Pita Maha dan “Sanur School”
Oleh: Wayan Sunarta

Anggota Pita Maha
Membaca sejarah seni rupa Bali adalah membaca bagaimana tangan-tangan kekuasaan memegang peranan penting dalam pembentukan teks (wacana) dan citra yang dibangun dan dilemparkan ke ruang publik. Kekuasaan dalam hal ini bisa dikaitkan dengan peranan puri (raja), patron (pelukis ekspatriat), pemilik modal dan akses pasar, serta media massa. Untuk kepentingan tertentu, peranan tangan-tangan kekuasaan seringkali melahirkan sejarah yang tidak adil, tidak objektif dan komprehensif, serta lebih banyak menguntungkan pihak-pihak tertentu yang dekat dengan kekuasaan.
Lebih dari lima dekade Ubud dengan Pita Maha telah mencecoki dunia seni rupa melalui mitos besarnya sebagai pusat kelahiran seni lukis modern Bali. Ubud telah memosisikan diri—melalui sentuhan penulis-penulis asing—sebagai sejarah tunggal dengan meniadakan sejarah kantong-kantong seni lukis modern Bali lainnya. Tentu keterbatasan pembacaan yang berakibat pada ketidakadilan sejarah tidak bisa semata-mata ditimpakan kepada Ubud, yang memang terbukti memiliki andil yang tidak kecil dalam perkembangan seni lukis modern Bali.
Yang perlu disesalkan adalah betapa minim ulasan, kritik, atau teks sejarah yang membahas komunitas seni lukis di luar kekuasaan Pita Maha. Misalnya, sepanjang pengetahuan saya, belum ada penulis seni rupa Indonesia yang secara serius meneliti dan mengkaji komunitas pelukis Sanur—oleh pengamat asing diberi sebutan “Sanur School”—yang diyakini telah berkembang sejak awal tahun 1930-an (bersamaan dengan gerakan Pita Maha). Keberadaan pelukis-pelukis Sanur tahun 1930-an hanya disebut sepintas lalu dalam beberapa buku terbitan luar negeri (lebih bernuansa antropologis) yang ditulis para peneliti asing.
Tulisan ini mencoba membaca kembali mitos Ubud (Pita Maha) sebagai titik mula kelahiran seni lukis modern Bali. Kemudian pembacaan ini akan dikaitkan dengan keberadaan Sanur School yang bisa dianggap sebagai lempengan sejarah yang hilang (atau sengaja dihilangkan), yang sejatinya juga memiliki nilai penting dalam sejarah kelahiran seni lukis modern Bali.
Dari Pita Maha ke The Young Artist
Kelahiran seni lukis modern Bali (atau Bali Baru) tidak bisa dilepaskan dari peranan penting Rudolf Bonnet (Belanda) dan Walter Spies (Jerman). Kedua pelukis ini telah menetap di Ubud sejak pertengahan 1920-an, Spies tiba tahun 1926 dan Bonnet tiba 1928. Kedua pelukis ekspatriat ini banyak bergaul dengan seniman-seniman lokal, terutama pelukis dan pematung. Tidak jarang Bonnet dan Spies berkunjung ke rumah pelukis untuk menyaksikan secara langsung bagaimana pelukis tersebut bekerja.
Bonnet dan Spies melihat bakat-bakat luar biasa yang dimiliki para pelukis Ubud. Namun ironisnya mereka menganggap melukis bukan sebagai karir, melainkan hobi atau pekerjaan sambilan, setelah pekerjaan pokok sebagai petani beres. Mereka melukis tanpa pretensi apa-apa, tanpa pernah mempertimbangkan peningkatan mutu, selain juga tidak adanya kritikan atau analisa atas karya-karya mereka. Seringkali mereka melukis hanya untuk memenuhi permintaan turis. Menyadari hal itu, Bonnet dan Spies mencemaskan pengaruh industri pariwisata—yang saat itu baru memulai denyutnya—akan menghancurkan mutu karya mereka menjadi lukisan kodian, penjiplakan dan pemenuhan selera pasar.
Dari beberapa kali kunjungan ditambah pergaulan yang cukup intens dengan beberapa pelukis lokal, Bonnet dan Spies mendapat kesimpulan, bahwa perlu sebuah wadah kondusif untuk mengumpulkan dan membina mereka menjadi pelukis-pelukis tangguh di kemudian hari. Atau paling tidak karya-karya mereka bisa dikenal secara luas lewat pameran-pameran di luar negeri.
Menyadari pengaruh buruk pariwisata terhadap perdagangan hasil seni yang seringkali merugikan senimannya (agaknya inilah idealisme awal Pita Maha), Bonnet dan Spies mencoba melobi penguasa Ubud untuk ikut memerhatikan masalah yang dianggap serius itu. Di luar dugaan, penguasa Ubud yang juga mencintai seni lukis, Cokorde Gde Agung Sukawati, sepakat dengan pemikiran Bonnet dan Spies. Maka pada tahun 1935, mereka mendirikan perkumpulan pelukis dan pematung Bali yang diberi nama “Pita Maha.”
Sebelum Pita Maha berdiri, pelukis-pelukis Ubud, Pengosekan, Penestanan, Peliatan dan Batuan, banyak menggarap tema-tema pewayangan yang bersumber pada epos Ramayana dan Mahabarata. Kiblat mereka adalah seni lukis wayang Kamasan yang terkenal itu. Mereka menganggap penting lukisan wayang karena berkaitan dengan hiasan-hiasan keagamaan di pura, puri atau tempat-tempat yang dihormati/disucikan lainnya. Orientasi utama mereka berkesenian adalah ngayah (kerja tanpa pamrih) untuk kepentingan pura dan tentu juga puri (raja).
Pada jaman melukis wayang, mereka hanya mengenal 5 jenis warna saja, yang diolah sendiri dari bahan-bahan yang mudah didapat di alam bebas. Misalnya, warna merah diperoleh dari olahan akar pohon khusus, warna biru dari tumbuh-tumbuhan tertentu, warna kuning dari sejenis tanah liat yang disebut atal, warna oker dibuat dari bahan-bahan mineral, warna hitam dari jelaga, dan warna putih dibikin dari tumbukan tulang babi. Dari warna pokok ini mereka bisa membuat warna hijau dengan mencampur kuning dan biru, atau warna coklat yang merupakan campuran merah dan hitam. Alat-alat yang dipergunakan melukis pun masih sangat tradisional. Mereka menggunakan penelak, sepotong bambu kecil yang diruncingkan untuk membuat kontur lukisan. Untuk menyapukan warna yang fungsinya mirip dengan kuas, mereka menggunakan penuli, sepotong bambu yang salah satu ujungnya ditumbuk hingga lunak.
Tema pewayangan telah menjadi tema kolektif mereka. Kisah Ramayana dan Mahabarata yang diwariskan turun temurun lewat pembacaan sastra di daun lontar begitu mengendap dalam ruang jiwa mereka. Hal ini diperkuat lagi dengan pementasan wayang kulit yang menjadi hiburan umum dan sarana pendidikan budi pekerti masyarakatnya. Jadi dapat dimaklumi, ketika menulis sastra atau melukis pun yang keluar dari alam imajinasi mereka adalah dunia pewayangan.
Pita Maha sebagai wadah interaksi bagi pelukis dan pematung Ubud, Penestanan, Pengosekan, Peliatan, Batuan dan Kamasan, telah menjadi gerakan pembaharuan dalam seni lukis Bali. Dalam Pita Maha, pelukis-pelukis yang kebanyakan berusia muda tersebut dibimbing mengenal perspektif seni lukis modern, seperti anatomi, komposisi, teknik pewarnaan, penggunaan alat-alat baru, bahkan sampai pada penggalian tema yang lebih mengutamakan kebebasan kreativitas individu (di luar kisah pewayangan).
Secara perlahan seni lukis Bali yang tradisional saat itu diarahkan menjadi lebih modern dengan membuka cakrawala para pelukisnya. Tentu maha guru yang paling berpengaruh dalam masa pembentukan awal itu adalah Bonnet dan Spies dengan koleganya Cokorde Gde Agung Sukawati yang bertindak sebagai pengayom. Bisa dikatakan bahwa Pita Maha merupakan organisasi seni lukis modern pertama yang lahir di Bali (bahkan di Indonesia) dengan struktur organisasi yang jelas dan jumlah anggota puluhan orang.
Banyak anggota Pita Maha yang kini telah dianggap sebagai maestro seni lukis Bali. Untuk menyebut sekedar contoh adalah Anak Agung Gde Sobrat, Anak Agung Gde Maregeg, Ida Bagus Made Poleng, Ida Bagus Nadera, I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Ketut Kobot, I Gusti Made Baret, I Gusti Made Deblog, Made Widja, Made Djata, Ida Bagus Made Djatasura, I Wayan Gerudug, Anak Agung Gde Raka Puja, Ida Bagus Made Togog.
Bonnet dan Spies secara tidak langsung telah menularkan pengaruhnya pada pelukis-pelukis muda anggota Pita Maha. Pengaruh ini tumbuh subur, juga disebabkan kecenderungan pelukis Bali yang mudah meniru (mungkin bakat bawaan) sesuatu yang dianggap baru, berbeda dan aneh. Atau bisa jadi semacam bentuk penghormatan terhadap guru. Bahkan dalam kehidupan seniman Bali pernah berkembang suatu nilai kebanggaan bila karya-karya mereka mampu ditiru orang lain dan mempunyai pengaruh luas. Tentu saja hal ini bertentangan dengan konsep seni lukis modern yang mengutamakan kreativitas individu. Sebagai contoh, beberapa karya Sobrat yang bertema suasana pasar dan tari-tarian sangat kental kena pengaruh gaya lukisan Bonnet, baik dalam hal pewarnaan, komposisi maupun teknik melukis manusia dengan anatomi plastisnya. Begitu pun dengan karya Maregeg banyak terkena pengaruh lukisan Spies yang bernuansa surealis.
Pita Maha di bawah bimbingan Bonnet dan Spies telah membuat revolusi besar bagi tema-tema seni lukis Bali (Ubud) pada waktu itu. Tema pewayangan, mitologi, cerita-cerita rakyat tidak lagi menjadi perhatian khusus para pelukis, meski beberapa pelukis masih bertahan dengan tema tersebut atau bermain di dua tema. Mereka ramai-ramai melukis kehidupan sehari-hari, seperti suasana pasar, tari-tarian, ngaben, orang pergi ke sawah, suasana menanam padi, menenun. mengembalakan sapi/itik, piodalan di pura, adu ayam, dan sebagainya. Tema kehidupan sehari-hari seakan membawa kenikmatan tersendiri bagi pelukisnya karena menampilkan kehidupan dan alam yang sangat akrab dengan mereka.
Meski telah mengalami perubahan tema, namun tradisi kolektif membubuhkan ornamen dalam lukisan belum bisa ditinggalkan sepenuhnya. Ornamen atau corak dekoratif masih tetap dipertahankan. Komposisi penuh juga masih terlihat pada karya-karya mereka. Perspektif dan permainan cahaya kurang begitu diperhatikan. Namun bisa dilihat pewarnaan dengan gradasi halus, dari gelap ke terang. Setiap detail digarap dengan teliti. Misalnya, kalau melukis pohon, setiap helai daunnya dilukis dengan cermat satu per satu. Gaya melukis seperti ini kemudian dikenal dengan gaya Ubud yang hingga kini masih tetap bertahan. Karya-karya Ida Bagus Made Poleng, Ida Bagus Nadera dan Ketut Tungeh sangat kuat mencerminkan gaya ini. Beberapa anggota Pita Maha masih belum bisa melepaskan diri dari kebiasaan melukis kisah pewayangan, meski pewarnaan dan komposisi sudah terkena pengaruh modern. Dapat disebutkan di sini Gusti Ketut Kobot (Pengosekan) yang masih tekun melukis wayang, meski sesekali juga melukis tema kehidupan sehari-hari.
Selain Ubud, Desa Batuan juga telah berkembang menjadi salah satu kantong seni lukis dengan gaya Batuan-nya. Gaya Batuan terkenal dengan ciri khas bidang yang penuh sesak dengan objek-objek cerita rakyat atau pun kehidupan sehari-hari. Kebanyakan latar belakang lukisan menggunakan warna hitam, warna hijau kelam untuk pepohonan dan merah tua kecoklatan untuk gambar manusia, memberikan kesan suasana magis yang menakutkan. Tokoh-tokoh pelukis Batuan antara lain Ida Bagus Made Togog, Made Widja, Made Djata, Ida Bagus Made Djatasura, I Tomblos dan beberapa pelukis muda yang tetap setia dengan gaya Batuan. Beberapa pelukis Batuan juga menjadi anggota Pita Maha dan terkena pengaruh gaya lukisan Bonnet dan gaya Ubud.
Pita Maha mampu mengakomodasi pertumbuhan seni lukis gaya Kamasan, Ubud dan Batuan. Selain itu juga berkembang kegiatan seni ukir, seni pahat dan pandai emas. Seiring perjalanan waktu, Pita Maha bukan hanya memberi pengaruh modern pada pelukis-pelukis Ubud dan sekitarnya, melainkan juga memasarkan dan memperkenalkan karya-karya mereka melalui pameran-pameran di luar negeri. Namun, sekitar tahun 1942, usaha Pita Maha terhenti total akibat pengaruh Perang Dunia II yang sedang berkecamuk hingga ke Indonesia. Bahkan Bonnet dan Spies (tewas dalam perang) menjadi tawanan Jepang
Pada tahun 1946, Bonnet kembali ke Ubud dan mulai lagi menghimpun para pelukis dalam wadah baru bernama “Golongan Pelukis Ubud.” Organisasi ini menyerupai Pita Maha, hanya saja semua anggotanya pelukis. Golongan Pelukis Ubud yang beranggotakan sekitar 50-an pelukis tekun mengadakan pameran bersama di beberapa kota penting di Indonesia, seperti Yogyakarta, Jakarta dan Medan. Anggota Golongan Pelukis Ubud ini antara lain: Wayan Turun, I Regig, Nyoman Madya, A.A Raka Puja, Dewa Putu Bedil, dan beberapa pelukis lainnya.
Mengingat semakin banyaknya pelukis-pelukis baru yang bermunculan serta kepentingan menyelamatkan karya-karya masterpiace pelukis Bali, Bonnet dan Cokorde Gde Agung Sukawati sepakat membangun sebuah museum khusus seni lukis dan patung. Maka pada tahun 1953 proyek pembangunan Museum Puri Lukisan mulai dilaksanakan dengan mengambil lokasi di Ubud. Tahun 1958 Bonnet kembali ke Belanda karena situasi politik di Indonesia yang tidak menguntungkan. Sepeninggal Bonnet, kegiatan Golongan Pelukis Ubud tidak terdengar lagi, meski para pelukisnya terus berkarya seiring kegiatan pariwisata yang makin berkembang. Tahun 1972 (hanya 4 bulan) Bonnet kembali lagi ke Ubud untuk menuntaskan pembangunan Museum Puri Lukisan.
Pada tahun 1961 di Desa Penestanan muncul kelompok seni lukis baru yang menamakan diri “The Young Artist” di bawah bimbingan dan pengaruh Arie Smith, seorang pelukis Belanda yang telah menjadi warga negara Indonesia dan menetap di Ubud. Gaya seni lukis ini terkenal dengan dekorasinya yang khas, naif, menggunakan kontur tegas dan penuh dengan warna-warna cerah. Tema yang mendominasi masih seputar kehidupan sehari-hari.
Anggota The Young Artist kebanyakan pelukis berumur 12 tahun yang berasal dari Desa Penestanan. Setiap minggu Arie Smith mengumpulkan para muridnya yang berjumlah sekitar 40-an orang. Anak-anak tersebut diberikan cat dan kertas dan dibiarkan melukis sesuka hati mereka. Pelukis ini percaya bahwa yang terpenting dalam pendidikan seni adalah memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk menumpahkan ekspresi sebebas-bebasnya. Dan hasilnya sungguh di luar dugaan. Anak-anak tersebut melukis sesuai dengan alam imajinasi mereka sendiri. Anggota The Young Artist yang paling menonjol adalah Munduk, Geberig, dan Mudru. The Young Artist ikut memperkaya perkembangan seni lukis modern Bali.
Sanur School
Sanur sampai sekarang hanya dikenal sebatas sebagai salah satu objek wisata pantai yang menarik dan ramai. Kalaupun Sanur dikenal karena seni lukisnya biasanya orang akan merujuk pada pelukis Belgia, Le Mayeur, yang menetap di pinggiran pantai Sanur bersama istrinya yang cantik, Ni Polok. Kini rumah Le Mayeur yang asri dan sejuk itu oleh pemerintah dijadikan museum yang khusus menyimpan karya-karya Le Mayeur. Museum tersebut juga menjadi salah satu daya tarik Sanur selain pantainya.
Sanur sebagai salah satu kantong dan pusat perkembangan seni lukis modern di Bali seakan luput dari pengamatan para sejarawan dan penulis seni rupa Indonesia. Seni lukis Sanur telah ditengggelamkan oleh mitos seni lukis Ubud dengan kebesaran nama Pita Maha-nya. Padahal Van der Tuuk, seorang peneliti linguistik dari Belanda, pernah menyebutkan bahwa tradisi melukis dan membuat wayang begitu besar dan hampir tersebar di seluruh wilayah Bali, seperti di Kamasan (Klungkung), Sanur (Badung), Ubud, Singaraja, Bangli, Karangasem, Kerambitan (Tabanan), dan beberapa daerah lainnya. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Sanur sejak dulu telah dianggap salah satu kantong seni lukis.
Dibandingkan Ubud, Sanur merupakan wilayah yang terlebih dahulu berinteraksi dengan orang asing (Belanda). Pada tahun 1906, ketika ekspedisi Belanda menyerang Kerajaan Badung (dikenal dengan perang Puputan Badung) pasukan Belanda mengambil titik pendaratan dan penyerangan dari pantai Sanur. Penyerangan ini dilakukan Belanda dengan alasan bahwa kapal Sri Komala milik Belanda dirampas setelah terdampar di pantai Sanur. Perampasan ini berani dilakukan rakyat Bali karena pemberlakuan Hak Tawan Karang, yang salah satu ketentuannya berbunyi bahwa kapal beserta isinya yang terdampar di wilayah kerajaan Bali merupakan hak milik kerajaan beserta rakyat Bali.
Pertempuran dengan Belanda tidak bisa dielakkan yang berakibat pada kekalahan Kerajaan Badung. Setelah Badung bisa ditaklukkan, Belanda mulai gencar mempromosikan Bali ke daratan Eropa dan Amerika sebagai salah satu tujuan wisata yang menarik dengan keindahan alam, eksotisme seni budaya, adat istiadat yang tiada duanya di dunia. Dari sinilah mulai muncul slogan “Bali Sorga Terakhir” atau “Bali Tanah Impian” dan berbagai gembar-gembor untuk menarik perhatian wisatawan asing. Bali ingin dijadikan museum hidup oleh penjajah Belanda.
Maka sejak awal tahun 1920-an, turis-turis Eropa mulai berkunjung ke Bali berkat promosi kapitalis Belanda yang gencar. Para wisatawan itu menumpang kapal-kapal Belanda yang khusus dirancang untuk tujuan wisata dan berlabuh di pantai Sanur. Hotel pertama yang dibangun Belanda adalah Bali Hotel (kini masih berdiri di Jl.Veteran, Denpasar), hanya 7 kilometer dari Sanur. Dan jelas objek wisata yang pertama dikenal turis-turis itu adalah pantai Sanur.
Pada pertengahan 1930-an sejumlah orang asing mulai menetap di Sanur untuk berbagai tujuan, diantaranya berbisnis dan melukis. Orang asing yang pertama menetap di Sanur adalah J.A Houbolt (Belanda) yang tinggal dekat Pura Mertasari. Kemudian beberapa pebisnis dan seniman mulai menetap di pantai Sindu, masih wilayah Sanur. Setelah itu datang Hans Neuhaus dan Rolf Neuhaus (dua orang Jerman bersaudara) beserta ibunya. Atas saran Walter Spies yang ditemuinya di Gilimanuk, mereka menetap di Sanur untuk tujuan berbisnis. Pada saat itu Sanur dianggap sebagai tempat yang ideal untuk tujuan bisnis karena selain sebagai objek wisata, Sanur juga telah dikenal sebagai pelabuhan.
Neuhaus bersaudara tinggal di pantai Sindu dan membuka toko cinderamata yang menjual keramik, patung dan lukisan. Warga sekitar mengenalnya dengan sebutan Tuan Be (Tuan Ikan) karena Neuhaus memiliki akuarium air laut besar di rumahnya dan seringkali menarik perhatian warga (sekarang lokasinya sekitar Hotel Segara Village). Sebagai pedagang seni, saat itu Tuan Be memiliki andil yang sangat penting dalam kepariwisataan dan menjadi motivator kelahiran “Sanur School.” Tuan Be dengan sabar mendorong pelukis Sanur untuk terus berkarya dan siap menampung karya-karya mereka di artshopnya.
Meskipun Bonnet dan Spies menetap di Ubud, namun mereka sering mengunjungi Sanur dan tidak jarang menginap di rumah Neuhaus. Warga sekitar memanggil Spies dengan sebutan Tuan Tepis. Bila berkunjung ke Sanur, Spies suka mengunjungi tempat-tempat terpencil dan dianggap keramat oleh warga, seperti kawasan hutan bakau di Suwung. Spies juga suka mengajak anak-anak Sanur (diantaranya I Sukaria) untuk mengumpulkan kerang, kepiting, ataupun serangga yang dianggap eksotis.
Selain itu Bonnet dan Spies juga mengajar anak-anak muda Sanur melukis dengan cara pandang modern, seperti yang diajarkan kepada para pelukis Ubud. Saat itu gerakan Pita Maha juga sedang memulai melakukan eksplorasi dalam seni lukis seperti yang telah diuraikan di atas. Boleh dikatakan sejarah seni lukis modern di Ubud pararel dengan Sanur, karena di bawah bimbingan guru yang sama, yaitu Bonnet dan Spies. Namun sayangnya, Ubud lebih dikenal dalam peta seni lukis ketimbang Sanur.
Artshop Tuan Be telah menjadi salah satu tempat pemasaran utama hasil-hasil karya pelukis anggota Pita Maha dan Sanur School. Tuan Be dianggap mampu bekerjasama dengan biro wisata dan dagang Belanda dan menghubungi Bali Hotel sebagai hotel terbesar di Bali saat itu.
Seiring dengan pergerakan Pita Maha, di Sanur juga bermunculan pelukis-pelukis muda berbakat. Ada sekitar 60-an pelukis Sanur pada waktu itu. Pelukis yang paling menonjol adalah Ida Bagus Rai Griya, I Gusti Made Rundu, Ida Bagus Pugug, I Sukaria, I Pitja, Ida Bagus Nyoman Rai, I Gusti Made Oka (A.A Made Rum), Gusti Made Deblog, Ketut Regig. Deblog dan Regig pernah menjadi anggota Pita Maha.
Pelukis Sanur mengembangkan corak sendiri yang berbeda dengan gaya Ubud, meski juga sempat terkena pengaruh gaya Ubud dan Batuan karena begitu banyaknya lukisan-lukisan Ubud yang dijual dan laris di Sanur. Sebagai contoh, I Pitja sempat bekerja pada Tuan Be mewarnai karya-karya pelukis Sanur agar mirip dengan lukisan gaya Ubud dan Batuan.
Selain kisah pewayangan, tema utama lukisan Sanur adalah kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan kehidupan nelayan yang menjadi mata pencaharian pokok warga Sanur selain bertani. Juga mengangkat kehidupan binatang yang dipersonifikasikan sebagai manusia. Hal ini misalnya terlihat pada lukisan Regig yang membubuhkan gambar kodog dan belalang dipadukan dengan cerita rakyat. Pewarnaannya cenderung dengan pengolahan warna hitam-putih dari tinta Cina yang memunculkan nuansa magis.
Berbeda dengan komposisi lukisan Ubud dan Batuan yang memenuhi bidang gambar, maka lukisan Sanur lebih banyak menyisakan ruang kosong yang melambangkan langit dan cakrawala. Mungkin hal ini disebabkan karena Sanur lebih dikenal dengan kehidupan alam pantainya. Berbeda dengan Ubud dan Batuan yang saat itu masih banyak hutan-hutan rimbun dan persawahan luas.
Kegairahan pelukis Sanur makin kuat ketika pelukis asing banyak berdatangan dan menetap di Sanur. Seperti Le Mayeur (Belgia), Mershon, Theo Meyer, kemudian belakangan menetap Donald Friend (Australia) yang dikenal dengan nama Tuan Donal. Beberapa pelukis Sanur malah sempat bekerja pada pelukis asing tersebut, misalnya Ida Bagus Nyoman Rai bekerja pada Theo Meyer, kawan-kawannya bekerja pada Neuhaus bersaudara (Tuan Be).
Ketika Perang Dunia II pecah pada tahun 1942, Neuhaus bersaudara dan Walter Spies menjadi tawanan perang. Neuhaus diasingkan ke India, sedangkan Spies tewas pada insiden pengeboman kapal Van Imhoff yang dilakukan pesawat tempur Jepang. Senasib dengan Pita Maha, pelukis-pelukis Sanur yang tergabung dalam komunitas Sanur School kehilangan patron (Neuhaus, Bonnet, Spies) yang telah membimbing mereka mengenal seni lukis modern dan masalah pemasaran karya-karya mereka. Karena situasi perang yang tidak bisa diramalkan kapan berakhirnya, sebagian besar pelukis Sanur kembali menekuni pekerjaan pokok mereka, misalnya I Gusti Rundu menjadi tulang jahit, Rudin dan Sukaria menjadi petani, Ida Bagus Nyoman Rai menjadi nelayan, dan sebagainya.
Setelah kemerdekaan RI, yakni sekitar tahun 1946, kehidupan seni lukis di Sanur kembali pulih. Para pelukis yang sebelumnya sempat meninggalkan alat-alat lukisnya kembali bangkit dan bergairah berkarya. Apalagi saat itu ada seorang Belanda, Koopman, yang membuka galeri seni di Sindu. Kemudian pada tahun 1948, seorang kolektor dari Surabaya, J. Pandy, membeli rumah Neuhaus yang kemudian dijadikan galeri sekaligus rumah tinggal. Seiring perkembangan pariwisata yang makin pesat, Galeri Pandi menjadi salah satu pusat pemajangan dan penjualan benda-benda seni yang diperhitungkan, hingga Pandi meninggal tahun 1970-an.
Pada tahun 1968, Donald Friend (Australia), pelukis sekaligus art dealer, menetap di pantai Batujimbar, Sanur. Galeri sekaligus rumah Donald Friend atau yang biasa disebut Tuan Donal yang ditata dengan asri telah menjadi salah satu pusat seni di Sanur. Pada waktu itu Sanur kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu kantong seni lukis yang layak diperhitungkan. Sejumlah pelukis Indonesia pernah mencicipi aura Sanur, antara lain Agus Djaya, Bambang Sugeng, Affandi, Sudjojono, Soedarso. Bahkan Arie Smith pun pernah beberapa waktu menggali inspirasi di Sanur, sebelum pada akhirnya menetap di Ubud. Dari Sanur sendiri muncul pelukis-pelukis muda penerus semangat Sanur School, yang paling menonjol adalah Ida Bagus Ngurah Ekawana.
Pada tahun 1980-an anak-anak muda Sanur semakin banyak menekuni seni lukis. Sebut misalnya Made Sudibia, Ida Bagus Putu Gede Sutama, Wayan Gabrig (pemilik Gabrig Galery di Semawang), Ida Bagus Ariana, Ida Bagus Mayun, Ida Bagus Rai Janardhana, Nyoman Sarjana, Ida Bagus Made Warsika, Made Parma, dan beberapa pelukis lainnya.
Pada angkatan yang lebih muda muncul Teja Astawa, Apel Hendrawan, Nyoman Sani, Wayan Paramartha, Sope Widiana, Ida Bagus Putu Purwa, dan masih banyak lagi. Mereka rata-rata menimba ilmu seni lukis melalui pendidikan akademis di ISI Denpasar. Dan tentu saja corak karya-karya mereka berbeda jauh dengan para pendahulunya. Mereka menjelajahi kemungkinan seni lukis modern dengan kebebasan kreativitas yang tinggi. Demi mengenang kejayaan masa lalu dan mengingat para pelukis muda Sanur adalah pewaris sah semangat Sanur School, maka pada 18 Agustus 1995, mereka sepakat menghimpun diri dalam wadah “Himpunan Pelukis Sanur.”
Sampai saat ini karya-karya pelukis generasi Sanur School masih tersimpan rapi di beberapa museum dalam dan luar negeri. Beberapa diantaranya menjadi koleksi Museum Bali (Denpasar), Museum Puri Lukisan (Ubud), Museum Sono Budoyo (Yogyakarta), Gedong Kirtya (Singaraja), Pusat Dokumentasi Budaya Bali (Denpasar), Taman Budaya Bali (Denpasar), Tropen Museum (Belanda), Museum Voon Ryikskunde Leiden (Belanda), Museum Volkerkunde Basel (Swiss). Sejumlah karya pelukis Sanur School telah menjadi koleksi pribadi Bung Karno. Beberapa karya masih berada di tangan kolektor dan art dealer luar negeri yang bisa dilacak pada balai-balai lelang berkelas internasional.
Kesimpulan
Mengapa Ubud yang lebih muncul (dimunculkan?) dalam peta sejarah seni lukis Bali? Saya rasa hal ini tidak terlepas dari usaha penguasa Ubud untuk memindahkan pusat seni, berkaitan dengan orientasi wisata dan ekonomi, dari Sanur ke Ubud. Seperti yang telah diketahui bahwa pada awal tahun 1920-an Sanur sebagai pusat wisata dan ekonomi lebih berkibar dibanding Ubud yang waktu itu belum maju secara ekonomi. Untuk itulah penguasa Ubud, Cokorde Gde Agung Sukawati, sepakat dengan usul Bonnet dan Spies membangun wadah bagi pelukis, pematung, dan pandai emas yang diberi nama Pita Maha. Beberapa tahun kemudian dilanjutkan dengan pembangunan Museum Puri Lukisan. Ini adalah usaha bersama menjadikan Ubud sebagai pusat seni lukis, wisata dan tentu saja ekonomi.
Tanpa mengabaikan fakta sejarah, citra dan mitos Ubud dengan Pita Maha-nya merupakan bentuk ketidakadilan sejarah yang perlu segera dibenahi oleh para penulis atau kritikus seni rupa. Ubud bukanlah satu-satunya terminal perjalanan seni lukis Bali menuju ke arah seni lukis modern. Sebab pada masa yang hampir bersamaan (seperti yang telah diuraikan di atas), Sanur juga telah menjadi kantong seni lukis dengan tema dan unsur-unsur modern seperti yang terlihat pada beberapa karya pelukis generasi Sanur School.
Dengan melakukan perbandingan antara Pita Maha dan Sanur School, bisa ditemukan simpul yang menerangkan bahwa sejarah seni lukis modern di Bali bermula di dua tempat yang berbeda (baik secara geografis maupun antropologis), yaitu Ubud dan Sanur. Pengaruh modern ini tidak bisa dilepaskan dari interaksi yang intens antara pelukis lokal dengan pelukis asing (ekspatriat) yang bertindak sebagai penyebar pengaruh kemodernan dalam seni lukis, guru pembimbing, patron sekaligus manager dan marketing atas karya-karya mereka. Kondisi ini menjadi subur mengingat Sanur dan Ubud menjadi pilihan yang ideal bagi para turis untuk berwisata pada waktu itu. Hal ini juga menunjukkan bahwa bisnis pariwisata sesungguhnya telah mempengaruhi perkembangan seni lukis modern Bali sejak awal tahun 1930-an. Dengan kata lain kepentingan seni seringkali juga berkaitan dengan kepentingan kapitalis, meski beberapa pelukis masih kukuh mempertahankan idealisme berkeseniannya.***
Trackbacks
Leave a Reply