Sekilas Sajak: SUARA DAN PINTU WAYAN SUNARTA
oleh: Hudan Hidayat*
“Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sublim, dari mana saya bisa belajar banyak hal, terutama kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun mosaik kaca menjadi cermin, dari mana saya mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga jejak-jejak perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses, yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.”
itulah kata kata penyair wayan sunarta untuk pengantar buku puisinya, yang saya ambil di apsas. saya pertama kali berkenalan dengan wayan melalui dunia cerita pendek. saya membaca cerpennya dalam lomba cerpen cwi yang, seingat saya, telah berlangsung empat kali lalu mati itu. di sanalah saya dengan ahmadun, maman dan beberapa kawan secara bergantian tiap tahun membaca naskah naskah yang masuk. dan rasanya selalu saya menemukan wajah wayan di sana. selalu dia menjadi finalis dan selalu dia gugur di tahap tahap naskah final oleh juri yang banyak itu.
barusan saya melihat buku puisinya secara utuh, dan melihat pula bagaimana pandangannya sebagai seorang penyair melihat dunia perpuisian. ada yang menyentuh di sana: bagaimana wayan kecil mencuri curi di jam jam istirahatnya untuk membacai buku buku puisi.
sekedar semangkuk bakso, terasa sangat mewah bagi saya waktu itu, kata wayan.
pengalaman seorang pengarang di manapun sama saja: menghabiskan masa kanaknya untuk sebuah dunia sunyi. dunia kata kata yang dibangun oleh penyair lain. sebelum ia menuliskan dunianya sendiri.
(menarik dunia sunyi yang digeluti saut situmorang dalam pengembaraannya belasan tahun di luar negeri. dunia sunyi macam apa yang melanda dirinya)
sebuah dunia mengembara, di mana tiap nilai dikocok dan dibenturkan dalam realitas hidup. dari hidup yang sunyi. dari dunia yang sunyi.
tapi hendak bagaimanakah kita memaknai kesunyian itu, kalau bukan sunyi dari sebuah eksistensi, dari sebuah diri yang seolah terhampar begitu saja di tengah dunia. di seputar kita banyak orang ramai. tapi kita merasakan sunyi.
sunyi mungkin kutuk bagi para penyair. tapi penyair diangkat dalam kitabnya.
dari banyak puisi wayan di buku puisinya, saya langsung mengambil sebuah puisi pendek ini. saya selalu tertarik dengan sebuah suara. saya selalu tertarik dengan sebuah pintu.
suara dan pintu, bagi saya dua keadaan yang mengandung mistik sunyinya diri. karena suara, karena pintu, maka tiap penulis bersedia untuk mengambil jalan yang tak lazim itu. seolah dengan suara gejolak gejolak bertemu, dan meminta jalan jalan keluarnya melalui pintu. simbolik ini agaknya menjadi ciri paling hakiki dari tiap manusia. ciri yang mewujud ke dalam banyak suara dan banyak pintu.
suara wayan adalah suara yang masuk ke dalam malam - simbolik dari dunia tiap tiap kemungkinan. dari dunia yang tak dikenal. di mana malam berlapis sebagai suara tapi juga berfungsi sebagai pintu - pintu masuk ke dalam malam. maka lihatlah bagaimana judul puisi ini bersetubuh langsung dengan larik pertama puisi: suaramu di pintu - senja baru saja berangkat.
aduh berangkat ke mana wayan kalau bukan masuk menemu malam? malam dari burung balam dari yang coba diidiomkan oleh penyair pakcik. malam dari arak arak api tapi malam pula dari zikir zikir sunyinya diri.
masuk ke mana wayan?
belum apa apa malam yang meninggalkan tingkap telah mengejutkan kita dengan seseorang bertamu.
(tingkap, di tingkap malam, bukankah tingkap rumah kita juga di mana kita angankan bahagia di sana?)
siapakah yang mengejutkan itu? siapakah yang mengetuk pintu itu? suara siapakah yang datang di tingkap malam?
tak ada sesiapa di luar
hanya desir dingin
(dari desir angin)
maka sang penyair pun balik ke biliknya lagi. penyair yang tak bersedih kecuali isenga saja.
mungkin angin
yang ngetuk
pintuku, katanya.
mungkin sang penyair sudah tak punya kesedihan lagi dalam hidupnya, sehingga dia dingin saja. dia iseng saja.
hudan
———— ——— ——— ——-
Suaramu di Pintu
senja baru saja berangkat
meninggalkan tingkap
kudengar ketukan
di pintu
siapa bertamu?
kubuka pintu
tak ada sesiapa di luar
hanya desir dingin
aku balik ke bilik
mungkin angin
yang ngetuk
pintuku
1993
* Sastrawan

Trackbacks
Leave a Reply