Toleran Melahirkan Teror?
Oleh: Wayan Sunarta
Judul Pameran : Tolerism Terrorance
Seniman : I Ketut Teler
Kurator : Arif B Prasetyo
Tempat : Hanna Art Space, Pengosekan, Ubud, Bali.
Waktu : 11 – 30 September 2009
Apa kaitan toleransi dan terorisme? Pelukis Ketut Teler punya jawabannya. Dia bilang, teror bisa muncul jika kita terlalu toleran. Pengertian teror di sini bukan hanya dalam bentuk bom yang diledakkan oleh teroris. Terorisme bisa juga merambah ke wilayah ekonomi, kemanusiaan, budaya, kekerasan rumah tangga, dan sebagainya.
“Terlalu toleran bisa memunculkan teror. Misalnya, Malaysia banyak nyolong seni budaya Indonesia. Ini suatu bentuk teror budaya, karena kita terlalu toleran, tidak punya sikap tegas,” ujar Teler.
Begitulah. Untuk merespon makna kata toleransi dan terorisme, Teler memamerkan sejumlah karya terbarunya, dengan tajuk “Tolerism Terrorance”. Teler memakai dirinya sebagai model. Dia mengenakan jubah biksu dalam berbagai fose yang dikaitkan dengan ikon-ikon dan simbol-simbol kekinian. Selain sarat perenungan spiritualitas, lukisan-lukisannya juga menyuarakan kritik sosial-ekologi. Misalnya terlihat pada “See Rent Area”, menggambarkan Teler mengenakan jubah biksu memandang beton-beton pencakar langit di balik dinding relief kuno.
Nuansa spiritualitas Siwa-Buddha bisa dilihat pada “Self Battle (From Spirit of Ciwa-Buddha)” yang terdiri dari 2 panel. Lukisan ini menampilkan Teler mengenakan jubah biksu berinteraksi dengan Rangda. Pada panel lukisan Rangda menginjak kepala Teler, Rangda sebagai simbol Ibu. Sedangkan pada panel lukisan Teler menginjak kepala Rangda berbadan manusia, merupakan simbol pengendalian nafsu dalam diri.
Telah lama Teler menekuni ajaran Siwa-Buddha. Sebagai pelukis, sejak tahun 2000 dia banyak mengekspresikan ajaran sinkretisme agama itu melalui karya-karyanya. Pada perkembangan berikutnya dia tertarik mengeksplorasi dirinya dan jubah sebagai simbol yang dikaitkan dengan fenomena kekinian.
“Jubah agama sering dipakai tameng untuk membenarkan tindakan-tindakan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan ajaran agama,” ujar Teler menjelaskan konsep karyanya.
Teler lahir di Tembuku, Bangli 24 Oktober 1971. Dia belajar seni rupa di ISI Denpasar (1992-1998). Sejak 1992 dia telah rajin mengikuti berbagai pameran bersama di sejumlah galeri dan museum di Indonesia dan Amerika. Tahun 1995 dia mengikuti Artist Residence di Boston, Amerika. Pernah pula meraih penghargaan “Kamasra” dari ISI Denpasar (1995).
Trackbacks
Leave a Reply