Kabar Terakhir
semenanjung dingin
kabar terakhir
dari perahu yang hilang
tiba lebih dini
aku menunggumu di pucuk mercusuar
layar berhenti mengembang
tiada yang pasti pada hampar laut
angin mengusir camar-camar
ke lingkup kabut
apa yang mesti dimengerti sepi
hujan dini hari tadi
menghanyutkan waktu
ke dalam bejana mimpimu
semua akan berakhir
seperti kendi pecah
menyerpih dalam udara malam
patahan sayap camar belia
hinggap di jiwamu
setiap aksara yang tergurat
menjelma kisah hidupmu
makin suram dalam kerumunan halimun
kau yang terkalahkan
yang melolong sepi dari kobaran api
yang menjelma abu
yang gemeretak saat laju perahu
semakin menjauh dari jantungmu
yang membusuk perlahan
terimalah kabar ombak apa adanya
terimalah takdir laut seperti takdirmu sendiri
tiada yang bisa disembunyikan gelombang
dari jiwamu yang buta
tiada kisah akan tercipta di tepi pantaimu
yang melandai hingga ke ujung gaun putri jelita
yang menanti di ujung tanjung itu
mungkin bunga-bunga gugur ke dalam hatinya
dan kupu-kupu akan musnah
dalam genggaman tangannya
hanya hari yang mengerti
ke mana mesti menepi
aku telah buka rahasia sunyata
mengapa kau masih memeram hasrat
ingin tahu segala rahasia kematian
apakah tiada nyenyak lagi tidurmu
dalam rimbunan bambu
yang gemerisik setiap malam itu
kematian serupa gelombang menyergapmu
ketika kau lengah berenang di pantai
biarkan saja lemah tanganmu
menggapai matahari senja keemasan
sebelum sempurna cahayanya
merambati jalinan nadimu
kau akan dengar gemericik
omang-omang dalam pasir,
rintih buih, lagu ganggang,
dan doa syukur nelayan
yang luput dari mulut ombak
hari akan kembali tiba
sebelum kau pergi
dengan tawamu yang bahagia
dalam dekapan maut
yang begitu ngelangut
merindukan dirimu di tepi pantai itu
barisan pohon waru menadahkan tangan
agar kau mampu membelainya
demi salam selamat tinggal yang mengesankan
cumi-cumi menyemburkan tinta kelamnya
demi menghangatkan tubuhmu
dalam selimut gelombang
pasrahkan dirimu
kita akan menjelma cahaya
(2008)
Trackbacks
Leave a Reply