Kerinduan Spiritual Generasi Bunga

Teks: Wayan Sunarta, Foto: Wayan Sunarta dan Panitia

Langit di Batuan dan Ubud kadang mendung, kadang terang. Udara gerah. Sesekali gerimis bertaburan menyapa bumi. Udara berubah lembab dan dingin. Cuaca memang tak menentu akhir-akhir ini. Namun kegalauan cuaca tak menyurutkan semangat para peserta “Bali Spirit Festival 2010” untuk mengikuti berbagai kegiatan yang digelar.

Peserta yang berdatangan dari berbagai penjuru benua tampak hilir mudik di lokasi festival. Siang menjelang. Dengan wajah sumringah, beberapa peserta menikmati menu vegetarian yang tersedia di stand-stand makanan. Sebagian lainnya asyik dengan urusan masing-masing. Mereka baru saja selesai mengikuti berbagai workshop yang berkaitan dengan yoga, tari, dan musik.

Itulah sekilas suasana festival yang digelar di Purnati (Batuan) dan ARMA Museum (Ubud) sejak 31 Maret hingga 4 April 2010. Menurut salah satu panitia, Noviana Kusumawardhani, festival yang dipersiapkan selama setahun ini, mengundang sekitar 150 presenter dan performer dari 30-an negara. Tahun ini peserta yang hadir berjumlah ratusan orang. “Mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Novi.

Festival ini digagas oleh I Kadek Gunarta, Meghan Pappenheim dan Robert Weber. Tema yang diangkat adalah “Tri Hita Karana”, yakni hubungan yang harmonis dengan Tuhan, alam, dan masyarakat. Festival ini memasuki tahun ketiga sejak diadakan pertama kali pada tahun 2008. Kadek Gunarta menjelaskan bahwa misi festival ini adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan potensi setiap individu dalam mewujudkan perubahan positif di dunia. “Selain itu, juga untuk mendorong kekuatan kolaborasi komunitas kreatif marginal, dan berupaya untuk meningkatkan keharmonisan dan keberlanjutan ekologi Bali, dan keberagaman budaya Indonesia, “ tutur Gunarta.

Setiap hari festival dipadati berbagai kegiatan, mulai dari workshop yoga, musik, dan tari, dilanjutkan dengan berbagai pementasan world music dan tari kolaborasi. Kegiatan workshop tersebar di beberapa tempat di Purnati, seperti di pavilium utama, wantilan, amphitheatre, atau di bawah tenda-tenda yang khusus dipersiapkan untuk acara ini. Sedangkan pementasan seni berlangsung tiap menjelang senja hingga tengah malam di panggung terbuka ARMA Museum, Ubud. Di sekitar lokasi festival terdapat sejumlah stand yang menjual makanan dan minuman, pernak-pernik spiritual, pakaian dan aksesori, hingga stand healing dan therapy.

Workshop yoga diisi dengan berbagai teori dan praktek perihal yoga, seperti pranayama, meditasi, hatha yoga, kundalini yoga, yoga & ayurveda, vinyasa yoga, anusana yoga, pranala yoga, ashtanga yoga, zen thai yoga, iyengar yoga. Selain itu juga diselingi dengan workshop musik dan tari yang dikaitkan dengan yoga, therapy dan healing.

Para pembicara dan pemateri workshop adalah tokoh-tokoh berpengalaman dari berbagai negara. Untuk menyebut beberapa nama, di antaranya hadir Shiva Rea (USA), Mark Whitwell (New Zelland), Danny Paradise (USA), Eoin Finn (Kanada), Bridget Woods-Kramer (Ukraina), Katy Appleton (Ukraina), Twee Merrigan (USA), Duncan Wong (Jepang), Uma Inder (India), Ninie Ahmad (Malaysia), Rocky Mustafa (Indonesia), Carole Baillargeon (Australia), Peter Sterios (USA), Patrick Creelman (Hongkong), Ananda Leone (Jerman), Gede Prama (Indonesia), Amalia Wai Ching (Singapura), Matej Jurenka (Slowakia), Joseph Lee (Singapura), Tina Nance (Taiwan).

Pementasan world music, kolaborasi musik dan tari, disuguhkan oleh tokoh-tokoh dan grup terkenal dari berbagai negara. Di antaranya adalah Mamadou Diabate (Mali), Ganga Giri (Australia), Afro Moses (Ghana), Kultiration (Swedia), Daphne Tse (USA), Cheb i Sabbah (Algeria), D’ Cinnamons (Indonesia), Tropical Transit (Indonesia), Samian (Kanada), Nyoman Windha Contemporary Gamelan (Indonesia), Nyanyian Dharma (Indonesia).

Selain itu, pagelaran juga diisi dengan gamelan Selonding dari Sukawati, tari-tarian Bali dari kelompok Cudamani, Tuju Taksu, tari legong oleh Bulan Trisna Djelantik, gamelan Gambang dari Padang Tegal, Genjek dari Karangasem, Didik Nini Thowok, kolaborasi tari-musik Nyoman Sura dan Ayu Laksmi, kolaborasi tari Jasmine Okubo dan gamelan kontemporer pimpinan Nyoman Windha, pementasan Sanggar Nata Raja, lagu-lagu ShakinaMa, Amae & Friends, dan masih banyak lagi.

Gaya Hidup

Yoga dan kegiatan spiritual telah menjadi gaya hidup di banyak belahan dunia, terutama Barat. Bangsa Barat yang telah kenyang menikmati kehidupan modern dengan logika-logika ilmu pasti, kini kembali menatap ke Timur yang dianggap sebagai pusat spiritualitas. Barat telah lama menyadari, kehidupan modern dan kemapanan ternyata hanya menyisakan kehampaan jiwa. Kehidupan modern telah menghilangkan sesuatu yang sangat esensial, yakni kerinduan spiritual. Banyak orang Barat yang kemudian mengembara ke Timur, belajar yoga dan meditasi, baik di India, Tibet, Bali, dan daerah-daerah yang dirasa mampu memberikan kedamaian jiwa dan mengobati kerinduan mereka pada Sang Hakiki.

Bali Spirit Festival ini merupakan salah satu bentuk kerinduan itu. Para peserta yang haus akan spiritual datang dari berbagai belahan benua, seperti Amerika, Eropa, Afrika, Asia, India. Sedangkan peserta Indonesia berdatangan dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Medan, Bali. Mereka berkumpul menjadi satu komunitas spiritual. Perbedaan warna kulit tidak menjadi halangan bagi mereka untuk saling berkomunikasi, berbagi rasa dan pikiran, bercengkerama, saling belajar dan menyerap inspirasi demi pencerahan jiwa.

Hal itu misalnya diungkapkan oleh salah satu peserta, Elsi Siswianti. Elsi adalah instruktur yoga dari Jakarta. Dia baru pertama kali ikut dalam festival ini. Dia mengatakan festival ini memberinya banyak pengalaman berharga yang tak terlupakan. Karena selain bisa berkumpul dengan peminat/penekun yoga dan spiritual dari berbagai negara, dia juga bisa bertemu langsung dengan guru-guru yoga kelas dunia.

“Dalam festival ini kita merasakan kebersamaan, persaudaraan dan persatuan, walaupun berasal dari negara yang berbeda-beda. Karena menyadari bahwa kita sama-sama ciptaan Tuhan. Kegiatan ini sangat bermanfaat dan bisa dijadikan conton teladan,” tutur wanita cantik ini.

Generasi Bunga

Festival ini terkesan seperti perkampungan kaum hippies atau kaum gipsy. Sejumlah peserta tampak mengenakan dandanan dan aksesori nyentrik yang cukup mengundang perhatian. Sekilas festival ini seperti diliputi aroma kerinduan akan kebangkitan Generasi Bunga (The Flower Generation) yang pernah menjadi ikon gaya hidup pada tahun 1960-an hingga 1970-an, baik di Amerika maupun belahan dunia lainnya.

Generasi Bunga atau yang biasa disebut kaum hippies pada jamannya memang dilandasi semangat anti kemapanan, menolak perang, memuliakan cinta dan perdamaian. Mereka adalah generasi yang mengisi kehampaan jiwanya dengan mengembara ke Timur, demi menyerap aura spiritual. Mereka adalah generasi yang merindui kebebasan, merayakan kemerdekaan jiwa. Namun pada banyak kasus, sebagian dari mereka terjebak dalam asap mariyuana, demi meraih kondisi ektase.

Dalam festival ini bisa disaksikan bagaimana arwah-arwah Generasi Bunga bangkit kembali. Hal itu misalnya bisa diperhatikan dari gaya dandanan dan aksesori yang menghiasi tubuh sejumlah peserta. Terlihat gadis-gadis manis bermata biru dengan santai berpakaian ala kadarnya, menyelipkan bunga di telinga, memakai ikat kepala, mengenakan kalung dan gelang manik-manik. Yang lelaki bertelanjang dada dengan rambut gondrong dan brewok awut-awutan. Tatto beraneka rupa juga menghiasi tubuh sejumlah peserta, sebagai keindahan sekaligus simbol eksistensi.

Aroma Generasi Bunga lebih terasa lagi dalam sebuah gubuk sederhana yang dibubuhi plang nama “Balifornia Bamboo”. Gubuk yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu dibangun secara kolaboratif oleh orang-orang Bali dan Amerika. Di depan gubuk dipasang rangkaian bunga dan bermacam tulisan yang menjelaskan visi dan misi mereka. Di dalam gubuk, terlihat beberapa peserta (laki-perempuan) duduk santai sambil berdiskusi perihal spiritual. Di saat lain mereka saling berpelukan dan berbagi kasih, tidur-tiduran dengan posisi tumpang tindih. Pada mata mereka terbaca kerinduan ingin kembali ke dunia kanak-kanak, kepada kemurnian jiwa.***

(Tulisan ini dimuat di Majalah ARTI edisi 27, Mei 2010)

Trackbacks

Leave a Reply

get yahoo smilies plugin or delete this text from comments.php