Nyoman Sujana Kenyem, Memburu Keseimbangan dalam Puisi Alam

Oleh: Wayan Sunarta

Selain dikenal sebagai gudangnya seniman tradisi, Bali juga tidak kalah bersaing untuk menjagokan seniman-seniman modern dan post modern yang dimilikinya. Ada penari, pemusik, pematung, dramawan, sastrawan, pelukis. Mereka terbiasa bergerak ulang-alik antara tradisi dan modern, bahkan merambah wilayah absurd yang disebut post modern atau kontemporer.

Dalam ranah seni rupa, geliat modern sudah terlihat sejak 1930-an, ketika Walter Spies dan Rudolf Bonnet memperkenalkan bahan dan gaya melukis modern (Barat) ke pelukis tradisional. Sekarang ini perupa yang bergerak di wilayah seni modern dan kontemporer sudah tidak terhitung lagi, baik dari generasi tua dan muda. Untuk menyebut sekedar contoh, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Nyoman Tusan, Nyoman Erawan, Nyoman Masriadi, Putu Sutawijaya, Putu Wirantawan, Made Supena, Wayan Sujana Suklu, hingga Nyoman Sujana Kenyem.

Nyoman Sujana Kenyem termasuk deretan perupa muda yang sangat kreatif dan selalu gelisah menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam ranah seni rupa kontemporer. Perupa kelahiran Sayan, Ubud, Bali, 9 September 1972 ini telah kenyang dengan berbagai pameran bersama yang diikutinya sejak 1992. Dia juga telah menampilkan karya-karyanya dalam pameran tunggal, baik di Swedia, Singapura, Jakarta dan Bali.

Pada tanggal 4 Maret hingga 5 April 2010, Kenyem kembali menggelar pameran tunggal, bertajuk Embracing Nature’s Poem. Pameran yang menampilkan sejumlah karya lukis terbarunya itu berlangsung di Ganesha Gallery, Jimbaran, Bali. Tema-tema karyanya masih berkutat pada persoalan ekologi, dan upaya-upaya mencapai keharmonisan alam. Baginya, alam adalah puisi. Manusia mesti peka pada alam, mengagumi keindahannya sekaligus memeliharanya dengan baik untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
Karena alam adalah puisi, Kenyem banyak membubuhkan simbol bunga, daun, yang berkelindan dengan sosok-sosok manusia anonim. Semua itu serasa bersusunan menjadi puisi-puisi yang menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib alam.

Simbol-simbol bunga dan daun kadangkala berpadu dengan citra kuda, sepeda ontel, perempuan seksi, dan sebagainya. Misalnya, pada lukisan “Sentuhan”, terlihat perempuan seksi yang berpose di bawah taburan bunga-bunga. Pada lukisan “Nostalgia” tampak sebuah sepeda ontel yang merana di bawah guguran daun, seakan mempertegas kesunyian dari sekelumit kenangan lampau.
Atau, pada lukisan “Berdamai dengan Alam”, dia memadukan bunga-bunga dengan seekor kuda yang nampak beringas. Sosok-sosok manusia yang dilukisnya dengan ukuran kecil dan repetitif nampak tak kuasa menahan keberingasan kuda liar itu. Kuda liar merupakan simbol alam yang tak terkalahkan.

Bunga, daun, melingkari dan melingkupi kehidupan manusia yang terus berupaya memburu keseimbangan atau keharmonisan. Itulah sebabnya sosok-sosok manusia repetitif dalam karya-karyanya selalu dibuat dengan pola merentangkan tangan, doyong ke kiri atau ke kanan. Itulah sosok-sosok manusia anonim yang dalam hidup ini tak habis-habisnya memimpikan keseimbangan.

Kenyem tidak hanya menggarap seni lukis, dia juga menekuni seni instalasi. Perjalanan karir kepelukisannya tentu melalui proses yang panjang dan tidak kenal istilah berhenti. Dia pernah menekuni corak ekspresionisme-abstrak ketika Bali dilanda demam mainstream tersebut. Kemudian dia juga membubuhi karya-karya abstraknya dengan nuansa figuratif dan objek-objek yang menarik perhatiannya.

Karya-karya mutakhirnya memperlihatkan bahwa Kenyem masih setia di corak abstrak dan figuratif, meski telah mengalami perluasan makna dan wilayah garapan seiring dengan tema dan isu yang diusungnya. Sampai saat ini Kenyem masih berkutat dengan isu ekologi, terlebih lagi perihal kehancuran alam yang melanda bumi.

Kenyem sangat prihatin dengan kasus-kasus kehancuran dan bencana alam di Tanah Air, seperti kasus luapan lumpur Lapindo, abrasi pantai, panambangan dan penebangan liar yang membahayakan alam dan manusia sendiri. Baru-baru ini dia mengunjungi kawasan Bromo dan Kawah Ijen untuk menyaksikan dan menyerap inspirasi betapa manusia sangat kecil di hadapan alam yang maha luas.

Bagi Kenyem, untuk mencapai tatanan yang harmonis manusia harus mendekatkan diri pada alam, mengagumi keindahannya sekaligus memeliharanya dengan baik untuk warisan generasi mendatang. Sesungguhnya alam adalah sahabat manusia, maka tidak sepantasnya manusia merusak atau menghancurkan hubungan yang telah terjalin harmonis itu.

Sebagai manusia Bali yang tumbuh di tengah alam pedesaan (Sayan), Kenyem sangat paham perihal hubungan manusia dengan alamnya. Di Bali, ada Tumpek Bubuh dimana manusia mensyukuri dan merayakan alam (pohon/tumbuhan) dengan ritual. Begitu pula dengan Tumpek Kandang, perayaan yang lebih ditujukan kepada hewan karena telah memberikan berkahnya untuk kelangsungan hidup manusia.

Di dalam karya-karyanya, Kenyem banyak menggunakan simbol daun, bunga, batang bambu untuk menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib alam hayati. Daun adalah kehidupan dimana zat hijau daun (klorofil) terkandung di dalamnya. Daun dengan tampa pamrih memberikan oksigen dan makanan kepada manusia dan hewan. Bunga adalah sumber keindahan dan kedamaian yang abadi.
Pikiran yang ruwet bisa tenang ketika menikmati keindahan sekuntum bunga yang mekar di pohonnya. Batang bambu adalah penyangga yang membantu kehidupan manusia. Banyak perkakas (keseharian dan ritual di Bali) dibuat dari bambu. Bahkan ketika manusia Bali (Hindu) meninggal, mayatnya diusung dengan usungan bambu. Penjor yang dipajang setiap hari raya Galungan, odalan di Pura, atau ritual-ritual lainnya harus dibuat dari bambu. Dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, bambu adalah simbol sekaligus elemen yang sangat penting.

Tujuan hidup manusia sebenarnya adalah memburu keseimbangan. Baik itu keseimbangan otak kanan-kiri, jasmani-rohani, duniawi-sorgawi, ekonomi, sosial, relegi, dan sebagainya. Manusia berupaya menjaga keseimbangan dalam putaran atau siklus kehidupan yang tidak akan pernah diketahui awal dan akhirnya.

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php