Apresiasi Masyarakat Terhadap Seni Patung Masih Rendah

 

Brata Yasa dan Karya-karyanya

Brata Yasa dan Karya-karyanya

Di Bali sangat sedikit pematung yang kreatif. Pematung yang benar-benar membuat patung dari ide-idenya sendiri. Dulu ada Ida Bagus Nyana, Ida Bagus Tilem, Cokot, Tekelan, yang merupakan para pematung maestro yang pernah dimiliki Bali. Mereka membuat patung dengan coraknya sendiri dan memiliki karakter-karakter yang kuat serta unik.

 

Kini pematung-pematung dari Bali yang cukup menonjol bisa dihitung dengan jari tangan, di antaranya adalah Made Brata Yasa. Dia merupakan pematung otodidak. Karya-karyanya yang terbuat dari kayu sangat unik dan mengandung karakteristik tersendiri.

 

Sebelum memutuskan menjadi pematung pada tahun 1994, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini pernah menekuni berbagai jenis pekerjaan. Dia pernah menjadi Accounting Manager Legian Beach Hotel. Pernah pula merasakan jadi Pegawai Negeri Sipil dan menjabat Kepala Bagian di lingkungan Rektorat Universitas Udayana. Pernah sebagai Konsultan Lapangan pada sebuah perusahaan kontraktor di Denpasar. Kemudian menjadi Manager Hotel Puri Bambu Bungalow di Kedonganan, Kuta.

 

“Semua pekerjaan itu hanya membuat saya mapan dan puas secara materi, namun batin saya merana,” ujar Brata Yasa ketika ditemui di “Bali-Belo”, studionya di Banjar Sumampan, Kemenuh, Sukawati, Gianyar, Bali.

 

Brata Yasa lahir di Payangan, Gianyar, Bali, 8 April 1949. Bakat seni yang terlambat disadarinya diwarisi dari kumpi atau ayah dari kakeknya. Selain menekuni seni patung, dia juga sesekali melukis. Kadangkala dia juga diminta membuat benda-benda sakral untuk keperluan upacara Agama Hindu, seperti arca dewa-dewa (pretima) dan lembu untuk upacara ngaben. Selain itu, dia menekuni yoga dan meditasi sejak lama untuk menjaga keharmonisan jiwa dan raganya.

 

Baginya, menjadi pematung merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dia tinggalkan semua pekerjaan yang membuatnya mapan, dan mulai berkubang dalam kegelisahan kreatif seorang seniman. Dia mengambil bongkahan kayu, berdialog dengan kayu dan memahat bentuk-bentuk yang terlintas dalam imajinasinya. Hasilnya, sebuah patung dengan wujud unik terbentuk. Batinnya merasa puas.

 

Seiring perjalanan waktu, silih berganti beberapa orang asing berkunjung ke studionya, di antaranya orang Jerman, Belanda, Swiss, Perancis. Mereka terperangah melihat karya-karya Brata Yasa. Mereka mengomentari patung-patungnya mirip corak yang biasa digarap oleh Rodin, Henry Moore, dan patung-patung karya Picasso. Brata Yasa juga kaget mendengar berbagai komentar orang asing tersebut.

 

“Saat itu, jangankan melihat karyanya atau membaca bukunya, nama-nama para maestro itu saja masih asing di telinga saya,” katanya.

 

Maklum saja. Brata Yasa bukanlah pematung yang berangkat dari pendidikan seni akademis. Dia belajar memahat dan membuat patung secara otodidak karena keinginan kuat dari alam batinnya. Karena niat belajar yang kuat, ketika itu dia tidak mau menerima uang ketika orang-orang asing itu membeli beberapa karyanya.

 

“Dengan orang asing itu, saya membarter beberapa patung dengan sejumlah buku tebal berbahasa Inggris tentang seni patung dunia,” ujarnya.

 

Dari buku-buku tersebut dia kemudian belajar lebih jauh tentang seni patung. Tidak hanya ragam corak, namun juga alat, medium dan bermacam teknik patung dunia. Dia juga mempelajari patung-patung bercorak tradisi dari berbagai wilayah. Dia mengikuti perkembangan seni patung modern dan post-modern. Pada dasarnya dia memang suka membaca. Koleksi buku seninya pun semakin lama semakin bertambah banyak. Bahkan beberapa guru dan dosen seni rupa sengaja datang ke studionya untuk meminjam buku. Sekarang, mungkin pengetahuan Brata Yasa tentang seni patung jauh melampaui dosen-dosen seni rupa di Bali. Semua itu berkat ketekunannya belajar dan banyak membaca, suatu kebiasaan yang jarang dimiliki perupa lainnya.

 

Karya-karya Brata Yasa dianggap universal oleh orang-orang asing yang menjadi kolektornya. Dia memang lebih suka dan merasa puas menggarap patung-patung bergaya modern dan post-modern, ketimbang patung bercorak tradisi. Malah seni patung tradisi dipelajarinya belakangan setelah dia cukup lama menekuni teknik anatomi, corak figuratif ekspresionis, transformatif, distorsif, dan realis.

 

“Bagi saya, teknik tradisi tidak terlalu sulit karena sudah tipikel dan ada pakem-pakemnya. Yang sulit justru teknik transformasi bentuk dan distorsi yang mengarah ke gaya post-modern. Saat mengerjakannya selalu ada greget dan tantangan untuk melahirkan karakter yang khas,” tutur Brata Yasa.

 

Ketika menggarap sebuah patung, Brata Yasa terlebih dahulu berusaha melakukan komunikasi dengan kayu. Sebab pada dasarnya setiap kayu memancarkan aura dan memiliki karakteristik yang khas. Kayu yang bagus dan awet untuk patung adalah jenis kayu jepun dan waru yang berusia di atas 30 tahun. Biasanya bongkahan atau batang kayu tua telah dipahat atau diukir oleh alam. Dan dia tidak ingin merusak apa yang telah dikerjakan oleh alam.

 

“Jadi terkadang saya hanya merespon kayu-kayu yang telah dibentuk oleh alam. Hasilnya bisa bermacam-macam wujudnya, tergantung hasil dialog batin dengan kayu dan proses perenungan yang dalam,” kata Brata Yasa menjelaskan proses kreatifnya.

 

Bagi Brata Yasa, ide bisa muncul dari mana saja. Bentuk atau tekstur kayu yang unik bisa menjadi pemantik inspirasinya. Bahkan ketika berdialog dengan kayu, alam bawah sadarnya suntuk bekerja dan sering terbawa-bawa ke alam mimpi. Kayu-kayu itu muncul dalam wujud patung-patung yang unik dalam alam mimpinya.

 

“Ketika mendapatkan ide dari mimpi, saya biasanya langsung terbangun dan bergegas mengambil pahat untuk membuat sketsa wujud patung yang hadir dalam mimpi. Kalau tidak segera dikerjakan, biasanya ide itu akan segera lenyap digantikan oleh ide-ide yang lainnnya. Biasanya patung yang mendapatkan ide dari mimpi lebih cepat jadi,” tuturnya.

 

Brata Yasa sangat senang menikmati hasil karyanya. Ketika sebuah patung selesai digarapnya, dia akan memajang patung itu dulu untuk dinikmati sepuas-puasnya. Ada beberapa patung favorit yang hanya dijadikan koleksi pribadinya. Bahkan dia pernah menangis sedih, seperti berpisah dengan anak kandungnya sendiri, ketika sebuah patung favoritnya ditaksir dan ditawar orang asing. Saat itu dia tidak punya uang sama sekali, mau tidak mau dia harus merelakan patung itu dibeli orang.

 

“Orang asing itu sangat tertarik dengan patung favorit saya. Dia tidak mau membeli patung saya yang lain. Saya mengalami konflik batin. Di satu sisi sangat sayang dengan patung itu, namun di sisi lain saya terdesak oleh kebutuhan ekonomi. Akhirnya keputusan harus diambil, dan dengan berat hati saya melepaskan patung kesayangan saya itu,” ungkapnya.

 

Brata Yasa kadang kala juga diminta membuat patung-patung sakral (pretima) untuk keperluan ritual di Pura. Ketika membuat patung jenis ini dia melakukan ritual secara khusus dan menentukan hari baik menurut kalender Bali (dewasa ayu) agar daya magis patung semakin memancar kuat.

 

“Kalau membuat patung biasa saya tidak melakukan ritual khusus. Cukup berdoa dalam hati agar selalu ditunjukkan jalan terang,” ujarnya.

 

Selain untuk keperluan Pura, dia tidak mau dan menolak membuat atau membisniskan patung-patung yang berwujud dewa-dewa Hindu. “Pantang bagi saya untuk membisniskan patung berwujud dewa-dewa Hindu. Patung-patung jenis itu hanya untuk keperluan tempat suci,” katanya.

 

Brata Yasa telah beberapa kali diundang berpameran bersama. Pada tahun 2003 dia pernah tampil dalam pameran tunggal di GWK Cultural Park, Ungasan, Bali. Untuk mempersiapkan pamerannya itu dia sampai rela menjual mobilnya. Namun ketika memenuhi undangan pameran bersama, dia sangat selektif. Dia tidak mau ikut dalam pameran yang digarap asal-asalan dan dengan tingkat apresiasi yang rendah. Dia juga menolak ikut pameran dengan tema-tema tertentu. Baginya berpameran tidak hanya asal memajang karya, namun mesti bermakna dan bisa diapresiasi secara luas.

 

“Sebenarnya Bali memiliki banyak seniman kreatif. Namun sayang tingkat apresiasi masyarakat terhadap karya seni modern masih rendah, apalagi seni patung. Setiap pameran hanya ramai pada saat pembukaan saja,” ujarnya.

 

Menurut dia, masyarakat Bali lebih menghormati dan menghargai patung-patung yang bernilai sakral ketimbang patung-patung yang bersifat profan walaupun mengandung nilai seni tinggi. Kebanyakan orang Bali melihat patung dari segi nilai fungsi, terutama dalam kaitannya dengan kesakralan.

 

“Saya pernah melihat patung kayu karya maestro Bali, I Cokot,  dipajang asal-asalan di halaman sebuah bank pemerintah. Saya yakin banyak orang tidak tahu bahwa itu karya Cokot yang harganya tidak ternilai. Ini salah satu bukti apresiasi masyarakat terhadap karya patung masih sangat rendah,” ujarnya.

 

Menurut Brata Yasa, untuk menumbuhkan tingkat apresiasi terhadap seni patung bisa dimulai dari pemerintah. Dulu ada istana dan raja sebagai patron seniman di Bali. Dan sekarang seharusnya pemerintah melalui instansi terkait ikut aktif mempromosikan seniman-seniman patung yang kreatif. Misalnya pemerintah menyediakan anggaran untuk membeli hasil karya seniman-seniman kreatif tersebut untuk dipajang di kantor pemerintahan sehingga banyak orang melihatnya. Atau pemerintah mengeluarkan surat yang mewajibkan hotel berkelas internasional memajang patung-patung bernilai seni tinggi di lobby hotel.

 

“Dari sana wisatawan yang hobi dengan seni akan melihat dan kemungkinan menanyakan siapa pematungnya. Syukur-syukur kalau wisatawan itu berminat pula membeli hasil karya pematung itu. Hal ini bisa menjadi promosi secara tidak langsung untuk pematung tersebut,” tandas Brata Yasa.

 

 

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php