Gasing
dindaku, putri cermin cina,
cinta kita hanya fana
hanya sekelumit tatap mata
ketika aku tiba di negerimu
ketika ayahandamu, sutan mambang matahari, merestui kita
ketika tuan muda selat ingin mengujiku
dalam permainan gasing kegemaran kami
aku tahu cinta kita akan sampai
dinda, abadi cinta kita
seperti putaran gasing
yang bukan petaka, melainkan tanda
ketika gasing itu membentur keningmu
maka keabadian perlahan terbuka
dan tergurat di jiwaku
aku menyusulmu
bukan ke pelaminan atau peraduan penuh tilam
dan selimut beludru bersulam benang emas
aku menyusul hayatmu yang lenyap
bagai asap di tungku perapian
berjalan bergandengan ke negeri akhirat,
negeri abadi yang dijanjikan
bila kita ditakdirkan lagi berjumpa di bumi fana
maka dari seberang, dari dusun senaning
aku senantiasa merindukan bayang wajahmu
jelita yang membias di tepi sungai,
kepedihan yang meruap ke langit jambi
sesekali kita bisa menjenguk ayahanda
yang semayam di dusun tengah lubuk ruso
atau bertandang ke kampung selat
penuh harap menatap cakrawala
tiada lagi rasa bersalah, tiada lagi dosa
sebab semua telah dinujumkan
segalanya akan kembali berputar seperti gasing
kita tiada paham di mana putaran itu akan berakhir
kita tiada mampu meraba arah takdir
semua penuh kemungkinan
sebab hidup seperti permainan gasing
2008
(dimuat di Kompas, Minggu 12 Oktober 2008)
Trackbacks
Leave a Reply