IGAU # 4
Hujan membiaskan bayang wajahnya di pelupukmu yang basah. Aku dengar musik kematian lamat-lamat menyanyi dari kedalaman jiwamu. Jangan berhenti. Teruskan saja langkahmu. Tiriskan saja kesia-siaanmu. Ayo, kau orang punya jiwa. Mata menari seumur melodi. Dan tidakkah kau merasa sekutumu menjauh? Dan kau pun akan ambruk dalam permainan ini. Oh menarilah demi umurmu sendiri, demi waktumu, demi harimu, demi malaikatmu, demi setanmu.
Dan aku akan jalan. Dan kau akan diam. Persetan dengan segala yang terjadi. Hari akan menepi seusai hujan dan janji airmata tidak akan tumpah di bias senja yang selalu jingga dan kita terpana pada jiwa kelam dan kau mabuk setiap waktu dan tuak membungkusmu dengan keraguan dan apa pula yang ada di jiwa mereka. Kau hanya akan menjadi sekelumit bayangan.
Mabuklah kau dengan kata-kata api yang menyembur dari mulut Durga. Aku kira kau akan bernafas seperti kepiting atau keong jalanan. Tapi apa yang kau kira kemalangan hanya gambaran semu dari pikiran. Menari saja di deras hujan kau akan temukan kebahagiaan yang telah dilupa orang. Hanya segelintir saja yang merasa hujan telah membasuh jiwanya. Kita telah menemukan kebahagiaan di segala macam bencana dan mala.
(2008)
Trackbacks
Leave a Reply