Cerita dari Sumba

foto karya Ari Antoni
Dua fotografer dari dua negara berbeda sama-sama memotret Sumba. Mereka adalah I Wayan Gede Ari Antoni dari Bali (Indonesia) dan André Graff dari Perancis. Pada mulanya mereka hadir di Sumba dengan tujuan berbeda. Antoni yang merupakan mahasiswa Antropologi tingkat akhir menetap di Sumba Timur selama tiga bulan untuk suatu penelitian kebudayaan. Sedangkan Graff bermukim di Sumba Barat, tepatnya di Suku Lamboya untuk membantu masyarakat setempat dalam pengadaan air bersih.
Graff adalah seorang mantan pilot balon udara. Namun dia juga adalah peternak lebah, petani, militan, ahli lingkungan hidup. Sejak tahun 2004 telah aktif dalam pengadaan air bersih di Waru Wora, Napu Bawa dan Napu Atas. Sejak di Sumba, Graff telah banyak berhadapan dengan tahayul-tahayul keagamaan, perang antar suku, dan ketidakpedulian pemerintah Indonesia terhadap kekurangan gizi dan penyakit endemis di Sumba. Graff telah menyediakan 12 sumur air bersih bagi Sumba dan Sawu dalam waktu 3 tahun. Sumur yang ke-13 baru saja diselesaikannya tanggal 8 Juni lalu.
Foto-foto yang ditampilkan Graff dipilih dari kumpulan 25.000 foto yang merupakan “bahan penyadaran kolektif” bagi siapa saja yang masih memiliki rasa kepedulian untuk kemanusiaan. Tidak jauh berbeda dengan Graff, Antoni juga menampilkan foto-foto yang dipilih dari ribuan foto yang sarat dengan realitas kehidupan di Sumba. Foto-foto mereka mewartakan kehidupan dan kematian, berkaitan dengan realitas di Sumba, masalah sanitasi pulau yang selalu dramatis, serangan malaria, kemiskinan, minimnya sarana dan prasarana.

foto karya Andre Graff
Hal itu bisa dilihat pada foto-foto hasil jepretan Graff yang berkisah tentang manusia bergelimang lumpur, cucu yang sedang mencari kutu di rambut nenek yang memutih. Atau pada foto-foto karya Antoni yang menceritakan kebahagiaan anak-anak bermain ayunan, nenek yang sedang menjemur benang bahan menenun, ibu yang mengambil air di sungai dengan ember dari anyaman daun lontar, ritual penyembelihan kerbau, panen jagung, gereja yang sepi sendiri di tengah ladang.
Pameran foto ini bertajuk “Kematian di Sumba – Potret Kehidupan”, digelar di Lembaga Kebudayaan Indonesia Perancis (Alliance Française) Denpasar, Jalan Raya Puputan I, Renon, Denpasar, sejak 11 Juli sampai 2 Agustus 2009. Pameran foto ini dikuratori oleh Audrey Lamou dan Gde Phalayasa Sukmakarsa.
Foto-foto mereka memang banyak bersifat dokumentasi terhadap realitas-realitas yang terjadi di Sumba yang sempat diamati dan direnungi. Namun, justru dari dokumentasi inilah, mata kita jadi lebih terbuka melihat Sumba. Foto-foto ini menjadi semacam cerita dari Sumba.*** (Wayan Sunarta)
Trackbacks
Leave a Reply