Lorong Batu

menyusuri lorong batu
aku menemukan jiwaku tersesat di situ
lumut mengerak
dan aku kaku tanpa gerak
entah di mana ujung lorong batu ini
aku menepi dari hari
yang menindas kesejatianku
lorong batu
di kiri kanan rumpun bambu
seberapa jauhkah kerling matamu
hingga aku terpukau
hamparan lumut yang terus merambat
ke lubuk terkelam jiwaku
aku telah tersesat
aku biarkan diri hanyut
menyusuri lorong batu
 
Januari 2009

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 26th, 2009

Lovina (2)

dedaun waru menatap sendu
pelupuk kelabu matamu
kepiting ragu-ragu melaju
di hampar pasir hitam
jiwa galau menatap samudra
sampai dimanakah kita
lelah adalah langkah terakhir
sebelum sampai di ujung pesisir
 
Januari 2009

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 21st, 2009

Angin Telah Kembali

     -kepada ketut suwidja-
 
kemana kini arah angin bertiup
entah sampai dimana lelayang sanggup terbang
        tak tahu gerimis telah mewarnai hari
usai sudah segala mimpi masa kanak
tak satu pun mampu direguk dari bumbung waktu
suara sunari makin menjauh
usai pula percakapan di bawah temaram bulan
walau kau masih rindu melantunkan selarik sajak
         irama dalam jiwa telah mati rasa
dan kau hanya termangu [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 20th, 2009

Lovina (1)

- iv-
 
 
begitulah ombak pagi ini
menepi merayapi celah indah hatimu
 
secangkir kopi dan jiwa yang baka
mengapa mesti kau kisahkan resah
          selalu ada yang berlalu
dan kita lebih dari paham
                        untuk tidak bertanya
 
jukung telah menjemput
kita melaju menyibak ombak
bertukar kabar pada angin
berbagi kasih pada pekik camar
mengaca pada mata bening lumba-lumba
agar mengerti makna kedalaman cinta
 
iv, di manakah akhir pelayaran
         [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 12th, 2009

Singa Tua

-obituari Penyair Ketut Suwidja-
 
singa tua yang sendiri itu
telah lesap ke dalam asap
dupa dan kemenyan
tiada lagi penguasa halimun
di hutan larangan
semua suara jadi senyap
bunga-bunga kopi luruh
di tengah gerimis amis
darah beku dalam tubuh
pucuk-pucuk cengkeh
perlahan kelam
angin hanya sisa
di sela-sela dedaunnya
yang hitam yang pekat
singa berbulu kelabu itu
adalah turunan singa bersayap api
ketika muda suka mengembara
ke lembah dan ngarai
menyusuri tepi laut dan [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 10th, 2009

Putu Kaler dan Luh Sari

Cerpen: Wayan Sunarta
 
Telah berhari-hari Putu Kaler memburu burung perkutut itu. Ia telah menjelajahi sawah dan ladang desa tetangganya, namun burung bersuara merdu itu belum juga mampu dipikatnya. Demi mendapatkan burung itu Kaler tidak sungkan menginap di gubug di tengah ladang atau numpang tidur di rumah penduduk yang ditemuinya ketika senja semakin merambat menjadi malam yang [...]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 4th, 2009
Page 1 of 11