Oleh: Wayan Sunarta
Patung-patung kayu yang dipamerkan itu seperti segerombolan mahkluk aneh yang bangkit dari masa jutaan tahun lampau. Mahkluk-mahkluk bawah laut yang merayap ke permukaan pantai.
Wujudnya beraneka ragam, ada yang menyerupai kerang, mahkluk bertentakel, sulur-sulur akar pohon bawah laut, jalinan akar yang berkelindan, bongkahan jamur, kerak pohon. Patung-patung itu sangat imajinatif. Namun dari berbagai wujud [...]
Oleh: Wayan Sunarta
Setelah usai upacara adat, beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran terhidang gundukan nasi beserta lauk pauk di atas nampan. Mereka makan sesuap demi sesuap dengan tertib. Acara makan diselingi obrolan-obrolan ringan. Inilah budaya makan ala Karangasem, Bali, yang disebut megibung.
Tradisi megibung dimulai dari tahun 1614 Caka (atau 1692 [...]
Oh, tamuku yang datang menjelang petang. Apalah aku kini di hadapanmu? Lama kita tidak bertemu. Lalu kau sudi pula mampir ke gubugku yang hampir roboh ini. Sungguh suatu kenikmatan tak terkira bisa menjumpaimu. Sudikah kau menceritakan kisah perjalananmu? Apa saja yang telah kau temui sejauh langkahmu?
Mari berbagi sekeping roti. Mari berbagi secawan anggur.
Akan ada saat [...]
Berikan apa yang jadi milikmu demi menguras sampah dalam jiwamu. Tidak ada yang tak mungkin selama kau merasa mungkin. Cangkir kopi akan kembali kering dan kau tidak perlu ragu menjauh dari sisa-sia waktu yang merongrong hidupmu dengan janji-janji busuk dan anjing-anjing jalanan akan membuka matanya demi jalanmu yang setapak itu. Lalu apa lagi yang kau [...]
Hujan membiaskan bayang wajahnya di pelupukmu yang basah. Aku dengar musik kematian lamat-lamat menyanyi dari kedalaman jiwamu. Jangan berhenti. Teruskan saja langkahmu. Tiriskan saja kesia-siaanmu. Ayo, kau orang punya jiwa. Mata menari seumur melodi. Dan tidakkah kau merasa sekutumu menjauh? Dan kau pun akan ambruk dalam permainan ini. Oh menarilah demi umurmu sendiri, demi waktumu, [...]
Senja mulai dengan angan-angannya. Hari mendung dan hujan mulai turun dengan jari-jarinya yang menawan. Aku sendiri. Secangkir kopi di meja terlihat kusam dan membosankan. Segeralah aku kembali kepada diri. Kemanakah segala yang telah terjadi? Semua menjadi perhentian akhir yang tidak pernah aku kenali sebelumnya. Maka mari kita lari pada kenyataan yang lebih rumit untuk kita [...]
Hanya suara di keheningan denting sitar. Hanya suara di keheningan nadi. Hanya suara di keheningan kelahiran. Dan malam merasuk ke dalam tembok istana tempat segala sesuatu menjadi jalan yang telah dilalui para pengabdi raja. Dan kita tidak pernah bisa menduga apa yang telah diperbuat oleh orang-orang yang menganggap dirinya bisa.
Oh jari-jari yang menyebalkan yang selalu [...]
Malam selalu berjuang untuk mimpi pejalan. Ia telah berada di luar hitungan cuaca. Sepi masih sebatangkara ketika kita lahir dalam keabadian perjalanan. Perempuan itu telah kabur tadi malam. Lalu akan kita apakan diri kita? Aku pernah bertemu dengan perempuan yang menyulap dirinya menjadi garam. Ia larut dalam hamparan luas lautan.
Segala kesia-siaan selalu membuntuti kita dalam [...]
Judul Buku : Pastoral Kupukupu
Penulis : I Made Suantha
Penerbit : Arti Foundation
Tebal : ix + 143 halaman
Cetakan Pertama : Agustus 2008
Sekitar tahun 1980-an, Bali banyak ditumbuhi penyair muda. Mereka berlomba-lomba merebut ruang sastra di Bali Post yang diasuh motivator, pencari bakat, penyair sekaligus “suhu” puisi, Umbu Landu Paranggi. Saat itu, penyair muda bermunculan hampir di setiap kabupaten di Bali. [...]
Oleh Wayan Sunarta
Dunia seni rupa termasuk sangat jarang menampilkan atau menggelar pameran lukisan cat air. Bisa jadi karena lukisan cat air hanya dianggap sebagai studi, sama halnya dengan sketsa, bukan lukisan final. Anggapan ini cukup kuat menghuni alam pikiran banyak pelukis. Beberapa tahun terakhir yang banyak memenuhi jagat seni rupa adalah lukisan-lukisan dengan bahan akrilik [...]