Dewa Putu Kantor: Bersandar pada Kekuatan Garis
Teks dan Foto Wayan Sunarta
Pada mulanya adalah garis. Meliuk-liuk membentuk wujud. Empat bocah culun bertelanjang dada asyik mengadu jangkrik dalam bumbung. Itulah salah satu drawing karya Dewa Putu Kantor.
Pelukis yang sangat bersahaja ini senang mengenang masa kanak-kanaknya. Ia merasa beruntung bisa menikmati masa kanak dengan indah walau kemiskinan mendera keluarganya. Kenangan masa kanak itulah salah satu sumber inspirasinya dalam melukis. Hampir di setiap karyanya terdapat sosok bocah telanjang dada. Baginya, bocah adalah simbol kemurnian dan kejujuran dari perjalanan hidup manusia.
Ada cerita lucu tentang gambar bocah telanjang itu. Gara-gara karyanya ia pernah diprotes oleh sebuah penerbit buku di Jakarta. Saat itu, ia dipesan membuat ilustrasi untuk buku anak-anak. Ia menyanggupi dan menyerahkan beberapa gambar bocah telanjang yang asyik bermain-main, sesuai isi buku itu.
Penerbit kaget menerima ilustrasi itu karena berisi gambar bocah telanjang lengkap dengan penisnya. Karena dianggap porno dan tidak sesuai untuk buku anak-anak, gambar itu ditolak penerbit. Kantor diminta mengganti gambar ilustrasi dengan gambar bocah bersarung. “Repot juga kalau berurusan dengan orang yang tidak ngerti seni,” kata Kantor. Ia ketawa mengenang kejadian itu.
Ketika masih bocah, anak sulung pasangan Dewa Made Rarud dan Ni Jro Tanjung ini suka bermain wayang-wayangan dari daun jepun atau daun nangka. Saat itu, televisi belum masuk ke Bali, bahkan listrik pun belum ada. Ia termasuk generasi terakhir yang luput dari pengaruh televisi yang masuk ke Bali pasca 1978.
“Ketika kanak, kami hanya mengenal wayang sebagai hiburan dan sarana pendidikan budi pekerti. Kebetulan pula di kampung kami ada dalang terkenal yang jago memainkan wayang. Saya sangat suka menonton wayang,” tutur pelukis kelahiran Br. Palak, Sukawati, Gianyar ini.
Kantor hanya lulusan sekolah rendah (SD sekarang). Ia pernah mencicipi sekolah teknik ukir di Desa Guwang, Gianyar, tetapi tidak sampai tamat. Orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya. Sambil sekolah, ia belajar mengukir pada seniman patung asal Guwang, Made Pujanatih.
Suami Desak Balik ini kemudian belajar melukis di Desa Batuan, Gianyar. Desa itu terkenal sebagai kampung pelukis dengan corak Batuan, sebuah gaya yang hingga kini masih tercatat dalam sejarah perkembangan seni rupa tradisional Bali. Ia punya banyak guru, antara lain Dewa Putu Mangku, Dewa Made Jaya, Wayan Kamarhena dan Made Tubuh.
“Made Tubuh merupakan guru idola saya. Dia pintar dan mampu menyalurkan ilmunya dengan baik,” kata Ayah dari Desak Putu Gek Raka, Dewa Gede Astana, dan Dewa Nyoman Rai Jati ini.
Lebih dari sembilan tahun ia menyerap teknik melukis gaya Batuan yang terkenal dengan konsep ruang gambar yang penuh, gelap dan tanpa fokus yang jelas. Lukisan gaya Batuan penuh dengan pola-pola rumit dan detail dengan proses pelapisan tinta Cina yang halus. Lukisan gaya Batuan masih merujuk seputar dunia pewayangan—epos besar Ramayana dan Mahabharata—sebagai memori kolektif yang diwariskan secara turun temurun.
Teknik melukis gaya Batuan memang lebih menekankan kekuatan menggambar pola-pola simbol yang diturunkan dari cerita pewayangan dan proses pelapisan tinta Cina yang membentuk kontur hitam-putih yang rapi. Lukisan gaya Batuan tidak bisa dinikmati sambil lalu, melainkan harus didekati dan dinikmati detail demi detailnya.
Namun, hasil karya yang pengerjaannya sangat rumit dan lama itu seringkali tidak mendapat penghargaan yang setimpal dari pihak artshop dan galeri. “Mereka membeli dengan harga murah. Seringkali bikin sakit hati bila karya ditawar dengan harga miring oleh artshop,” keluh pelukis yang pernah pameran tunggal di Gallery Duta Fine Arts, Jakarta, tahun 1999 ini.
Sekitar tahun 1989, atas saran seorang teman dekatnya, ia perlahan meninggalkan gaya Batuan. Alasannya jelas, membuat lukisan gaya Batuan memerlukan proses yang lama dan rumit, sedangkan pemasarannya sulit dan dihargai murah oleh artshop dan galeri.
Ia kemudian menyederhanakan gaya yang rumit itu menjadi tarikan-tarikan dan liukan-liukan garis yang membentuk wujud tertentu tanpa ada proses pelapisan tinta Cina. Gambar-gambarnya melulu bersandar pada kekuatan garis yang berpengaruh pada keutuhan karya. Tema-tema karyanya juga mengalami perubahan, dari cerita pewayangan menjadi tema-tema keseharian masyarakat pedesaan. Ia kemudian dikenal sebagai pelukis neo-tradisional karena mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan Bali pada jaman kontemporer.
Keutuhan dan kekuatan karyanya bertumpu pada kesederhanaan dan ketajaman tarikan garis. Dengan menggunakan tinta Cina dan kuas bambu ukuran kecil, ia menggambar suasana pasar, warung penggak, tajen, upacara di pura, pemuda desa menabuh gamelan, mobil dengan muatannya, bocah-bocah dengan permainannya, cerita rakyat, gadis mandi di sungai, dan berbagai aktivitas kehidupan desa. Subjek matter yang digarapnya mengesankan kelucuan, lugu, konyol, satire, penuh ironi dan tentu saja menyegarkan.
Bahkan ia juga menggambar sosok manusia dengan penis besar yang menjulur bagai ular sanca. Beberapa sosok perempuan mempermainkan dan menyembah penis besar itu. Pada karyanya yang lain terlihat penis raksasa yang ditumbuhi tanaman merambat dan beberapa perempuan bergelantungan di batangnya. Ia tidak bermaksud membuat karya-karya berbau pornografi. Justru karya itu merupakan kritik terhadap kehidupan manusia yang banyak dikuasai pihak laki-laki. Karya-karya itu merupakan cerminan dari teori Sigmun Freud yang menjelaskan kecemburuan perempuan terhadap penis.
Menurut pengamat seni rupa, Jean Couteau, Kantor merupakan salah satu seniman Bali yang mampu berinovasi dan melahirkan karya modern yang punya jejak tradisi Bali. Karya-karyanya berada di persimpangan antara mitos, realitas dan dunia surealistis, menghunjam ke dalam ingatan kolektif orang Bali.
Kantor mengembalikan kekuatan lukisan khas Bali kepada intinya, yaitu: garis. Sepintas karya-karya drawingnya mengingatkan orang pada karya-karya I Gusti Nyoman Lempad. Padahal menurut Jean Couteau, Kantor adalah penerus sekaligus pembaharu pola gambar polos yang bersandar pada keutuhan garis ala Lempad.
“Memang, sepintas karya saya mirip dengan karya Lempad. Namun, Lempad lebih banyak menggunakan kontur dengan teknik sigar mangsi, ada garis tebal tipis yang membatasai bidang. Sedangkan karya saya murni bersandar pada kekuatan dan keutuhan garis,” tutur pelukis yang suka menembang ini.
Kantor adalah pelukis neo-tradisional yang cukup diperhitungkan dan telah menemukan gayanya sendiri yang mengandalkan kekuatan dan keutuhan garis. Namun, Kantor belum merasa puas. Ia merasa perlu belajar lebih banyak lagi, terutama mencari kemungkinan-kemungkinan lain pada kekuatan dan variasi garis pada karya-karyanya. Kantor selalu mencari dan bergulat dengan ide-ide kreatif dalam cakupan tradisi dan modern. Baginya hidup adalah sebuah proses belajar yang tidak ada habis-habisnya.
Trackbacks
Leave a Reply