Lelaki Berkalung Tulang Duyung
lelaki berkalung tulang duyung itu
datang padamu membawa remah-remah mimpinya
malam berjubah biru menyeret lelah langkahnya
tiba di ambang pintumu
kau menerimanya sebagai kekasih
entah yang ke berapa
lelaki berkalung tulang duyung
mencium keningmu
merenungi harum rambutmu
lalu kau berkata:
“aku terlahir sebagai titisan peri sungai musi
di kota kembang aku meradang
tak satu pun lelaki mau mengakuiku
mereka hanya ingin menggauliku
menyerap panas tubuh
dan mencecap asin keringatku”
lelaki berkalung tulang duyung
tercenung di ranjang
“tubuhku hanya dermaga
bagi lelaki yang letih setelah pelayaran jauh
mereka hanya ingin singgah
sejenak melepas lelah
mungkin kau salah satunya”
lelaki berkalung tulang duyung
menerawang ke jejaring matamu
ada duka maha kelam
terperangkap bertahun-tahun di situ
“aku hanya inginkan cinta
namun tiada jua kutemui
di tanah dewata pun tiada
semua cinta telah lesap
ke dalam ketiadaan”
lelaki berkalung tulang duyung
termangu, meraba arah kata
yang menjalar dari bibirmu
“kita hanya dipertemukan sepi
sepimu dan sepiku
kita hanya kangen melengkapkan perjamuan
dan hasrat purba yang meletup dalam jiwa
tapi tak akan pernah ada
kepastian, tiada jua kemungkinan”
lelaki berkalung tulang duyung
meraba bibirmu yang gemetar
menahan deras kata-kata berlumur duka
“aku ingin sembunyi di dalam gua paling gelap
atau mengubur diri dalam tanah paling kelam
hingga cahaya tak menyentuh mataku lagi”
lelaki berkalung tulang duyung
terperangah
kemudian diam
tak mampu berkata-kata
malam menelan
kesepian mereka
(11 Juli 2008)
Trackbacks
Leave a Reply