Putu Kaler dan Luh Sari
Cerpen: Wayan Sunarta
Telah berhari-hari Putu Kaler memburu burung perkutut itu. Ia telah menjelajahi sawah dan ladang desa tetangganya, namun burung bersuara merdu itu belum juga mampu dipikatnya. Demi mendapatkan burung itu Kaler tidak sungkan menginap di gubug di tengah ladang atau numpang tidur di rumah penduduk yang ditemuinya ketika senja semakin merambat menjadi malam yang kelam.
“Permisi, Pak. Boleh saya numpang tidur di rumah Bapak? Saya sedang mengincar burung perkutut yang bertengger di salah satu pohon di ladang Bapak,” begitu Kaler berkata santun pada pemilik rumah yang ditemuinya ketika kemalaman. Dan biasanya pemilik rumah mengijinkan tamu yang tidak diundang itu menginap di rumahnya. Para penduduk desa sudah paham dengan kebiasaan para pemburu burung perkutut yang kadangkala bisa seminggu tidak pulang demi mendapatkan burung yang sedang diincarnya.
Pada kesempatan lain, Kaler kadang bermalam di ladang sambil terus mengintai burung yang bertengger di atas pohon. Kaler tidak ingin kehilangan buruannya. Kemana pun burung itu terbang, pasti akan dicarinya. Ia akan memasang burung pemikat yang ditaruh di dalam sangkar. Burung pemikat akan bernyanyi merdu mengundang burung pejantan yang sedang diincar oleh Kaler. Dan lelaki gesit itu akan menunggu dengan sabar dari jarak yang agak jauh sampai burung itu benar-benar masuk ke dalam perangkapnya.
Ketika hari semakin meninggi, Luh Sari, istrinya, akan mengantarkan makan siang buat suaminya yang setia menunggui burung perkutut itu masuk perangkap.
“Apa burungnya sudah kena pikat?” tanya Luh Sari sambil menghidangkan makan siang di sebuah gubug di tengah ladang, suatu hari.
“Tadi hampir kena. Sayang sekali ada buah kelapa kering jatuh sehingga burung itu kabur lagi,” gumam Kaler kecewa.
“Ya mesti sabar, Bli. Atau mungkin burung pemikat itu kurang merdu suaranya?”
Kaler terdiam. Namun pikirannya terbang ke mana-mana. Apa mungkin burung pemikat kurang merdu suaranya? Ah, tidak mungkin! Burung betina itu telah terbukti mampu memikat banyak pejantan.
“Kamu kan lihat sendiri, Luh? Di rumah kita ada banyak burung perkutut yang berhasil kupikat dengan perkutut betina itu. Bahkan hampir semua burung yang kupikat bersuara bagus dan banyak yang mau membelinya.”
“Tapi mengapa Bli tidak mau menjualnya?” tanya Luh Sari sambil memasang muka sedikit cemberut.
“Tidak, Luh. Burung-burung itu tidak akan Bli jual. Bli sangat sayang pada mereka. Kau bisa dengar setiap hari, burung-burung itu selalu menghibur kita dengan nyanyiannya yang merdu. Nyanyian yang melenakan jiwa kita, Luh.”
Luh Sari hanya terdiam mendengar kicauan suami tercintanya itu. Dia sadar memang tidak bisa membahagiakan suaminya. Hampir sepuluh tahun mereka menikah, namun belum juga dikarunia momongan. Bersyukur pula suaminya tidak terlalu mengeluh dengan kondisi mereka. Dan Luh Sari tidak juga tahu apakah dirinya yang mandul atau suaminya.
Dan kini burung-burung perkutut itu menjadi tumpuan kebahagiaan mereka. Suaminya bisa betah berjam-jam duduk di bale-bale sambil memainkan jari-jarinya untuk melatih burung itu bernyanyi. Kadangkala ia bisa berlama-lama di pasar burung mencari pakan yang bermutu bagus agar burung peliharaannya bisa bersuara merdu. Burung-burung perkutut itu sudah seperti anak-anaknya saja, selalu menjadi tumpuan kasih sayang.
Pada awalnya jelas Luh Sari kecewa dan cemburu dengan tingkah laku suaminya yang terlalu sibuk memperhatikan burung-burungnya. Apalagi ketika Kaler mulai jarang di rumah karena asyik memikat burung sampai berhari-hari ke desa tetangga. Kalau sudah begitu Luh Sari hanya bisa pasrah dan harus puas dengan nasib yang diterimanya. Namun pernah juga mereka bertengkar gara-gara persoalan burung.
“Bli, mengapa Bli hanya sibuk mengurus burung-burung itu? Mengapa Bli tidak pernah punya waktu untuk saya?” sengat Luh Sari ketika pagi-pagi dilihatnya suaminya asyik bercengkerama dengan perkututnya di bale bengong.
Tentu saja suaminya kaget. Burung perkutut dalam sangkar apik itu pun juga ikut-ikutan panik.
“Kenapa pagi-pagi sudah marah-marah, Luh?!” ujar Kaler sambil berusaha menenangkan burungnya yang panik.
“Antarkan saya ke pasar!”
“Lho, kamu kan sudah biasa ke pasar sendiri? Mengapa sekarang minta diantarkan?” tanya Kaler polos sambil membetulkan letak sarungnya yang melorot.
“Terus terang saja, Bli. Saya sudah bosan hidup begini. Setiap hari harus memberi makan burung-burungmu itu, sementara Bli sibuk ngeluyur memikat burung lain.”
“Luh, mengapa ini jadi masalah? Bukankah kamu sudah biasa melakukannya setiap hari? Kamu juga sering mengantar makanan ketika Bli sedang asyik memikat burung.”
“Iya. Tapi Bli tidak mengerti perasaan saya!”
Sambil menangis terisak-isak Luh Sari berlari-lari kecil meninggalkan suaminya yang bengong melongo.
Sebentar kemudian Kaler kembali asyik dengan burung perkututnya. Ia memainkan jari-jarinya di depan burung itu. Mulutnya bersiul-siul memancing burung itu agar ikut bersuara. Namun agaknya perkutut itu mengerti kesedihan Luh Sari sehingga burung itu mogok bernyanyi.
“Ayo, nyanyi! Nyanyi yang merdu!” ujar Kaler pada burung perkututnya.
Burung itu masih saja kalem dalam sangkarnya.
Kesabaran Kaler mulai habis. Digoncang-goncangkannya sangkar burung itu. Bukannya membuat burung itu mau bernyanyi, malah burung itu menjadi panik. Karena kesal, Kaler menendang sangkar burung itu. Pintu sangkar rusak dan terbuka. Burung itu pun terbang ketakutan. Awalnya burung itu terbang rendah kesana kemari.
“Aduh….gawat! Burungku lepas! Burungku lepas!”
Kaler berlari-lari panik berusaha menangkap burungnya yang telah melesat dan hinggap di ranting pohon nangka di halaman rumahnya.
Kaler berusaha merayu burung itu agar kembali turun dan mendekatinya. Ia terus menjentik-jentikkan jemarinya sambil bersiul-siul memanggil perkutut kesayangannya. Namun burung itu masih saja nangkring di atas pohon nangka, seakan mengejek Kaler.
Dengan lesu Kaler menjatuhkan tubuhnya di atas bale-bale bambu. Beberapa saat kemudian Luh Sari datang dari pasar. Wajahnya masih cemberut. Namun Luh Sari kaget juga ketika mendapati Kaler meringkuk dengan wajah kusut di sudut bale-bale. Lebih kaget lagi ketika melihat sangkar burung yang pintunya koyak.
“Kenapa, Bli? Ada apa?” seketika wajah cemberut Luh Sari pudar, berganti panik. Dia cemas kalau penyakit asma suaminya kumat lagi.
“Burungku lepas, Luh.”
“Kenapa bisa lepas, Bli?”
“Kutendang tadi.”
Luh Sari terdiam.
Sementara itu burung yang tadi bertengger di ranting nangka telah melesat terbang menjauhi rumah mereka. Tapi kuping Kaler masih sempat mendengar lamat-lamat nyanyian merdu suara burung yang kini menjauh itu.
Kaler bergegas bangkit dari duduknya. Kemudian buru-buru menyambar burung pemikat beserta sangkarnya.
“Luh, Bli pergi dulu. Bli mau mengejar burung itu. Nanti siang bawakan Bli makanan ya..!”
Luh Sari geleng-geleng kepala menatap kepergian suaminya yang tidak sempat berganti sarung.
Kaler masih terus memburu burung perkututnya. Sudah berpetak-petak sawah ia seberangi. Telah berbidang-bidang ladang ia jelajahi. Ia tidak ingat lagi berapa gubug pernah disinggahinya, berapa rumah penduduk pernah ditumpanginya. Suara burung perkutut itu terus terngiang-ngiang dalam gendang telinganya, melantunkan gema yang menyusup menentramkan jiwanya.
“Ayah, mengapa Ayah menendang saya?! Saya takut, Ayah!”
Sayup-sayup Kaler mendengar suara di dalam kepalanya.
“Siapa kamu?! Mengapa memanggilku Ayah?” Kaler terkesiap. Samar-samar ia melihat wajah bocah yang gemetar ketakutan.
“Saya anakmu.”
“Aku tidak punya anak!”
“Kamu punya, Ayah.”
Bocah itu perlahan memudar dari pandangan Kaler.
Tiba-tiba sebuah tangan menjulur menyentuh pundaknya. Kembali Kaler terkesiap. Gelagapan ia terbangun dari tidurnya.
“Pak, bangun! Sudah pagi! Saya mendengar suara perkutut di pohon mangga. Mungkin itu burung yang Bapak cari,” ujar pemilik rumah tempat Kaler menginap sembari mengarahkan telunjuknya ke pohon mangga yang dimaksud.
“Ya. Tidak salah lagi. Itu burung yang saya cari berhari-hari,” jawab Kaler.
Kaler bergegas mengintai burung itu. Sangkar burung pemikat memang telah digantungnya di dahan mangga kemarin sore. Dan sekarang perkutut yang diburunya sedang mendekati burung pemikat. Perlahan namun pasti, burung itu berhasil dipikatnya. Kaler pun pulang ke rumah sambil bersiul-siul bahagia.
Di rumah, Luh Sari telah menanti kedatangan Kaler dengan harap-harap cemas. Begitu melihat Kaler muncul di pintu pagar, Luh Sari langsung menghambur memeluk Kaler.
“Bli, saya terlambat datang bulan. Saya hamil, Bli!” seru Luh Sari dengan wajah berbinar-binar.
Kaler terkesiap, namun bahagia. Sudah lama ia menanti kabar gembira ini. Kaler mengelus rambut Luh Sari penuh kasih sayang. Kaler kembali mengingat mimpinya. Apakah bocah yang hadir samar-samar dalam mimpinya itu akan menjadi kenyataan?
“Bli bahagia mendengar kabar gembira ini, Luh. Bli berjanji tidak akan pergi memikat burung lagi. Bli akan lebih sering di rumah menemanimu, melihat perutmu semakin membesar, dan menunggu kelahiran anak kita.”
Luh Sari terharu dan bahagia menatap suaminya. Burung-burung perkutut bernyanyi merasakan kebahagiaan mereka.****
(Karangasem, Bali, April 2008)
Trackbacks
Leave a Reply