Cakra Punarbhawa

 Cerpen: Wayan Sunarta
 
Aku lahir. Gajahmada melepas jangkar. Melabuhkan armada tempur di pantai leluhurku. Malam biru. Seperti jubah laut masa lalu.
Ayahku nelayan tua bermata ungu. Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu. Ibuku dayang istana, perayu ulung, penakluk muasal kata, penadah titah yang patah. Suatu malam raja melepas lelah dalam rahim ibu. Aku terjaga. […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Jimat Tikus

 Cerpen: Wayan Sunarta
 
Walau agak ragu, namun akan saya kisahkan pada Anda, sepenggal pengalaman saya menjadi tikus cerurut. Sejenis tikus yang tampangnya paling tidak menarik, tidak lucu atau imut seperti tikus rumah atau tikus sawah, tidak bersih dan putih seperti tikus percobaan di laboratorium, apalagi menawan dan memesona seperti tikus kantor. Saya hanyalah tikus yang sangat […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Kembar Buncing

Cerpen: Wayan Sunarta
Tiga hari lalu, Luh Sarni melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan! Meski melahirkan di rumah sakit di kota kabupaten, tapi berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya.
Kelahiran bayi kembar buncing dianggap membawa aib yang akan mencemari desa. Menurut awig-awig setempat, orang tua dan […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Kematian Ayah

Cerpen: Wayan Sunarta
Dini hari tadi ketika kabut masih bergelayut di ujung-ujung daun kopi, di dahan-dahan cengkeh, di pucuk-pucuk pohon duren, Ayah akhirnya berhasil menyelesaikan hembusan nafasnya yang penghabisan. Ayah pergi dengan sangat tenang, meninggalkan dua istri (satu sudah meninggal), sepuluh anak, lima cucu.
Ledakan tangis ibuku, istri kedua Ayah, menggetar dalam gubug, lalu keluar menerobos kabut, […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Menunggu

 Cerpen: Wayan Sunarta
 
 
Lelaki itu duduk bertopang dagu di bangku kayu di sebuah taman rumah sakit. Di langit barat, senja baru saja selesai menarik kuas terakhirnya, membubuhkan warna merah keemasan. Dan seperti biasa, burung-burung yang letih pulang ke pembaringannya, di pucuk-pucuk pohon yang berderet di jalan menuju taman rumah sakit itu.
Aku baru saja selesai mandi dan […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Kutukan

Cerpen: Wayan Sunarta
                       
Langit masih mendung. Sejak sore tadi hujan turun tiada hentinya. Di jalanan sampah-sampah berserakan akibat got-got yang meluap. Sambil sedikit menggigil Pastika mengendarai motor bebeknya, membonceng kekasihnya, Maya. Mereka mampir di sebuah warung jagung bakar yang banyak bertebaran di sepanjang jalan di kawasan Renon. Dingin-dingin begini pasti asyik makan jagung bakar, apalagi bersama […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Ratih

Cerpen: Wayan Sunarta
Lebih dari lima kali Ratih menatap jam tangannya, namun wisatawan yang ditunggunya belum juga tiba. Kini jam di pergelangan tangannya telah menunjuk angka dua dini hari. Mestinya pesawat yang mengangkut wisatawan itu telah mendarat di Bali sejam lalu. Ah, mungkin ada gangguan teknis atau keterlambatan pemberangkatan, gumam Ratih lirih.
Meski diliputi gelisah, perempuan berusia […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Penjaga Kamar Mayat

Cerpen: Wayan Sunarta
Sudah lebih dua puluh lima tahun Pak Tabah bekerja sebagai penjaga kamar mayat. Rentang waktu yang lumayan panjang itu, dia lewati dengan penuh ketekunan, kegembiraan serta rasa tanggung jawab sebagai penjaga kamar mayat. Ia pun telah menerima penghargaan atas pengabdiannya yang lama dari rumah sakit tempatnya bekerja. Penjaga-penjaga kamar mayat yang junior bangga […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Rumput Liar

Cerpen: Wayan Sunarta
Sepanjang sejarah Kecamatan A, baru kali ini dijumpai kejadian yang betul-betul tidak masuk akal. Pak Camat bingung. Seluruh pegawai kecamatan gundah.. Masyarakat resah dan panik. Pangkal dari kejadian aneh itu hanya perkara rumput. Rumput-rumput tumbuh sangat subur dan liar. Rumput tumbuh di mana-mana. Juga kantor-kantor pemerintahan, tak luput dari serangan rumput liar itu. […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008

Puncak Ketujuh

Cerpen: Wayan Sunarta
Kami mendaki. Masih terus mendaki. Puncak ketujuh, yang kami rindukan selama hidup kami, belum juga terlihat. Kakiku terasa gemetar. Tubuhku menggigil menahan dingin yang dihembus angin kabut. Aku baru tiba di lambung gunung. Puncak ketujuh masih jauh, teramat jauh, seakan tak mampu kami jangkau. Namun, kami terus mendaki.
Saudara seperjalananku yang berjumlah lima orang […]

No Comments »Filed under: CerpenPosted on February 1st, 2008
Page 1 of 41234»