Kritik Mati bila Bali “Koh Ngomong”

oleh: Wayan Sunarta*

Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.
Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang [...]

No Comments »Filed under: Esai dan ArtikelPosted on November 27th, 2009

Menggali Inspirasi dari Batu Permata

Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Ada banyak cara menggali inspirasi. Yang sudah lumrah adalah berburu ke alam bebas, merenungi hakikat dan keindahan alam, lalu menuangkannya ke kanvas. Cara lainnya, menyelam ke alam batin (bawah sadar), sehingga memunculkan karya-karya berbau surealisme, simbolisme, atau abstrakisme.
 
Namun, Satar Tacik (41 thn), pelukis dari Ampenan, Lombok, NTB, memiliki cara yang berbeda. Dia menyerap [...]

No Comments »Filed under: Seni RupaPosted on November 22nd, 2009

Rudat, Kesenian Islam yang Mengesankan

 
Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Siang itu, warga Muslim di Kecicang, Karangasem, berkerumun dan berdesak-desakan di sebuah lapangan kecil tak jauh dari masjid. Laki-perempuan, tua-muda, anak-anak kecil, semua menampakkan wajah sumringah. Mereka disuguhkan pementasan rudat. Mahdan, warga Kecicang, khusus mengundang kelompok kesenian rudat untuk memeriahkan pesta perkawinannya.
“Kelompok rudat itu dari kampung Kecicang,” ujar Mahdan, yang pernah menjadi anggota [...]

1 Comment »Filed under: FeaturePosted on November 11th, 2009
Page 1 of 11