menyusuri lorong batu
aku menemukan jiwaku tersesat di situ
lumut mengerak
dan aku kaku tanpa gerak
entah di mana ujung lorong batu ini
aku menepi dari hari
yang menindas kesejatianku
lorong batu
di kiri kanan rumpun bambu
seberapa jauhkah kerling matamu
hingga aku terpukau
hamparan lumut yang terus merambat
ke lubuk terkelam jiwaku
aku telah tersesat
aku biarkan diri hanyut
menyusuri lorong batu
Januari 2009
dedaun waru menatap sendu
pelupuk kelabu matamu
kepiting ragu-ragu melaju
di hampar pasir hitam
jiwa galau menatap samudra
sampai dimanakah kita
lelah adalah langkah terakhir
sebelum sampai di ujung pesisir
Januari 2009
-kepada ketut suwidja-
kemana kini arah angin bertiup
entah sampai dimana lelayang sanggup terbang
tak tahu gerimis telah mewarnai hari
usai sudah segala mimpi masa kanak
tak satu pun mampu direguk dari bumbung waktu
suara sunari makin menjauh
usai pula percakapan di bawah temaram bulan
walau kau masih rindu melantunkan selarik sajak
irama dalam jiwa telah mati rasa
dan kau hanya termangu [...]
- iv-
begitulah ombak pagi ini
menepi merayapi celah indah hatimu
secangkir kopi dan jiwa yang baka
mengapa mesti kau kisahkan resah
selalu ada yang berlalu
dan kita lebih dari paham
untuk tidak bertanya
jukung telah menjemput
kita melaju menyibak ombak
bertukar kabar pada angin
berbagi kasih pada pekik camar
mengaca pada mata bening lumba-lumba
agar mengerti makna kedalaman cinta
iv, di manakah akhir pelayaran
[...]
-obituari Penyair Ketut Suwidja-
singa tua yang sendiri itu
telah lesap ke dalam asap
dupa dan kemenyan
tiada lagi penguasa halimun
di hutan larangan
semua suara jadi senyap
bunga-bunga kopi luruh
di tengah gerimis amis
darah beku dalam tubuh
pucuk-pucuk cengkeh
perlahan kelam
angin hanya sisa
di sela-sela dedaunnya
yang hitam yang pekat
singa berbulu kelabu itu
adalah turunan singa bersayap api
ketika muda suka mengembara
ke lembah dan ngarai
menyusuri tepi laut dan [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Telah berhari-hari Putu Kaler memburu burung perkutut itu. Ia telah menjelajahi sawah dan ladang desa tetangganya, namun burung bersuara merdu itu belum juga mampu dipikatnya. Demi mendapatkan burung itu Kaler tidak sungkan menginap di gubug di tengah ladang atau numpang tidur di rumah penduduk yang ditemuinya ketika senja semakin merambat menjadi malam yang [...]