Kerling Mata Penari Cokek
Cerpen: Wayan Sunarta
“Percuma kau meratapi langit Jakarta. Kau tidak akan melihat cahaya purnama, seindah di langit Bali,” tegur seseorang. Aku terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara.
Hae, kawan lamaku, sudah berdiri di depanku sambil memamerkan senyum khasnya. Ternyata tanpa kusadari, dia memergokiku duduk termangu di sudut terminal memandangi langit malam. Jarum jam di dinding terminal menunjuk angka tujuh.
“Beruntung kau tidak dikuntit pencopet,” ujar Hae lagi.
Aku tertawa. Kami bersalaman, saling bertukar kabar.
“Aku takjub dengan kotamu,” ujarku. “Bagaimana bisa langit kotamu menyembunyikan cahaya purnama dari mataku?”
“Jangankan cahaya purnama, kau sendiri bisa hilang ditelan gemuruh kota ini,” kata Hae datar.
Aku tersenyum pahit, sebuah pernyataan ironis baru saja mampir ke kupingku.
Akhirnya tiba juga aku di Jakarta, pikirku. Gerah udara sore dan bising kendaraan menyambut kedatanganku di Terminal Rawamangun. Hae kuminta menjemputku di terminal. Dan ternyata Hae sudah sejak sore tadi menunggu kedatanganku dengan harap-harap cemas. Aku tidak tahu dimana dia menungguku tadi.
Aku dan Hae sudah berkawan sejak lama, hampir lima tahun. Hae orang Betawi asli. Beberapa kali aku mengutarakan keinginanku untuk mengunjungi Jakarta. Dan baru hari itulah untuk pertama kalinya aku menjejakkan kakiku di Kota Jakarta, berkat sebuah surat undangan acara sastra, pembacaan puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM).
“Ayo, bawa ranselmu, kita bersiap-siap menjelajahi malam dan rimba belantara Jakarta,” Hae menyalakan sebatang rokok kretek. “Malam ini kau menginap di rumahku.”
Aku segera menyandang ransel di punggung dan berjalan membuntuti langkah Hae yang panjang-panjang. Dia menyetop bus yang penuh sesak dengan penumpang yang nampak kelelahan menghadapi hidup.
“Hati-hati dompetmu!” ujar Hae sebelum kami buru-buru naik ke dalam bus. Hampir saja aku terjatuh karena belum genap dua kakiku menjejak, bus itu sudah melaju. Harus buru-buru dan hati-hati, itulah pelajaran pertama yang kudapat di Jakarta.
Belum dua puluh menit, bus berhenti. Kami turun. Hae kembali menyetop sebuah mobil omprengan. Kami naik ke dalam mobil dan berdesak-desakan di dalamnya. Campuran bau keringat dan wangi parfum penumpang benar-benar memabukkan. Aku memeluk erat-erat ranselku dan sesekali meraba dombet di saku dalam jaket jeanku untuk memastikan aman dari tangan-tangan tak terlihat.
Tak berapa lama kami turun lagi. Sebuah bus disetop lagi oleh Hae, dan kami buru-buru naik ke dalamnya, kali ini aku tidak terpeleset. Kembali aku menemui wajah-wajah kuyu yang seakan bosan hidup, namun enggan pula untuk mati. Kerlap-kerlip lampu-lampu pertokoan dan temaram merkuri jalanan menyadarkan aku bahwa manusia hanya laron yang tak bosan memburu cahaya untuk hangus di dalamnya. Cahaya senantiasa menggoda mata.
Bus berhenti di depan sebuah gang. Kami turun. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan kaki sekitar tiga puluh menit, menyusuri gang yang dipadati perkampungan yang nyaris kumuh. Aku berjalan tertatih menahan berat ransel di punggung.
“Nah, kita telah sampai di rumah,” seru Hae dengan wajah sumringah, seakan lepas dari neraka jahanam jalanan Jakarta.
Sebatang pohon leci besar dan rindang menyambut kedatangan kami. Seonggok rumah mungil sederhana tumbuh tidak jauh dari pohon leci itu. Di rumah itu, di daerah Kembangan, Jakarta Barat, Hae tinggal bersama ayah, ibu dan dua adiknya yang remaja. Hae sendiri tidak punya pekerjaan tetap. Dia kerja serabutan. Kadang menulis artikel di beberapa koran, kadang mengurusi proyek kesenian di TIM. “Yang penting, bisa untuk makan,” katanya suatu kali.
Aku duduk di emperan rumah sambil merenungi pohon leci yang besar dan rindang itu. Hae menatapku heran.
“Ada juga pohon leci di Jakarta!” ujarku takjub.
“Ya, ada dong. Masak di Bali aja ada pohon leci,” jawab Hae seadanya. “Pohon leci itulah satu-satunya sumber kenyamanan kami di sini.”
Aku terdiam. Apakah yang mampir ke kupingku kali ini sebuah pernyataan ironis lagi?
“Kau mau langsung istirahat atau menonton Wayang Cokek?” tanya Hae.
“Wayang Cokek? Apa itu? Sejenis wayang kulit?”
Hae kembali memamerkan senyum khasnya, senyum lebar yang membuat wajahnya nampak lucu. Aku juga tersenyum, namun lebih pada senyum yang mungkin terlihat konyol.
“Sudahlah. Nanti saja aku jelaskan. Aku jamin kau pasti senang menontonnya. Yang jelas, kita tidak nonton wayang kulit, tapi menyaksikan goyang gemulai penari berkulit mulus. Kesenian khas Betawi, Bro!” Hae tersenyum penuh arti padaku.
Sebenarnya tubuhku sejak tadi terasa remuk dilumat belantara Kota Jakarta, belum lagi perjalanan jauh naik bus dari Bali ke Jakarta. Dalam mataku yang terbayang-bayang hanya kasur empuk untuk melempar tubuh letihku. Tapi tawaran Hae sungguh menggoda rasa ingin tahuku.
“Baiklah. Aku ingin lihat Wayang Cokek. Siapa tahu dapat puisi nanti,” ujarku.
“Nah, itu maksudku. Ini kesempatan langka buatmu, mumpung kau di Betawi. Kapan lagi kau bisa lihat Wayang Cokek, ya kan?”
Setelah mandi dan makan malam, aku dan Hae kembali berjalan menyusuri gang di seputaran kampungnya. Hae terlihat sibuk membalas sapaan orang-orang yang ditemuinya di jalan atau anak-anak muda yang sedang nongkrong di gardu ronda. Ternyata Hae sangat dikenal di kampungnya, pikirku.
“Walaupun pemukiman orang-orang Betawi terus terdesak akibat pembangunan dan perkembangan Kota Jakarta yang sangat pesat, kami masih cukup kuat menjaga tradisi leluhur,” Hae berceloteh, seakan paham apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku.
Aku dan Hae terus berjalan menyusuri gang yang berliku-liku dan padat pemukiman. Hae masih sibuk berceloteh tentang kampungnya dan kehidupan di Jakarta. Aku merenungi setiap kata-katanya. Sayup-sayup aku mendengar alunan tetabuhan musik yang terasa aneh dan asing di kupingku, bersahut-sahutan dengan sorak-sorai dan tepuk tangan.
“Itu musik Gambang Kromong. Kita sudah sampai di tempat pertunjukan Wayang Cokek,” ujar Hae.
Kami mempercepat langkah, hingga tiba di sebuah rumah besar yang terlihat meriah dan halamannya penuh disesaki orang. “Rumah ini milik mantan cukong Cina peranakan terpandang di kampung ini. Wayang Cokek itu sengaja dipentaskan untuk memeriahkan resepsi pernikahan anak lelakinya,” jelas Hae layaknya guide profesional yang sering kujumpai di Bali.
Kami berusaha menembus kerumuman penonton dan berhasil mendapatkan tempat yang agak longgar persis di depan kalangan atau arena pementasan. Musik Gambang Kromong terdengar nyaring di kupingku. Aku terkesima menyaksikan dua perempuan cantik berkostum meriah dari ujung rambut sampai kaki menari-nari gemulai sambil goyang-goyang pinggul dengan gerakan-gerakan erotis. Cantik sekali mereka! Ai…ai…ai…kerling matanya sangat menggoda!
“Gimana, Bro? Asyik, kan?” Hae menyenggol lenganku. “Nanti kau bisa ikut ngibing, kalau kau mau.”
Dua lelaki masuk ke dalam kalangan. Mereka menari-nari dengan gerakan-gerakan yang tidak teratur, nampak bersemangat mengibingi penari itu. Seorang pengibing berusaha menciumi penari, tapi ciumannya selalu meleset ditepis oleh penari. Penonton bersorak-sorai menyaksikan adegan lucu itu.
Ngibing? Bukankah tarian yang kulihat ini mirip Joged Bumbung di Bali? Gerakan-gerakan tarinya juga erotis dan ada pengibingnya. Aku baru tahu, kalau di Jakarta yang gemerlap ini ada tari pergaulan tradisional seperti yang biasa kutonton di Bali.
“Pada jaman dulu, Wayang Cokek banyak dibina dan dikembangkan oleh juragan-juragan dan tuan tanah Cina yang kaya raya. Sekarang kesenian ini sudah semakin sulit ditemui. Bahkan pemerintah DKI Jakarta pun tidak terlalu peduli dengan nasib kesenian ini. Mungkin pemerintah lebih sibuk memikirkan urusan keselamatan kursinya,” bisik Hae dengan wajah prihatin.
Aku terdiam, sibuk meresapi kata-kata Hae. Di Bali pun banyak kesenian tradisional yang terlantar dan para pemainnya lebih sering diangkut truk layaknya sapi untuk dipentaskan di hotel-hotel berbintang di Nusa Dua atau Sanur. Yang kaya hanya para calo atau cukong kesenian. Senimannya tetap saja merana.
“Nasib Wayang Cokek akan lebih tragis lagi dengan berlakunya UU Anti Pornografi & Pornoaksi,” ujar Hae sedih. “Orang Betawi akan kehilangan kesenian nenek moyangnya!”
Aku menengadahkan kepala, menatap langit Jakarta. Antara kampung dan kota ternyata hanya dipisah jarak yang sangat tipis. Di seberang perkampungan ini nampak bangunan-bangunan raksasa menjulang menjarah langit dengan lampu-lampu gemerlap.
Dalam perkampungan ini sedang meriah dengan pesta perkawinan dan pementasan Wayang Cokek yang memesona namun bernasib tragis. Di seberang sana, di dalam bangunan-bangunan kaku mirip kotak korek api itu tentu ada banyak pesta yang lebih meriah. Pesta halal atau pun pesta haram, sudah begitu sulit dibedakan.
Bulan purnama perlahan memancarkan cahaya redupnya dari kerumunan kabut asap kendaraan yang membungkus langit Jakarta. Seberkas cahayanya berusaha menyinari wajah penari Cokek yang nampak riang malam itu. Tepat di belakang penari, di seberang perkampungan, aku melihat gemerlap lampu-lampu dari pucuk-pucuk bangunan dengan perasaan rawan. Cahaya purnama dan lampu-lampu itu saling berebut perhatian manusia. Manusia selalu tergoda untuk memburu cahaya, layaknya laron-laron di musim hujan.
Di dalam bangunan-bangunan yang menjulang itu, mungkin sejumlah perselingkuhan sedang berlangsung, rencana jahat dan niat busuk sedang disusun. Di pucuk bangunan yang lain, mungkin para tokoh partai sedang memeras otak untuk kesuksesan partainya dengan menghalalkan segala cara, atau anggota DPR sedang bertengkar dengan istri simpanannya. Sejumlah adegan pembunuhan bisa saja sedang terjadi di bangunan yang lainnya. Siapa yang tahu? Siapa yang peduli? Kita hanya bisa menduga. Dan menduga yang tidak terduga adalah riskan. Serawan menduga kilau kerling mata penari Cokek itu.
Pagelaran Wayang Cokek usai sekitar jam satu malam. Kami pulang berbekal kaki penat dan badan letih. Sesampai di rumah Hae, aku langsung cuci muka dan melempar tubuh ke atas kasur. Malam pertamaku di Jakarta begitu mengesankan. Beribu kunang-kunang mengerubungi mimpiku, silih berganti dengan kerling mata penari Cokek yang menakik jiwaku.***
Trackbacks
Leave a Reply