Kumpulan Puisi IMPIAN USAI

SYAIR MAWAR

menembang bayang-bayang
        senja telanjang
di pembaringan ilalang

menguak dinding masa silam
seakan melahirkan beribu lakon
        yang belum tuntas dipentaskan

merabas belukar rimbun
menemukan sekeping bulan
tergantung di dahan palem
        aku terlalu dungu memahami
warna mawar di antara deduri

begitulah segalanya kulafaskan
satu di antara beribu warna pelangi
                    yang hampir memudar
dan senja melahirkan beribu wajah
                  pada bulan-bulan merah

(1992)
 

KASIH ILAHI

sepi merambah malam
bulan mengelupas
samaran kalam

bunga-bunga gugur
serangga mengidungkan
kematian alam
dan kelelawar
menarikan tarian purba

sembari mereguk kasih
di tungku api perapian
kupersembahkan cinta ilahi

(1992)

DI PUNCAK GUNUNG AGUNG

ke arah mana angin meniup
pucuk-pucuk cemara
membawa malam pegunungan
dalam jiwa kembaraku

di manakah akhir perjalanan
memburu musim menjelajah rimba waktu
di manakah batas akhir perburuan
menyusuri kegelapan ruang jiwa
yang tak henti mengemban
dosa kelahiran

tak satu pun kutemui kebenaran
hingga aku bertambah yakin
segala yang fana
bermuara padamu jua

(1992)
 

KAU TAK ADA

di pesisir pantai
desah buih resah
memeram sunyi

pasir galau
di pusar angin
jiwa rindu
natap senja

karena cuaca
perahu menuntun
kenanganku

tiba di dermaga
kau lambaikan tangan
memanggil perahuku
kembali ke haribaan ibu

namun
kau tak ada

(1992)
 

NYANYIAN MENARA

bila aku menjelma air
mengikis cadas hatimu
ke mana lagi akan kualirkan gelisah
o, kau yang berbunga di ladang kering jiwaku

telah kubangun menara
dari rusuk-rusukku
agar kau dapat memandang lebih lapang
ke dalam diriku

(jantungku yang kau panah
masih menyisakan perih…)

namun apa artinya menara
bila bulan pun rebah
di punggung ilalang

mimpiku berbunga darah
matahari dibutakan awan
tapi jiwamu masih saja mesra
lelap dalam sunyiku

(1993)
 

SUARAMU DI PINTU

senja baru saja berangkat
meninggalkan tingkap

kudengar ketukan
di pintu

siapa bertamu?

kubuka pintu
tak ada sesiapa di luar
hanya desir dingin

aku balik ke bilik
mungkin angin
yang ngetuk
pintuku

(1993)
 

JEJAK ANGIN PADA PASIR

telah kuakarkan gelisah
pada nadi laut
hingga menghunjam kalbu bumi
dan aku menari-nari memacu ombak
menjaring mentari yang terlelap
di pembaringan gulita

jukungku berlayar tanpa gairah
menyusuri jejak angin dan pasir
yang terlena di tengah percakapan purba
dan sayap-sayap kabut
menyesatkan mataku yang papa
hingga aku terdampar di pesisirmu

(1993)
 

PERJALANAN  

biarkan aku sendiri memburu sunyi
pada lubuk-lubuk laut tubuhmu
saat ikan-ikan gelisah dalam percintaan
                           atas ranjang ubur-ubur

nelayan-nelayan yang menadah angin
menebarkan jala-jala rindunya
                       pada pusaran jantungmu

namun kau begitu dalam mencumbu
       bayang-bayang perjalananku
hingga kuda laut yang kutunggangi
        tersuruk dalam ceruk sunyi jiwaku

(1993)
 
MEMBURU MATAHARI

matahari melintas di gigir senja
hanya sampai di batas pantai ini
kau tentukan langkahku
hingga tebing waktu
sia-sia kudaki

tangan-tangan gaib
menampar wajahku
aku terpelanting
terperangkap
dalam galau angin
mataku meluntur
laut kelabu
mulut ombak menganga
menerkam tubuhku

berwaktu-waktu kuburu matahari
yang membeku dalam jantungmu
namun kini tubuhku
menggumpal dalam ususmu
sebentar lagi habis kau cerna

(1993)
 
PANTAI CANDIDASA

rinduku menetas di pasir
mengaca pada mata senja
kulihat bocah-bocah telanjang dada
berlari membawa kabar ombak

tubuh jukung menggeliat lelah
setelah semalaman mendulang kasih

rinduku melaut biru
menghitung debur waktu
yang menghanyutkan bayanganmu berlalu

wajahmukah itu, terhampar di biru lautan
dengan senyum melarutkan kenangan

rinduku terhempas di pasir
ombak menepi menggoreskan luka
di akhir lepas senja

tubuh jukung luluh
dalam lenguh buih

(1993)
 

TUBUHKU HILANG

senja pucat
matahari
lenyap
di pusar kabut

dari atas bukit
bocah bocah
mengusung bulan

aku bersorak girang
tubuhku hilang
ruang remang

(1993)
 

MEDITASI

mengarungi samudera putih cuaca
nelayan mengolah ombak
                    mengayuh biduk

pulau samar di kejauhan
         bulatan tiram-tiram pasir
adakah lubuk persembunyian
          bagi ikan-ikan yang luput
                         dari pukat nelayan

pengembara-pengembara dunia seberang
            menyusuri lumut dan batu karang

akarmu akarku satu
berpaut dalam laut
            aku mekar
                    aku bunga api
             aku ubur-ubur cahaya
berenang menuju teduh
             samuderamu

(1994)

PEREMPUAN

rambutmu perempuan
             kau gerai atas ombak
pasir-pasir memeram resah
dalam jiwaku menjelma sajak

bibirmu perempuan
        kau lekatkan pada kangen
hutan-hutan basah dalam hujan
                  menjelma kenangan
menjadi sungai
                       mengaliri nadiku

perempuan dalam irama angin
menari bersama bunga-bunga senja
               yang luruh ke tengah jiwa

diri pun hampa
pada senyum fana

(1994)

TERBAKAR API SUCI

ia yang terkutuk
dari pintu ke pintu
         diam dalam bisu langit
kering dalam ladang-ladang hati

lewat lubang angin
         lewat lubang jasad
ia melintasi perih
         luka pembuangan

lihat, kucing hitam mabuk
         dalam rohnya
mengais-ngais urat darahnya

dalam perih
         luka pembuangan
ia terbakar api sucinya

(1994)

LAUT JIWAMU

laut dalam jiwamu
menyanyikan resah bagi musim
         dan malam kekosonganku
kau bangkitkan kenanganku
          mendaki perbukitan hijau
yang terhampar pada dadamu

di mana kau sembunyikan wajah sungai
       yang dulu bermuara pada jantungku
ketika kau tersedu sejauh pelayaran
           karena rindu tak pernah berlabuh

kau perahu dalam lautmu
        senantiasa merenungi angin
yang menghempaskan musim
                     ke pangkuan pantai

(1994)

AMSAL BATU APUNG

dari atas bukit
terlempar aku
ke sungai

di muara
anak-anakmu
memunguti diriku
mengusungku
ke atas bukit itu
lalu melemparku
kembali
ke sungai ini

selalu aku
terdampar
pada muara
yang sama

(1994)
 

TAKDIR SUNYI

mesti berapa musim lagi
kujelmakan takdir ini

takdirku senantiasa bernama adam
yang kesepian sejauh perih waktu
burung-burung tersesat
bermusim-musim dalam alir nadiku

pada bening keningmu aku bercermin
meneliti guratan masa silam
yang ranggas bersama buah-buah kutukan
         o, begini buruk rupaku!?
angin liar menampar kesangsian
aku makin asing dari wajahmu

mesti berapa musim lagi
kujelmakan takdir ini

ular-ular bersarang dalam nafsuku
mengerami telur-telur hawa
dan dosa semakin hangat
dalam dekapan takdir sunyi ini

(1994)

HIDUP HANYA KEKOSONGAN
                   –untuk: k.s.–

kurelakan kau pergi
setelah cukup lama kita
bergandengan tangan
membentang hari
di taman melati

terbang kau bersama abu
membawa dunia milikmu

mengapa berduka?
akhirnya kita
mesti menerima
maut itu

—hidup hanya kekosongan
di luar dan di dalam jagat ini—

senyumlah
sambut mentari baru di dunia baru
aku pun senyum melepasmu
bersama kidung ombak
menuju samudera cahaya

(1994)

TAMAN BUNGA

aku lahir
sebagai serbuk sari
angin menuntunku
menuju kepala putik

sudah nujuman
aku mesti mengigau
sendiri melintasi nyanyi serangga

tiba pada mimpi kepala putik
siul angin meresap ke dalam dahan
           pohon bunga
menjadi apa aku dalam taman ini

kami damai dalam satu taman
           tapi mengapa angin
mematahkan kepala putik

pemilik taman
memanen air matanya

sebagai serbuk sari
aku hanya bisa berduka
                     pada angin

(1995)

KESIMAN

malam. burung kenangan
      sayap-sayap pilu
termangu di sudut jalan
      di muram cuaca
      menyulam bayang
masa silamku
lembut tangan mawar

di banjar tohpati
bulan dengan rambut tergerai
menunggu lelaki pengembara
yang berumah dalam kata
       akankah tiba
malam dalam genggaman mawar
burung kenangan. simpanan sunyi
               fajar matahari

(1995)

MUARA WAKTU

dari darah dan air mata
aku susuri jalan yang kau buka
dengan perih. di lengan malam
kau panjatkan diam
       aku tengadah kaku:
bintang meluncur menuju
                    muara waktu
dari mana aku
mau ke mana aku

kau menyembul dari rekah tanah
menjelma kematian dalam kematian
tangis bayi di lapar mulut malam
melebur haruku pada arus terakhir nafasmu

       siapa akan meruwat
       jagat yang sekarat?

biarkan aku mengigau
sampai jauh memburu jejak kasihmu
hingga batas penghabisan hayatku
biarlah bintang yang jadi isyarat perjalananmu
lebur dalam kering nadiku

dari darah dan air mata
aku berkayuh
menuju muara waktu

(1995)

PUISI DARI SUNGAI

pada bening sungai
berkali-kali kuterka wajahmu
         ada yang berubah selalu

dari kehijauan hati
         kekasih tiba
kenangan berkilau
                    pada mahkotanya

pada bebatuan dan gemercik air
sepasang ikan memeram harum lumut

o, jiwa biru
patahan kayu yang dituntun sungai
                         dari mana aku bermula?

segalanya akan tua
                  namun aku ingin seperti ikan
          bercinta dalam teduh sungai
tak peduli sang pengail selalu mengintai

bila saatnya tiba
           aku pun patahan kayu
yang dituntun sungai
           menuju muaramu

(1995)

KAU KUTUK SUNYI JADI BATU

telah kususuri            
setapak sajak
yang dulu kau lalui
sembari mereguk arak
atau mengulum kuntum
               bunga rumput

di batas cemas
        aku terjaga
dan bergegas

tiba di gubugmu
terpukau aku
kembang lalang
sempurna mekar
       kesuir angin
dan jejak basah hujan
       candi tua
              dan matamu
       pucat senja
menunggu waktu
       luruh
dalam tubuh

o, jiwa berlumut
kau kutuk sunyi
                jadi batu
bekal pendakianku
        menuju puncak
paling nikmat
        paling laknat

(1995)

KUSAMBA

deru laut luruh
memucat batinku

pesisir hanya angin
gerai rambutmu bergulung biru
jukung kecilku berkayuh di situ
           ada yang sirna
jerit anak camar gemetar menunjuk kelam
           melempar sunyiku ke gubug garam

dalam dadamu muara lenyap
kau pasir yang lupa tanah
ombak merangkak
memulung sisa kenangan
yang membuih di licin tubuhmu

 sia
 sia

nafasku sesak dicumbu waktu
duka mengental
melukis langit wajahmu

senja surut
tubuhmu
tubuhku
menguap
jadi garam

(1995)
 
TOYABUNGKAH
–buat: s.t.a.–

dari jantung malam
lirih angin menyeru angan
penari berbibir embun
membujukmu memasuki
lorong hening

o, kabut yang mengurai rambut
               di lembah batur
berapa sudah bibir embun
sesat dalam mulut malam?

peluh tubuh penari letih
menguap bersama lapar
dan lelah pendakian

kabut mencumbu danau
penari merintih
                perih
mengekalkan malam
di jiwamu lebam

(1995)

LINTAS BATAS

di batas jiwa
aku terjaga

telah kuarungi sunyi
yang dulu kubangun dari
kuntum-kuntum bunga karang
tiba di pintu ombakmu
tertegun aku dalam nyanyi musim
sepucuk rindu hanyut

masih adakah bunga karang
                     yang mewangi?
desah ombak mengeja jejakmu basah
tiba di dermaga
kenanganku mengabur

dalam matamu desir senja suntuk
menghitung dingin yang ranggas
menimbun puing-puing silam
semakin mendendam rindu

akankah kau ikuti jejak sunyiku
menembang puisi-puisi bisu tanpa keluh

dengan debur laut di jiwa
kita terima kesunyian
sebagai bunga karang
bekal pelayaran menuju arah
paling perih

(1995)
 
USAI TARIAN

lirih tarian kecak
meluruhkan lakon-lakon
                 hanyut entah ke mana

sesekali dengan diri
kita saling tak mengerti
tak tahu arah yang mesti ditempuh
       usai perjalanan meletihkan ini

lumat masa lalu. basuh luka
       dan rasakan
esok entah berupa apa

keasingan manusia,
gubug lusuh di sudut senja
keengganan memancar
        deraan takdir
sandiwara tanpa jiwa

basuh kenangan
lumat kekasihmu

suara kecak luruh
             senja lirih
melarung rama
            dan sita

ngalir ke barat. ke barat
         hanyut entah ke mana…

(1996)
 

IBU

tak perlu kau risau, ibu
jejak langkah cintaku telah terhenti di sini
selalu saja ada bagian dari mimpiku
                   yang lindap di jalan-jalan kota

ibu, dengan kasih apa kau asuh aku
belajar paham akan cinta bumi
mempersembahkan ketulusan hati
bagi mereka yang selalu merasa lapar

jalan mana lagi mesti kutempuh
sebagai pecinta sekaligus pesakitan
              aku telah merasa paham
sebagai bagian dari semesta alam

biarlah aku di sini, ibu
tak perlu kau risaukan lagi aku

(1996)

IJOGADING

yang sunyi di sini
dibawa bunga hanyut
          susuri sungai karma

ijogading. ijogading. ijogading
alir air hayat bumi makepung
        aliri lara rindu lebai
rerimbun pohon pantun di pasisi
memukat kenangan nelayan

menyimak cengkerama kunang-kunang
                      di langit malam ijogading
bulan sabit menoreh sauh jiwa
                  saat batin zikir sembahyang

loloan timur. ijogading. loloan barat
nyaman abadi dipangku anak dara
rumah panggung memeram hangat tubuhku
si lebai perindu yang merinding haru
                          dengar burdah syair

lebai. ijogading. lebai
mengalir masuk nadimu
                     pusat ilham hayati
melepas jangkar rindu
melabuh diri di pangkuan bumi

ke muara. ke muara
         lepas perjalanan
menemu haru cuaca

(1996)

LOVINA

dan camar dan laut dan lumba-lumba
          membagi air matanya bagi kita

pada desir senja
pohon ketapang muda mengigau
                   melepas usia pasir garam

aku dipukau laut di matamu
penuh pusaran tak terduga
         ada yang asing
terlalu aku mengenal laut
        terlalu rindu terlalu dungu
                     terlalu pelabuhan

daun ketapang muda luruh
          angin betina
menyeretnya ke tengah ombak

ada apa dalam diriku
sesuatu menyungkupi batin

lovina, tak tahu aku
              dengan apa mesti
kuabadikan pertemuan ini
         dengan puisi tak jadi
atau dengan lagu pilu

satu hal telah pasti
kita akan kembali
pada sunyi diri

lovina, tak tahu aku
apa yang mampu kulakukan
           bila memuncak rindu

jaga dirimu
dan kenangan kita

(1996)

JIMBARAN

kau bikin aku gila
bentangan bukit kapur
            lintasan hutan bakau
yang dalammu sembunyi
                       perawan puisi

beri aku asin laut
agar lepas hausku mengulum rindu
             telah tiba segalanya
             mainan takdir
                           tanpa akhir

aku penunggang angin payau
datang dari timur
             letih ngembara jauh
beri aku berteduh di gubug garammu
             biar sempurna kelahiranku
sempurna aku bernama manusia

             kau bikin aku gila,
             bunga manja…

sebelum angin barat menebar benih
              atas bukit kapurmu
bila susah aku menjangkaumu
              aku tetap menunggu
              sampai akhir waktuku

(1996)

PESISIR JIMBARAN
    –buat: a.e.s.–

di tanah cuaca tanah tropika
          kita terlahir
menuntun perjalanan sebuah sejarah

ayu, terlalu banyak saudara kita
                     yang jadi berjiwa budak
           terlalu banyak
tak henti angin asing datang gemuruh
menggusur tanahmu, rawa bakaumu,
           bukit kapurmu, pasir putihmu

mereka renggut
          purnama yang terbit
dari indah mata bersitatap
          redup saat laut surut:
di rawa-rawa, di bakau-bakau
          di karang-karang, di pasir-pasir
hotel-hotel menjalar bagai parasit

          terlalu banyak
          yang tak bisa hidup sahaja

di pesisir ini, ayu, kita rindu nelayan berlagu
           pulang dari laut jauh
kita kenang penyu bertelur saat bulan penuh
kita kangen manggang ikan di bawah gemintang
bercengkerama dengan angin garam
                                    di malam langit jimbaran

           kita hanya bisa kangen
           tak mampu berbuat apa

namun ada kupunya mimpi
        menjaga tanah bali
dalam rangkuman kasih puisi

(1996)
 
PURA LUHUR ULUWATU
 

beratus-ratus tahun
ketika sunyi kali pertama
tersentuh tangan sang kawi
suara tekukur di bukit kekeran
masih saja karib dengan tangga-
                 tangga batu berlumut
dengan kera-kera penjaga
        kawasan dewataku

sayup-sayup laut melantunkan
        mantram gayatri
bunga-bunga kamboja suci
aroma lumut tangga batu
        dan debur ombak
mengantar kembara doaku
hingga ke tebing karang
        hingga ke kerang semadi

lewat sudah ratusan tahun
bunga-bunga pudak masih saja
wangi dalam kakawin sang kawi
Nirartha semadi dalam kerang mutiara
dari pantai ke pantai menetaskan sunyi
                       di pesanggrahan dewata
tempat kesuir angin menemu Ibu

(1997)
 

SITUS CANDI GUNUNG KAWI

bayangan candi:
         wujud masa silam yang meleleh
ke dalam genang kenangan bocah gembala
         penggalan kepala patung terjatuh
menilik senja
menebar pesona wangi yang raib
menjalar dalam alir nadiku
         sungguh terasa sunyi
menelusuri setapak berliku,
         setapak masa silam
yang meranggaskan aku ke bumi
                beribu-ribu kali
seperti penggalan kepala patung itu,
menjelma brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria
         kulakoni semua itu
hingga tiba pada sebuah telaga,
aliran tiga mata air dewa
         ke situ Kau tuntun aku
         bagai keledai dungu
membasuh wajah, tangan, kaki
         melebur jiwa
dalam wangi bunga, harum dupa, hening tirta
         hingga mayadenawa, dewa dewi, bianglala
menguap bersama gemerincing uang kepeng dan
                                        taburan dolar para peziarah
          sungguh terasa sunyi
sendiri menciumi wangi tubuhmu, arca batu
pahatan purba yang bangkitkan sayup-sayup kenangan
          nelangsa doa:
                 aku asing di mataMu
                 Kau asing di mataku
namun selalu kita saling belit
serupa sepasang naga kasmaran
           tunggal
           hening

di antara gurat dan retak candi
bayang-bayang tubuhMu meleleh
            di jalan setapak
menjelma embun
memisahkan dunia gaib kita
           
satu hal yang kekal:
aku terperangkap dalam ruang dalam waktu
karena karma, karena punarbhawa
tak paham kapan awal kapan akhir letih ini

tapi yakin,
kerinduan kepada Ibu,
mula denyut waktu
lebih suci dari beribu sajen beribu upacara
yang menuntaskan wujudmu,
o, candi-candi tua
arca-arca dewa
semua meleleh
bagai cairan darah tabuh rah
meleleh ke palung paling kasih
                             dari hidupku

(1997)

PEREMPUAN KUPU-KUPU

perempuan tua itu menjelma kupu-kupu
lalu membelit menjadi ular. lalu
menguap jadi embun. lalu
tumbuh menjelma bunga. lalu…

gadis mungil memetik bunga
dulu ia seorang nenek renta

dari tepi sungai kulihat perempuan belia
mencuci kenangan. membelai ranum payudara
dan samun turun membungkus tubuhnya

hanya puisi di sini. hanya
samun. perempuan tua itu
bicara padaku perihal kupu-kupu
yang tumbuh menjelma bunga

(1997)

BUYAN

        kabut:
jiwa nelangsa yang perlahan turun
menyungkupi sepasang bukit mungil dan
        dua ekor walet yang menari di udara
menghayati getar dingin
                     dan getir pertemuan

puncak keindahan:
                             kematian kecil
yang merayap di celah rumpun perdu
mengintip senja penyap di bibir mawar
lalu malam muncul dari pejam matamu
membuka kanal yang membuih dalam diri

         malam di perkemahan
si terkutuk mengendap di rerumputan
meliuk ke dalam liang tikus hutan
yang mendadak basah seperti embun
                                pada kelopak perawan

         o, kemurnian hari
kembali mengingat wajah sendiri
                             penuh luka
dan pada terang unggunan api
pagi tiba membawa sampan-sampan
yang menanti kenangan
                 kembali menepi

(1997)

HUTAN CEMARA

hanya ular di rerimbun
             daun cemara. mendesis
pun kabut di hati kita. mendesis

“tuangkan desis itu lekas
             ke dalam hausku!”
                            rintihmu

kita peluk kabut
cemara menggumam:
                            khuldi! khuldi!
kau lelap. tidurmu masih
             memeram gelora gairah
yang kuhembus dari rusukku

bila kau cemara dari beribu cemara
            akulah pokok purba
yang membawamu sampai puncak

pendakian nyaris sempurna
selebihnya: malam cemas
             kabut sesat
ular tidur dalam ceruk
             jiwa kita

(1997)

PELABUHAN BULELENG

saat mengulum pasir
laut tertegun di bibirmu

muncul jenuh yang indah
membenamkan diri
menghayati
cahaya senja yang meleleh
di belahan bukit mungilmu

pada batas tatap mata
tak pernah kita pahami
sampai di mana jiwa letih ini
memeram doa
menuntun mata hati

tubuh kita menyala
terbasuh warna keemasan senja
ombak memerciki wajah
sekali waktu kita
seperti tak terpahami

tengadah ke langit silam
mata pucat menganga
sepasang burung laut
telah melewati
malam pengantinnya
namun sayap-sayap itu
menjadi letih
dalam sangkar keramat
sang waktu

nelayan mengemas jala
perahu-perahu mengandaskan diri
aku ombak, kau laut
aku laut, kau ombak
kita terhempas dari pelabuhan
ke pelabuhan
setandas-tandas usia

(1997)

BERMALAM DI TOYABUNGKAH

dan kita buka percakapan
dengan kopi hangat dan
         kenangan pendakian

cemara bangkit menuju danau
namun aku lebih silau
pada bayang bulan
yang menenun tanya
pada matamu:
                  di mana batas pasti
          antara kabut dan malam?

jalan ini bermuara
di keheningan danau
sebagai bongkahan lahar beku
aku lebih memilih
menjerat dan melepas
bunga-bunga rumput
                        menjadi sayap
beribu sayap kabut

o, danau kelabu
telah lama kau jadi kopi hangat
dalam gelas para pendaki letih
sedang aku tetap lahar beku
dalam permainan lugu
                           bunga rumput

(1997)

MALAM PENGANTIN PESISIR SERANGAN

setapak jalan bakau
kubangan lumpur setinggi betismu
                             kususuri
tiba pada matamu teduh,
pantai biru dan hutan bakau
melantunkan jerit manis
                      malam pengantin

pagi beranjak siang dan
akhirnya berangkat senja

pun laut pasang surut
dalam kuluman-kuluman lembut
yang mencandu kesadaranku
lalu jenjang lehermu
                          lalu bulan semu itu

dalam nikmat sunyi
            puisiku lahir
namun liang-liang kepiting
               penyu-penyu hijau
                           telah tergusur
bentangan hijau lapangan golf

genangan payau,
bau amis ikan-ikan keracunan
kubangan lumpur. endapan
segala kotoran. semua itu
mengganggu malam pengantinku
                       di pesisir serangan

(1997)

DI JIMBARAN AKU MENGENANGMU

mengenangmu
laut hasrat akan paras bulan
namun hanya pendaran
lampu-lampu restoran
merambati mimpi nelayan

kureguk nafas laut
yang dulu memberimu gairah
yang ngingatkan aku legam rambutmu
aroma harum bunga pandan

mengenangmu, pasir putih
jukung-jukung membusuk
di bawah temaram lampu-lampu kafe
ombak membuih di gurat tangan nelayan
yang melepuh melabuhkan subuh
pada mata bocah-bocah pantai

sungguh sunyi seperti ubur-ubur
menyengatku dengan racun laknatnya
tertatih menyusuri pasir putihmu
beribu camar jenuh menabur doa
di gua-gua rahasia tepi pantaimu

(1997)

PANTAI SENGGIGI

lebih dari beribu puisi tak mampu
membekukan kenangan itu
camar-camar tak sampai
melabuhkan matahariku
                          di pantaimu

ombak pun luluh jadi buih
kembali pulang ke sarang air
           biru.biru.biru
angin murah hati menggambar
bayangmu di hampar pasir

rambutmu makin biru
           gerai, gerailah
biarkan aku mabuk di situ
berkendi-kendi anggur keabadian,
sulingan perih air mata pantaimu
           tandas kureguk. tandas!

(1997)

CATATAN REKLAMASI PANTAI SERANGAN

bagaimana aku jelaskan
rasa luka itu padamu
kau telah paham
lebih dari yang kurasa
warna-warni lampu proyek reklamasi
dari tempat kita duduk
begitu memesona
kau tentu tahu
begitu banyak korban di situ
dari mahkluk yang paling papa
hingga dewa-dewa jagat ini
tergerus kenyataan pahit
yang berwajah anggun pariwisata

kita hanya bisa saling pandang
dalam perih yang senantiasa berulang
rapatkan tubuhmu lebih hangat ke dadaku
aku ingin rasakan bagaimana kau
bernyanyi tentang jiwa yang letih
sebelum kita saling yakin
ada bagian dari hidup kita
yang senantiasa basah oleh luka

tentu kau pun tahu
kenangan yang kembali
mempertemukan kita di pantai ini
merasakan pedih desah ombak
yang tak berdaya dengan diri sendiri
pun karang-karang kapur itu
hanya saja kita berusaha paham
ada ihwal yang pecah antara
jarak tatap mata kita
hingga kangen meluncur dari bibirmu
basah oleh kenangan
setandasnya kukucup
sebelum deru mesin proyek reklamasi
melecut kesadaran kita
: pantai cinta ini telah memadat
jadi hamparan kapur

(1997)

LELAKI SUNYI
   –buat: w.w.–

gigilmu itu bukan karena hujan
                 bukan dingin
namun lebih urai kenangan

sesungguhnya siapa kau,
lelaki bertudung daun pisang
yang sendiri di bawah derai rinai

sekuntum bianglala rekah
terhimpit di celah indah
payudara yang pasrah
 
lalu rinai luruh
tumbuh jadi puisi
pulihkan letihmu

di basah aspal jalan
kau kacakan wajah
segurat kenangan
sekelumit kisah
perawan rawan

kau ilusi
dibuai puisi

pelita jalan. pelita jalan
peluklah. pukaulah selalu
           lelaki sunyi
yang tak habis-habis mengurai
                       nujuman tua itu

(1997)

TAMAN TAK BERBULAN

bangun dari tidur bertahun
jiwa adalah angin
mengurai hening buluh angan

di taman tak berbulan
mimpi mawar mekar
hari-hari meluruh
jadi benih-benih sunyi
yang tak jenuh kau semai

kenangan
burung malam
berbulu kelam

di taman tak berbulan
suatu waktu jejakmu kikuk
diseret angin sesat
larut dalam kabut

malam rinai
mimpi abadi
di pintu puri

(1998)

SATU PERAHU

biarkan perahu kita mengalir
           menurut kehendak air
kayuh perlahan saja menuju hilir
kita nikmati anggrek bulan mekar
ikan-ikan riang
                     menari di air bening

kau mesti mengerti bahasa sungai
agar jiwamu terbuka akan segala yang abadi
pegang tanganku agar kau lebih merasakan
         rahasia puisi yang merambati
              embun di daun-daun pinggir sungai

kau lihat dua ikan yang berenang riang itu
mungkin mereka sepasang kekasih
         aku ingin seperti ikan
hidup di bawah teduh sungai
                         bersama dalam damai

genggam tanganku lebih erat
biarkan perahu kita hanyut
            menurut kehendak air

(1998)

TAMAN SEROJA

sejauh itu kau tabur
                    beribu cahaya
yang bagai kunang-kunang
menyeret diri selarut malam
saat kami menuju kedamaianmu

jangan lontarkan kata
apa makna kami bersama
selalu membujuk tanya untuk
jawab yang jenuh kami jebak

kami jadi bagian dari malam
sebab kami lahir dari pagi
           harum embun
yang memeram melodi sendiri
seperti kau peram sunyimu sendiri

jangan luncurkan jerit
yang seperti siluet burung malam
ke tengah raut demi raut wajah
yang penyap sebelum kami ada

pada paras malam bergerimis
          bulan seperti menangis
sebentuk tangan mungil terulur
                    ke dalam miris udara
ingin raih wajah kami
                    yang telah kabut

kami bebaskan diri
dari riuh hidup sehari hari
masuk ke celah kelopak seroja

kamilah malam
kamilah kalam
kebebasan kami
seribu seroja
di telaga

(1998)
 

MALAM PURNAMA

dari dahan kamboja
kau julurkan tangan
                  ingin raih bulan

bunga seroja di telaga
melempar lengking tangis bayi ke udara
malam mengambang pada mata perempuan
aku terkenang mata kucing hitam
seorang pemabuk membual di tepi telaga
mengutuki bulan, merayu malam
dan akhirnya memaki diri sendiri
           tapi kita juga pemabuk
sebuah sandiwara selesai menjelang senja
           aku terkenang kekasih
                          yang menguap jadi udara

tapi kita juga pemabuk
        menenggak apa saja
                             memuntahkan apa saja
mulut malam yang manis
melempar kata-kata umpatan
bulan resah, perempuan melenguh
        udara pucat
gemetar mendengar igaumu

sungai mengalir tenang di kaki seorang ibu
aku ingat perjalanan dari kota ke kota
        di kotamu aku pernah bahagia
di bawah siraman cahaya neon kita makin fana

pemakaman ditutup dengan mantra
                                 dan sedikit aroma arak
aku terperangkap dalam doa-doa
                    yang meluruhkan seluruh rusuk

kau ingin raih bulan itu?
lenguh perempuan dalam belukar mengusikku
         cahaya pohon kamboja
                                          menawarimu bunga
         sebagai bekal perjalanan
                    dari kota ke kota
                           dari mati ke mati
                                  dari lahir ke lahir
(1998)
 
BIRAHI BIRU

         malam tiba
purnama mengurai rambut di jendela
         aku susuri pesona suara serangga
sayap-sayap malaikat bergetar
perjalanan kau guratkan
                    pada tapak tanganku

         aku rindu kau
         aku jauhi kau

kupahami ngilu
memusar dalam darah adamku

          purnama jatuh
separuh digigit kelelawar buah
separuh hanyut membawa hayatku
          aku termangu
menghitung rindu yang tak henti gugur
sejauh perjalanan memburumu

kelelawar memuntahkan remah purnama
serbuk sari telah terbenam di kepala putik
          perkawinan!?
kau tak jenuh meneliti gurat keningku
          di situkah muara rahasiaku
belum seluruh lekukmu kupahami
          aku rebah pada altar suci

apa lagi yang rahasia
o, birahi biru. altar suci
aku terkapar dalam nikmat
                     dalam sakit
gerigi waktu beradu
kau seperti ada. aku seperti tiada

mawar mekar
kau hablur
aku lebur

(1998)

PENJAGA CAHAYA

yang luput dari diriku
adalah cahaya
saat sampai di tepi

berwaktu-waktu aku lemparkan kail
ke samudera yang sembunyikan ibu
rindu jadi api
membakar hampar laut

cahaya mengalir
matahari memeram cahaya
duka jadi mata kaki
bagi pejalan letih

o, beribu mimpi
yang merubung hidupku
jadilah nyata
jadilah nyata

(1998)

BANGAU KERTAS

tanganku gemetar
membentuk garis pada kertas
                        melipat tangis
            jadi sayap yang cemas

dukaku terbang
dukaku terbang

senyap. tanganku pucat
meraba cahaya bulan sabit
di jendela kamar rumah sakit
bangau-bangau kertas mengurung
                                ruang remang
kau terlentang
                             jadi pecundang

waktu sinis
di dinding bangsal
dentang lonceng
dan kelam
memburuku
seperti mimpi buruk

kau mengerang
ruang penuh bayang masa kanak
terkenang saat mengejar layang-layang
                                       yang putus tali
tapi kini nyawamu tergantung
                         pada seutas slang infus
                        
kulipat lagi kertas
kugurat lagi getir. kulipat lagi tangis
seribu bangau kertas mengusir si laknat
                                waktu yang khianat

namun hanya bangau-bangau kertas
menari riang di udara beraroma formalin
             menggurat bayang pada dinding

kau terbang. kau terbang
menyisakan jejak duka
             pada remang ruang

(1998)
 

KAU PUN SAMPAI

kau pun sampai di tangga ke seribu
awan lembut membasuh kakimu
peri-peri menari dalam lingkaran sunyi

di tepian sungai di tengah hutan
bunga gugur kembali mekar
burung-burung yang patah sayap
                           kembali terbang
                 peri-peri air bermain embun

bayangmu menyelinap
         meniru gerak angin
kutitip duka pada helai-helai daun
         rindu yang hanyut
                   padamu menjelma kabut

seribu tangga kau tempuh
                   hingga sampai pada tepi
igauku luluh jadi cicit kelelawar
                                      di gua cadas
tanya terpekik di jeram deras
air yang tiba ke mana akan tertuju?

wangi lehermu harum bunga kopi
seribu tangga menjuntai di awan
peri-peri memainkan melodi
mengiringimu sampai pada tepi

(1998)

POTRET DIRI

lebih sepi kau kini
sehelai puisi tak selesai
puntung rokok dan kerak kopi
makin kusam dalam gelas malam
waktu seperti risau
menunggu di ujung gang itu

seperti apa paras bulan
saat langit muram
puisi tak selesai
hidup merambat lambat
racun tembakau dan mariyuana
telah sampai pada pusaran nadi

lalu kau temukan diri
dengan sepotong pena rombeng
dan seberkas mimpi usang

(1999)

LOROSAE

namun senja
seakan enggan
menghapus air mata
               pada cuaca

kudengar lengking camar kehilangan ibu
              buih mengeluh
                             garis pantai cemas
seorang bocah berlari ke arah malam
menyongsong bintang biduk
                                   yang hendak lapuk

(seperti aku mengenal wajahnya yang fana
menyembul dari gundukan candi-candi pasir
seakan ingin berucap:
        jangan biarkan langit kembali merah!)

angin timur mengalir dari pantai
        pasir-pasir buyar
                    bau anyir
pembantaian di musim semi
kerang-kerang mendadak kering
terbuka dengan daging meleleh
         dan lokan buta menangis
                                udara amis

senyummu, maria, seperti bunga bungur
          kuntum yang dipatahkan paksa

prahara akan kembali tiba
segera bergegas. berlindung
ke dalam mercusuar di ujung tanjung
          di situ mungkin masih tersisa
                                   penawar duka

jerit anak camar
menggigil
melihat kabut pecah
jadi buih darah
pada rongga mata
seorang serdadu tua

dalam udara amis
langit menangis
kata-kata kusam
lumer dari grafiti
yang ditera dengan darah
di tembok mercusuar

kau tak akan pernah tahu
        di lorosae
waktu yang setia itu
                      adalah seteru
yang diam-diam menyusun
rencana penghianatan
                              untukmu

cahaya cinta dari hatimu, maria
          telah jadi ragi
hancur seperti remah roti
dan anggur yang dulu kau peras
          dari tetes air matamu
telah memabukkan mereka

(1999)

NOTASI PANTAI

seekor camar buta
        gemetar
di pucuk tiang perahu

laut melulu biru
dan matamu, kekasih
seperti batu pualam
         suram dan muram

langit gugup, angin mengerang
di ruang hening cangkang kerang

kau melirik ke arah senja
masa silam hanya untaian rantai
kalung yang melingkari lehermu
                         o, gelinjang panjang
aku meradang pada ranjang lengang
perlahan meredakan gemuruh batin
dalam zikir yang meremukkan rusuk

waktu seperti terlontar
        dari cekung mataku
pasir-pasir tertebar
membentuk ornamen
         sebuah peta terbuka
                        kubaca lagi tubuhmu

seekor camar buta
penyap pada samar senja

(1999)

LANSKAP LAUT

mereguk asin laut
terkenang
bulu-bulu halus kudukmu,
kepak camar dan
pelaut muda yang mabuk
di geladak

ombak betina tiba
pesona menatap senja
kugenggam geliat laut
kau membuih di gurat tangan

bulu-bulu camar gugur
senja samar
lenganku lunglai
merengkuh
waktu yang karam

bayangmu bergetar
menahan getir

denyut pada nadi
suatu saat
dapat jadi laknat
lalu berkhianat

pada pasir membekas jejak
mungkin jejakmu

(1999)

TAMAN YANG KAU IMPIKAN

rahasia yang semayam
       dalam taman
beri aku seteguk waktu
untuk memahami adamu
        saat cahaya bulan
        mendedah tubuhku

letih aku menggapaimu
         hari-hari berlari
seperti amis darah sendiri

pada punggung bebukitan
rambut legam menjuntai
dan matamu adalah sumber air
        rasa haru pada wajah langit
kau seperti rahasia
dari sekelumit perjalanan
                            di akhir waktu

pengembara akan mati dalam kesepiannya
                               sebab ragu pada rumah
atau mencerca tanya pada persinggahan
aku memilih celah paling kelam dari malam
             termangu mengenang hari-hari lalu
atau tawar menawar dengan sisa-sisa waktu
             untuk sebuah kemungkinan makna

kau adalah keutuhan bagi rusukku
mengalir seperti darah dalam nadi
              menangislah selalu
                           di taman yang kau impikan

(1999)

LAUT BALI

sisa cahaya dan arus waktu
larut dalam kadar darahmu
laut tak jemu mengigau pilu
seperti sedu peri-peri penipu

kau hitung jejak kelahiran itu pada pasir
sisa cahaya merembes dari pusar ombak
kawanan bocah muncul dari rekah karang
menawarimu kalung-kalung kulit kerang
pada matanya kau lihat pesisir bali menangis
bukit-bukit kapur terkikis
                          pantai-pantai tereklamasi

perahu bercadik melaju
          seperti masa lalu
seorang tua menegurmu:
           “kembalilah ke laut, cucuku
           laut adalah ibu
           awal dan akhir waktumu”

kau masih tafakur
tubuh pelaut tua itu
perlahan larut jadi garam

dalam kalbu laut
kau memusar mengikuti arus waktu
sisa-sisa cahaya merintih:
            “ucapkan mantram leluhur pelaut
            agar angin jinak, ombak jinak, ikan jinak
            dan turunanmu jadi bijak!”
(1999)

UPACARA KELAHIRAN

bulan kesembilan
mataku ditumbuhi lumut
hujan rancu
pada batang alang-alang

aku tiba
cahaya yang tergenggam
adalah tangis bayi
pada kusam pagi

rintihmu
merasuk ke pelepah-pelepah pohon
ke serat-serat daun
ke akar-akar yang tak sabar

kali kecil itu mengalir
ke hulu nadimu
kutemukan gua tua
dua sumber air
dan belukar yang lebat
saat musim kawin

waktu luntur
dalam gema tambur
yang ditabuh bocah-bocah
kendi pecah
mendedah jantungku

anak-anakku nanti
pemilik keabadian
aku hanya cahaya
yang fana

(2000)

UPACARA LINGGA

bulan menjerit lirih
gumpalan awan pecah
di lingkar lingga
membasuh rumah siput
yang lunak dan basah

mantra doa datang membandang
memenuhi parit-parit yang kejang
dan susut ke dalam darah
kau menyeru nama-nama dewa
yang bergelantungan di dahan pohon ara
berpesta daging gurih
wangi ratus dan juga birahi

aku hanya punya benih dalam darah
yang menyanyi saat kau tiba
yang meratap saat kau tiada

sebab curah air matamu
pada hamparan kebun anggur
hausku adalah siksa terakhir
sebelum akhirat

(2000)

PARANGTRITIS

di tali kutangmu
gunung-gunung murung
       angin jalang
menyibak serumpun kenang
                        yang ranggas
        dari kusut rambut

        kau bicara
ingin mengurai cuaca
butir-butir kata menyerpih
        di lingkar merah putingmu
aku coba mengukur jarak bulan
                              dan matahari

senja pudar di tiang layar
                camar-camar berputar
                           berpusar
                    pada hampar cuaca
bibirmu kandaskan mimpi
kusam, muram, merajam hari

kutemukan
hanya perahu-perahu lapuk
melayari rapuh tubuhmu
               terjebak
               terbujuk
          pusar liar ombak

o, lenguh
yang mendedah tubuh
lokan-lokan meresap
          ke dalam pasir
                       gunungan pasir
unggunan api
           kandaskan mimpi

(2000)
 

FORT VREEDEBURG
    –buat: r.t.b.–
 
kau dipukau lukisan biru langit
tujuh cemara, sebentang kolam bening,
    rumpun alang-alang, burung-burung
              kecil dengan kepak sayap kecil

aku dipukau lumut pada tembok
tebal dan bebal, mungkin juga kekal
        aku lihat waktu membuka peta
                   sebuah sejarah dan juga darah
mengental, menebal, nempel pada tembok

pada meja marmer kudengar
senja menangis samar-samar
            seperti sekawanan arwah
                           serdadu yang tertangkap
mungkin juga terperangkap
             pada tembok tebal benteng

“arwah melekat pada tembok!” bisikmu

kau bilang aku mengigau
aku dengar derap sepatu serdadu
              kau sebut aku melamun
aku rasakan senja menangis
                            samar-samar menjalar
              ke degup jantungmu

(2000)

HAYA

kugambar parasmu pada pasir
suara harmonika, laju perahu
ke arah senja mengalir

angin garam
meniup usia diam diam
waktu, apakah aku?

senja surut
kabut susut
perahu luput

hanya angin
melambai lamban
di pucuk pandan

(2000)

TANAH LOT

ombak yang meludah
meniti gigir cadas
camar yang sendiri
penyap pada warna pagi

sepasang turis
sepasang bibir
di muka gapura candi
seekor anjing kumal
melintas

tak lagi kutemukan kau
hanya warna pagi
muram

dengan lutut gemetar aku bertamu
ke sebuah kafe tepi pantai
seorang ibu menyeduhkan kopi untukku
            aku terkenang si penyair tua itu
yang menulis puisi pada sebongkah cadas
                                      di laut lepas
yang merasa jantungnya tertanam
dan tumbuh diantara bunga pandan

sepasang turis
dengan raut kusut
perlahan masuk
ke mulut ombak

waktu merambat
liat dan lambat

(2000)
 

KAMAR

kunyalakan kembali lilin
dalam kamar yang bertahun muram

angin yang membawa hujan
hampir memadamkannya
            aku hanya bisa bertahan
hanya pada rambatan cahayamu

pintu kubiarkan terbuka
agar kau dapat menjenguk rasa sakitku
atau sesekali bermain kau dalam kamarku
mencoret dinding dengan warna-warna
                         yang terkadang tak kusuka
tapi tak kuasa aku menolak kenakalanmu

saatnya tiba
lilin perlahan meleleh di meja kayu
namun cahaya selalu bertahan
               di udara yang lain
                       di udara yang lain…

(2000)

DAN MALAM KIAN MENDALAM

aku tak tahu
cangkir kopi itu
bicara apa
pada malam
sekeping kata
yang jatuh
berdenting
sekotak kota
dalam bayang
kemarau
untuk pergi
atau kembali
aku tak tahu

pohon jati yang berbaris
seperti membentuk selarik mimpi
jendela, kaca retak, rel kereta api
dan kau yang tertunduk tanpa kata

hanya angin di luar
mengantar sesamar kabar
hanya angin di dalam
memendam hari muram

beri suara pada yang tiada
pada desis puntung rokok di sisa kopi
pada mungkin yang seperti puisi
                      yang meluntur perlahan
                                 perlahan…
(2000)

BUKA SEDIKIT JENDELA

buka sedikit jendela
agar cahaya
merambat leluasa
pada mata kita

aku lupa
siapa yang memajang potret kita
bersandingan di dinding tua itu

tubuhmu memasuki tubuhku
pengembara tua yang terlunta
ribuan tahun memburu sumur cahaya

aku terkenang kartu
bergambar mawar putih
saat waktu leleh
dalam genggaman malam

kutemukan sumur itu
tubuhmu melunaskan hausku
sejauh perjalanan
dari kubur ke kubur

(2001)

GERIMIS KUPU-KUPU

kaukah itu
yang melambai di ujung jalan
saat gerimis belum sempurna
                        jadi kupu-kupu
yang akan memahkotaimu
                    dengan serbuksari

gerai. gerailah rambutmu, kekasih
biarkan aku sesat perlahan
        meresapi kutukan
terlunta di negeri sendiri

segurat isyarat
                       sepucuk surat
         wasiat dari hayatku
tak ‘kan sampai padamu

di ujung jalan itu
kau masih melambai
gerimis belum sempurna
                jadi kupu-kupu

(2001)

BHISMA

sebab kutuk dan janji
aku bertahan pada takdir ini
         akulah bhisma
yang menatap hampa pada senja

beribu gagak
menggumpal hitam
di langit kurusetra
         dan senja
muara abadi segala keluh

seperti abadi kesepianku
srikandhi, bentangkan busur panahmu
amba, bidikkan muram dendammu
biar melesat beribu anak panah biru
           menyangga ragaku
                          mengukir takdir akhir

mengapa mesti ada duka
telah tumpas segala suka
saat surya rebah ke utara
aku pun tiba pada hampa

(2001)

DI TEPI TAMBLINGAN

setelah halimun
parasmu pupus
di pias danau

bara pada unggun kayu
masih sisakan birahi semalam
                       canda perkemahan
telah menyurutkan darah
yang mengalir deras ke urat malu

di pias danau, apa yang gagu
selain waktu yang menunggu
                            kepulanganmu

pagi itu, embun di pucuk pakis, benalu,
anggrek bulan, cemara dan danau
                menduga telah terjadi sekutu
                                antara kau dan aku

lalu dari bongkah kerak kayu
kau ulurkan kenangan layu

“kayu itu suatu waktu
                    akan jadi perahu
yang mengantar ruhmu
                    ke tengah danau,” bisikku

namun parasmu telah pupus
sebelum mengaduh danau
setelah halimun bergulung turun

pengayuh perahu tiba
                menjenguk cemas kita
tanpa suara ia menuntunmu
                menaiki perahu
lalu mengayuhnya makin jauh
                        makin jauh…

(2002)

REQUIEM

mengapa harus ruhku
menuju ruhmu

kau ternganga di tepi cadas
memandang cemas
                        pada burung-burung
yang mematahkan sayapnya di udara

pada pusaran warna
adakah kau temukan keabadian

         maut lekat
         pada mata
         pisau palet

teriaklah lantang
pilu melolong
seperti anjing
tersihir
bulan telanjang

kutemukan kau
pada tekstur cadas
menceburkan diri
dari jeram

kau meresap ke rekah batu
                tidur seperti batu
          bercinta dengan batu
                  mati dalam batu

mengapa harus ruhku
menuju ruhmu

kembali pada diri
aku hablur dirajam mimpi
       mengutuki diri
mensyukuri diri

(2002)

TAMAN LAUT

kita tak pernah mampu
menduga kalbu laut

pada warna biru itu
kita mengaca
adakah sesuatu
tersembunyi di situ

laut adalah ibu
tempat kita sekali waktu mengadu
pada kelembutannya ada sesuatu
               yang menghunjam kalbu

aku tak pernah tahu
mengapa bayangmu
selalu muncul di situ
mungkin, kau lebih fasih
menggurat aksara di pasir
menggambar wajah kita
yang tak saling mengerti

menduga yang tak terduga
          adalah riskan

pada parasmu
aku seperti menemu
masa lalu yang kembali menjelma
tapi tak mampu aku
mengabarkan itu pada angin
yang memainkan pasir-pasir

aku hanya tahu
ada saat surut menjauh…
                    seperti ucapmu

(2002)

LARIK OMBAK

selarik ombak
tertulis di anjungan
mengabarkan wajahmu
                    yang hijau
           digerus air garam

beribu tahun lampau
mungkin kau putri duyung
            atau peri air penipu
yang suka menjebak dan membujuk
      pelaut-pelaut muda yang mabuk
            wangi mawar laut di geladak

pelaut muda itu mungkin aku
yang tiba di anjungan dengan perahu
dan layar robek tercabik angin kemarau
yang berseru pada senja dan cuaca kelabu
                         : daratan! daratan!
  
aku merasakan daratan
melihat kerajaan
                            dan kau,
putri duyung yang menunggu
                  di atas singgasana mutiara

pada ranum bibirmu
        tiram-tiram mengulum kelam
hiu-hiu bermata biru saling terkam
                 ikan-ikan cahaya padam

menggigil dan gemetar
        aku menunggu
                  titah penghabisan
di kerajaan bawah laut
  
kini di anjungan
selarik ombak tertulis
bau amis dan air garam
menggerus biru tubuhmu

(2002)

ARTUPUDNIS

sepasang kijang hilang
di lengang ilalang

gerimis tandas
jadi kata-kata
mengalir deras
pada puisi terakhirmu

diam-diam
kau menjelma bunga
dikawinkan lebah madu
saat kau meneliti jejak
                 yang mengerak
di kulit kayu
pohon-pohon bakau
yang ranggas dedaunnya

sanur adalah palung masa lalu
        bagi si penyu hijau
              dan hiu bermata biru

aku terkenang pengembara
yang suka menyapa tukang jukung
dengan sajak anak-anak ombak

kau pun kabur
alur-alur puisimu
tak selesai kau tabur
waktu yang uzur
mendekam di situ

(2002)

BULAN PUN LAYU

bulan pun layu
mengenang bayangmu
yang menggenang
di kubangan warna

kau beringsut ke arah kelam
          tak pernah tahu
di mana perahu berlabuh
hanya tiang-tiang layar
                  hampir patah
dan angin garam
           mengaduk kalbu

aku menyebut usia senja
kau mengulum senyum
       dan kita tahu
              jiwa hanya sesuatu
                          yang hablur
dalam didih waktu

warna ungu menjerit pilu
pada bidang kanvasmu
angin dari pantai selatan
bersuir-suir memanggil jiwamu

aku menemu sisa waktu
menguap dari hidupmu
warna-warna leleh
dalam gairah patah
seperti garis atau gurat
pada kening kelabumu

(2003)
 

BOCAH BERMAIN AYUNAN

bocah itu bermain ayunan
di tangga menuju awan
dia berputar-putar pada dua tali
                   dari tumbuhan jalar
         terus berputar dan berayun
seolah menduga di tangga ke berapa
                            pintu surga terbuka

dari gaun putihnya
tiga merpati bersih hambur
         langit begitu biru
seperti mata bocah perempuan
                yang bermain ayunan itu

di tangga ke sembilan
sosok tua berjubah kelam
melepas helai demi helai kertas
                                        
kertas-kertas melayang
                  menjelma burung

namaku
atau namamu
tertulis entah
di helai kertas ke berapa

bocah perempuan itu
suntuk bermain di awan
         perlahan dia
                    menjadi ayunan

pintu surga
belum juga
terbuka

(2003)

AKU RINDU MARIYUANA

malam ini aku rindu mariyuana
namun hanya suara serak radio menjalar
seperti keluh nenek renta yang pikun

mata belum pejam
desir angin dan bisik dedaun
bikin aku makin asing dari kenangan
hanya buku-buku tua pada rak berdebu
mungkin di antaranya terselip surat cinta
                atau bon-bon yang belum lunas

suara radio makin serak
serupa gerutu gagak
di pucuk pohon kamboja

pada cermin retak
aku cermati wajah
: keningmu makin penuh kerut
                                 o, penyair!

kulipat surat cinta kertas kusam
                 jadi burung bangau
hanya mengambang dan gemetar saja
terayun-ayun di lelangit kamar bercat biru

o, aku rindu mariyuana
puisi-puisimu begitu cerewet
                                  dan membosankan
          bakar! bakar saja!

malam ini, kau tahu,
aku hanya rindu mariyuana
menghisapnya perlahan
seraya melamunkan kekasih
               di bawah purnama

(2004)

KAMPUNG TERAKHIR

pungguk itu tunduk di dahan waru
ada seberkas cahya purnama
memintas batas
           sepi tiba-tiba
ada nyanyi dari buluh seruling
mungkin seorang pengembara
terkenang kampung halaman

di dalam bilik gubuk
hanya kita, mungkin juga cicak,
berbagi desah, resah,
           dan juga lenguh
                   yang coba membunuh
sosok waktu yang ngalir
           di kanal nadimu

aku terkenang sebatang kayu mahoni
      yang terlunta dihanyutkan sungai
hingga lelaki tua bungkuk itu memungutnya
                                        penuh iba
             di halaman gubuk
lelaki tua menatah kayu menjadi arca dewa

arca dewa tua
tanpa janggut, tanpa mahkota
lebih menyerupai patung murung
namun pada tapak tangannya
                       tergurat aksara

aksara pada jiwa
mendedah sembilan dewa
                       yang terusir
dari lingkaran mandala

di dalam bilik gubuk
pada muram cahya pelita
kita mencipta dewa
bagi semesta jiwa

pungguk itu terkantuk
di dahan waru
alun seruling menjauh
aku tiba di kampung
                        terakhir…

(2004)

MALAM PANTAI CANGGU

di pucuk meru pura
bayangmu menjelma bunga angsana
         senja ungu
                        aroma garam
         berbaur wangi dupa
kerang mengerang saat pasang
         aku terkenang duri-duri pandan
                     yang menyusup di kulit tangan

kau bersimpuh
sujud di muka altar batu
adakah puisi mencurahkan cahaya semesta
                                     pada jiwamu?

aku fana di limbung gelombang
hanya pasir bergetar di pucuk layar
           mari cintaku, bisikkan lembut
                      lenguh ombak di jiwaku
agar tenteram aku berbaring di pesisir

aku tahu lampu-lampu itu
hanya memeram warna senja
                                  yang tiba tertatih
apa kau percaya kata mereka
tentang kita yang dikutuk masa lalu?

jangan kawini laut
aku cemas kau makin asing
              di gigir gelombang
cumbu aku
hingga kau mampu
memahami peta perjalanan
yang berliku menuju puncak sajak

kau memintaku pulang
sebab kelam malam telah mengepung pesisir
kenapa mesti cemas pada malam?
               malam adalah kawan setia pejalan

aku bisa berkemah di mana saja
kunyalakan unggunan api di hampar pasir
serigala akan mendekat dan menjilati kakiku
seperti bocah yang minta dibelai ibu
dengan puisi kuhangatkan tubuh dan jiwa luka
                        yang diderita para pengembara

                  maka cobalah berbaring di pasir
             dengar laut berkisah
perihal perjalanan patahan kayu
                                              menuju muara
tentang biduk-biduk lapuk
              yang bertahan di tengah topan
atau perihal peri-peri laut
                      yang suka menggoda nahkoda

buka mata, coba tatap langit malam
kau akan saksikan rasi mithuna dan kataka
                                           saling bercumbu
         betapa mesra, kekasihku
bahkan baruna, si dewa laut
                                    cemburu menatapnya

api unggun masih menyala
         jangan pernah padami
biarlah baranya yang biru
menjaga dan menentramkan jiwa kita
         hingga usia bumi
         makin renta

(2004)

BUKIT VENUS

aku tiba pada hamparan bukit venus
milikmu yang penuh pesona
pada tebing merah muda
di antara rerimbun pinus
sebuah pancuran di atas gua
mengalir air ibu bumi

seperti pertapa tua letih
mencari sumber air suci
aku berjalan tertatih
terseok keluar-masuk
menyibak lebat semak
gua gelap di tebing bukit

cahaya dari hutan pinus
seperti sorot mata ular di taman firdaus
                 aroma tanah sehabis gerimis

embun menghias pepucuk pinus
merembesi gua tapaku
kurasakan nikmat tertinggi
kidung persembahan ibu bumi

(2004)

PENJAGA KATA

(1)
hilang sudah kau
         angin mendulang
sukmamu, segala lara
ingin abadi dalam pusara musim
          fitrahmu hanya kata-kata hampa

tidurkan mimpimu di sela
iga yang segera rontok
demi memuja larik-larik sajak
          aku hanya penyair tua di gua garba
            kau pembaca rabun segala makna

nikmati saja janji-janji puisi
gelegak surga yang ingin kau raih
          entah di atap langit ke berapa
                      raung itu kembali bergema
           tapi tak kau yakini sebagai
                                         ilusi yang nisbi

pemburu makna terkutukkah kau
upayamu sia-sia mengais sisa kata
           ihwal yang senantiasa kandas
                         seperti rama-rama hangus
           ingin tandas di sumbu lampu
(2)
pemuja bintang dini
      upaya apa lagi mampu
imbangi segala igau
      segala resah, segala keluhmu
                       ingin raih ufuk yang lapuk

nujumanmu kata-kata semu
       irama yang ragu
                   ritma yang kaku
walau kau coba segala peribahasa
       apa inginnya puisi yang melolong sepi
               ngembara dari puing-puing bunyi

jangan titahkan waktu
                               ujung lorong kelabu
       gaung gema yang sia-sia
                angankan puisi sejatiku

semestinya cermin itu benar
            akan membuka rahasia kata
memantulkan bayangmu yang gagu
                 pada segala warna musim
atau kau hanya penadah
                           halimun yang sirna

kini kilau benakmu
        akan segera mengerak
tak mampu lagi
                akhiri luka kata
(3)
fatamorgana apa lagi
alirkan kilasan-kilasan warna
         jejak yang kikuk di simpang jalan
antara kampung kumuh dan kota tua
                     rahasia mimpimu terkubur

aku tak ingin kau jadi pecundang
pesakitan yang sekarat menunggu
                            ajal datang menjelang

mungkin masih mampu kau raih
angan penyair yang tintanya telah tandas
         umpama pohon gugur daun
meranggas sembari memuja masa silam
                   untaian kenangan menyerpih

dulu pernah aku mengeram mimpi
endapan kerak yang telah menghitam
                    nujuman palsu aksara tua
gurat-gurat pun makin sempurna di keningku
             apa lagi yang mesti diucapkan
nyanyian jiwamu makin sumbang

cuaca tanah leluhur telah lama kau lupa
                        embun pun tidak lagi bening
rasa pagi menghilang dari jiwamu
             pudar serupa bayang-bayang samar
                   erang purba yang bikin ngilu
                nujuman kelabu si tukang sihir

(2005)

DI KAFE TERA, RAWAMANGUN, JAKARTA

buih bir itu mungkin pernah
menduga dirinya buih laut

sampai kau bertutur
tentang ladang dan kampung
yang hampir rampung
diserang wereng
jagung pun tak mampu matang
musim kering begitu kerontang
hingga segala benih jadi garing

kau tuang laut ke dalam gelas
aku tahu, malam segera tuntas
dan asap kretek akan tumpas
dari bibirku yang haus

“aku dari indramayu,” lirihmu

indramayu, sebuah daerah kuyu
                  di pesisir utara jawa
          penuh janda ayu
perahu-perahu suka berlabuh di situ

“apa kau tidak mau berlabuh?” desahmu

aku hanya pejalan sunyi
melulu ditemani duri
yang melekat di tapak kaki
pedihnya tak kurasa lagi

di bibirku yang rekah
buih laut itu
kembali merasa
dirinya buih bir
                     
malam bergumam
di sudut paling suram
                    kafe tera

(2005)
 

MENYUSURI JAKARTA TENGAH MALAM

tak ada lagi yang bisa selamatkan kita
menghindari malam yang makin buram
mari susuri saja jalan ini
sejauh mana kita mampu berjalan

letih hanya milik waktu
dan ragu akan segera berlalu
dari sendu matamu

lampu-lampu kota
makin tua cahyanya
namun wajahmu yang belia
membayang di setiap warna iklan
senantiasa menggoda

di mana kita mesti singgah
untuk sekedar istirah
menghentikan langkah
rumah terlalu jauh
dan losmen murah hanya sisa keluh
mungkin juga sejumput lenguh

mengapa cemas pada selimut tipis
yang menutup kawasan rawan tubuhmu
selimut yang serupa selaput itu
mungkin terlalu rapuh
tapi yang suci adalah hati, kekasih

“dan yang setia adalah perjalanan,” gumammu

kau gagu
meraba wajahku
aku kelu menduga kilau
airmata di pelupukmu
seperti embun
di lembah subuh

(2005)

PANTAI ANCOL
–bersama unan–

dan kita pun sampai
setelah lelah berjalan
diukur dan diukir terik hari

paras laut masih seperti dulu
           kelabu dan kelabu
perahu-perahu kecil menunggu
                        di dermaga kayu
senja sempurna tanpa ciuman mesra

dulu pernah kau tatah namamu
di bilah kayu di ujung dermaga
dan angin garam menuntaskan
                         segala yang fana

di tepi pantai
kau lantunkan syair-syair cinta
begitu merdu dan syahdu
hingga menyihir langit jadi kelam
sekelam matamu menatap hampa
              lampu-lampu kota jakarta

dari lengkung alis
                gerimis turun ritmis
menggurat siluet kepak camar
         yang bergegas menuju sarang

“hujan-topan akan tiba,” cemasmu

apa bulu-bulu mata bisa gugur
seperti dedaun waru atau bulu camar
                 di tengah angin resah
apa kau percaya
kita telah tiba di pantai
                  yang kau angankan

aku merasa
ada yang diam-diam
menyusun airmata
jadi candi-candi pasir

(2005)

DAGO

malam menjelang
sudut-sudut kota mengembang
          dalam senyum kepayang

udara dingin menyusup
di sela serat syal biru
aku terkenang sepasang alismu
           yang melengkung malang
mewartakan duka burung-burung usiran

di dago di sepanjang jalan lempang
kembang dan kumbang melenggang
       seakan tak hirau kabut linglung

tapi pada cangkir cappuccino hangat
senyummu membayang ranum
               masihkah bibirmu sehangat
                  saat kutinggalkan kotamu

andai kau di sini
tentu kemerlip lampu di lembah dago
                                  lebih punya arti

namun hanya seleret cemara
                    mengurai makna airmata
meleleh pada jarak dan jejak kita

(2005)

MENJAGA MALAM BRAGA

di braga
malam belum hablur
dan lampu-lampu belum tidur
masih berjaga bersama hingar
                musik pub dan kafe
trotoar ngelindur
                   mabuk wangi

di bawah atap kedai
kau melamun sendiri
menunggu pagi
mengakhiri mimpi
penghuni kota bunga

dan gedung-gedung sisa kolonial
anggun merangkum malam

apa makna puisi
                   bagi pejalan kaki
sihir lampu iklan
masih mengikuti bayang diri
hingga ke sudut-sudut gang kota

“di braga, lukamu tak akan sempurna,”
                                    bisikmu

aku rindu braga
          entah mengapa
kau menjaga
          luka yang lena

(2005)

REQUIEM JUNI
–untuk diriku–

dalam kamar sempitmu
apa yang kau pahami
kau tak memiliki apa-apa lagi
seperti kembali ke dalam rahim
                              ke mula asal

suara parau burung hantu
seperti luka masa lalu
            dan langit itu juga
adalah langit sebelum kau
mencium tanah dengan hati luluh

mata betina berkali-kali memukaumu
kau merasa menemukan nirwana di situ
       pada bibir ranum
                pada payudara padat
                         pada pinggul bulat
kau tenggelamkan diri dalam kolam lumpur
menyusup ke celah kelopak seroja merah muda

         kau hanya noktah
         pada hamparan semestamu

dalam kamar sempitmu
kau menyulap diri jadi pertapa bisu
kitab-kitab sajakmu telah rapuh
mengapa kau masih bersikukuh
ingin mengekalkan waktu
dalam kerumunan kenangan
yang kelak akan musnah

serupa kepiting tua
kau hanya mampu berlindung pada kulit kerasmu
                    namun jiwamu rapuh pada sekeliling
seperti penyu
kau sembunyikan kepala dalam tempurung
                                   apa dayamu, o, si lugu biru

seorang pandir menghujatmu:
        “penyembah berhala,
                   pemakan babi,
                              pezinah pelacur…”

tapi kau terus memburu cahaya
dalam lubang hitam semesta
sebab kitab-kitab agama
          tak lagi bermakna
      bagi pengembara abadi

matamu adalah langit
              jiwamu lautan biru
aku semayam dalam ruhmu
   kau senyawa dalam diriku

(2005)

SUATU WAKTU AKU TIBA DI ROTTERDAM

helena…helena…
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam
mengunjungimu dengan seluruh rindu
saat musim semi mekar demi janji

kita berperahu sejauh alur sungai
aku mendayung, terus mendayung
kau senyum menatap kawanan angsa
                     yang bercumbuan mesra
hingga lesung pipimu lembut merona
             bikin aku gemas karena cinta

siapa yang bisa menduga
kau dan aku dipertemukan
                            sehelai kartu pos
bergambar bunga-bunga tulip merekah

sejenak kita abaikan waktu, sang guru
yang mengajari kita banyak rahasia itu

kita menyelinap ke gang-gang kota
                      mampir di kedai-kedai sederhana
minum anggur sambil saling membaca harapan
pada matamu yang bagai lautan tak terduga
             pada mataku yang letih karena insomnia

bergandengan tangan kita susuri trotoar yang ramah
tawar menawar dengan pedagang-pedagang cindramata
             kau tentu suka kalung manik-manik
                                  yang dijulurkan si gadis gipsy itu

di lehermu yang jenjang
yang lekuk dan likunya tak jenuh kujelajahi
                              manik-manik itu berkilau
lebih sempurna dari cahya senja
lebih sumringah dari semerbak bunga
hingga urat biru di bening kulitmu
                                     jadi makin bermakna

helena…helena…
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam
sekuntum bunga margot kusematkan
                         di rambutmu yang blonda
dan kita bercinta dalam telaga
               bagai sepasang angsa kasmaran

(2006)

KUCUMBUI KAU DI HAMPAR PASIR

kucumbui kau di hampar pasir
desah buih serupa lenguhmu
         apa yang kita buru?
waktu akan segera berlalu
dari matamu yang senantiasa
                   memeram muram

namun kau tertawa menatap langit malam
           betapa indah kelam lautan, katamu

tahukah kau,
gempa akan segera meniadakan kita
                  menumpas kita hingga tandas

dan kematian begitu sederhana
          begitu mudah
tanpa kita sempat mengaduh

selalu saja kucumbui kau
                     di hampar pasir
hingga maut hampir mampir
        di celah bibirmu
                      yang merekah indah
seindah kematian itu…

(2006)

LIMA RIBU DEPA DARI AMLAPURA

lima ribu depa dari kota tua amlapura
ada sebongkah batu yang ditatah gurat-gurat aksara
                       batu yang dicerabut dari kebisuannya
batu yang dianugrahi tahta di istana airmata
                                         taman tirtagangga

bulan kuning langsat yang menggeliat di celah bukit
di hampar lembah yang dihuni malam dan sawah
cahaya kunang-kunang merambat dari kalbu langit
mencoba meraba aksara
                        yang digurat pujangga tirtagangga

lima ribu depa dari kota tua amlapura
bayi-bayi puisi lahir dari kedalaman hati
              dari sunyi yang kau peram
sejak mula pertama kita berjumpa kata

namun dingin dan malam telah menyusup
di daun-daun pakis, kerak-kerak pohon kamboja,
                               anggrek ungu dan rindu melumut

lima ribu depa dari kota tua amlapura
cintaku, adakah yang lebih pedih
                                dari kehilangan cinta?

langit telah sempurna kelabu
suara serangga dan kodok hijau
               telah menuntaskan mimpimu
yang penuh pijar aksara dan igau
                                aroma tuak kelapa

(2006)

TIRTAGANGGA

taman air yang disepuh purnama
memudarkan bayang wajah hamba
              yang gagu meraba cahaya

senja terakhir telah tiba
                             di haribaan malam
namun hamba masih bisa mendengar
suara tabuh genjek yang menjalar
                   dari bibir anak-anak desa

hamba tepekur
di pelataran paduka ratu
menghayati sepi yang tiba tertatih
merambati jiwa yang telah paripurna

paduka ratu junjungan hamba
mesti berapa penjelmaan lagi hamba lalui
                       untuk sampai pada jiwamu

laksana pucuk-pucuk pohon angsana
             hamba gugur daun
bunga dari segala bunga yang paling sempurna
                      telah hamba jalin untuk penghias
                            semerbak rambut paduka ratu
buah dari segala buah telah hamba sajikan
              sebagai penutup makan malam paduka

kutukan apa gerangan
                          yang menjadikan hamba budak
hamba ingin kembali pada perjumpaan pertama
               ketika tiada dosa dan ampunan
                                   yang menguntit hayat kita

(2006)

CAPUNG SAYAP UNGU
   -buat: Feybe Mokoginta-

capung sayap ungu yang bertengger
di atas daun teratai
           adakah itu bayanganmu
yang menujumku begitu rupa
dengan secercah cahaya keabadian
yang diturunkan langit warna abu

alir air adalah jalan terakhir
bagi kura-kura tua
yang semadi di selokan
            di rerimbun belukar

apakah yang sisa dari daun waru
         yang gugur di ujung waktu
kecuali sebait mantra
         yang hilang makna

capung sayap ungu
         dan segurat bayangan…
seperti kenangan yang punah
                        di hari ketujuh

(2006)

ARAK DAN MALAM

seguci arak di meja kayu
malam makin mengendap dalam jiwaku
kegelapan telah melingkupi persawahan
kerlip kunang-kunang bercampur aroma lumpur

kidung serangga hutan adalah kepedihan
                 yang dipersembahkan  malam
ketika peri-peri kecil
                 dengan payudara mungil
                        dan tubuh menggigil
                 mengunjungiku

aku tergetar
        menahan getir
                  yang menjalar
dari sumsum nadir

kelopak-kelopak malam gugur di halaman
hari-hari kujalani dengan nyanyian kodok
dan ricik air yang berdenting bagai genta pendeta
          di manakah akhir setapak yang kulalui?

inikah jalan takdir
yang pernah dinujumkan
               para brahmana?

dari kejauhan, seribu depa
                        di seberang persawahan
suara kidung merambat pelan
                        bersama dingin halimun
seperti merasuki jiwa para pengembara
                 yang lupa kampung halaman

di meja kayu
arak nyaris tandas
dan kunang-kunang
begitu sempurna cahaya

(2006)

MALAM-MALAM MABUK DI TIRTAGANGGA

lampu-lampu jalan mengambang
            dalam petikan gitar tua
seperti mengalunkan rindu
            yang diperam angin lembah

seorang gadis prancis
menenggak arak campur coca-cola
            bibirnya yang manis
menyisakan jejak kenangan pada gelas

malam yang hijau mampir
                            ke meja kayu
si gadis prancis melempar igau
             ada kutemu duka
mengendap pada biru matanya

                            malam memanjat bukit
denting gitar mengiringi setapak langkah
                         terseok menuju homestay
         aku oleng, si prancis kemoleng
tanganku membelit pinggangnya ramping
sambil ngoceh dia mengutuki bintang
                                    dan kunang-kunang

siang menjelang ditingkahi teriakan pengusir burung
              dari jendela membentang sawah menguning
          angin gunung mengurai rambut separuh pirang
                   si prancis yang molek tergolek di ranjang
pinggulnya sempurna bagai lekuk gitar
                                             membuat mata jadi nanar
payudaranya menggoda penuh mukjizat
                                                          bagai buah khuldi
puting merah muda merekah indah
                       di siang yang pasrah
                                        waktu jadi lamban dan malas

si gadis prancis menggeliat
         matanya setengah terbuka
bibir tipisnya aroma arak
         si manis prancis masih mengigau:
                                              “di mana saya,
                                      mau ke mana saya?”

(2006)

IMPIAN USAI

impian usai di akhir
napak tilas yang bergegas
           gagu meraba getir takdir
galau membaca jejak aksara di tapak tangan
ingatkah kau pada pasir yang mampir dan
            terlunta di bening gelas anggurku?

perempuan tuntas membekas pada jiwa
usia dan tahun tiba sebelum senja
            tinggal kenangan, selalu kenangan
rekah dan sumringah bagai geliat pandan
            ingin membawa kita meretas
abadi dalam pasang surut musim

mimpi terpanjangku adalah keheningan
angan yang menyesatkan pengembara pada
                    rahasia cuaca dan getar cahaya
guratkan lagi aksara penghabisan
agar sempurna kepedihan demi kepedihan

(2006)

SURAT DARI RUMAH PANTAI
         -untuk unan-

wahai perempuan bertudung sepi
akhirnya aku kembali ke rumah pantai
              ombak berkali-kali membujukku
dengan desah dan lenguh memabukkan
              erang pun bergema dari cangkang kerang

wangi bunga pandan bagai aroma pipimu
urailah rambutmu agar angin garam membelainya mesra
lalu senyumlah padaku yang lenyap dalam pelukan samudera
               agar tentram jiwamu menatapku lekang
namamu, namaku, mungkin akan abadi di setiap dermaga

rumah pantai telah menerimaku dengan keteduhannya
aku ‘kan bermukim di situ bersama ubur-ubur dan hiu biru
                tak perlu lagi kau risaukan aku
nelayan-nelayan bermata cahaya jadi kawan karibku
         aku telah menggadaikan jiwaku pada peri laut penipu

(2006)

SINDHU
-buat: i.p.m-

di sindhu
selembar daun waru
                menyerpih
menjadi 17 suku kata
             pada putih pasir
yang mengulum buih air

kau sebut itu
haiku yang menunggu
               kehadiranmu

puisi dengan cahaya pelita pudar
mendadak lepas dari kilau tatap matamu
         bagai mutiara yang hampir matang
                 kau rampungkan hening
          dalam nyaman cangkang kerang

namun, di sindhu
yang sisa hanya lagu bisu
                         dan haiku
menyimpan rahasia
                  daun waru tua

(2006)

PERAHU TUA

perahu tua yang sendiri di laut raya
        adakah halimun melingkupimu
saat waktu-waktu biru mengukir batas
          pada warna ombak beralun-alun
                          atau bayang bebukitan
                                            di kejauhan

perahu tua yang sendiri terlunta
pada hampar samudera tersepuh cahaya
          di manakah akhir pelayaran
dermaga demi dermaga
                      telah menambatkan usia
                                       dan juga dosa
tapi belum juga kau tahu
          di mana pulau itu berada

perahu tua yang telah menjelajahi
segala cuaca dan wangi musim
          kau pilih laut itu
sebagai kuburan abadimu

camar-camar dan elang laut akan singgah
melepas letih di tiang-tiang layarmu
                                  yang setengah patah
dan ikan-ikan beranak pianak di lapuk lambungmu
                                                   
perahu tua, perahu tua
           kurayakan masa lalumu
dengan kidung kerang selepas senja
dan mimpi-mimpi indah terumbu karang

(2006)

TAMAN SILAM

hari mengalir dari lipatan tanganmu
        hanyut dalam sungai silam
membentangkan secarik taman
                   menjelma seserpih kisah
                      
di bawah rimbun pepohonan
di antara reruntuhan petilasan tua
                 kau mengubur air mata
sebab kitab-kitab aksara
           atau lembar-lembar gambar
                       entah bermakna apa
nyaris lapuk di ujung penantianmu

tunjukkan aku sehelai rupa
                              atau segurat kata
yang mampu menyihir jiwaku
                 agar kembali aku padamu

tapi masih saja kau gagu di taman itu,
taman yang ribuan tahun memberkatimu
dengan keindahan sekaligus kepedihan

taman seserpih kisah
yang diramu sang pemilik abadi waktu
                  sia-sia menunggu
                                       jiwa-jiwa galau

kau lepas, aku tandas
         di sungai tak berbatas
                     di taman tak berbekas

hanya desis ular
menjalar dari rimbun belukar
        siaga mematuk resahmu,
gelisahmu,
                keluhmu,
                                dungumu…

(2006)

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php