IGAU # 3
Senja mulai dengan angan-angannya. Hari mendung dan hujan mulai turun dengan jari-jarinya yang menawan. Aku sendiri. Secangkir kopi di meja terlihat kusam dan membosankan. Segeralah aku kembali kepada diri. Kemanakah segala yang telah terjadi? Semua menjadi perhentian akhir yang tidak pernah aku kenali sebelumnya. Maka mari kita lari pada kenyataan yang lebih rumit untuk kita mulai membunuh waktu sepuas kita. Lalu kita akan tahu betapa hari begitu melelahkan ketika senja akan tiba di dalam diri kita. Apa pula yang bernama kesamaran selain waktu yang meminta pada kemurniannya sendiri?
Kita telah menjadi paripurna hanya beberapa saat setelah menjelang badai dan ombak mulai surut di tengah pasir yang ranum seperti jiwamu. Dan jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti. Teruskan jalanmu mencapai rumah kerang yang ternganga di tepian pantai itu. Lalu akan kau temukan sebuah mercusuar menyala di kegelapan hatimu yang menawan setiap malaikat-malaikat bermata biru itu, maka segeralah rebut segala kemenangan untuk dirimu dan dirinya.
Akan kau bawa kemana jiwa luka manusia, selain hanya mengajarkan hal sia-sia pada waktu yang terus merambat ke puncak hidupmu sendiri dan kau tidak pantas mendapatkan apa yang dijanjikan dewa kepadamu.
Beri saja sepotong jarimu untuk semua mahkluk yang kau ciptakan dan tidak kau ciptakan demi hujan yang terus berderai. Maka lewat kaca kau akan membuka tabir bumi dan langit dimana dirimu sendiri tiada.
Kita menjadi mainan dalam permainan itu. Lalu apa daya kita seusai percintaan yang memabukkan? Dan segeralah cari apa yang kau rasa apa yang kau ingin apa yang kau damba dalam jiwamu paling dalam. Jangan berhenti, jangan berhenti, meski sekejap mata.
(2008)
Trackbacks
Leave a Reply