehidupan. Pemujaan terhadap Ibu di berbagai ranah kebudayaan sudah berlangsung sejak jaman lampau. Dalam kebudayaan Bali, misalnya, sosok Ibu disimbolkan melalui cerita rakyat dan patung Men (ibu) Brayut yang digelayuti oleh anak-anaknya, sebagai lambang kesuburan dan keikhlasan. Sosok Men Brayut itu pada akhirnya memunculkan keyakinan akan kemampuan figur itu menganugerahi berkah keturunan bagi orang-orang yang memohon dan memujanya. Dalam cerita Calonarang, Dewi Durga juga dipanggil Ibu oleh para pengikut setianya. Selain itu di Bali juga dikenal keberadaan Pura Ibu yang merupakan pura induk yang dipuja oleh para anggota masing-masing klan.
Berdasarkan hal tersebut tidak berlebihan kalau pelukis dan penulis seni rupa Wayan Kun Adnyana mendedahkan ikon-ikon penghormatan terhadap Ibu pada karya-karya mutakhirnya. Melalui pameran tunggal bertajuk New Totem for Mother yang berlangsung dari tanggal 2 Mei sampai 2 Juni 2008 di Gaya Art Space, Ubud, Kun Adnyana seakan hendak mengetuk kembali kesadaran kita akan pentingnya keberadaan Ibu yang mungkin telah lama kita lupakan. Tengoklah misalnya keberadaan bumi atau Ibu Pertiwi akhir-akhir ini. Kerusakan dan kehancuran alam semakin menjadi-jadi sehingga memunculkan banyak bencana di berbagai tempat. Badai mengerikan di Myanmar dan gempa besar di Cina yang menewaskan puluhan ribu jiwa manusia adalah berita tragedi terkini. Belum lagi masalah meningkatnya suhu bumi sehingga semakin mencairkan gunung-gunung es di kutub. Dari peristiwa-peristiwa tersebut kita kembali bertanya ke dalam diri: sudahkah kita menyadari dan menjaga keberadaan Ibu Pertiwi, bumi kita tercinta?
Pertanyaan esensial tersebut juga menggelayuti benak dosen seni rupa ISI Denpasar ini sehingga buah renungannya melahirkan karya-karya yang sangat sinis, ironis, bahkan paradoks tentang konsep pemuliaan terhadap Ibu yang sesungguhnya merupakan konsep ciptaan laki-laki. Berbagai pemuliaan dan nilai-nilai luhur yang dilekatkan pada sosok perempuan bernama Ibu pada dasarnya adalah siasat licik kaum lelaki untuk membui dan membuai perempuan ke dalam penjara domestik (rumah tangga). Sebutan ibu sebagai ratu (sekaligus babu) rumah tangga adalah salah satu contohnya. Dan ironisnya lagi konsep-konsep tersebut sengaja dipelihara dan dilestarikan dalam sistem kebudayaan yang dibangun oleh laki-laki dan perempuan. Artinya perempuan pun mempunyai andil dan menyadari konsep-konsep budaya, nilai-nilai dan aturan-aturan sosial yang didedahkan kepada dirinya, namun jarang yang berani mempertanyakan, apalagi mendobraknya. Sebab semuanya itu telah terpilin dan terjalin menjadi jaring laba-laba kebudayaan yang menjerat manusia di dalamnya.
Karya-karya pelukis kelahiran Bangli, Bali, 4 April 1976 ini, mengungkapkan situasi ironis dan kepedihan yang dirasakan perempuan (Ibu), suatu kepedihan yang pada akhirnya tidak dirasakannya lagi karena sudah menjadi suatu kebiasaan merasakan perih. Perhatikan tiga seri lukisan berjudul Mother yang diinspirasi dari bentuk patung purba Venus Willendorf dari Austria, sebuah patung perempuan gembrot yang terdistorsi dan sangat menonjolkan alat-alat genetikal yang merujuk pada konsep-konsep kesuburan. Pada seri lukisan Mother ini, dengan teknik drawing yang telaten, Kun mempresentasikan sosok Ibu yang ditusuk atau tertusuk peniti raksasa dari lubang pusar hingga tembus ke bagian tubuh lainnya. Penggunaan simbol peniti menjadi semakin jelas jika dikaitkan dengan posisi perempuan (Ibu) dalam terminologi kuasa kebudayaan laki-laki.
Simbol peniti merupakan produk yang diambil dari wilayah domestik. Dalam kebudayaan Jawa dan Bali, peniti identik dengan perempuan sebab memiliki fungsi sebagai pengait atau kancing pada baju kebaya dan kamben (kain) yang biasa dikenakan perempuan. Kengerian dan kepedihan yang tak terkirakan terasa lebih mencuat pada lukisan Totem of Venus yang menampilkan sebuah peniti raksasa menusuk dan menembus kedua pangkal paha (tepat di atas kelamin) perempuan. Lukisan-lukisan yang dibuat distorsif ini memberikan gambaran ironis tentang situasi dan kondisi perempuan, tertusuk peniti yang merupakan benda kesehariannya.
Di luar semua itu, ternyata kepedihan tertusuk peniti bukan hanya dirasakan perempuan. Laki-laki juga merasakan dan mengalami hal yang sama. Ini bisa menjadi cermin bahwa pada dasarnya lelaki dan perempuan sama-sama terjebak dalam benang-benang kebudayaan yang dijalinnya. Misalnya, pada beberapa kasus lelaki juga bisa dipenjara dalam kurungan domestik oleh perempuan. Kondisi itu dengan sangat jelas terlihat pada lukisan Kun berjudul Lingga-Yoni yang merupakan lambang kesuburan, atau simbol ikatan perkawinan. Namun dalam lukisan ini yang menjadi ironis adalah peniti yang menusuk ujung lingga (simbol kelamin laki-laki) hingga tembus. Kondisi yang senada juga bisa dilihat pada lukisan berjudul Tiga Lingga, mempresentasikan tiga kelamin laki-laki yang masing-masing ujungnya tertusuk peniti. Ketiga batang lingga itu juga digambarkannya terjerat dan terperangkap dalam lingkaran gaib, bisa jadi sebagai simbol lingkaran domestik.
Dalam pameran tunggal yang dikuratori Putu Wirata Dwikora ini, selain karya-karya drawing dengan wujud-wujud distorsif, Kun juga menampilkan seni instalasi berupa 33 patung fiber yang bentuknya diadopsi dari patung Venus Willendorf. Patung-patung itu diatur dan dipajang sedemikian rupa di halaman depan galeri dan diberi judul New Venus. Di sudut halaman galeri, pelukis yang telah kenyang pameran bersama ini juga memajang patung lingga raksasa dari anyaman bambu berukuran 550 x 120 cm yang berjudul New Lingga.
Karya-karya mutakhir Kun Adnyana tidak hanya dikerjakan berdasarkan intuisi, melainkan juga melalui pergulatan pemikiran yang dilandasi berbagai studi terhadap objek garapannya. Pecinta seni rupa di Bali boleh berbangga karena telah lahir generasi perupa yang tidak hanya mengandalkan bakat alam, namun juga menjelajahi berbagai kemungkinan bentuk dan konsepsi pemikiran yang ditawarkan dunia seni rupa. Kun Adnyana telah merebut posisi dalam barisan perupa Bali terkini.***
Trackbacks
Leave a Reply