Kumpulan Puisi MALAM CINTA
DENPASAR
toko toko tua anyaman pengembara
jalan gajah mada menggeliat
di lekuk lekuk tubuh
betinaku yang gairah
menyusuri embun dinihari
kita nikmati malam percintaan
dalam adonan kasih soto babat
yang melabuhkan resah lapar penyair
di bawah jembatan cinta
terbayang wajah kota yang renta
melulur tubuh kenangan betinaku
SEPEDA TUA
sepeda tua di sudut kelam
berapa kali musim rindu
mendera rentamu
pada putaran jeruji waktu
kaki mungil mengayuh angin
harapan menjadi kenangan
pada senja yang pikun
alangkah indah masa bocah
betapa ramah sepeda itu
menemani kenakalanmu
merambah halaman seputar rumah
hingga suatu waktu kakimu patah
jatuh dari sepeda tua itu
sungguh segar rasa sakit di akhir senja
tapi betapa perih tangis pertama
saat ibu tersenyum menyambutmu
kita terlalu dungu menyelami keberadaan
hingga tak tahu akan kemana setelah itu
di sudut kelam hanya sepeda tua
meringkuk dalam rindu yang berkarat
hanya kepadamu
JULI
yang paling pilu
cinta yang lena
terjerat getah pahit
mulut bulan juli
musnahlah gulita!
debu jalan membungkus bunga sajakku
dalam perut perempuan bunting
cinta sekarat
kaukah yang mendongeng tentang rindu
dengan wajah dingin mengiris
sunyi pada jantungku?
malam lalu tanpa keluh
cinta telah tinggalkan tubuhmu
sebelum lahirkan kesejatian
dari rahim bulan yang biru
selalu aku berharap kau
adalah ibu, mula denyut waktu
yang penuh kasih menerima
benih matahari
LARON
tuhan, sampai kapan kau
meminjami aku sayap?
SELAT LOMBOK
harum tubuhmu
tiba lagi
merebak
menyesaki geladak
aku mabuk
mabuk
sekawanan hiu
menyeret lamunanku
ke ceruk paling biru
dari lautmu
hati menyentuh hati
harum ranum cinta
yang bikin aku tak jemu
memuja luka
rangkuman citra senja
selintas angin relakan
ikuti kemauan lamunan
isyarat resah batin
menggapai pelabuhan
demi pelabuhan
batinmu lautan dalam
angin, camar, lumbalumba
bahkan hiu hiu tak mampu
mengusiknya dengan warna
paling karib dari hidupku
lamunanku angin
pun camar rela
menggugurkan siulnya
demi pekik manja
terompet perahu
yang melabuhkan
persekutuan aku
dan kau
BALUK RENING
di sini, cinta menyapa pantai
desir angin, buyar pasir, senyum jelitaku
adalah ombak yang tak bosan bercerita
tentang mawar laut, lambaian nyiur
pandan wangi
atau camar yang tak pulang
di baluk rening
wangi tubuhmu menghanyutkan gairahku
ombak yang selalu membuih di dalam jiwa
o, jelitaku
pandan wangi
gerai rambutmu di angin garam
jelitaku yang penuh senyum
menggandeng lengan pengembara
di pantai kita menari
bersama pasir, ombak, angin
yang tak bosan menyapa sang jiwa
jelitaku pandan wangi
di hatiku mencari sunyi
PURA JATI, BATUR
bersama bunga
yang dibawa angin lembah
aku tiba di garbamu
di bawah siraman purnama
di hening batin
puluhan cemara
mengidungkan asmaradana
dulu pernah aku melupakanmu
kini pesonamu begitu memukau
merangkum lahir dan batinku
aku lelap dalam pelukmu
walau udara dingin dan kabut
tak henti membungkus semadiku
aku hangat dalam dekapmu
pepohonan memekarkan bunganya
pinus, endapan lahar batur, cemara
bersahutan dalam nyanyi sunari
begitu dalam percintaan kita
cinta yang dihantar wangi bunga
wangi dupa, hening tirta
dan tatapan lugu mata bocah
MENYEBERANGI SELAT LOMBOK
lengking pilu terompet perahu
makin sayup
daratan bali perlahan
menjelma igauan-igauan
tengah laut
pikiran-pikiran keruh
diri makin asing
secangkir kopi pahit
secangkir kesunyianku
kursi-kursi perahu ini
entah berapa lama
menyimpan mata pasrah
penumpang
yang memilih duduk
dekat pelampung
ah, biar saja sempurna
deru mesin itu menghantui sunyi
sedang tanah bali
semakin hadirkan kepiluan pesisirnya
PURA SAKENAN
bertahun-tahun aku mengarungi
kerinduan ini, kekasih
membawa bunga ombak
dan serpihan jiwaku
terlahir aku kembali
dengan wujud yang berbeda
hingga kesunyian rindu
melabuhkan aku di pesisirmu
tiadalah mungkin aku
melupakan wajahmu
sebab perahu cintaku
senantiasa berkayuh
di teduh lautmu
MALAM MAWAR
terasa masih perih
jejak gigimu di bibirku
aku hanyut bagai lumpur
dan tak tahu terdampar
di negeri yang mana
setelah segala cinta
jadi puing luka
angin kembali mengantar
wangi tubuhmu
malam yang mawar
terbiasa dengan luka
hingga nyata apa yang ada
dalam pelukan sunyi
beri aku rasa luka
tikamkan perih itu ke jantungku
setelah selesai segala permainan
malam yang mawar
terasa masih perih
jejak gigimu di bibirku
PUISI XXII
telah kau masuki jalan hayatku
jalan mawar
yang selalu menawarkan wangi
bagi taman taman puisi
pada matamu purnama
kutemukan kenyataan
paling sunyata
merangkum duka dunia
jadi mawar sekuntum
sejak kelahiran membuka ilham
cahaya kenangan dan harapan
lewat beribu musim
lewat beribu kelahiran
dosa musnahlah
lebur segala karma
jadikan suci purnama
rangkuman suka duka
susuran jalan cahaya
mengalirlah
antarkan beribu wangi mawar
ke dalam samadiku
DI TEPI DANAUMU
secercah gincu merah
memukau awan kelabu
ada bayangan danau biru
apitan bukit sejuk lembah
dan pohonan pinus merambah
rumah-rumah burung hantu
sambil ngunyah buah apel
di tepi danaumu
kunikmati rupawan wajahku
tak tahu ulat dalam apel
apel busuk pelukan hawa
pegunungan kabut
kau isyaratkan aku
menyelam ke lubuk danaumu
bermanja dengan ikan-ikan lucu
bermata lumut
o, nikmatnya malam laknat
berdiang di tungku perapian
saling merapatkan tubuh
matamu yang kabut
mengenang mula kutukan itu
MELINTAS GERIMIS RENON, DENPASAR
sunyi, tepikan dukaku
pada gerai rambutmu, gerimis
semalam kita reguk air mata
sedalam tikaman bertubi untuk diri
untuk kau, untuk aku
tak habis-habis
jalanan muram
igau dalam igau
belukar mawar
sisa-sisa malam
kita terjerat bayang hitam
bayang masa silam
mawar selalu senyum
menawarkan duri-duri bagi jiwa
basah jalanan
motor tuaku tertatih
sarat beban pikiranku
lalu mawar lalu
harum tubuhmu
mawar menguncup kelopak
kelopak suci bulu lentik
seperti gerimis
seperti air mata
CANDI KUNING BEDUGUL
pada ikal rambutku
kau sesatkan diri kau
o, penjaja bunga
bermantel kabut
kau penari mawar?
di ketinggian ini
apalah arti secangkir kopi
selahap mengunyah ketan bakar
jagung muda itu menawarkan diri
ingin kulahap di dingin pegunungan
lewat pukau matamu
aku menguak pesona masa lampau
mengorek hati mulia
lumut-lumut bukit
pakis-pakis kebun raya
selintas jiwa para penjaja bunga
kelebat bayang tubuhmu
jadi batas gelap antara
unggunan api di rimba jiwa
di ketinggian ini memukat ilham
menyadap cercah kabut
penari mawar
penjaja bunga
membakar diri
di unggunan api
SEGALA LETIH KITA
setelah kau rajah dada kiriku
dengan duri itu, jadilah kesunyianku
gambar mawarku
apalah daya. segala letih kita
telah tercatat di setiap peristiwa
hingga sayatan demi sayatan luka
mengembun
kita telah jenuh dengan segala kesabaran
mesti asah belati
tikamkan bertubi-tubi
pada setiap wajah
topeng-topeng yang datang
silih berganti mengantar nyawa kita
ke tubuh letih ini
rajahlah lagi sebelah dadaku
dengan duri mawar beracun itu
biarkan aku tandas
TUKAD UNDA
air atau kabut yang melabuhkan
puisiku di sungai berbatu ini
hingga mawar yang dulu kau beri
di perkampungan bunga
menyala lebih silau dari matahari
mawar cahaya
tarianmu di arus kabut
batu kali, koral dan pasir
mengurai sisi rambutmu
simpanan sunyi bulan
di pojok batu, perdu-perdu termangu
pohon enau di ketinggian itu
harum tuak yang rekah
merendam pahit-manis puisiku
mawar cahayaku
suatu waktu wajahmu menunggu
di reruntuhan puri-bulan
mengikuti alur lahar gunung agung
aliri tukad unda
kau pun berpendar
wajahmu lebih puisi
dari sunyi sungai
PEDAWA, BULELENG
dari jantungmu
cinta jatuh
kabut memungutnya
perlahan
aku ingin kau putih bunga kopi
atau penuh kasih serupa kabut
yang menghayati rindu
dari kejauhan
di relung batin kau
menyekap kemarau
keheningan macam inikah
yang kita kangeni
pepohonan melepas kering daunnya
kembali ke pembaringan waktu
ke asal diri
sunyi menjelma tetes air
julangan karang cadas
dalam jiwaku penuh lubang
air cinta siapa menggerusnya
hingga aku menjadi lumpur
hanyut ke muara yang jauh
TERMINAL UBUNG
lebih dari separuh tanya terurai
di sini
selalu ada yang menyambut
derita kehadiran
melepas suka cita keberangkatan
seperti sopir letih itu
aku mengemudikan denyut nafas
selalu paham suka duka
saudara satu ibu
yang lahir dari peluh
perjalanan karma
aku cari hakikatmu sampai menemu
hingga tiba saat aku berangkat
mempecundang duka
mengundang cinta
hingga tiba pula saat aku menghadapmu
o, kepala terminal
MAWAR BULAN
telah kau peram itu malam
berbenih-benih kenangan
yang akan mengalirkan
air mata kangen pada dua telaga angan
mawar bulan berkilau
lawatanmu jadi gairah pertemuan
yang memabukkan
sebab pukau mawar bulan itu
kau lalai akan waktu
menjadi sia-sia hayatmu
gumulan hidup matimu
mengelupas hari-hari rindumu
pukauan mawar bulan menujum
untung-malangmu
berayun pada dua telaga
jalan akhir yang berliku
membuka puncak paling rahasia
bagi pendakianmu, penyair!
DI WARUNG WONOCOLO, DENPASAR
risau itu juga
yang menempias rasa
saling diamkan jiwa
dalam aroma sop ikan
di hadapan kita
telah kita pahami
sahaja cahaya cinta
pun lampu jalan
yang begitu setia menjaga
setiap denyut kehidupan
lampu jalan yang sunyi
yang mirip hati kita
dari warung mungil ini
tetaplah heningkan jiwa
beri senyum bagi dinihari
yang mekar dalam sop ikan
di hadapan kita
PASAR KUMBASARI, DENPASAR
aku lihat ketawamu merambat
pada wajah lusuh penjual sayur dan kuli pasar
menubruk merdu tawar menawar
dan makian gadis belia
yang pinggulnya dicubit lelaki kasar
kita makin jauh
dan kau masih suka aneh
gerimis kotamu begitu biru
kau tahu deretan pohon asam itu
sering bikin penyair mabuk cinta
saat gemerincing dokar meregang sekarat
menyeru namanya
perempuan perempuan pasar sejauh malam
tak pernah jenuh menjunjung rinduku padamu
:bau amis ikan, gurih nasi jinggo, tadahan tangan
pengemis buta, dan belahan payudara penjual sayur
makin menjadi racikan hangat dalam gelas kopiku
kau manis jika lagi merengut
perempuan perempuan di tikungan jalan
suatu waktu akan menjual tubuhnya
lantaran perut tergigit lapar
dan wajah minta dipoles kosmetika
harga-harga terus membubung ke langit
dan raja tua yang tak tahu malu itu
masih terus berkuasa
janji-janji konyol semakin memenuhi ruang udara
gerimis kotamu mendadak kelabu
si terkutuk sibuk menyusun siasat-siasat licik
yang akan menghancurkan dirinya sendiri
gerimis kotamu makin kelabu, manisku.
PARANGKUSUMO
tapak kaki kuda, pasir-pasir, bunga pandan
dan sampailah pada hamparan biru
yang berwaktu-waktu kuburu
ibu parangtritis, bapa merapi, putera keraton
satu garis sunyi menggebu dalam seru angin
pada pagi pada malam pada jam-jam siangku
membawa birahi dari kucuran peluh, terik doa
dan tandas air mata
mengharap kau tiba dengan kereta kencana
menapak udara
campuran pasir, laut dalam diri
simpang siur wajahmu, sayup-sayup rambutmu
seribu kuda putih meringkiki detik-detik sunyiku
waktu waktu kuburu pencarianku kuburu
sampai ruhku menemumu
SUATU WAKTU
suara serangga menuntun perjalananmu
menggapai senja
perempuan itu menunggu di ambang pintu
dari waktu ke waktu burung-burung di udara
meluruhkan bulu-bulunya
sehelai hinggap pada kenangan
dan senja tertatih menapaki letih
aku dengar jeritmu
ketika malam penuh lolong serigala
ketika negeri ini diserbu petaka tak berkesudahan
kembali burung-burung kecil itu memekikkan tanya
pada garuda tua yang hampir rontok seluruh bulunya
menjadi fana dalam kepedihan
perempuan itu menjelma senja
selalu jingga. selalu tak terduga
tanya terurai:
mengapa jiwa belum juga terbuka
pada petaka negeri ini
GERUH
tarian sunyi hari yang renta
membawa sendiri perjalanan waktu
ke ruang suci rahasia
pada dirimu
masa silam terperam
dalam tiram mutiara
kau samadi:
tarian angin tarian air tarian tanah
tarian angkasa tarian cahaya
menggumpal dalam jiwamu
mengeras jadi batu intan sempurna
hingga dewa pun tak kuasa
menujum gerak tarian jiwamu
kuntum seroja kuntum kamboja
menyerah dalam keheningan gambuh
sampai kau berdiri ringkih di perbatasan
tubuh kurusmu dililit akar pohon banyan
senja telah menidurkan sebuah gubug reyot
yang berdiri kukuh menahan hempasan angin barat
kembali. kembali kau ke pangkuan ibu
ke muara abadi tarian semesta
KUIL MEI
matahari telah lama mati
dalam nikmat sunyi
hanya kuil kosong
yang memerangkap aku dalam lorong
yang bermuara pada ceruk matamu
kabarkan pada jiwamu sendiri
perihal kata yang hangus kita bakar
tentang kesetiaan puisi
yang kita musnahkan
masihkah bibirmu sepanas dahulu
aku rindu menjarah gairahmu
nyalakan lagi api itu
kita bakar saja puisi-puisi cinta
yang tak bosan tercipta
kita musnahkan kuil kencana itu
USAI ALUNAN LAGU SENDU
usai alunan sebait lagu sendu
begitu lembut wajahmu mengalunkan keheranan
pada seekor kucing putih jantan
yang saban pagi memakan bunga-bunga
di halaman rumahmu
mata kucing itu menyihir hari-harimu
menjadi bongkahan-bongkahan rindu
rambatan cahaya pada permukaan senja
kita ke pantai saja
di gunung hanya ada
danau yang dingin
dan putus harapan
pantai di sini belum direklamasi
sebuah nama telah terhapus dari ingatan ombak
namun namamu masih menyisakan birunya
bagi warna air yang miskin kata-kata pujian
bagi jiwa yang merecau sendiri
ah, mata kucing itu masih saja
menyihir hari-harimu
sebentuk bayang melintasi dingin senja
begitu rupa tiada
SAJAK TUNGKU
berparuh-paruh waktu tungku itu tidak kau nyalakan
kayu bakar yang bertahun-tahun kau kumpulkan
dari hutan jiwamu telah habis mengabu
hutan-hutan tandus menjerit, jiwamu menjerit
memanggil-manggil mata air, kubangan kata-kata
yang melulu air mata
aku tahu kau kini seonggok tanah tua
yang ditinggalkan para peladang
tanganku gemetar membuka lembaran-lembaran buku
sejarah yang sedang rindu menulis namamu
seperti arwah nenek moyang
aku melihatmu terperangkap
dalam sejarah berjuta-juta tahun
aku pun terjerat dalam lubang
sejarah yang kau ciptakan
tungku itu rindu kau nyalakan
bakar saja seikat puisi, dirimu yang sisa
agar jiwa tak sia memfosil
kayu bakar telah menjadi arang
kita perlu kehangatan, kekasihku
hidup adalah kehangatan
yang tak semua orang mampu merasakannya
saatnya, aku rindu mendengar lenguh angin perawan
ketika rerimbun hutan hijau terusik
namun gema kematian mengambang dalam tungku
yang tak kau nyalakan itu
karena lapar karena dahaga
tangan-tangan menjulur dari dalam tungku
mencekik akar-akar nafasmu
menghisap, menjilat bukit-bukit mungilmu
yang bertahun-tahun tandus
kehilangan air mata cintanya
DI KUSAMBA AKU TERKENANG SEJARAH
di kusamba
aku terkenang sebuah sejarah
aksara-aksara jiwa yang melabuhkan
keheningan masa lampau
hingga kemaksiatan masa kini
pada lembaran-lembaran pantai bergaram
olahan keringat hingga campuran darah
para laskar yang pralaya
meruwat bumi bali
jerit sakit dan pekik sekarat mengabut di udara
cakrawala warna jingga
kematian menari di ujung mata tombak
meniti keris atau meluncur bersama pelor
menguak pintu gerbang langit
setelah sejenak memandang tanah hijau
tanah bali yang basah oleh darah
hingga kini kemaksiatan semakin menghama
di kusamba aku terkenang pagar tombak
di ujungnya seorang perempuan perkasa
menari anggun menantang angin barat
SEBELUM WAKTU JADI ABU
kami lahir dari puing-puing
reruntuhan tahun-tahun duka
bersama pekik serak gagak
kami merangkak ke balik malam
kami ungsikan air mata
sejauh jalan sejarah
waktu terus bergerak
kami terus berbiak
melahirkan turunan kami
di atas tumpukan arang
reruntuhan peradaban
jangan tanya apa makna
apa warna air mata kami
berhentilah membasuh bumi
dengan darah
saatnya pedang dan bedil
biarkan berkarat, teronggok penuh debu
lalu kita susuri setapak jalan kasih
pasrahkan jiwa pada alam
gapai keheningan bulan
yang melambai pada kelopak seroja
belajar memelihara nyawa
seraya terus membaca
perangai cuaca dalam diri
sebelum waktu jadi abu
mari kembali ke bahasa purba
berbagi cerita pada pepohonan tua
pada batu-batu dan bunga-bunga
melebur dendam pada mata air
agar air mata tak tumpah sia-sia
JEJAK KATA
waktu membungkus sunyi
dalam temaram cahaya matamu
pengembara dari lembah musim semi
tiada henti meredam dendam hari
saat kau cari jejak sebuah kata
yang penyap pada bentangan pelangi
dan pada hamparan jiwamu, kau temukan dirimu
sebagai pecundang yang menatap hampa ke cakrawala
membayangkan jejak kata
pelangi melebur warnanya dalam gerimis
kutemukan keindahan dan kepiluan
larut jadi satu
maka betah-betahkan diri jadi pejalan sunyi
yang suntuk menyusuri setapak jejak waktu
bila kau letih sandarlah pada sepoi angin
berteduhlah di bawah pohon-pohon cemara
yang tiada henti mengigaukan kenanganmu
NOTASI MAUT
tak mampu lagi kuigaukan kata puisi
cahaya menyamarkan tanah pijakku
kemana lagi kujelajah jejakmu
wajahku semakin jauh dari cahaya
semakin pucat dan fana
deru angin menggigilkan waktu
mengingatkan tubuh yang pedih
perjalanan itu o, maut
merambat pada lumut-lumut tubuhku
(lenyapkan. lenyapkan igaumu….)
kabut menyeret bayangku
gemerincing kereta makin nyaring
kuulurkan tangan pada siul angin
yang memberi kabar
burung-burung telah pulang dari rantau
kutemukan diriku di situ
menggigil mengundi jiwamu
siapakah yang lebih tulus merindu
o, maut, saudara seperjalananku
MENYUSURI JL.THAMRIN, DENPASAR
kau simpan kenangan
pada saku baju yang lusuh
kau membelok ke sebentuk tikungan
“di sinilah dulu sarang burung malam itu
aku pernah mengenyam nyamannya,”
gumammu pada malam
kau seret jiwamu letih
kota ini telah terkepung bentuk
bentuk yang tak lagi akrab bagimu
sepuluh tahun lalu kau dan keheningan
suntuk menjalani sisa waktu
sebuah jagad kecil menjelma dalam diri
sebuah sapaan yang mesra
kini diri seperti sampah saja
di sekeliling gedung-gedung angkuh
kota adalah langit senja
yang sebentar lagi akan malam
lalu di manakah tempat bagi kaum urban
di sepanjang jalan thamrin
sejauh gerimis
mengejar perjumpaan dengan malam
kau memasukkan kenangan
demi kenangan baru
ke dalam saku bajumu
yang lusuh
ANGIN GARAM
angin garam itu bernama duka
saat aku datang lalu pergi
meninggalkan kotamu
bagaimana mungkin aku
menjadikan diriku pengembara
bila pada sunyi diri saja
aku tak mampu mengadu
kau selalu berada pada kemurnian hari
yang menggelantung seperti embun
saat aku singgah pada kota tua
bangunan bangunan belanda atau juga pacinan
di sanalah aku tersungkur kalah oleh keindahan purbamu
penyair yang merasa paling berhasil mengungkapkan
makna keindahan kalah oleh keindahan kotamu
angin garam itu bernama sunyi
dan kau adalah keabadian
yang melindapkan batu-batu
jika jiwamu seperti air
maka air itulah yang melarutkan
aku pada lautmu
aku sudahi kembara
dan kembali pulang
ke haribaan ibu
AKU MEMAHAT MAUT
kau bangkit dari mimpi
cahaya menyilau mata
bercermin pada bayangan hari
serasa seperti luka
aliran waktu,
cahaya adalah kegaiban
hari-hari luruh seperti daun-daun letih
perahu kertas yang dihanyutkan anak-anakmu
di sungai masa kecilku
tersangkut entah di mana
mungkin dalam ingatan lumut
atau pada kenangan batu-batu
kabar tiba dari pesisir selatan
ombak dan sekuntum mawar
membagi resah pada pantai
pesisir telah jadi hamparan kapur
kau betah membuka mata
larut-larut malam
menjaga sepi puisi
bersama nelayan tua,
arak dan selinting tembakau
pada lambung perahu
aku memahat maut
bunga bakau tanpa suara
menyerah pada panggilan angin
GALUNGAN
menenggak bersloki-sloki arak
aku mekar dalam rimbunan mawar
langit kembali warna ungu
bau laut, angin garam, aroma sate penyu
berbaur dengan pikuk jalan sibuk
kau masih menembang kidung dewa
ketika aku tiba menjenguk kenangan
canangsari di altar batu
yang kau racik dari kulit tanganmu
masih setia membawa mimpi ke langit bali
selalu saja aku menemu dangau
bagi sekelumit perjalanan
penjor-penjor telah dihias janur
sanggah cucuk penolak bala di lebuh puri
telah pula ditancapkan
namun aku masih setia mengembara
pada hamparan sabana sajak
yang direntangkan lelaki tua itu
sebumbung arak bekal perjalananku
apa kau tak letih menjaga kesucian puri
yang hampir hancur diserbu angin barat?
gubug-gubug garam telah lama
aku tinggalkan bersama gairah laut
di mana kau simpan bunga yang pernah mekar itu
aku ingin kembali merangkainya
jadi karangan kematian bagi sejarah ayah kita
agar tak ada kuwariskan duka padamu
sarang merpati telah jatuh dari pohonnya
aku paham bahasa matamu
yang bagai gerimis turun seharian
namun aku harus menjaga kehangatan tubuhku
selimut yang dibentangkan malam ialah kabut
yang telah melindapkan
pohon-pohon yang kurindu
KUPU-KUPU
kupu-kupu kecil itu
tersesat ke dalam kamarku
di antara hiasan tanduk rusa
dan rak-rak buku ia meliuk-liuk
seperti tak tahu arah berpijak
sebuah potret masa muda
dalam figura hitam yang tua
menatap fana padaku
kupu-kupu kecil itu menari
di atas huruf-huruf kaku mesin ketik
keningku membentur almari
saat aku ingin menyentuh
warna-warni sayapnya
keindahan di sebuah kamar
terbuka seperti taman musim semi
daun-daun bunga bungur
diam-diam gugur ke dalam belukar
malam mengendap di balik tingkap
sebentuk bibir di kaca jendela
kupu-kupu kecil itu menguap
ke senyap yang tiba-tiba lindap
TANGAN MUNGIL PADA ALTAR TUA
hujan yang menisik ujung dedaun
berusaha paham jalan kecil itu
tujuan atau mungkin arah yang berkelindan
tangan mungil memungut kelopak kamboja
pada susunan batu altar tua
tanda legam ingatan
yang mendedah waktu dalam tubuh
masihkah pohon-pohon
memeram nafas muram
burung-burung usiran?
cahaya matamu
selalu rahasia
mencoba bersetia
pada senja
BALI, BERI KAMI RUMAH
mereka bicara hal yang sia-sia
tak sadar malam mengepungnya
malam adalah hutan keramat
yang menyungkup jantung kita
sebongkah tengkorak purba
telah kau siapkan di depan altar tua
mari sempurnakan perjamuan
sebelum hutan, sawah dan kebun kita
jadi isi ensiklopedia dunia
“bali…bali…bali
beri kami rumah agar kami bisa kembali!”
pembawa warta letih
sejenak minum dari alas daun
kabar dari jauh
mengelupas selapis demi selapis
kulit dalam jiwa kita
KADAL MUSIM PANAS
pada hamparan batu-batu
kadal musim panas mengulum pasir
angin berdesir
kabar turun dari gurun
hutan-hutan tropis
telah jadi baris-baris sabana
kadal musim panas
menjulurkan lidah
menjilati tubuh legammu
yang seperti batu pualam
di atas karang laut selatan
aku temukan bongkahan perahu Nuh
siapa akan membawa kita
pada suatu daerah yang entah
kadal musim panas
menjilati jejak hitam
bayang-bayang yang enggan jadi cahaya
yang jatuh seperti rintik embun
pada lebam tubuhmu
kadal musim panas
mengulum pasir
matahari tabir paling rahasia
pada matamu
aku temukan negeri-negeri runtuh
bangsa-bangsa negeri dingin
menghancurkan diri sendiri
BULAN ROMBENG
apa yang lekat
dari takut
yang susut
dalam kabut
di ujung gang kotaku
kau menunggu waktu
kenangan gugur
dari jemarimu gemetar
masihkah rerimbun pohon itu
memeram wangi mimpimu
hingga aku mesti paham
makna bulan yang rombeng
di ujung gang gang kotaku
PADA TEDUH MATAMU
aku menemu cahaya
pada teduh matamu
aku menyelam
dalam samudera cahaya
hari-hari mengalir
seperti sungai
yang tabah akan garis takdir
bertahun-tahun kususuri
hingga bermuara di teduh matamu
kabut biru muda
merayap turun
seperti selimut malam
membungkus tubuhmu
ke dalam hangat
matahariku dan mataharimu
sesungguhnya satu ibu
orang-orang tolol memilahnya
dengan keyakinan konyol
cahaya di teduh matamu
membawaku pulang dari kembara
kaulah purnama itu
yang menerangi setapak jalanku
lentera malam bagi muram gubugku
RIWAYAT
riwayat ayat suci kau lebur
erang panjang serupa kiamat warna
violet yang meredam gemuruh jiwa
oase terakhir adalah nadi
lalu akan kau apakan warisan sunyi
uap garam pada helai-helai rambutmu
samarkan peta yang kubuka tergesa
inginku kau berlalu sepenuh waktu
dari menara mercusuar kau lontarkan kutuk
aib melata ke seluruh pesisir
riwayat raib dalam rahasia semesta
ingkar pada pusaran takdir
badai yang memenuhi pagi
abai pada gurat syair terakhirmu
luka yang kau toreh di lambungku
ilham yang menumbuk riwayatmu berdebu
DI RUMAH TUKANG SYAIR
-buat zain hae-
di pelataran surau tumbuh sepohon kecapi
di bawah teduhnya bocah-bocah belajar mengaji
emak menanak nasi dan mengulek sambel terasi
kau sibuk berseteru dengan puisi
di ujung gang pada remang senja
none betawi girang cengkerama
tak peduli hiruk-pikuk pusat kota
ranum bibirnya tanpa gincu
dan betisnya..ai..ai..ai…berkilau
abah bergurau dengan bedug tua
sambil membetulkan letak kopiah di kepala
emak memanggilmu pulang untuk makan malam
di meja makan terhidang: soto betawi,
nasi mengepul, ikan mujair, petai
dan sambel terasi
ai..ai..ai..
aku seperti di rumah sendiri
DI CANGGU AKU MENUNGGUMU
di pantai canggu
aku menunggu senja menjelma
pada kepak sayap camar
pada sirip lumba-lumba
pada desau bunga pandan
namun, mungkin hanya pada laut kelabu
aku mengadu rinduku padamu
pun sepiku yang hina
di tengah badai hari ini
aku limbung
hilang arah
dengan apa mesti kau mengampuniku?
seperti Rama yang menguji Sita
dalam kobaran api cemburu dan putus asa
aku hilang akal
kau tahu, Dasamuka akan kembali bertiwikrama
dan berkeliaran di sekitar kita
ia ingin merebutmu
menghancurkan hidupku
kekasih, kau terlalu lemah dan lugu
memahami hasrat jiwa sendiri
jiwamu yang hijau adalah hutan Dandaka
yang mengurungku dalam prasangka tak terperikan
kau tahu, bahkan dengan Laksamana pun aku curiga
luka masa lalu telah membuat aku alpa
memahami rasa setia bunga seroja
sesal dan malu kukubur di gua Kiskenda
di mana kera-kera juga menjaganya dengan curiga
para pendeta istana telah mengujimu
aku tahu, lidah api yang ganas
tak mampu menjilat
mulus tubuhmu
dari bumi kau bermula
ke pangkuan bumi kau kembali
kau suci, kau abadi
aku nista, aku fana
PARANOIA
telah kau tularkan paranoia itu
pada jiwaku murung
serupa burung
kau bisa tebang ke mana suka
ranting-ranting yang kau hinggapi
rapuh dan diliputi kecemasan
apa makna setia
bagi hijau pucuk bambu?
kau coba cicipi rasa dosa
ada dua jiwa dalam dirimu
satu setia ke timur
satu pasrah ke barat
apa lagi yang mesti kupahami?
saat laut pasang, kenangan kita
tergerus ombak
senja hanya hampa
di hampar pasir aku tengadah
meneliti jejak rasi mithuna
yang melingkupi jiwamu
kau duga aku berhati kelam
namun waktu punya pendulum
menunjuk yang pantas dirajam
LIRIK UNTUK PENGIGAU
walau kau terus susuri malam
aku tak tahu sampai kapan
ruhmu menuju kilau abadi bintang
igau yang kekal serupa ajal
hembuskan kata-katamu di ujung lidah
wilayah mana tak kau jelajah
istana musim semi menutup gerbangnya
siapa mampu meraba arah waktu
alur yang melingkar serupa ular tidur
tapi peta telah kau buka
saat senja mati rasa di jiwamu
apakah arah, apatah tuju
nujumanmu tak lagi bermakna
amsal pun lupa ihwal kata
DONGENG UNTUK BONDET
selalu saja muncul sesal
iringi kabar dari kapal asing yang
galau dihempas musim gelombang
impas sudah segala sial
tempias yang menderas di tepi geladak
segera siapkan pelampung
ucapkan doa terakhir
siapa tahu takdir akhir menjauh
atau kita karam sebelum subuh
namamu mungkin lekang, namaku hilang
tapi maut akan memahat tugu bagi jiwa agung
ombak pun tunduk saat kau sibakkan laut
SAJAK UNTUK PEMABUK
guratkan dukamu di batang-batang pohon
dedahkan kenangan di bawah hujan
eram segala risau di sarang kepompong
pendulum masa silam telah berayun
hanya sisa satu kemungkinan
arahkan busurmu lurus-lurus
lepaskan panah hidupmu hingga melesat
atau kau tertikam panahmu sendiri
yang kau asah begitu yakin siang-malam
apakah kau akan mati
sebelum mimpimu berpijar
arah mana akan kau tempuh
segala luka akan jadi abadi
umpama uap tuak di bumbung tua
kita bersulang untuk yang hilang
mabuk, mabuklah hingga subuh menjelang
atau kau akan ditinggalkan waktu
kemasi semua utang, lalu
ambil sebumbung tuak lagi
rasakan aroma terakhirnya
seperti mimpi yang tiba-tiba sirna
akan kembali di ambang petang
LAGU UNTUK YOK
telaga telah lama kering
apa mungkin ikan bertahan
nasib baik tak kunjung datang
lalu apa guna duduk mencangkung
irama gitarmu serasa makin sumbang
oleh-oleh masa silam yang kau rindukan selalu
entah sampai kapan kau menunggu di situ
ingatanmu akan meranggas dan fana
empat puluh tujuh musim semi sia-sia
YANG FANA SENANTIASA FANA
akhirnya kita tak saling mengerti
meski kita punya kenangan
seperti jambangan
penuh bunga warna-warni
mungkin hanya senja
masih menautkan jiwa kita
atau senja tidak lagi menjelma
seperti mimpimu
ritual tidak lagi digelar
malam-malam segera hablur
ke dalam tidur yang nglindur
mungkin kau bosan
pada sesuatu yang rutin
mungkin ada kupu-kupu liar
membujukmu dengan tarian
yang baka
tidak baka
yang fana
senantiasa fana
DI DAGO TEA HOUSE
- buat: fei-
cahaya senja menerpa wajah
hujan telah lama reda
di reranting cemara rapuh
di atap-atap sirap pendapa
seulas senyum
tiba di muka pintu
secerah tatap mata
yang coba padamkan senja
tapi senja tak pernah padam
“kau samar dalam mimpiku,” serumu
dan senja kembali paripurna
mengapa kau tak percaya
kata milik pengembara
mampu hangat
sekaligus laknat
“karena aku menggenggam udara,” tukasmu
tapi kau pergi
tanpa kata-kata janji
tapi aku pergi
tanpa pamit pada puisi
lalu kau ramu serpih-serpih kenang
di ujung senja yang hampir lekang
dan suara hujan telah henti
sedari tadi
SANUR
lekuk dan lenggok pinggul padat
menghadang mataku yang penat
ini senja penghabisan
dan pantai hanya lenguh ombak
o, rambut terurai yang membuai birahi
wangi mengatupkan kelopak mawar laut
rembang petang
gemerisik angin di pepucuk waru
perahu-perahu kembali pulang
dan pinggulmu yang telah matang
mengapa menunggu ujung senja kelabu
PENCARIAN
saat malam menepikan sunyi
sebongkah kata telah aku gali
dari pancaran cahaya matamu
yang meredam kesumat langit
pada serambi jantungku
kutemui bentangan pelangi
yang dulu hilang dalam pencarian
kutahu kita adalah orang-orang
yang senantiasa dipagut gelisah
tapi adakah kau merasa
betapa setianya camar-camar
mengepak-ngepakkan sayap senyapnya
melintasi lautan jiwa
sedang ombak pun tanpa daya
di keterasingan pantai ini
lupa pada pijak-pijak perjalanan angin
HIRA
puisi lahir
dari sunyi hira
kutemukan kau
gigil tanpa suara
SAJAK SEMBILAN PURNAMA
di bawah bayang bulan
wajah cantik menenun sunyiku
menjadi kain rindu
di pintu rindu aku menunggu
cinta yang pulang
dari pengembaraan sembilan purnama
dalam kandungan-kandungan sajak
o, si bibir mungil
senyummu memagut sunyiku
menggandeng lengan waktu
menyimpan rahasia rindu
dalam kelopak malam
lihatlah, tanganku tak pernah diam
menghitung jemari kenangan kita
GERIMIS DI JL. WAHIDIN, DENPASAR
- untuk phala -
lama kita mengembara
jadi cahaya tanpa sayap
gerimis masih ranum
seperti dulu juga
hanya sarang kita
telah lapuk
sarang yang pernah
memeram kita
dalam kehangatan
kopi susu
dan doa doa puisi
cahaya tanpa sayap kita
selalu di atas malam terjaga
ingin kuceritakan pada kau
perihal kesunyian itu
segala luka
di tanganmu
menjelma bunga
dan sarang kita
yang lapuk. dan
kenangan itu juga
dan gerimis itu juga
maka jadilah kita cahaya
tanpa sayap mengembara
PANTAI SERANGAN
hanyutkan diri
ceburkan diri
di hening
bayang bulan
di air payau
selalu kau terkenang
akan sepotong waktu
yang berangkat petang
kita tahu lalu
air payau itu bergaram
yang ribuan tahun
menghidupi kaum peladang
tapi mengapa kau mimpikan
mengapa kau sulap jadi daratan
baiknya kecipakkan diri
di bakaubakau di pasirpasir
di payaupayau
jadikan batin sekutu sunyi
sebelum waktu dalam diri
lelap jadi debu jadi lumpur
baiknya buai sunyi itu
jadikan puisi
OEDIPUS
mataku meleleh
tahun-tahun yang gamang
menuntun jiwa buta
menyusuri gua demi gua pengasingan
masa lampau
: kembali hadir di altarmu
membawa kicau rindu
ke dalam sangkar malaikat
tak bermata itu
angin pagi terusir pergi
di sebuah petilasan tua,
di sumber mata air suci itu
matahari tua yang luka
minum dan membasuh wajah
seteguk doa lagi
dan hanguslah harapan
lelehan perih si raja buta
menjelma gerimis biru
bulan biru yang raib
di kaki langit
di tepi gua pengasingan
kembali
kembali jiwa terkutuk ini
mengurai nujuman si matahari tua
: o, seru sekalian alam
terima kasih atas derita laknat
yang nikmat ini
NOTASI DIRI
di tengah deras hujan
batukku menguap dalam udara dingin
puntung rokok terjatuh
dari tanganku gemetar
meja reot lusuh letih
pena meleleh pada kertasmu
menyusun kata membentuk alenia
angin seperti burung gagak serak
menyerbu ke tingkap gubug
ruh para penyair yang mati putus asa
menilikmu menulis sajak
sajakmu lumer seperti selokan mampet
yang meluapkan derita ke jalan-jalan
batuk menahun mengental dalam udara
o, kekasih
jalan puisi letih
jalan berliku
yang menuntunmu
masuk ke lipatan waktu
derita yang kau genggam bertahun
saatnya menemukan pelepasan
AKHIR JULI
saat musim layang layang tiba
angin membawa suaramu
kau tahu aku betah pada kamarku
lagumu telah menguburku
begitu dalam. begitu dalam
senja tiba
dekat tingkap
angin terasa aneh
akhir juli
akhir juli
aku kembali
namun bocah itu tetap saja
pada permainannya
layang layang yang digambarnya
di atas debu
telah membawa mimpiku
ke udara
ke udara…
“ibu, aku telah sampai pada debu,”
gumamnya lirih
DUA JIWA SESAT
we’re just two lost souls swimming in a fish bowl
year after year
running over the same old ground
(wish you were here, pink ployd, 1975)
kau dan aku
dilaknati langit malam
kau simpan derita masa lalu
di lusuh saku bajumu
malam menjadi kawan karib kaum insomnia
kau dan aku, dua jiwa sesat
terperangkap jala nasib
tak mungkin luput dari jerat masa silam
yang kelamnya lebih kelam
dari langit malam warna kelabu
dua lusin puntung rokok
bercampur abu dalam asbak
“aku perlu sigaret,” kata kau
“aku rindu mariyuana,” ucapku
kau dan aku, dua jiwa sesat
sampai kapan akan kau ikuti
nujuman ini?
kita bertemu di simpang jalan
lalu berpisah mengikuti jalan
yang kita cipta dalam pikiran
kita tak ingin seperti ikan
dalam akuarium
hanya berenang dan berputar
pada lingkaran yang sama
sampai waktu beku di luar kaca
kau dan aku, dua jiwa sesat
kita berenang di langit malam warna kelabu
dan kau telah reguk rahasia itu
tubuh berpeluh. jiwa mengeluh
dan insomnia terus mendedah
kau dan aku
SARANG CAPUNG
kau memasuki sarang capung
peliharaan peri hutan
lebat tetumbuhan pakis
dan percik air terjun bagai butiran tepung
batu-batu di sepanjang sungai bernyanyi
lumut-lumut menguapkan harum tanah
aku terkurung dalam sarang capung
kembali bocah itu menawariku kalung
untaian butir-butir kerang
yang dipungutnya di pasir sungai
letih telah membawaku menjauh dari waktu
tak mampu lagi kugurat kata
pada batu-batu sungai
kata-kata yang akan mengabarkan kisahku
sejauh waktu menenun sarang laba-laba air
peri-peri hutan
mengantar ruhku ke tengah sungai
dari mana perjalanan baru kumulai
kudengar merdu nyanyi serangga hutan
kulihat bocah itu melambai
:selamat tinggal bumi!
ODE UNTUK PENUNGGANG KUDA
usiamu makin mendera, kuda tua
meringkik letih di jalanan berbatu
begitu dungu kau di atas pelana
usir mimpimu sebelum tiba pagi
lelahkah kau berpacu
arak menunggu kau reguk
namamu terpahat di guci tua itu
di antara relief-relief purba
utas tali kekang pun putus kau hentak
pejamkan sejenak rindu-dendammu
agar kau mampu pahami
rahasia lubuk-lubuk puisi
agar kau bisa dendangkan sendiri
nyanyi anak-anak di jalanan desa
girang, girangkan hatimu selalu
gemakan siulmu di tebing-tebing cadas
iringi senja yang kembali…
KWITANG, JAKARTA
kucoba raba bayangmu
di sela-sela rak buku berdebu
kutahu kau menyelinap di situ
pada kitab-kitab sejarah
yang meluruh jadi abu
apa yang coba kau tawar
ketika aksara tidak lagi
punya makna pasti
di kotamu yang melipur
mimpi-mimpi penyair
masihkah bayangmu
melekat pada jejak-jejak kata
di kitab-kitab tua itu
bertahun-tahun aku memburumu
hingga tak jua kutemukan kau
mungkin kau
telah jadi abu
dalam puisi
penyair urban
yang rabun
membaca jaman
SALEMBA, JAKARTA
hanya peluh membasuh
jalan-jalan kota
aku tersuruk-suruk sendiri
asing di antara wangi parfum
dan bau bacin selokan
di depan St. Carolus
kau resah menunggu bus
ketika sunyi merambah slang infus
asma dan tifus
saling berpacu gerogoti tubuh kurus
hanya peluh membasuh
kaca-kaca jendela bus kota yang penuh
dan airmata membasahi aspal jalan
di mana kau tunggu kepastian?
aku saksikan sekeping cinta tembikar
hancur diinjak pejalan sibuk
dan lumat dilindas kendaraan yang pikuk
wangi parfum mengambang
bercampur bau bacin
dan, di sebuah kamar putih di St. Carolus
urat biruku ditembus jarum infus
entah kapan aku lampus
ELEGI JIMBARAN
belum genap rasa gurih
ikan bakar di lidah
telah kau tebar pasir
di biji mataku
bibirku kelu
menatap buih ombak bercampur darah
dan serpih daging kekasih
mengapa pasir bergetar tiba-tiba
dan ombak membuncah
tak paham malam beringsut diam-diam
ke mana lenyapnya tawa canda tadi senja
saat sepasang sejoli saling rapatkan bibir
di bawah siraman cahaya lampu-lampu kafe
hanya jerit tangis
berpadu pekik cemas camar
orang-orang panik
kursi-kursi kayu terlempar ke udara
dan puing kafe rontok
di piringku yang retak
terhidang sebongkah tangan
hampir remuk
dari balik kelam
durjana menyeringai
si bedebah bersiul riang
memandang mata hampa bocah
kehilangan ibu
MENANTI PAGI DI TERMINAL UBUNG
-bersama gioia risatti-
berapa lama rasa kehilangan itu
mengerak di kursi-kursi tua
di ruang tunggu terminal
mengapa jiwa kita seperti berkarat
melekat erat di atap-atap bus yang pergi
tanpa perhentian pasti
pertemuan senantiasa tiada terduga
dan perpisahan menjadi makin sempurna
ketika pagi yang belia tiba begitu saja
ketika separuh mimpi menguap dari cangkir kopi
ketika hari pergi seperti bus yang melaju tergesa
membawa tubuhmu lenyap
dari pelupuk mataku yang sembab
DI WARUNG KINGS, DENPASAR
-buat: melani w. setiawan-
ketika kata bertemu rupa
pada meja makan yang membuka
rahasia malam
entah di mana akhir perjamuan
saat bayangmu melindap pada cangkir kopi
dan aku sangsi menerka wajah sendiri
di sini mula kata
di sini mula rupa
silahturahmi mempertautkan cuaca
sebelum waktu mendera
atau menatah usia kita
mari membuka diri
pada segala kemungkinan
entah berapa waktu entah berapa musim
kutemui parasmu di sudut-sudut kafe
di ujung-ujung gang kota
yang perlahan menjalar renta
dan kita masih saja
seperti semula
di antara kata dan rupa
yang itu-itu juga
CAMPUHAN, UBUD
-bersama phutut ea-
mengapa jalanku tiba-tiba buntu
ketika senja menjelma
bunga alang-alang
yang tumbuh di tebing karang
di bawah, ricik air bagai mantra purba
yang dilantunkan para pendeta
atau mungkin baris-baris aksara
yang digurat sang kawi
mengapa jiwa serupa angin
mengalun dari buluh-buluh bambu
pada akhirnya kau pergi
aku pergi
mereka pergi
tapi hanya jalanku
yang tiba-tiba buntu
disumbat gumpalan masa lalu
yang tidak juga enyah
DI PANTAI SINDU, SANUR
- bersama gioia risatti-
ombak telah mencoba setia
pada pantai
ia tiba dan tiba lagi
seperti semula
namun perahu telah lama menunggu
laut menolak biru
sebab biru hanya milik langit
kabar cuaca hari ini
ialah kesiasiaan
tapi kau masih saja gagu di sampingku
mata birumu menatap kelam lautan
mencoba menduga yang tak terduga
seperti percuma rindu kita
meraba getar ombak
merasa debar buih
perahu masih menunggu
dan kita lama termangu
di pantai sindu
PUISI UNTUK MILA
menyusuri garis edar puisi
ingin kau raih segala abadi
letih pun musnah dalam taman bulan juni
alpa akan raga yang fana
di ihuru kau peram sunyi dan luka
usai ufuk terbentuk di subuh merah
cerita berlalu dari waktu ke waktu
hingga tandas sudah kata-kata
lalui bintang pari atau mungkin rasi kataka
upacara itu, mila, telah usai di akhir senja luruh
namun selalu kau coba beri makna jiwa rapuh
NARSISSUS
aku merindukan bunga seroja di telaga
bukan hanya air bening
yang memantulkan anggun bayang wajahku
bertahun-tahun kuburu telaga dalam jiwaMu
namun hanya kutemui sungai-sungai mati
yang dihuni batu-batu dan memedi
terhampar penuh praduga di situ
aku menjelma bunga
di tepi telaga jiwaku sendiri
tapi bukan seroja atau teratai
melainkan bunga bangkai
yang aromanya memabukkanMu
bagai asap dupa dengan wangi aneh
yang diam-diam Kau cintai
mengapa selalu kita bertikai
perihal kesejatian diri
aku sudah cukup mengakuiMu
Kau pun masih mengasihiku
dengan segala pedih perih kelahiran
hingga belum jua kutahu
di mana akhir perjalanan
bagai bagau-bangau terbang jauh
akhirnya pulang ke sawah juga
begitulah yang pasti, aku akan kembali
ke telaga jiwaMu
dan berkubang penuh nikmat di situ
maka, berhentilah kita bertikai
tentang kebenaran dan kebeningan telaga
yang Kau ciptakan
yang menggodaku mengagumi diri sendiri
ULAR TIDUR
ular tidur
ribuan tahun
di gua diri
kini bangkit
coba rayapi bukit
sebab tergoda cahya
pada jiwamu
pada nyawaku
AMED
di antara ladang-ladang garam
sepanjang pesisir pantaimu
kau tanak airmata terakhir
saat tubuh-tubuh jukung mengering
di bawah bayang-bayang lampu restaurant
pohon-pohon lontar berbaris
di bebukitan tandus
menyambut kehadiranku
pada suka cita
begitu bersahaja
tapi di ladang-ladang garam
bulir-bulir airmata telah mengerak
angin asin
menyungkupi jiwa yang telah jenuh
memeram kepedihan
adakah yang lebih tahan
dari bukit gersang
menerima segala takdir
membuka diri pada
segala kemungkinan
pada nyanyi burung kedasih
di pucuk pohon lontar
TAMAN RAHASIA
taman rahasia itu
bernama kenangan
ketika malam ungu
tiba di akhir waktu
apakah kita tiada harap
harapan adalah semerbak bunga
yang dibawa angin lembah
yang basah airmata
dan airmata,
getah dari duka pohon-pohon
yang menggumpal
menjadi kenangan
di taman rahasia
ULAR
selingkar ular belang menghadang jalan
setapak samar dibasuh cahya bulan
kepala ular itu sembunyi di rerimbun rumput
kulitnya hitam-putih berkilau
aku melintasi setapak itu
agak ragu
ngeri membayangkan ular
menjelma naga taksaka
atau raksasa seribu kepala
yang semayam dalam jiwamu
tapi ular itu tidur melingkar
di celah bongkah batu hitam
siaga memagut nyawa siapa saja
yang mengusiknya
agak mabuk aku pergi tidur
berharap lupa pada si ular
tapi ular menjenguk mimpi
dan igauku
pagi-pagi sekali aku terbangun
kudapati tubuhku bersisik
aku menjelma ular!
PADA AKHIRNYA
pada akhirnya kita
akan bertemu di hampar samudra
bersama merayakan asin garam
mengurai abu menjadi serpih-serpih haru
kau dengar senja berkisah
pada dedaun ketapang
yang mengalunkan lagu rindu
ke pucuk-pucuk mercusuar
ke tiang-tiang layar yang patah
hingga pasir menyerap segala sisa kenangan
segala sisa buih yang membuncah-buncah
di tepian jiwamu
mungkin juga jiwaku
pada akhirnya kita adalah kata
yang gemetar di dua bibir
menakar jejak pasir di lingkar puting
memaknai langit yang mudah berganti rupa
atau bayang kelabu sepasang camar
yang tersesat dalam kelam badai
upacara belum usai
belum genap usia hari
tapi kau masih susuri pantai
yang sama berkali-kali
hingga kita kembali bertemu
dalam larutan garam dan abu
yang dulu-dulu juga
PELACUR PENYAIR
sejak perawanmu koyak di reruntuhan candi
di tengah gerimis, lenguh nafas dan sepi purbani
kini kau buncah-buncahkan berahi
ke segala penjuru mata angin
hingga dewa-dewa dan penyair jagat ini
tak kuasa menahan hasrat
mereka bersitegang, meregang syahwat
ketika kau membuka kancing kebaya
ketika lidah dan ludahmu
yang lebih berbisa dari ular bludak
mereka jilat dan reguk sebagai amerta
yang menjanjikan kehidupan abadi
lendir pukimu masih melekat di lantai candi
bercampur sisa sesajen, bunga layu, patahan dupa wangi
dan kenangan yang telah lama mati
mani lakimu kini mengembara memburu puisi sejati
yang dulu pernah kau janjikan
sebelum selaputmu mengabut
terasa tak utuh dan legit
apa yang kau cari, wahai betina maut?
segalanya telah luput
dan kau pun lupa cara berpagutan
beratus lelaki berpegangan
pada rambut apimu yang membara
mereka terbakar dan menjadi arang di sana
kau hanya tertawa
ketika serpih-serpih daging gosong
berjatuhan di sekujur tubuh telanjangmu
kau terus menari dan menggelinjang
bagai tarian durga di atas bangkai gandamayu
tak ada lagi yang mampu meruwatmu
bahkan siwa pun menutup wajahnya
karena murka dan malu
hanya ada segelintir penyair ingkar
dan lelaki dungu
yang berbelas kasih padamu
mereka beri kau kata-kata hampa
mereka julurkan tangan
memetik putingmu
yang ditumbuhi jamur dan lumut
tapi kau terbang menjelajahi langit malam
sambil memaki-maki para lelaki
yang kau laknati dan khianati
kau terbang mencari pukimu
yang hilang!
AMELIE MARIE JEANNE
bunga dari segala bunga
adalah kau
wangi dari segala wangi
adalah kau
indah dari segala indah
adalah kau
senyum dari segala senyum
adalah kau
ceria dari segala ceria
adalah kau
begitulah aku memujamu
wahai, bidadari kecil
kilau matamu adalah biru laut sanur
sejak mula diciptakan
kulitmu yang bagai cempaka
adalah harum gandum
rambutmu serupa kelam rimba tropika
yang suatu waktu memikat pengembara
singgah mengagumi keindahan ilahi
kepedihan sirna dalam ceria tawamu
hari-hari menjadi wangi
dan tiada lagi nyeri di hati
amelie, bidadari kecil,
perjuangan telah dimenangkan
keserakahan yang bertiwikrama
musnah dalam sekuntum bunga kenanga
dan kau adalah benih kenanga
yang perlahan tumbuh di tanah penuh bara
yang akan mekar dalam musim
yang tidak sepenuhnya kau pahami
NYANYIAN MENARA
bila aku menjelma air
mengikis cadas hatimu
ke mana akan kualirkan gelisah ini
o, kau yang berbunga di ladang kering jiwaku
telah kubangun menara
dari rusuk-rusukku
agar kau dapat memandang lebih jauh
ke dalam diriku
(jantungku yang kau panah
masih menyisakan perih…)
namun apa artinya menara
jika bulan pun rebah
di punggung ilalang
mimpiku berbunga darah
matahari dibutakan awan
tapi jiwamu masih saja mesra
tidur dalam sunyi
MEMBURU MATAHARI
matahari melintas di gigir senja
hanya sampai di batas pantai ini
kau tentukan langkahku
hingga tebing waktu yang menghadang
sia sia kudaki
tangan tangan gaib
menampar mukaku
aku terpelanting
terperangkap
dalam galau angin
pandanganku meluntur
laut kelabu
mulut ombak menganga
hendak menerkam tubuhku
bertahun tahun kucari matahari
yang mengkristal dalam jantungmu
namun kini tubuhku
menggumpal dalam ususmu
sebentar lagi habis kau cerna
HIDUP HANYA KEKOSONGAN
kurelakan kau pergi
setelah cukup lama kita
bergandengan tangan
membentang hari
di taman melati
terbang kau bersama abu
membawa dunia milikmu
mengapa berduka?
akhirnya kita
mesti menerima maut itu
–hidup hanya kekosongan
di luar dan di dalam jagat ini–
tersenyumlah
sambutlah mentari baru
aku pun tersenyum melepasmu
bersama kidung ombak
menuju samudera
TAMAN BUNGA
aku lahir
sebagai serbuk sari
angin menuntunku
menuju kepala putik
sudah nujuman
aku mesti mengigau
sendiri melintasi sunyi
nyanyi serangga
tiba pada mimpi kepala putik
siul angin meresap ke dalam dahan
pohon bunga
menjadi apa aku dalam taman ini
kami damai dalam satu taman
tapi mengapa angin
mematahkan kepala putik
pemilik taman
memanen air matanya
sebagai serbuk sari
aku hanya bisa berduka
sendiri melintasi sunyi
nyanyi serangga
BERMALAM DI TOYABUNGKAH
dan kita buka percakapan
dengan kopi hangat dan
kenangan pendakian
cemara bangkit menuju danau
namun aku lebih silau
pada bayang bulan
yang menenun tanya
pada matamu:
di mana batas pasti
antara kabut dan malam?
jalan ini bermuara
di keheningan danau
sebagai bongkahan lahar beku
aku lebih memilih
menjerat dan melepas
bunga-bunga rumput
menjadi sayap
beribu sayap kabut
o, danau kelabu
telah lama kau jadi kopi hangat
dalam gelas para pendaki letih
sedang aku tetap lahar beku
dalam permainan lugu
bunga rumput
Trackbacks
Leave a Reply