Pameran Ronald Wigman

Perjalanan, Ziarah Jiwa dan Raga

Oleh: Wayan Sunarta

Sebuah perjalanan selalu menimbulkan kesan tersendiri. Sebab ada banyak hal yang bisa dinikmati dari perjalanan. Keindahan sebuah kota atau desa, keunikan perilaku manusia atau adat istiadatnya, makanan yang lezat dan aneh, pengalaman bertemu orang-orang baru, keasingan di suatu daerah yang belum pernah dijamah, sampai pada kerinduan akan kampung halaman setelah sekian lama meninggalkannya. Perjalanan adalah sebuah ziarah bagi jiwa dan raga.

Ronald Wigman adalah salah seorang pelukis yang menyukai perjalanan. Sejak masa kanak-kanak perjalanan telah mengobsesi dirinya. Ketika kanak dia suka mengoleksi kartu-kartu pos penuh gambar kota-kota asing atau wilayah-wilayah yang eksotis. Kartu-kartu pos itulah yang menggerakkan imajinasinya untuk melakukan perjalanan, mencecap pengalaman menyinggahi negeri demi negeri, hingga pada suatu waktu dia terdampar di sebuah pulau bernama Bali.

Sepanjang perjalanan itu, pelukis kelahiran Den Bosch, Belanda, 19 Juni 1954 ini telah banyak melukiskan apa yang dilihat, dirasa dan dialaminya. Interaksinya dengan berbagai masyarakat dan kebudayaan yang beraneka telah memperkaya batinnya. Namun perjalanan itu sendiri tidak akan pernah usai. Sebab pada hakikatnya manusia adalah pejalan sunyi.

Hasil-hasil karya Wigman yang kebanyakan diinspirasi dari obsesinya akan perjalanan dipamerkan di Tonyraka Art Gallery, Mas, Bali, sejak 26 Juli sampai 20 Agustus 2008. Pameran yang dikurasi Arif B. Prasetyo itu bertajuk “Vice Versa” atau Pulang-Pergi yang menampilkan karya-karya Wigman selama sepuluh tahun berkelana di Indonesia, Perancis dan Belanda.

Namun sebagian besar karya yang dipamerkan Wigman tidaklah menggambarkan sebuah kota atau desa atau tempat yang ditemuinya di perjalanan. Karya-karya Wigman lebih mengacu kepada spirit dari perjalanan itu yang bisa dirasakan dari permainan warna yang beraneka dan menonjolkan kesan puitis, kontur-kontur dan garis-garis yang menyerupai peta buta, serta ikon-ikon yang mengesankan selama perjalanan.

Sebuah perjalanan identik dengan peta dan kompas. Dua benda tersebut menjadi teman yang sangat setia dan bisa diandalkan ketika si pejalan tersesat atau kebingungan mencari arah. Wigman termasuk pejalan yang sangat terobsesi dengan peta. Bahkan garis-garis, kontur-kontur, ikon-ikon dalam peta telah meresap ke alam bawah sadarnya. Hal-hal itu tercermin dalam karya-karya Wigman. Dia membuat karya-karyanya seperti seorang juru peta membuat peta, menggunakan perspektif mata burung. Namun perspektif ini justru menjadi unik ketika objek-objek dipoles dengan berbagai warna sesuai selera jiwanya dan diberi penegasan berupa kontur, bidang dan garis.

Perhatikan lukisan berjudul “Four Feet” (2005) yang menampilkan empat batang kaki manusia lengkap dengan jari-jari kakinya dilukis dengan perspektif mata burung. Kaki-kaki yang menjejak lantai itu dibagi-bagi menjadi bidang-bidang warna aneka rupa dibatasi garis-garis kontur putih yang seperti mengisyaratkan kelindan jalan-jalan pada peta. Bagi Wigman, kaki merupakan simbol perjalanan, selain juga sepatu dan sandal. Pernah pada suatu masa Wigman sangat terobsesi melukis serial kaki dan sepatu yang diberi aksen berbagai jenis aksara, seperti Arab, Cina, Mesir.

Obsesi Wigman pada berbagai jenis makanan yang ditemuinya sepanjang perjalanan juga tertuang pada karya-karyanya. Hal ini misalnya bisa dilihat pada lukisan berjudul “Delight A” (2006), “Delight E” (2006). Kedua karya ini menampilkan meja makan lengkap dengan rupa-rupa makanan di atas piring, sendok, garpu, pisau makan, serbet, tempat merica, tusuk gigi, bungkus rokok dan sebagainya. Sepintas objek lukisan ini sangat sederhana. Namun pengaturan komposisi warna, bidang, garis menjadikan lukisan ini sarat dengan perenungan yang bisa dikaitkan dengan budaya atau pola makan masyarakat tertentu.

Pertemuan dengan berbagai orang selama perjalanan tentu menyisakan kesan tersendiri bagi sang pejalan. Kesan itu semakin kuat tumbuhnya seiring dengan intensitas pertemuan, dan pada akhirnya bermuara pada keinginan untuk mengabadikan dalam sebuah karya. Begitulah, Wigman membuat serial lukisan potret yang didedikasikan untuk teman-temannya. Lukisan-lukisan potret itu ditempel pada bidang lukisan abstrak dengan berbagai variasi lelehan, cipratan dan goresan warna. Terkadang bidang abstrak itu diberi pesan teks atau ikon kuas atau gambar puntung rokok.

Pada beberapa karyanya yang lain, Wigman malah asyik mendedahkan gambar alat-alat seni lukis pada bidang kanvasnya. Wigman seakan tidak peduli dengan pilihan objek yang layak atau tidak layak dilukis. Baginya semua objek indah ketika dituangkan menjadi lukisan. Pada lukisan “Desktop My Tube” (2008) orang disuguhi serakan alat-alat lukis, seperti kuas, tube cat, pencil, buku sketsa, palet, beberapa puntung rokok. Semuanya itu terhidang di sebidang kanvas yang didominasi warna putih buram. Atau pada serial lukisan berjudul desktop, Wigman mencantumkan teh celup, kopi instan, coklat lengkap dengan bungkusnya, seikat buah rambutan. Masing-masing benda keseharian itu dilukis sembari dibubuhi tulisan tangan yang menyerupai buku harian atau catatan perjalanan tentang berbagai benda aneh yang ditemuinya.

Bagi Wigman setiap benda mengandung sejarahnya sendiri dan layak untuk dikenang. Begitu pula dengan perjalanan, ziarah bagi jiwa dan raga.***
(Tulisan ini dimuat di Majalah ARTI edisi 006)
 
 

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php