IGAU # 5

 
Berikan apa yang jadi milikmu demi menguras sampah dalam jiwamu. Tidak ada yang tak mungkin selama kau merasa mungkin. Cangkir kopi akan kembali kering dan kau tidak perlu ragu menjauh dari sisa-sia waktu yang merongrong hidupmu dengan janji-janji busuk dan anjing-anjing jalanan akan membuka matanya demi jalanmu yang setapak itu. Lalu apa lagi yang kau tunggu? Kau masih meregang dan menangis di bawah purnama yang hampir lindap selama musim cinta.

Jalan hidupmu adalah cahaya dan kau menjauhi cahaya. Maka kegelapan adalah temanmu yang paling malang yang melinats sejenak dalam hidupmu lalu pergi dengan senyum yang paling setan. Dan apa pula di muka pintu kau taruh tanda duka dan mata wanita itu hanya merunduk dalam senyumnya fana dan kau tidak menyentuh segala yang ada dan terhidangkan di hadapanmu yang selalu saja kau sia-siakan dalam perjalanan hidup yang semakin rumit dengan jeda. Hanya saja aku memikirkan segala kelimunan dan halimun yang segera sirna di pagi hari dan senja petaka negeri ini. Lalu apa yang kau tuangkan dalam bumbung waktu selain dukamu yang tidak abadi. Apa yang kau ingin dari warna daun waru yang lindap dan berguguran menjadi pusat segala cahaya matamu.

Mari kita kembali berjalan tanpa henti memasuki gua rahasia yang kita bagun bagi diri kita dan kita tingggalkan sebagai oleh-oleh kematian anak-anak kita. Kita telah terusir dari neraka dan mencoba mendambakan sorga di bawah kaki ibu kita yang malang dan yang kita khianati selalu. Siapa ibu kita? Ia adalah ibu bumi yang senantiasa sabar menungggu kematianmu detik demi detik dan selalu tidak berdaya dengan dirinya sendiri. Kau tak perlu melukai setiap manusia yang mampir ke dalam hidupmu. Apa pula yang kau harap dari bulan separuh menggantung di atas langit malam hidupmu? Semua akan kembali ke gua pengasingan yang paling kelam.

Aku kira kau akan menjadi fana dalam deras hujan dan hujan akan menjadi fana dalam kegaibanmu yang bergelimang ketawa dan senyum dan juga duka. Lalu dimana kita mesti memasuki hidup yang lamun dan selalu dihinggapi kecewa. Apakah batu kubur dan arak cukup mampu melukiskan segala yang bernama kebenaran dalam setiap hidupmu dan setiap hitungan matahari yang mulai rabun oleh kegelapan dunia yang kita zalimi. Ah, aku hanya kesia-siaan yang meratapi nasib setiap akhir hujan dan tanpa tahu dimana mesti mengalirkan duka ke dalam hidup yang sempit dan tidak berguna dengan atau tanpa kemauan.

(2008)

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php