<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Balada Sang Putri di Gubuk Hamba</title>
		<link>http://jengki.com/2010/03/24/balada-sang-putri-di-gubuk-hamba/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/03/24/balada-sang-putri-di-gubuk-hamba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 02:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta
Senja warna kencana ketika putri jelita itu tiba di pesanggrahan hamba. Tiga angsa seputih bunga kamboja mengiringinya.
“Angsa-angsa ini tak mau kutinggal di puri. Selalu ingin mengikutiku ke mana pergi,” ucapnya.
Harum cempaka merekah dari langsat kulitnya. Bibir tipisnya mirah delima. Angin cemburu tak mampu mengurai hitam rambutnya. Hamba terpana pesona di hadapan hamba. Gerimis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Wayan Sunarta</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/03/ilustrasi-balada-sang-putri.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-443" title="ilustrasi balada sang putri" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/03/ilustrasi-balada-sang-putri-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a>Senja warna kencana ketika putri jelita itu tiba di pesanggrahan hamba. Tiga angsa seputih bunga kamboja mengiringinya.</p>
<p>“Angsa-angsa ini tak mau kutinggal di puri. Selalu ingin mengikutiku ke mana pergi,” ucapnya.</p>
<p>Harum cempaka merekah dari langsat kulitnya. Bibir tipisnya mirah delima. Angin cemburu tak mampu mengurai hitam rambutnya. Hamba terpana pesona di hadapan hamba. Gerimis merah muda mengurai cuaca di kesunyian pesanggrahan.</p>
<p>Hamba tuntun sang putri masuk gubuk. Langkahnya pasti menjejak lantai tanah Mulus betisnya memancarkan cahaya surgawi. Hamba menentramkan riak-riak ombak di hati.</p>
<p>Sang putri duduk anggun di balai-balai bambu. Dia mengulum senyum. Seakan hendak menerka rahasia dari lontar-lontar kusam masa silam, yang hamba susun rapi di peti tua berukir bunga padma.</p>
<p>“Lautan dan topan sejatinya sepasang kekasih yang ingin menembangkan kidung-kidung dewa di cangkang-cangkang kerang,” lirihnya</p>
<p>Hamba merasa malu pada hati hamba, yang tiba-tiba mekar di jelita matanya. Buru-buru hamba nyalakan pelita minyak kelapa. Malam telah membutakan jarak di pesanggrahan.</p>
<p>Remang cahya pelita menggurat dua bayang di dinding kayu. Bayang yang saling termangu merunut silsilah dan sejarah, yang mengasingkan kami sejauh tahun-tahun kepedihan, sepanjang jarak dua belahan bumi.</p>
<p>“Angin apa kiranya yang membawamu ke sini, Putri? Hamba telah asingkan diri dari segala kenangan, meski parasmu masih membekas di hati. Cahaya apa menuntun langkahmu, menyusuri jejak sunyi tak terperi, hingga tiba di gubuk hamba?”</p>
<p>Mata sekilau purnama menatap hamba tajam. Menembus remang ruang, remang jiwa. Bibir seindah mirah membuka sabda: “masih ingatkah kau pada sebilah daun lontar dimana tertatah syair, yang kau gurat dari lubuk jiwamu?”</p>
<p>Hamba merasa darah hangat dari jantung yang berdegup malu, mengalir perlahan memenuhi wajah hamba. Sudah lama sekali, belasan tahun lalu. Ketika usia kami masih ranum, begitu hijau. Agaknya waktu telah membekukan syair itu di sebuah gua rahasia di hatinya.</p>
<p>“Meski bilah lontar itu telah kusam, tinta hitam dari kemiri dan jelaga hampir luntur, tapi syair itu tak henti menitiskan rindu dan mengalir hangat di nadiku. Kini tiba saatnya bagiku melunasi karma,” ucap Sang Putri.</p>
<p>Hamba terpana, menerka-nerka arah kerumunan kata yang berhamburan bagai kunang-kunang dari bibir rekah yang dulu hamba rindui. Di luar gubuk, angsa-angsa bercengkerama dengan malam, dengan halimun. Lengking suaranya melengkapi hening</p>
<p>“Jangan ragu. Aku tiba di sini untukmu. Aku akan berkisah. Dan hanya kau yang kupercayai menggurat kisah-kisahku ini di bilah-bilah lontarmu. Karena kau pujangga istana dimana dulu hatiku pernah bahagia&#8230;”</p>
<p>Hamba terkesiap, jiwa hamba berdesir, serupa angin subuh mengelus lembut kulit ari. Sudah lama sekali hamba tak mampu menggurat syair. Tiba-tiba hamba terkenang, saat hamba tinggalkan istana, diam-diam di tengah sunyi malam. Demi janji hamba pada keheningan dan pengembaraan.</p>
<p>Pantai demi pantai hamba susuri. Gunung demi gunung menjulang hamba daki. Rimba demi rimba rahasia hamba jelajahi. Lembah demi lembah misteri hamba hayati. Hingga tiba hamba di pesisir timur ini.</p>
<p>Tak ada yang mengenali hamba. Kecuali sunyi, kawan sejati seperjalanan. Bukankah manusia dilahirkan demi merayakan kesunyian? Dan ketika tiba saat kembali, jiwa menyusuri jalan sunyi yang itu-itu juga&#8230;</p>
<p>Suatu waktu angin pegunungan mengabarkan warta. Putri jelita sangat bersedih hati tak menemukan hamba di istana. Dia pun pergi membawa duka lara menyeberangi lautan seorang diri, menetap di negeri asing, demi menemukan kesejatian.</p>
<p>Hamba memahami kesedihannya. Hamba terlanjur tergoda kesunyian. Lebih memilih mengasingkan diri, ketimbang mendampingi sang putri melewati hari-harinya di puri. Hamba merasa tak leluasa berada di istana, mengabdi pada raja.</p>
<p>Hamba hanya ingin kembali pada alam dan kaum jelata. Belajar bertani, memahami nyanyian jengkrik dan kodok hijau. Berbaur dengan kuli, petani ladang garam dan nelayan. Mendengar siul angin di pucuk-pucuk bambu. Belajar mengurai makna sabda cicak di dinding kayu.</p>
<p>“Tak perlu disesali. Waktu begitu jauh berpacu. Namun wajah dan hatimu masih seperti dulu. Hanya beberapa helai uban tumbuh di sela-sela hitam rambutmu. Ketahuilah, kau masih selalu pujanggaku.”</p>
<p>Hamba tak pernah tahu, apa wajah dan hati bisa tidak berubah. Hanya waktu yang abadi, dan sekelumit rasa yang berupaya kekal dalam fana.</p>
<p>Remang jadi makin nyalang. Cahaya pelita bergoyang. Mengaburkan bayang-bayang. Angsa-angsa sesekali melengking. Halimun melingkupi pesanggrahan. Dua ekor cicak di dinding kayu sedari tadi menerka-nerka arah jiwa kami. Menerawang sesuatu yang makin sawang.</p>
<p>“Ketahuilah, pujanggaku. Aku bukan sejatinya putri istana. Aku hanya anak jadah. Meski ayahku turunan raja, yang sungguh kasip kuketahui. Namun tak pernah kutahu rupa ibuku. Sedari janin aku telah mencecap getir. Tangis pertamaku menyayat rahim ibu. Hatinya memang telah lama luka. Tak diakui, malu dengan aib sendiri. Aku dibuangnya begitu saja, seperti membilas daki di kelamin&#8230;,” keluh Sang Putri.</p>
<p>Hamba tercekat, sungguh terperanjat. Kata-kata berasa duri menyumbat kerongkongan. Nyeri seperti mengalir di sumsum nadi. Hamba hanya mampu terdiam. Sang putri tak henti berkeluh kesah.</p>
<p>Kisah miris ini makin meyakinkan hamba, betapa manusia sejatinya ditakdirkan mengalami kesunyian dan kesepian. Hamba merasa sepasang cicak di dinding kayu sedari tadi tertawa. Dan, lengking angsa menggenapi sunyi kami.</p>
<p>Letih dengan jiwa sendiri, sang putri terlelap di bale-bale bambu, tanpa kelambu. Di bilah-bilah daun lontar hamba mulai menggurat syair. Di remang cahya pelita, terbayang wajah sang putri, sedang mengutuki dirinya&#8230;</p>
<p>Karangasem, Bali, Januari 2010</p>
<p>(prosa ini dimuat di Kompas, Minggu 21 Maret 2010; dengan ilustrasi karya Ugy Sugiarto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/03/24/balada-sang-putri-di-gubuk-hamba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerling Mata Penari Cokek</title>
		<link>http://jengki.com/2009/03/10/kerling-mata-penari-cokek/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/03/10/kerling-mata-penari-cokek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 10:02:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Wayan Sunarta
 
 
“Percuma kau meratapi langit Jakarta. Kau tidak akan melihat cahaya purnama, seindah di langit Bali,” tegur seseorang. Aku terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara.
Hae, kawan lamaku, sudah berdiri di depanku sambil memamerkan senyum khasnya. Ternyata tanpa kusadari, dia memergokiku duduk termangu di sudut terminal memandangi langit malam. Jarum jam di dinding terminal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: center;" align="center"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Cerpen: Wayan Sunarta</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">“Percuma kau meratapi langit Jakarta. Kau tidak akan melihat cahaya purnama, seindah di langit Bali,” tegur seseorang. Aku terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Hae, kawan lamaku, sudah berdiri di depanku sambil memamerkan senyum khasnya. Ternyata tanpa kusadari, dia memergokiku duduk termangu di sudut terminal memandangi langit malam. Jarum jam di dinding terminal menunjuk angka tujuh.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Beruntung kau tidak dikuntit pencopet,” ujar Hae lagi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Aku tertawa. Kami bersalaman, saling bertukar kabar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Aku takjub dengan kotamu,” ujarku. “Bagaimana bisa langit kotamu menyembunyikan cahaya purnama dari mataku?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Jangankan cahaya purnama, kau sendiri bisa hilang ditelan gemuruh kota ini,” kata Hae datar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Aku tersenyum pahit, sebuah pernyataan ironis baru saja mampir ke kupingku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Akhirnya tiba juga aku di Jakarta, pikirku. Gerah udara sore dan bising kendaraan menyambut kedatanganku di Terminal Rawamangun. Hae kuminta menjemputku di terminal. Dan ternyata Hae sudah sejak sore tadi menunggu kedatanganku dengan harap-harap cemas. Aku tidak tahu dimana dia menungguku tadi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Aku dan Hae sudah berkawan sejak lama, hampir lima tahun. Hae orang Betawi asli. Beberapa kali aku mengutarakan keinginanku untuk mengunjungi Jakarta. Dan baru hari itulah untuk pertama kalinya aku menjejakkan kakiku di Kota Jakarta, berkat sebuah surat undangan acara sastra, pembacaan puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM). </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Ayo, bawa ranselmu, kita bersiap-siap menjelajahi malam dan rimba belantara Jakarta,” Hae menyalakan sebatang rokok kretek. “Malam ini kau menginap di rumahku.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Aku segera menyandang ransel di punggung dan berjalan membuntuti langkah Hae yang panjang-panjang. Dia menyetop bus yang penuh sesak dengan penumpang yang nampak kelelahan menghadapi hidup.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Hati-hati dompetmu!” ujar Hae sebelum kami buru-buru naik ke dalam bus. Hampir saja aku terjatuh karena belum genap dua kakiku menjejak, bus itu sudah melaju. Harus buru-buru dan hati-hati, itulah pelajaran pertama yang kudapat di Jakarta.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Belum dua puluh menit, bus berhenti. Kami turun. Hae kembali menyetop sebuah mobil omprengan. Kami naik ke dalam mobil dan berdesak-desakan di dalamnya. Campuran bau keringat dan wangi parfum penumpang benar-benar memabukkan. Aku memeluk erat-erat ranselku dan sesekali meraba dombet di saku dalam jaket jeanku untuk memastikan aman dari tangan-tangan tak terlihat. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Tak berapa lama kami turun lagi. Sebuah bus disetop lagi oleh Hae, dan kami buru-buru naik ke dalamnya, kali ini aku tidak terpeleset. Kembali aku menemui wajah-wajah kuyu yang seakan bosan hidup, namun enggan pula untuk mati. Kerlap-kerlip lampu-lampu pertokoan dan temaram merkuri jalanan menyadarkan aku bahwa manusia hanya laron yang tak bosan memburu cahaya untuk hangus di dalamnya. Cahaya senantiasa menggoda mata.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Bus berhenti di depan sebuah gang. Kami turun. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan kaki sekitar tiga puluh menit, menyusuri gang yang dipadati perkampungan yang nyaris kumuh. Aku berjalan tertatih menahan berat ransel di punggung.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Nah, kita telah sampai di rumah,” seru Hae dengan wajah sumringah, seakan lepas dari neraka jahanam jalanan Jakarta. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Sebatang pohon leci besar dan rindang menyambut kedatangan kami. Seonggok rumah mungil sederhana tumbuh tidak jauh dari pohon leci itu. Di rumah itu, di daerah Kembangan, Jakarta Barat, Hae tinggal bersama ayah, ibu dan dua adiknya yang remaja. Hae sendiri tidak punya pekerjaan tetap. Dia kerja serabutan. Kadang menulis artikel di beberapa koran, kadang mengurusi proyek kesenian di TIM. “Yang penting, bisa untuk makan,” katanya suatu kali.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Aku duduk di emperan rumah sambil merenungi pohon leci yang besar dan rindang itu. Hae menatapku heran.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Ada juga pohon leci di Jakarta!” ujarku takjub.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Ya, ada dong. Masak di Bali aja ada pohon leci,” jawab Hae seadanya. “Pohon leci itulah satu-satunya sumber kenyamanan kami di sini.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Aku terdiam. Apakah yang mampir ke kupingku kali ini sebuah pernyataan ironis lagi?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Kau mau langsung istirahat atau menonton <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Wayang Cokek</em>?” tanya Hae.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Wayang Cokek? Apa itu? Sejenis wayang kulit?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Hae kembali memamerkan senyum khasnya, senyum lebar yang membuat wajahnya nampak lucu. Aku juga tersenyum, namun lebih pada senyum yang mungkin terlihat konyol.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Sudahlah. Nanti saja aku jelaskan. Aku jamin kau pasti senang menontonnya. Yang jelas, kita tidak nonton wayang kulit, tapi menyaksikan goyang gemulai penari berkulit mulus. Kesenian khas Betawi, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Bro</em>!” Hae tersenyum penuh arti padaku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Sebenarnya tubuhku sejak tadi terasa remuk dilumat belantara Kota Jakarta, belum lagi perjalanan jauh naik bus dari Bali ke Jakarta. Dalam mataku yang terbayang-bayang hanya kasur empuk untuk melempar tubuh letihku. Tapi tawaran Hae sungguh menggoda rasa ingin tahuku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Baiklah. Aku ingin lihat Wayang Cokek. Siapa tahu dapat puisi nanti,” ujarku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Nah, itu maksudku. Ini kesempatan langka buatmu, mumpung kau di Betawi. Kapan lagi kau bisa lihat Wayang Cokek, ya kan?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Setelah mandi dan makan malam, aku dan Hae kembali berjalan menyusuri gang di seputaran kampungnya. Hae terlihat sibuk membalas sapaan orang-orang yang ditemuinya di jalan atau anak-anak muda yang sedang nongkrong di gardu ronda. Ternyata Hae sangat dikenal di kampungnya, pikirku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Walaupun pemukiman orang-orang Betawi terus terdesak akibat pembangunan dan perkembangan Kota Jakarta yang sangat pesat, kami masih cukup kuat menjaga tradisi leluhur,” Hae berceloteh, seakan paham apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Aku dan Hae terus berjalan menyusuri gang yang berliku-liku dan padat pemukiman. Hae masih sibuk berceloteh tentang kampungnya dan kehidupan di Jakarta. Aku merenungi setiap kata-katanya. Sayup-sayup aku mendengar alunan tetabuhan musik yang terasa aneh dan asing di kupingku, bersahut-sahutan dengan sorak-sorai dan tepuk tangan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>“Itu musik <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Gambang Kromong</em>. Kita sudah sampai di tempat pertunjukan Wayang Cokek,” ujar Hae.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Kami mempercepat langkah, hingga tiba di sebuah rumah besar yang terlihat meriah dan halamannya penuh disesaki orang. “Rumah ini milik mantan cukong Cina peranakan terpandang di kampung ini. Wayang Cokek itu sengaja dipentaskan untuk memeriahkan resepsi pernikahan anak lelakinya,” jelas Hae layaknya <em style="mso-bidi-font-style: normal;">guide</em> profesional yang sering kujumpai di Bali. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Kami berusaha menembus kerumuman penonton dan berhasil mendapatkan tempat yang agak longgar persis di depan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kalangan</em> atau arena pementasan. Musik Gambang Kromong terdengar nyaring di kupingku. Aku terkesima menyaksikan dua perempuan cantik berkostum meriah dari ujung rambut sampai kaki menari-nari gemulai sambil goyang-goyang pinggul dengan gerakan-gerakan erotis. Cantik sekali mereka! Ai&#8230;ai&#8230;ai&#8230;kerling matanya sangat menggoda!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">“Gimana, Bro? Asyik, kan?” Hae menyenggol lenganku. “Nanti kau bisa ikut <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ngibing</em>, kalau kau mau.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Dua lelaki masuk ke dalam <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kalangan</em>. Mereka menari-nari dengan gerakan-gerakan yang tidak teratur, nampak bersemangat mengibingi penari itu. Seorang pengibing berusaha menciumi penari, tapi ciumannya selalu meleset ditepis oleh penari. Penonton bersorak-sorai menyaksikan adegan lucu itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Ngibing? Bukankah tarian yang kulihat ini mirip <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Joged Bumbung</em> di Bali? Gerakan-gerakan tarinya juga erotis dan ada pengibingnya. Aku baru tahu, kalau di Jakarta yang gemerlap ini ada tari pergaulan tradisional seperti yang biasa kutonton di Bali.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span><span style="mso-tab-count: 1;">           </span>“Pada jaman dulu, Wayang Cokek banyak dibina dan dikembangkan oleh juragan-juragan dan tuan tanah Cina yang kaya raya. Sekarang kesenian ini sudah semakin sulit ditemui. Bahkan pemerintah DKI Jakarta pun tidak terlalu peduli dengan nasib kesenian ini. Mungkin pemerintah lebih sibuk memikirkan urusan keselamatan kursinya,” bisik Hae dengan wajah prihatin. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Aku terdiam, sibuk meresapi kata-kata Hae. Di Bali pun banyak kesenian tradisional yang terlantar dan para pemainnya lebih sering diangkut truk layaknya sapi untuk dipentaskan di hotel-hotel berbintang di Nusa Dua atau Sanur. Yang kaya hanya para calo atau cukong kesenian. Senimannya tetap saja merana.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">“Nasib Wayang Cokek akan lebih tragis lagi dengan berlakunya UU Anti Pornografi &amp; Pornoaksi,” ujar Hae sedih. “Orang Betawi akan kehilangan kesenian nenek moyangnya!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Aku menengadahkan kepala, menatap langit Jakarta. Antara kampung dan kota ternyata hanya dipisah jarak yang sangat tipis. Di seberang perkampungan ini nampak bangunan-bangunan raksasa menjulang menjarah langit dengan lampu-lampu gemerlap. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Dalam perkampungan ini sedang meriah dengan pesta perkawinan dan pementasan Wayang Cokek yang memesona namun bernasib<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>tragis. Di seberang sana, di dalam bangunan-bangunan kaku mirip kotak korek api itu tentu ada banyak pesta yang lebih meriah. Pesta halal atau pun pesta haram, sudah begitu sulit dibedakan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Bulan purnama perlahan memancarkan cahaya redupnya dari kerumunan kabut asap kendaraan yang membungkus langit Jakarta. Seberkas cahayanya berusaha menyinari wajah penari Cokek yang nampak riang malam itu. Tepat di belakang penari, di seberang perkampungan, aku melihat gemerlap lampu-lampu dari pucuk-pucuk bangunan dengan perasaan rawan. Cahaya purnama dan lampu-lampu itu saling berebut perhatian manusia. Manusia selalu tergoda untuk memburu cahaya, layaknya laron-laron di musim hujan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Di dalam bangunan-bangunan yang menjulang itu, mungkin sejumlah perselingkuhan sedang berlangsung, rencana jahat dan niat busuk sedang disusun. Di pucuk bangunan yang lain, mungkin para tokoh partai sedang memeras otak untuk kesuksesan partainya dengan menghalalkan segala cara, atau anggota DPR sedang bertengkar dengan istri simpanannya. Sejumlah adegan pembunuhan bisa saja sedang terjadi di bangunan yang lainnya. Siapa yang tahu? Siapa yang peduli? Kita hanya bisa menduga. Dan menduga yang tidak terduga adalah riskan. Serawan menduga kilau kerling mata penari Cokek itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="mso-no-proof: yes;" lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Pagelaran Wayang Cokek usai sekitar jam satu malam. Kami pulang berbekal kaki penat dan badan letih. Sesampai di rumah Hae, aku langsung cuci muka dan melempar tubuh ke atas kasur. Malam pertamaku di Jakarta begitu mengesankan. Beribu kunang-kunang mengerubungi mimpiku, silih berganti dengan kerling mata penari Cokek yang menakik jiwaku.*** </span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/03/10/kerling-mata-penari-cokek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putu Kaler dan Luh Sari</title>
		<link>http://jengki.com/2009/02/04/putu-kaler-dan-luh-sari/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/02/04/putu-kaler-dan-luh-sari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 01:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Wayan Sunarta
 
Telah berhari-hari Putu Kaler memburu burung perkutut itu. Ia telah menjelajahi sawah dan ladang desa tetangganya, namun burung bersuara merdu itu belum juga mampu dipikatnya. Demi mendapatkan burung itu Kaler tidak sungkan menginap di gubug di tengah ladang atau numpang tidur di rumah penduduk yang ditemuinya ketika senja semakin merambat menjadi malam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p>Telah berhari-hari Putu Kaler memburu burung perkutut itu. Ia telah menjelajahi sawah dan ladang desa tetangganya, namun burung bersuara merdu itu belum juga mampu dipikatnya. Demi mendapatkan burung itu Kaler tidak sungkan menginap di gubug di tengah ladang atau numpang tidur di rumah penduduk yang ditemuinya ketika senja semakin merambat menjadi malam yang kelam.</p>
<p>“Permisi, Pak. Boleh saya numpang tidur di rumah Bapak? Saya sedang mengincar burung perkutut yang bertengger di salah satu pohon di ladang Bapak,” begitu Kaler berkata santun pada pemilik rumah yang ditemuinya ketika kemalaman. Dan biasanya pemilik rumah mengijinkan tamu yang tidak diundang itu menginap di rumahnya. Para penduduk desa sudah paham dengan kebiasaan para pemburu burung perkutut yang kadangkala bisa seminggu tidak pulang demi mendapatkan burung yang sedang diincarnya.</p>
<p>Pada kesempatan lain, Kaler kadang bermalam di ladang sambil terus mengintai burung yang bertengger di atas pohon. Kaler tidak ingin kehilangan buruannya. Kemana pun burung itu terbang, pasti akan dicarinya. Ia akan memasang burung pemikat yang ditaruh di dalam sangkar. Burung pemikat akan bernyanyi merdu mengundang burung pejantan yang sedang diincar oleh Kaler. Dan lelaki gesit itu akan menunggu dengan sabar dari jarak yang agak jauh sampai burung itu benar-benar masuk ke dalam perangkapnya.</p>
<p>Ketika hari semakin meninggi, Luh Sari, istrinya, akan mengantarkan makan siang buat suaminya yang setia menunggui burung perkutut itu masuk perangkap.</p>
<p>“Apa burungnya sudah kena pikat?” tanya Luh Sari sambil menghidangkan makan siang di sebuah gubug di tengah ladang, suatu hari.</p>
<p>“Tadi hampir kena. Sayang sekali ada buah kelapa kering jatuh sehingga burung itu kabur lagi,” gumam Kaler kecewa.</p>
<p>“Ya mesti sabar, Bli. Atau mungkin burung pemikat itu kurang merdu suaranya?”</p>
<p>Kaler terdiam. Namun pikirannya terbang ke mana-mana. Apa mungkin burung pemikat kurang merdu suaranya? Ah, tidak mungkin! Burung betina itu telah terbukti mampu memikat banyak pejantan.</p>
<p>“Kamu kan lihat sendiri, Luh? Di rumah kita ada banyak burung perkutut yang berhasil kupikat dengan perkutut betina itu. Bahkan hampir semua burung yang kupikat bersuara bagus dan banyak yang mau membelinya.”</p>
<p>“Tapi mengapa Bli tidak mau menjualnya?” tanya Luh Sari sambil memasang muka sedikit cemberut.</p>
<p>“Tidak, Luh. Burung-burung itu tidak akan Bli jual. Bli sangat sayang pada mereka. Kau bisa dengar setiap hari, burung-burung itu selalu menghibur kita dengan nyanyiannya yang merdu. Nyanyian yang melenakan jiwa kita, Luh.”</p>
<p>Luh Sari hanya terdiam mendengar kicauan suami tercintanya itu. Dia sadar memang tidak bisa membahagiakan suaminya. Hampir sepuluh tahun mereka menikah, namun belum juga dikarunia momongan. Bersyukur pula suaminya tidak terlalu mengeluh dengan kondisi mereka. Dan Luh Sari tidak juga tahu apakah dirinya yang mandul atau suaminya.</p>
<p>Dan kini burung-burung perkutut itu menjadi tumpuan kebahagiaan mereka. Suaminya bisa betah berjam-jam duduk di bale-bale sambil memainkan jari-jarinya untuk melatih burung itu bernyanyi. Kadangkala ia bisa berlama-lama di pasar burung mencari pakan yang bermutu bagus agar burung peliharaannya bisa bersuara merdu. Burung-burung perkutut itu sudah seperti anak-anaknya saja, selalu menjadi tumpuan kasih sayang.</p>
<p>Pada awalnya jelas Luh Sari kecewa dan cemburu dengan tingkah laku suaminya yang terlalu sibuk memperhatikan burung-burungnya. Apalagi ketika Kaler mulai jarang di rumah karena asyik memikat burung sampai berhari-hari ke desa tetangga. Kalau sudah begitu Luh Sari hanya bisa pasrah dan harus puas dengan nasib yang diterimanya. Namun pernah juga mereka bertengkar gara-gara persoalan burung.</p>
<p>“Bli, mengapa Bli hanya sibuk mengurus burung-burung itu? Mengapa Bli tidak pernah punya waktu untuk saya?” sengat Luh Sari ketika pagi-pagi dilihatnya suaminya asyik bercengkerama dengan perkututnya di bale bengong.</p>
<p>Tentu saja suaminya kaget. Burung perkutut dalam sangkar apik itu pun juga ikut-ikutan panik.</p>
<p>“Kenapa pagi-pagi sudah marah-marah, Luh?!” ujar Kaler sambil berusaha menenangkan burungnya yang panik.</p>
<p>“Antarkan saya ke pasar!”</p>
<p>“Lho, kamu kan sudah biasa ke pasar sendiri? Mengapa sekarang minta diantarkan?” tanya Kaler polos sambil membetulkan letak sarungnya yang melorot.</p>
<p>“Terus terang saja, Bli. Saya sudah bosan hidup begini. Setiap hari harus memberi makan burung-burungmu itu, sementara Bli sibuk ngeluyur memikat burung lain.”</p>
<p>“Luh, mengapa ini jadi masalah? Bukankah kamu sudah biasa melakukannya setiap hari? Kamu juga sering mengantar makanan ketika Bli sedang asyik memikat burung.”</p>
<p>“Iya. Tapi Bli tidak mengerti perasaan saya!”</p>
<p>Sambil menangis terisak-isak Luh Sari berlari-lari kecil meninggalkan suaminya yang bengong melongo.</p>
<p>Sebentar kemudian Kaler kembali asyik dengan burung perkututnya. Ia memainkan jari-jarinya di depan burung itu. Mulutnya bersiul-siul memancing burung itu agar ikut bersuara. Namun agaknya perkutut itu mengerti kesedihan Luh Sari sehingga burung itu mogok bernyanyi.</p>
<p>“Ayo, nyanyi! Nyanyi yang merdu!” ujar Kaler pada burung perkututnya.</p>
<p>Burung itu masih saja kalem dalam sangkarnya.</p>
<p>Kesabaran Kaler mulai habis. Digoncang-goncangkannya sangkar burung itu. Bukannya membuat burung itu mau bernyanyi, malah burung itu menjadi panik. Karena kesal, Kaler menendang sangkar burung itu. Pintu sangkar rusak dan terbuka. Burung itu pun terbang ketakutan. Awalnya burung itu terbang rendah kesana kemari.</p>
<p>“Aduh&#8230;.gawat! Burungku lepas! Burungku lepas!”</p>
<p>Kaler berlari-lari panik berusaha menangkap burungnya yang telah melesat dan hinggap di ranting pohon nangka di halaman rumahnya.</p>
<p>Kaler berusaha merayu burung itu agar kembali turun dan mendekatinya. Ia terus menjentik-jentikkan jemarinya sambil bersiul-siul memanggil perkutut kesayangannya. Namun burung itu masih saja nangkring di atas pohon nangka, seakan mengejek Kaler.</p>
<p>Dengan lesu Kaler menjatuhkan tubuhnya di atas bale-bale bambu. Beberapa saat kemudian Luh Sari datang dari pasar. Wajahnya masih cemberut. Namun Luh Sari kaget juga ketika mendapati Kaler meringkuk dengan wajah kusut di sudut bale-bale. Lebih kaget lagi ketika melihat sangkar burung yang pintunya koyak.</p>
<p>“Kenapa, Bli? Ada apa?” seketika wajah cemberut Luh Sari pudar, berganti panik. Dia cemas kalau penyakit asma suaminya kumat lagi.</p>
<p>“Burungku lepas, Luh.”</p>
<p>“Kenapa bisa lepas, Bli?”</p>
<p>“Kutendang tadi.”</p>
<p>Luh Sari terdiam.</p>
<p>Sementara itu burung yang tadi bertengger di ranting nangka telah melesat terbang menjauhi rumah mereka. Tapi kuping Kaler masih sempat mendengar lamat-lamat nyanyian merdu suara burung yang kini menjauh itu.</p>
<p>Kaler bergegas bangkit dari duduknya. Kemudian buru-buru menyambar burung pemikat beserta sangkarnya.</p>
<p>“Luh, Bli pergi dulu. Bli mau mengejar burung itu. Nanti siang bawakan Bli makanan ya..!”</p>
<p>Luh Sari geleng-geleng kepala menatap kepergian suaminya yang tidak sempat berganti sarung.</p>
<p>Kaler masih terus memburu burung perkututnya. Sudah berpetak-petak sawah ia seberangi. Telah berbidang-bidang ladang ia jelajahi. Ia tidak ingat lagi berapa gubug pernah disinggahinya, berapa rumah penduduk pernah ditumpanginya. Suara burung perkutut itu terus terngiang-ngiang dalam gendang telinganya, melantunkan gema yang menyusup menentramkan jiwanya.</p>
<p>“Ayah, mengapa Ayah menendang saya?! Saya takut, Ayah!” </p>
<p>Sayup-sayup Kaler mendengar suara di dalam kepalanya.</p>
<p>“Siapa kamu?! Mengapa memanggilku Ayah?” Kaler terkesiap. Samar-samar ia melihat wajah bocah yang gemetar ketakutan.</p>
<p>“Saya anakmu.”</p>
<p>“Aku tidak punya anak!”</p>
<p>“Kamu punya, Ayah.”</p>
<p>Bocah itu perlahan memudar dari pandangan Kaler.</p>
<p>Tiba-tiba sebuah tangan menjulur menyentuh pundaknya. Kembali Kaler terkesiap. Gelagapan ia terbangun dari tidurnya.</p>
<p>“Pak, bangun! Sudah pagi! Saya mendengar suara perkutut di pohon mangga. Mungkin itu burung yang Bapak cari,” ujar pemilik rumah tempat Kaler menginap sembari mengarahkan telunjuknya ke pohon mangga yang dimaksud.</p>
<p>“Ya. Tidak salah lagi. Itu burung yang saya cari berhari-hari,” jawab Kaler.</p>
<p>Kaler bergegas mengintai burung itu. Sangkar burung pemikat memang telah digantungnya di dahan mangga kemarin sore. Dan sekarang perkutut yang diburunya sedang mendekati burung pemikat. Perlahan namun pasti, burung itu berhasil dipikatnya. Kaler pun pulang ke rumah sambil bersiul-siul bahagia.</p>
<p>Di rumah, Luh Sari telah menanti kedatangan Kaler dengan harap-harap cemas. Begitu melihat Kaler muncul di pintu pagar, Luh Sari langsung menghambur memeluk Kaler.</p>
<p>“Bli, saya terlambat datang bulan. Saya hamil, Bli!” seru Luh Sari dengan wajah berbinar-binar.</p>
<p>Kaler terkesiap, namun bahagia. Sudah lama ia menanti kabar gembira ini. Kaler mengelus rambut Luh Sari penuh kasih sayang. Kaler kembali mengingat mimpinya. Apakah bocah yang hadir samar-samar dalam mimpinya itu akan menjadi kenyataan?</p>
<p>“Bli bahagia mendengar kabar gembira ini, Luh. Bli berjanji tidak akan pergi memikat burung lagi. Bli akan lebih sering di rumah menemanimu, melihat perutmu semakin membesar, dan menunggu kelahiran anak kita.”</p>
<p>Luh Sari terharu dan bahagia menatap suaminya. Burung-burung perkutut bernyanyi merasakan kebahagiaan mereka.****</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>(Karangasem, Bali, April 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/02/04/putu-kaler-dan-luh-sari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cakra Punarbhawa</title>
		<link>http://jengki.com/2008/02/01/cakra-punarbhawa/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/02/01/cakra-punarbhawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/02/01/cakra-punarbhawa/</guid>
		<description><![CDATA[ Cerpen: Wayan Sunarta
 
Aku lahir. Gajahmada melepas jangkar. Melabuhkan armada tempur di pantai leluhurku. Malam biru. Seperti jubah laut masa lalu.
Ayahku nelayan tua bermata ungu. Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu. Ibuku dayang istana, perayu ulung, penakluk muasal kata, penadah titah yang patah. Suatu malam raja melepas lelah dalam rahim ibu. Aku terjaga. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Cerpen: Wayan Sunarta<br />
 </p>
<p>Aku lahir. Gajahmada melepas jangkar. Melabuhkan armada tempur di pantai leluhurku. Malam biru. Seperti jubah laut masa lalu.</p>
<p>Ayahku nelayan tua bermata ungu. Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu. Ibuku dayang istana, perayu ulung, penakluk muasal kata, penadah titah yang patah. Suatu malam raja melepas lelah dalam rahim ibu. Aku terjaga. Aku benih, gabungan sudra dan ksatria, hanyut menggenangi gema genta pendeta. Aku putra jadah. Rasi bintang yang sendiri. Terbuang, tak diakui. Meski raja mencintaiku, namun tahta adalah utama, setelah titah. Ibu mengeluh. Aku pasrah. Maka, nelayan tua bermata ungu itu,  kupanggil ayah.</p>
<p>Aku belia dalam kubangan janji-janji Gajahmada, sang penakluk terkutuk. Aku belajar memanah tangis. Menebas air mata.  Raja merestuiku jadi laskar. Di garis depan aku bertempur. Demi leluhur, istana, dan raja—ayah yang dulu tak menghendakiku. Namun lacur, aku gugur. Seperti pokok jati yang rubuh di musim tandus. Lambungku lebih mencintai tombak ketimbang ombak.</p>
<p>***</p>
<p>Ruh berputar. Cakra punarbhawa. Ratusan tahun kemudian, kembali aku menitis. Ibuku pelacur terhormat bagi serdadu bermata biru. Dipuja dan dimuliakan, lantaran pinggul bulat, payudara kelapa gading, dan suara merdu merayu. Bertahun kemudian ibu digilir lelaki kuning bermata sipit. Tak tahu aku, siapa sesungguhnya yang pantas kusebut ayah? Apa mungkin langit kupanggil ayah? Dalam tubuhku mengalir darah serakah penjajah. Akhirnya, ibu mati gantung diri, setelah lelah meladeni serdadu ke seribu, yang haus, ganas dan bringas.</p>
<p>Aku tumbuh menjadi penjudi, centeng pelabuhan, pemain perempuan, sekaligus mucikari bagi priyayi. Hingga tiba suatu waktu, aku tersihir api revolusi yang menyembur dari mulut Soekarno. Seakan mengenang masa silam, kembali aku mengasah naluri tempur. Pin merah-putih di peci, sesuatu yang kubanggakan sebagai harga diri. Revolver di pinggang dan senapan di tangan. Aku memimpin pasukan menyerbu tangsi dan gudang senjata. Namun, seperti telah dinujumkan, aku gugur berselempang peluru musuh.</p>
<p>***</p>
<p>Ketika musim pembantaian tiba, aku mekar kembali dalam keluarga buruh tani. Usiaku sepuluh tahun saat ayah digorok dan dikuliti, persis di depan ibu. Darah ayah menghiasi wajah ngeri ibu. Aku tumbuh seperti pohon tanpa daun. Ibu gila dan menghuni rumah sakit jiwa, lalu mati dengan batin luka parah.</p>
<p>Aku menjadi juru warta, mengabarkan sengkarut negeri. Aku menjadi musuh tirani. Suatu malam, kelam gemetar di udara. Suara parau burung hantu membawa derap langkah sepatu lars. Kepalaku dibungkus kain hitam, dipaksa masuk kendaraan yang melaju entah ke mana.</p>
<p>Koran mengabarkan aku lenyap, tanpa jejak. Mereka tak tahu aku dipaksa menjadi penghuni liar kerajaan bawah laut. Aku belajar menyukai aroma garam yang menggelembungkan perut dan jiwaku. Menari bersama ubur-ubur, menyanyi bersama penyu hijau yang terusir, hiu kelabu, ganggang dan kerang. Dari suram bawah laut, ruhku berputar tak tahu arah.</p>
<p>***</p>
<p>Aku lahir kembali di lorong kumuh sebuah perkampungan kaum lanun, bromocorah, paria, begundal, sundal dan bajingan. Ayahku turunan perompak. Kakekku sahabat ombak. Suka mabuk. Pernah memerkosa perempuan bisu di geladak. Lalu lahirlah ayahku, pohon palam yang mencintai malam.</p>
<p>Ayahku raja pasar gelap. Penyelundup kayu. Juragan candu. Ketika aku bocah, ayah menguap. Jadi buron polisi dan preman. Ada kabar ia mati di comberan. Tubuh bugil, putih-pucat, dan penuh rajah. Ada tujuh lubang peluru yang membiru di tubuh.</p>
<p>Aku dipelihara ibu, penari telanjang termasyur. Paha bercahaya, payudara berkilau. Ibu mengajariku menenggak anggur  bercampur abu ganja dan sedikit pil tidur. Ibu melatihku bercinta. Ketika mabuk aku diperkosa. Aku meronta, aku berontak. Ibu menjerit:  “aku dahaga!” Ibuku itu bukanlah ibuku. Dia mengaku ibu tiri. Sebab dahaga purba, sukarela aku menjalin asmara dengan ibu tiriku.</p>
<p>O, di mana rahim hangat ibu yang melahirkanku?</p>
<p>Aku mengadu pada senja. O, Pantai Kuta, ke mana kau usir jukung-jukung nelayan? Mataku silau lampu-lampu hotel dan restauran. Seperti tukik, lahir dari kandungan pasir, aku merayap pada hamparan pasir. Ibuku pasir Pantai Kuta. Pada dadanya yang putih bersih aku menyusu. Belajar mencicipi air laut. Mencecap asin garam untuk kali pertama.</p>
<p>Di Pantai Kuta aku menjelma gigolo belia. Usiaku tujuh belas tahun ketika mereguk cinta pertama, seakan menyentuh batu mulia, pada mata jelita negeri salju. Rambut yang separuh pirang, menyisakan gerak bayang pada siang. Mata seteduh lautan, biru yang kurindu, yang memeram kelam topan.</p>
<p>Maka, cerita baru pun kubuka:</p>
<p>Di pantai aku merayu, seakan alpa akan duka masa lalu. Kubah langit jadi jingga. Biru laut mengental pada kerling matamu. Perahuku oleng, arus mabuk. Pasir masih sisakan lokan, bercampur uang kepeng bekas upacara dan tutup botol coca-cola. Kau berlari kecil dan tertawa renyah ke arah senja yang melindap harap. Buih putih meraba mulus betismu yang ranum tangkai bunga leli. Seperti ibu yang setia, aku menunggu di rindang pohon ketapang. Memandangmu memainkan senja yang ragu dan gemetar meniti ombak liar. Seorang nenek renta bertopi caping memilin helai-helai rambut kusutku jadi beribu warna pelangi, yang melulu sepi.</p>
<p>Agak ragu kau membujuk, mengajakku menyulam malam dalam selimut kusam. Kau ingin aku bernalam, beralaskan tilam, berkisah perihal silsilah masa silam leluhurku, kawanan lanun yang kalah.</p>
<p>Malam melata. Dinding kamar samar. Lampu biru. Cahaya gagu. Kau menawariku anggur. Kita bersulang, untuk sesuatu yang mungkin hilang. Meski getir dan letih, aku telah berkisah. Kini, ijinkan aku membajak lekuk tubuh pualammu, hingga baris-baris sajak lumer seperti roti kering tercelup cappucino hangat.</p>
<p>Upacara dimulai. Gaun kau simpan. Kita berdansa perlahan. Irama sunyi nyanyi serangga menghiasi malam. Setengah mabuk kita rebah di atas springbed, hamparan surga kelabu. Bringas kau menyerbu, melumatku tanpa sisa. Ada hangat yang leleh di pangkal paha. Cangkang kerang mengerang. Seribu pesona menganga. Kulit lembut teratai merah muda. Di muka gapura permata camar-camar memekik lirih, meluncur dari nganga bibirmu. Menghambur tak tentu arah. Sesat dalam lebat rimba bakau. Lalu bau kambium melunak. Aroma ganggang meregang, setelah getar terakhir pinggulmu, penakluk pertapa bisu yang menyepi di tengah teluk. Ada sedu sedan tertahan. Dan pantai pun menjerit manja saat ombak pasang menyatukan dua benua.</p>
<p>Lalu, igaumu menyusur malam, menjalar di atas kasur dingin. Uap garam pada kulit tembaga. Getar anggur di pangkal lidah. Sebutir pasir di ujung puting. Lekukmu seindah teluk yang selalu kelabu.</p>
<p>Usai upacara kecil itu, kau memaksaku kluyuran. Seperti pejalan-tidur, mengukur Jalan Legian yang bising, brisik, sesak, pikuk dan sibuk. Padahal aku telah nyaman melipat tubuh dalam selimut. Seperti janin dalam rahim hangat ibu.</p>
<p>“Come on, honey! The night is very nice!”</p>
<p>Setengah memaksa, setengah dipaksa, bagai bocah dungu aku mengikutimu. Sambil menyambar syal, selinting mariyuana kau nyalakan. Aku meraba bungkus kretek di saku jaket. Kau tertawa jenaka. Mata birumu menuju bintang, yang bingung berebut cahaya  dengan kerlap-kerlip lampu pub.</p>
<p>Agak mengerak dalam benakku, waktu itu puncak malam sabtu. Udara dingin oktober, merembes membasahi arus darah. Namun, dalam pub itu, panas tubuh berbagi panas tubuh, tawa menyilang tawa. Piringan hitam melantunkan I Started A Joke karya Bee Gees, lagu terakhir yang kau pesan dari  DJ  berambuk ombak.</p>
<p>Mataku perih. Asap tembakau berbaur bau tubuh bule, mariyuana dan uap alkohol. Tiba-tiba saja aku terkenang aroma karbol. Di sudut remang, bibirmu meraba bibirku. Lidahmu yang panas—meski kau dari negeri salju—memberangus lidahku yang bau hujan tropis.</p>
<p>Sedetik kemudian, waku tiba-tiba padam. Malam mendadak membara. Panas mengelupas mulus tubuhmu. Bagian tubuhku seperti memasuki liang tanpa cahaya, lubang penuh lendir. Aku gugup. Kau gemetar. Urat-urat darahmu coba meraba geletar asing yang mendedah ruh dan tubuh di ruang pengap kamar yang terbakar.</p>
<p>Terasa ringan, aku kapas dihempas angin. Dari dalam udara, aku melihat tubuh-tubuh menyerpih. Ada bau daging gosong. Orang-orang bingung. Sirine ambulance ngeri, meraung tak henti.</p>
<p>Duhai, Ilahi, rahasia cakrawala terbuka sebelum waktu. Seperti lokan buta yang meraba dengan sungut, ruhku tertatih meraba kegelapan jalan terakhirku. Aku perlu peta, menyibak rute pelayaran, menyusuri gelombang pinggul yang bagai badai. Nafasku tercekik belelai gurita raksasa, tepat saat jari-jari tanganmu ingin raih bulan di atas samudera.</p>
<p>Pada parak pagi, kutemukan tubuhku remuk diantara tumpukan puing dan abu. Bibirmu yang ranum menganga, menadah derita di atas basah aspal jalan. Seribu camar tak henti memekik dan berhamburan tak tahu arah.</p>
<p>Kemudian, hari, minggu, dan bulan. Sesuatu yang disebut waktu, bergelantungan di pucuk-pucuk pohon waru. Seorang gelandangan lusuh menyusur Jalan Legian. Hanya baju-baju kaos pengabar duka, pamflet setengah hangus, seikat bunga layu, potret kekasih dan orang tercinta berjajar pada pagar seng kusam. Saling berebut perhatian, tertuju pada semua penjuru mata.</p>
<p>Mungkin pernah seorang relawan menemukan biji mata biru pada sisa abu. Pinggul setengah matang. Atau mungkin gema tangis dari sisa puing. Mengambang dalam malam bergerimis. Uap alkohol bercampur sisa embun.</p>
<p>Kukenang bayangmu. Sebentuk bibir yang sia-sia menempel di kaca jendela diskotik. Ada bekas ganggang biru dan sedikit sengat ubur-ubur pada gambar naga di lengan kanan. Sisa garam pada rambut yang separuh hangus. Betis mulus yang terkelupas seperti mangga matang, yang pernah memukau lanun, membajak gelinjang yang terus meradang, mengerang, menggasing dalam putaran sembilan bulan. Seperti kekunang tersihir cahaya gemintang.</p>
<p>Tak ada lagi mantera penolak bala atau sesaji penenang ruh. Pun karangan bunga muram. Mungkin hanya sebutir aspirin, jarum suntik dan lima linting mariyuana, teronggok di sudut kamar kusam.</p>
<p>***</p>
<p>Kaukah ruh, asal segala keluh dan jenuh? Atau aku noktah yang akan terhapus dari kenangan. Atau aku ruh, yang berkisah perihal waktu, yang menumbukku jadi debu?</p>
<p>Kau beri aku kembara tanpa dangau kekal. Aku ulang-alik, berpindah dari satu tubuh ke lain tubuh. Seperti burung-burung yang diusir musim dingin. Pintu rahim siapa  mesti kuketuk lagi, demi ruh yang tak henti mengembara. Aku letih menyusuri garis edarku sendiri. Aku bukan matahari, bukan bulan, bukan bumi. Aku noktah pada hamparan semestaMu. Bila aku mengakui adaMu, apa harus aku mempercayaiMu?</p>
<p>Bila Kau titiskan aku lagi, beri aku sebilah klewang berkilau dan kuda putih. Aku hanya sudi menjelma ketika usia bumi merapat tua. Itulah akhir titahMu, akhir kembaraku. Itulah saat aku mengukur umurku sendiri, mengumpulkan remah-remah karma.</p>
<p>Atau titiskan aku lagi 666 tahun kemudian, ketika bumi menjadi lapisan es. Aku akan menjelma ikan-ikan cahaya, yang menghuni lubuk paling kelam dari samudera membeku, dari jiwa paling kelabu. Dan Kau? Kau membeku dalam istanaMu!***<br />
 </p>
<p>Kuta-Denpasar, 2003<br />
 <br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/02/01/cakra-punarbhawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jimat Tikus</title>
		<link>http://jengki.com/2008/02/01/jimat-tikus/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/02/01/jimat-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/02/01/jimat-tikus/</guid>
		<description><![CDATA[ Cerpen: Wayan Sunarta
 
Walau agak ragu, namun akan saya kisahkan pada Anda, sepenggal pengalaman saya menjadi tikus cerurut. Sejenis tikus yang tampangnya paling tidak menarik, tidak lucu atau imut seperti tikus rumah atau tikus sawah, tidak bersih dan putih seperti tikus percobaan di laboratorium, apalagi menawan dan memesona seperti tikus kantor. Saya hanyalah tikus yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Cerpen: Wayan Sunarta<br />
 <br />
Walau agak ragu, namun akan saya kisahkan pada Anda, sepenggal pengalaman saya menjadi tikus cerurut. Sejenis tikus yang tampangnya paling tidak menarik, tidak lucu atau imut seperti tikus rumah atau tikus sawah, tidak bersih dan putih seperti tikus percobaan di laboratorium, apalagi menawan dan memesona seperti tikus kantor. Saya hanyalah tikus yang sangat menjijikkan, yang hidup dan mencari sisa-sisa makanan di comberan berbau busuk. Namun siapa yang menyangka, kalau saya adalah pemegang rahasia rencana-rencana busuk dari sejumlah tikus…</p>
<p>Sampai saat ini pun saya masih diliputi kebingungan. Apa yang harus saya lakukan dengan rahasia yang saya dapat dari hasil menguping percakapan tikus-tikus itu. Saya terancam dan diliputi berbagai kecemasan karena rahasia yang saya pegang. Cepat atau lambat, saya akan menjadi cerurut yang dikejar-kejar oleh tikus yang lebih besar dan berkuasa.</p>
<p>Baiklah, saya akan segera membuka cerita saya.</p>
<p>Sebelum saya berubah menjadi cerurut, saya hanyalah seorang waker di sebuah perusahaan milik negara, yang demi sopan santun dan terlebih lagi keselamatan nyawaku sendiri, saya tidak akan menyebut nama perusahaan itu. Tapi suatu saat nanti, kalau masih ada kesempatan, terutama ketika saya tidak kuat lagi diteror oleh rahasia yang saya simpan serapi mungkin dalam lipatan hatiku yang paling dalam, maka dengan terpaksa saya akan bongkar semua yang menjadi rahasia saya di hadapan khalayak semua.</p>
<p>Anda sekalian pasti ingin tahu nama saya. Baiklah. Untuk hal yang satu ini tidak ada rahasia-rahasiaan. Nama saya sederhana saja, sesederhana penampilan saya sehari-hari. Maklum, saya bukanlah bos yang bisa tampil perlente setiap hari. Saya hanyalah seorang waker.</p>
<p>Nama saya, Cilik. Memang, saya berasal dari trah wong cilik. Namun bukan karena itu saya dinamai Cilik. Postur tubuh saya kecil dan ceking. Karena postur tubuhku itulah saya sering dipanggil Cilik oleh kawan-kawan saya di kampung. Bahkan di KTP pun saya memakai nama Cilik.</p>
<p>Saya sendiri sudah lupa siapa sebenarnya nama lengkap yang diberikan orang tua kepadaku—mereka mati karena wabah diare ketika saya berumur 7 tahun; aneh, saya sendiri selamat dari wabah itu. Dan sejak itu, saya pergi dari kampung kelahiranku untuk menyabung untung di kota. Nama lengkap bagi saya tidaklah terlalu penting. Sebagai salah satu penghuni kota dari kelas urban ini, yang terpenting adalah asal bisa makan dan melanjutkan hidup, itu sudah cukup, syukur-syukur kalau bisa melanjutkan keturunan.</p>
<p>Saya mengidap penyakit susah tidur yang parah. Daripada terjebak melakukan pekerjaan yang tidak-tidak, saya memberanikan diri melamar menjadi waker di kantor tempatku bekerja sekarang ini. Waktu itu umur saya baru 17 tahun. Mungkin karena karunia tuhan atau anugrah leluhur, saya akhirnya diterima menjadi waker. Meski gaji pas-pasan, bersyukur juga saya tidak punya banyak mimpi untuk beli ini-itu.</p>
<p>Sekarang sudah hampir sepuluh tahun saya mengabdi sebagai waker di kantor, yang demi sopan santun dan rasa terima kasihku, tidak mau saya sebut namanya itu. Namun begitu, toh jabatan saya tidak pernah naik, saya masih tetap sebagai waker, meski negeri ini telah lima kali mengganti presidennya. Tapi, jabatan bagi saya tidak terlalu penting. Asal bisa hidup saja, itu sudah cukup. Bahkan setahun lalu, saya berani melamar Iyem, pembantu bosku, sebagai istri saya.</p>
<p>Asal tahu saja, saya telah mengenal dengan baik seluk beluk kantor tempatku bekerja. Paling tidak saya tahu di mana meja bos, di mana toilet, di mana brankas penyimpanan surat-surat penting, di mana pintu belakang tempat bos sekali waktu memasukkan selingkuhannya, dan sebagainya.</p>
<p>Selama sepuluh tahun mengabdi, baru beberapa bulan terakhir ini saya merasa tidak nyaman. Pekerjaan saya menjadi bertambah. Dari hanya menjadi penjaga malam, mendapat kerja tambahan mengusir tikus. Sudah berbagai macam obat dan racun tikus saya sebar, namun satu pun tak mempan. Bahkan berbagai jenis perangkap sudah pula saya pasang di berbagai sudut kantor. Tapi tikus-tikus itu seperti sudah mengenal dengan baik seluk beluk kantor. Mereka semakin merajalela. Mereka menggerogoti arsip-arsip penting, disket, kabel komputer, buku-buku utang-piutang, buku pajak, buku kas, bahkan tissu WC yang sering nangkring di atas meja juga digerogoti. Sialan, dari mana datangnya tikus-tikus itu.</p>
<p>Saya sering berkeluh kesah perihal kelakuan tikus-tikus itu pada Karto, satpam kantor sebelah, yang hampir setiap malam saya ajak bermain catur di kantor tempatku bekerja. Suatu kali, di sela-sela keasyikan bermain catur, Karto menyuruh saya memasang perangkap. Padahal itu sudah pernah saya lakukan.</p>
<p>“Pasang perangkap saja!” ujar Karto.</p>
<p>“Tidak mempan. Sudah pernah kucoba. Tikus-tikus itu agaknya punya naluri tajam untuk menghindari perangkap,” jawab saya jengkel.</p>
<p>Sejenak Karto terdiam, kemudian berkata lagi. “Sudah coba pakai racun tikus? Pasang di setiap sudut kantor. Kalau perlu juga pasang di setiap laci-laci meja.”</p>
<p>Saya tambah jengkel. “Sama saja. Aku sudah coba. Namun tetap tidak mempan juga. Banyak arsip dan buku-buku penting kantor juga digerogoti tikus-tikus keparat itu.”</p>
<p>“Apa bos-mu sudah tahu?” Wajah Karto nampak cemas.</p>
<p>“Belum sih,” jawab saya singkat.</p>
<p>Tiba-tiba saja Karto ketawa, mungkin dia lucu melihat tampang saya yang kusut. “Kalau begitu kau tenang saja dulu. Perutku lapar nih, makan bakmi dulu, yuk! Perut harus diisi dulu, baru kita bisa berpikir dengan jernih. Tenang saja, aku punya saran bagus untukmu!”</p>
<p>Sialan. Masalah tikus belum selesai, Karto malah mengajak saya makan bakmi. Tetapi, perut saya juga lapar, dari siang belum makan. Maka saya pun setuju ajakan Karto. Kami memanggil tukang bakmi yang kebetulan lewat di depan kantor.</p>
<p>Sambil menunggu bakmi, Karto nyerocos lagi. “Janganlah kau terlalu bersedih, kawan. Aku tahu cara memberantas tikus-tikus itu”.</p>
<p>Saya tidak sabaran. “Gimana caranya?” </p>
<p>“Makan dulu bakmimu. Setelah itu, kau bayarin juga bakmiku ya..” ujar Karto kalem.</p>
<p>“Sialan, dasar pemeras!” umpat saya.</p>
<p>“Lho, Kawan, kau tahu ‘kan? Sekarang ini jaman informasi. Kau tahu ‘kan, informasi itu mahal. Informasiku ini termasuk paling murah karena hanya kau tukar dengan semangkuk bakmi…” Karto membela diri.</p>
<p>Saya mulai kesal lagi. “Ya..sudah, jangan berkhotbah. Cepat katakan apa saranmu itu? Aku sudah pusing ngurusin tikus-tikus sialan itu…”</p>
<p>“Sabar, bung! Sabar! Yaah…ini hanya saran saja. Kau suka nonton TV ‘kan? Di sana banyak ditayangkan kisah-kisah misteri dan berbagai penampakan…”</p>
<p>“Lalu, apa hubungannya dengan tikus?”</p>
<p>“Nanti dulu. Sabar. Aku belum selesai bicara,” Karto senyum-senyum.</p>
<p>Saya melahap bakmi yang sudah terhidang di depan mataku yang lapar.</p>
<p>“Begini. Ada baiknya kau tanyakan perihal tikus-tikus itu ke dukun. Siapa tahu dari sana kau mendapatkan saran dan ramuan mujarab untuk memberantas tikus-tikus yang meresahkan kantormu itu. Aku punya alamat dukun yang bisa kau hubungi. Gimana?”</p>
<p>Saya kaget mendengar saran Karto. “Gila kau. Masak masalah tikus saja perlu ditanyakan ke dukun. Mending kalau masalah bos yang kena santet, atau anak sakit, atau istri kena guna-guna, atau mohon jimat agar disayang bos. Tapi ini ‘kan masalah sepele…”</p>
<p>“Sepele gundulmu! Masalah tikus yang menyerang seperti wabah itu, bukan masalah sepele, tapi masalah serius. Lebih serius dari pemilihan presiden. Tikus-tikus itu harus diberantas, dibumihanguskan, bagaimana pun caranya, termasuk memasukkan pengaduan ke dukun.”</p>
<p>Tapi akhirnya saya mencoba mengikuti saran Karto.“Yahh, baiklah, kalau saranmu itu memang manjur, besok siang aku akan menghubungi dukun itu.”</p>
<p>***</p>
<p>Saya mendatangi alamat dukun yang diberikan Karto. Setelah melewati jalan-jalan kampung yang becek karena musim hujan berkepanjangan, saya tiba di depan gubug yang cukup menyeramkan. Menurut beberapa orang kampung yang saya tanya, memang benar itulah rumah dukun yang konon sakti itu, yang dalam sekejap mampu mengusir tikus yang menyerang tanaman padi dan palawija para petani di kampung itu.</p>
<p>Saya berdiri di pintu gubug. Mengetuk pintu.</p>
<p>“Permisi, Mbah!”</p>
<p>Tidak ada yang menyahut. Saya memanggil lagi.</p>
<p>Setelah sapaan yang kedua kalinya baru pintu gubug terbuka. Muncul sosok lelaki tua berambut panjang ubanan. Pakaiannya hitam dan kumal. Kakinya yang tampak selalu gemetaran disangga oleh tongkat berkepala ular.</p>
<p>“Hehh… rupanya ada tamu. Silakan masuk, Nak. Maaf ruangannya berantakan. Belum sempat dibersihkan. Silakan duduk.”</p>
<p>Dengan ragu-ragu saya duduk di atas tikar lusuh dan bolong di sana-sini. Jangan-jangan karena digerogoti tikus. Ruang praktek dukun itu sungguh menyeramkan. Di berbagai sudut penuh dengan pernak-pernik perdukunan, seperti tengkorak manusia yang entah dari mana didapat, tempat hio yang terus mengepulkan asap, jambangan berisi air suci, keris-keris kuno, batu-batu akik, akar-akar kayu…<br />
Saya asyik mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mbah dukun berdehem. Saya sedikit kaget, lalu buru-buru mengutarakan maksud kedatangan saya.</p>
<p>“Eee…begini, Mbah…emm….maksud kedatangan saya…”</p>
<p>Mbah Dukun manggut-manggut.</p>
<p>“Tidak perlu dijelaskan. Mbah sudah tahu maksud kedatanganmu. Anak ingin mencari jimat tikus yang mujarab ‘kan?”</p>
<p>Saya heran dengan tebakan dukun itu. Saya bukan mencari jimat, tetapi mencari ramuan pemberantas tikus.</p>
<p>“Dari mana Mbah tahu?”</p>
<p>Mbah Dukun tertawa terkekeh-kekeh.</p>
<p>“Mbah ‘kan dukun…Tetapi, itu tidak penting. Banyak orang kampung, dan bahkan lebih banyak lagi orang kota perlente, yang datang kemari untuk membeli jimat tikus. Agar orang itu bisa menjelma tikus pada saat-saat yang diinginkannya. Dengan cara berubah wujud itu, mereka akan leluasa  menggerogoti apa saja, merusak apa saja, tanpa orang lain tahu kelakuannya.”</p>
<p>“Tapi, Mbah, saya ke sini bukan untuk memohon jimat yang bisa menyulap tubuh saya menjadi seekor tikus. Tapi, saya justru memohon dan minta saran, bagaimana caranya memberantas tikus-tikus yang menyerang kantor tempat saya bekerja. Saya ini hanyalah seorang waker, Mbah. Setiap malam kerja saya ya…menjaga kantor agar aman dan tenteram, termasuk dari gangguan tikus, Mbah.”</p>
<p>“Oo…Mbah keliru. Maafkan Mbah ya…Mbah salah duga. Kadang-kadang dukun juga bisa keliru merumuskan tujuan kedatangan para pasiennya he…he…he…”</p>
<p>“Tidak apa-apa, Mbah.”</p>
<p>Setelah terdiam sejenak, dukun itu kembali bicara. “Ooo…jadi Anak ingin mencari ramuan pembasmi tikus, ya? Bukan jimat tikus toh. Ehmm…Anak tidak tertarik mencoba jimat tikus Mbah?”</p>
<p>“Tidak, Mbah. Saya hanya memohon ramuan pembasmi tikus yang paling mujarab sejagat.”</p>
<p>Mbah Dukun termenung agak lama. Ia nampak menggaruk-garuk kepalanya yang mungkin saja penuh kutu dan ketombe. Tiba-tiba dukun itu seperti tersengat kalajengking.</p>
<p>“Waduh, Nak! Mbah lupa, di mana ya…Mbah simpan ramuan pembasmi tikus itu. Soalnya sudah lama Mbah lupakan ramuan itu. Akhir-akhir ini tidak ada lagi orang yang mencari ramuan seperti itu. Kalau pun ada yang memerlukan, paling-paling cuma orang kampung, untuk mengusir tikus sawah, bukan tikus kantor he…he…he..Yang masih Mbah simpan malah jimat berbagai jenis dan ukuran. Jimat macam ini yang paling sering dicari oleh orang-orang kota dan paling laris. Kalau Anak mau, boleh dicoba kok, gratis he…he…he…”</p>
<p>Dasar dukun sableng! Saya datang jauh-jauh bukan ingin mengubah wujud menjadi tikus, melainkan membasmi tikus…</p>
<p> “Jangan bilang Mbah sableng. Jelek-jelek begini Mbah masih diperlukan oleh orang kampung di sini…dan juga orang kota he..he..he..”</p>
<p>Rupa-rupanya dukun ini bisa membaca isi hatiku. Saya buru-buru minta maaf, sebelum dikutuk jadi kodok. “Maafkan saya Mbah. Maksud saya, orang-orang yang membeli jimat yang mampu mengubah diri menjadi tikus itu memang sableng.”</p>
<p>Dukun itu mendekatkan kepalanya ke wajah saya. Saya ngeri melihat wajahnya yang menyeramkan. Ia berkata, “Nak, perlu kamu ketahui, Eyang Ronggowarsito pernah bilang bahwa sekarang ini jaman edan. Kalau tidak ikut edan, maka akan cepat ketinggalan jaman. Lebih baik kamu coba saja jimat tikus Mbah. Sekali-kali cobalah rasakan bagaimana enaknya menjadi tikus. Gimana?”</p>
<p>Sialan betul Karto! Dia telah mempermainkan saya. Masak saya ditunjukkan dukun konyol kayak begini! Awas nanti kalau saya balik ke kantor. Tapi, boleh juga saran dukun ini kucoba…</p>
<p>Mbah Dukun melihat saya ngomel-ngomel sendiri. Saya buru-buru menerima sarannya. “Baiklah, Mbah, saya akan coba jimat Mbah. Siapa tahu dengan menjadi tikus saya bisa melihat tikus-tikus di kantor itu, apa benar-benar tikus atau tikus jadi-jadian..”</p>
<p>Dukun itu terkekeh-kekeh, keras sekali. “Lha…justru itu yang Mbah maksudkan. Percuma kamu memakai ramuan pembasmi tikus, sehebat apa pun ramuan itu. Kamu harus menyamar jadi tikus untuk melihat tikus lainnya dan mencari rahasia memberantas mereka. Paham?”</p>
<p>Mbah Dukun kemudian memberi saya bungkusan kecil berwarna putih yang entah apa isinya. Saya ingin buru-buru pulang, dengan agak ragu saya kemudian pamitan. “Baiklah, Mbah. Saya akan mematuhi nasehat Mbah. Saya mohon pamit, Mbah.”</p>
<p>Saya sudah hampir keluar dari gubug ketika dukun itu berkata dengan sedikit keras, “Eee&#8230;nanti dulu. Ingat, kalau kamu memakai jimat itu, kamu hanya bisa menjadi tikus cerurut. Kodratmu memang hanya sampai di situ. Kamu tidak akan mungkin bisa mengubah diri menjadi tikus kantor…”</p>
<p>Saya terkesiap dan sedikit merasa terhina. Tapi tak apalah, yang penting bisa mengubah diri jadi tikus…</p>
<p>“Tidak apa-apa, Mbah. Saya terima dengan ikhlas. Saya pamit, Mbah.”</p>
<p>***</p>
<p>Saya pulang membawa jimat tikus yang dihadiahkan dukun itu. Jimat itu hanya berupa buntelan kecil berwarna putih yang entah apa isinya. Dukun melarang saya membukanya. Kalau saya ingin menjadi tikus, saya harus mengalungkan buntelan itu dileherku dengan mengucapkan beberapa baris mantra yang juga telah diberikan Mbah Dukun.</p>
<p>Ehmm…apa salahnya saya mencoba menjadi tikus? Siapa tahu dengan cara ini saya malah mendapat banyak informasi yang berkaitan dengan wabah tikus di kantor tempatku bekerja.</p>
<p>Jam sepuluh malam saya berangkat ke kantor. Saya memang bekerja dari jam sepuluh hingga jam enam pagi. Saya mengantongi jimat yang diberikan dukun itu. Saya penasaran ingin mencobanya.</p>
<p>Seperti biasa, setelah berkeliling memeriksa keamanaan kantor, saya akan rebahan di kursi kayu depan kantor, atau main catur dengan Karto. Tetapi, ketika saya memeriksa ruang kerja para pegawai, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja tikus-tikus itu sudah memenuhi meja, menaiki komputer, menyelinap ke dalam laci, menggerogoti kabel, buku-buku dan berbagai peralatan penting kantor. Ini benar-benar pesta tikus. Tikus-tikus itu berpesta pora sepuas-puasnya. Ada yang bercicit seperti melantunkan nyanyian, ada yang minum dari sisa kopi pada cangkir yang lupa dibersihkan oleh pelayan kantor, ada yang berjingkrak.</p>
<p>Perlahan saya mengambil sapu ijuk. Kemudian saya mengejar dan memukul tikus-tikus yang berlarian pontang-panting itu. Tikus-tikus itu sekejap ketakutan, tapi sebentar kemudian muncul lagi mengajak beberapa kawan baru. Waduh…tikus-tikus itu makin banyak saja, mereka ada hampir di setiap ruang kantor, hampir di setiap meja dan laci…</p>
<p>Saya teringat jimat yang diberikan Mbah Dukun. Saya mencari tempat aman dan merafalkan mantra sambil mengenakan jimat itu dileherku.</p>
<p>Astaga…! Benar kata dukun itu. Saya melihat perut saya penuh ditumbuhi bulu kelabu. Pantat saya keluar ekor yang menjijikkan seperti ekor cerurut. Saya buru-buru mencari cermin. Ya, Tuhan, mulut saya telah tidak ada, digantikan moncong lancip yang juga sangat menjijikkan. Oh…ada kumis yang jarang dan kaku diantara moncong saya. Mata saya yang cekung kini malah melotot dan hitam mengkilat seperti kancing baju. Ya, Tuhan, saya telah berubah menjadi seekor cerurut!</p>
<p>Beberapa menit kemudian saya mulai bisa menguasai diri. Tiba-tiba di depan saya lewat dua ekor tikus gemuk dan berperut buncit. Tikus-tikus itu agaknya tidak memperhatikan saya. Sebagai tikus asing, saya buru-buru sembunyi di kolong almari yang ada di ruang bosku. Tapi betapa kagetnya saya, dua tikus gendut itu malah masuk ke ruangan bosku. Saya tidak terima, saya ingin segera mengusir mereka. Tapi, menyadari keadaan saya yang telah berubah wujud, saya urungkan niat saya untuk mengusir mereka.</p>
<p>Aneh, saya mengerti percakapan tikus-tikus itu. Kenapa saya bisa mengerti bahasa tikus? Apa karena saya telah berubah menjadi tikus? Ya, Tuhan, tikus-tikus itu agaknya membicarakan suatu masalah yang gawat. Saya menguping pembicaraan mereka.</p>
<p>Tikus yang paling gendut berkata, agak cemas, “Wakermu itu perlu diwaspadai. Dia agaknya sudah mencium gelagat dan kebusukan kantor ini. Hampir setiap malam dia mengejar-ngejar kita dengan sapu ijuk. Tadi, hampir saja aku tewas  dikemplang sapu ijuknya, syukur aku bisa berkelit&#8230;”</p>
<p> “Tenang saja. Rencana kita tidak akan diketahui oleh waker tolol itu. Kita baru merampungkan separuh pekerjaan kita. Ini masih setengah jalan, Kawan.”</p>
<p>Saya terkesiap. Ya, Tuhan, ampunilah hambamu yang berdosa ini. Itu ‘kan suara…suara Pak Yusuf, kawan baik bosku, yang sekali waktu juga suka memberi saya uang rokok kalau kebetulan dia berkunjung ke kantor ini. O, jadi dia yang hampir kena kemplang sapu ijuk saya tadi? Dan, yang diajak bicara itu persis suara bosku, Pak Tan.</p>
<p>Saya mencoba mengintip, dan benar saja itu bosku sendiri. Waduh, kok bisa jadi begini? Mereka lagi merapatkan saya, apa mereka ingin menyingkirkan saya? Oh&#8230;lebih baik saya cepat-cepat minta maaf sebelum saya dipecat dari kantor yang kucintai ini. Kalau saya dipecat, ke mana lagi saya harus mencari kerja? Semua penganggur juga tahu, sekarang ini susah mencari kerja. Saya sudah sepuluh tahun mengadi sebagai waker di kantor ini. Bos juga sering baik pada saya. Tapi, kenapa mereka semua jadi tikus, ya? Saya kembali nguping pembicaraan mereka.</p>
<p>Tikus yang paling gendut dan buncit kembali berkata. Dia rupanya sangat marah dengan saya. “Tapi kau perlu hati-hati dengan waker itu. Aku tidak ingin rencana kita gagal gara-gara waker ceking itu. Kalau gara-gara dia posisi kita terancam, sebaiknya kau pecat dia, bila perlu basmi saja.”</p>
<p> “Ya, aku akan mempertimbangkan saranmu. Tapi malam ini lupakan waker goblok yang kusayangi itu. Dia tidak akan membahayakan kita, aku juga sering menyogoknya dengan rokok, kadang-kadang juga duit. O, ya, bagaimana rencana kita selanjutnya mengenai proyek yang hampir gol ini?”</p>
<p> “Itu soal mudah, asal kau secepatnya mengeluarkan ijin proyek tersebut.”</p>
<p> “Jatahku berapa persen?” ujar bosku yang telah berubah jadi tikus kantor.</p>
<p> “Itu gampanglah. Ijinnya dulu dong!”</p>
<p> “Ya, tapi aku harus hati-hati. Ini proyek rawan masalah. Apalagi menyangkut penggusuran Kampung Modar. Kalau salah melangkah kita bisa didemo rakyat kecil yang suka berkolaborasi dengan mahasiswa untuk menyingkirkan penguasa macam kita ini. Kau ‘kan tahu sendiri, kawan seperjuangan kita, si Bibie, lengser gara-gara sering didemo mahasiswa.”</p>
<p> “Bibie memang tolol dan grasa-grusu! Lain kali kita tidak usah pakai dia lagi. Begini saja, gimana kalau persenanmu kunaikkan, dengan syarat ijin harus segera keluar? Kau pakailah kekuasaanmu di kantor ini! Masak hal sepele begini kau persulit sendiri. Pakai akal sedikit dong!”</p>
<p> “Okelah…asal jatahku bisa menghidupi tujuh turunanku lagi. Dan, yang terpenting bisa beli mobil mercy terbaru. Aku akan segera keluarkan ijin proyek tersebut. Gimana?”</p>
<p> “Kau itu memang tikus botak berkulit belut. Licin dan culas ha…ha…ha..! Aku akan penuhi permintaanmu. Tenang aja!”</p>
<p>“Hei, Kawan, sesama tikus jangan saling menghina! Justru kita harus merapatkan barisan dan bahu membahu agar kerajaan kita makin jaya dan tidak cepat mampus dikemplang sapu ijuk waker tolol itu.”</p>
<p>Kedua tikus itu tertawa terkekeh-kekeh.</p>
<p>Kurang ajar! Bosku, Pak Tan, ternyata bangsat! Jadi kebaikannya selama ini rupanya memiliki maksud tertentu. Jadi selama ini saya telah disogoknya. Dan, Kampung Modar, itu ‘kan kampung tempat tinggal saya. Mereka rupanya berencana menggusur kampung saya. Oh, teganya…teganya bosku itu.</p>
<p>Lalu apa yang mesti saya lakukan? Apa perlu saya keluar dan membunuh tikus-tikus itu? Atau saya akan membocorkan rahasia mereka pada orang Kampung Modar, agar hati-hati, karena akan segera terjadi penggusuran? Saya bingung…Mereka kembali ngobrol. Saya kembali menguping.</p>
<p>“Ngomong-ngomong, kau sudah dengar, kawan kita Si Tomi, ditangkap baru-baru ini?”</p>
<p>“Lho, kenapa dia? Dia ‘kan tikus yang paling ditakuti di kerajaan tikus? Siapa yang berani menangkap dia?!”</p>
<p>“Ya&#8230;begitulah kalau terlalu percaya diri. Selicik-liciknya tikus, sekali waktu akan kena jerat juga. Tapi aku tidak yakin para pemburu tikus itu berani melenyapkan Tomi. Dia salah satu tikus yang memiliki jimat sakti, bisa menghilang pula. Dia punya dukun spesial. Kalau jimat kita ‘kan hanya jimat bikinan dukun kampung yang tidak seberapa ampuh.”</p>
<p>“Tapi, kau jangan terlalu meremehkan jimat pemberian dukun kampung itu. Buktinya sampai saat ini kita masih aman dari para pemburu tikus yang sok moralis dan idealis itu. Para pemburu tikus itu tidak sadar kalau buyut dan nenek moyangnya juga kebanyakan tikus.”</p>
<p>“Sudah, tidak usah diperdebatkan. Sebentar lagi wakermu itu muncul bawa sapu ijuk, kau bisa mampus di kursimu sendiri. Sekarang sudah hampir jam 4 pagi, ayo kita bubar. Jangan terlalu sering begadang, tidak baik untuk kesehatan kita yang sudah berperut buncit ini. Besok kau harus kelihatan cerah dan segar di depan para pegawaimu.”</p>
<p>“Kalau pulang, hati-hati dengan perangkap dan jebakan. Wakerku suka memasangnya hampir di setiap sudut kantor.”</p>
<p>Dua tikus buncit itu kemudian pergi. Perlahan saya menyembulkan moncong saya dari kolong meja bos. Syukur mereka tidak melihat saya. Oh…betapa kejam mereka. Rupanya mereka telah memakai jimat tikus yang didapat dari dukun itu. Pantas saja tikus-tikus di kantor ini seperti wabah. Lalu apa yang harus saya lakukan setelah mengetahui segalanya? Saya hanya tikus cerurut yang menjijikkan yang tempatnya cuma di comberan.  Tidak mungkin saya bisa menjadi tikus kantor seperti bos dan kawan bosku itu. Tapi, apa mungkin dukun itu masih memiliki cadangan jimat yang bisa menyulap saya menjadi tikus kantor atau tikus berdasi yang terhormat itu. Tapi, dia bilang kodrat saya hanya bisa menjadi tikus cerurut.</p>
<p>Besok siang saya harus ke rumah dukun itu. Saya akan mengembalikan jimat tikusnya dan memaksa dukun itu membuatkan ramuan pembasmi tikus yang paling tokcer. Bagaimana pun juga saya harus membasmi tikus-tikus yang telah banyak menyengsarakan rakyat cilik seperti saya ini. Saya harus berperang melawan wabah tikus di negeri ini, bagaimana pun caranya.</p>
<p>Karena sudah hampir pagi, saya pulang ke rumah, ke Kampung Modar, yang suatu saat nanti akan digusur oleh bosku sendiri. Karena lelah, saya tidur-tiduran di bale-bale bambu yang beralaskan kasur tipis. Istri saya menggeliat ketika saya sentuh tubuhnya.</p>
<p>Namun, belum lama saya memejamkan mata, istri saya menjerit-jerit ketakutan sambil menuding-nuding saya. Dia panik dan berteriak histeris. “Tolong…tolong…ada tikuuss…ada…tikuuusssss…!”***</p>
<p>Denpasar, 2004<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/02/01/jimat-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembar Buncing</title>
		<link>http://jengki.com/2008/02/01/kembar-buncing/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/02/01/kembar-buncing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/02/01/kembar-buncing/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Wayan Sunarta
Tiga hari lalu, Luh Sarni melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan! Meski melahirkan di rumah sakit di kota kabupaten, tapi berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya.
Kelahiran bayi kembar buncing dianggap membawa aib yang akan mencemari desa. Menurut awig-awig setempat, orang tua dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Wayan Sunarta</p>
<p>Tiga hari lalu, Luh Sarni melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan! Meski melahirkan di rumah sakit di kota kabupaten, tapi berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya.</p>
<p>Kelahiran bayi kembar buncing dianggap membawa aib yang akan mencemari desa. Menurut awig-awig setempat, orang tua dan bayinya harus diasingkan selama 42 hari di pinggiran desa dekat kuburan. Selain itu, keluarganya juga diwajibkan menggelar upacara bersih desa di perempatan desa yang menelan biaya tidak sedikit.</p>
<p>Tubuh Luh Sarni yang masih lemas karena melahirkan, kini semakin lemas. Ia masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiga hari lagi dokter membolehkannya pulang. Dengan gundah ia menatap kedua bayinya yang tidur lelap. Suaminya, Wayan Darsa, tercenung di tepi ranjang.</p>
<p>Ombak kebahagiaan di hati pasangan muda itu perlahan ditelan gelombang kecemasan. Darsa telah membayangkan bencana yang akan menimpa mereka jika pulang ke desa. Atas nama aturan adat, mereka tidak akan diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.</p>
<p>“Apa yang harus kita lakukan, Bli?”</p>
<p>“Aku sendiri tidak tahu, Luh. Aku bingung, mesti harus berkata apa pada tetua adat dan warga desa? Kita tidak pernah meminta bayi ini lahir kembar buncing. Ini sudah kehendak Dewata!”</p>
<p>“Kenapa warga desa masih saja percaya dengan takhyul,” gumam Luh Sarni.</p>
<p>“Kau tahu sendiri, Luh, kita tinggal di sebuah desa dimana tidak satu pun warganya mengenyam pendidikan tinggi seperti kita. Mereka hanya akrab dengan sawah dan lumpur,” Darsa mencoba menghibur, meski hatinya pedih.</p>
<p>“Beginilah akibatnya. Setahun lalu Bli sendiri yang memutuskan tinggal di desa? Saya sudah bilang, lebih nyaman di kota. Kita bisa bebas menentukan jalan hidup kita sendiri, jauh dari aturan adat dan berbagai beban upacara rumit.”</p>
<p>“Tapi, Luh, aku masih memiliki Ibu. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian di desa. Aku anak lelaki satu-satunya. Kau tahu ‘kan adik perempuanku sudah menikah. Aku tidak punya pilihan lain, selain bertahan di desa menemani Ibu. Selain itu aku juga ditugasi mengelola tanah warisan Ayah.”</p>
<p>“Tanah warisan ‘kan bisa dijual. Lalu, ajak saja Ibu tinggal di kota,” Luh Sarni mencoba menguasai emosinya. “Tapi sudahlah, percuma berdebat dengan Bli. Sekarang yang perlu dipikirkan, bagaimana menyelamatkan bayi ini agar tidak diasingkan di kuburan!”</p>
<p>“Begini saja, Luh tetap tinggal di sini. Bli akan pulang ke desa, mencoba berunding dengan tetua adat. Aku harap mereka mengerti bahwa jaman telah berubah.”</p>
<p>“Tidak ada gunanya berunding dengan orang-orang kolot itu. Bli akan sakit hati sendiri. Coba sesekali turuti kata-kata saya, kita tinggal di Denpasar. Sementara waktu bisa numpang di rumah bibiku.”</p>
<p>Darsa tidak menjawab. Ia hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berbagai perasaan campur aduk. Kemudian ia mengecup kening istrinya. Menatap lembut kedua bayinya. Lalu melangkah meninggalkan ruangan dengan keyakinan yang berusaha dibangunnya.</p>
<p>Senja hampir pudar ketika Darsa tiba di desanya yang terpencil di lereng bukit. Untuk mencapai desanya dari kota kabupaten hanya menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Sepanjang perjalanan pulang ia terus memikirkan nasib bayinya. Seingatnya, ia pernah membaca di koran bahwa sanksi adat bagi bayi kembar buncing dan keluarganya telah dihapuskan puluhan tahun lalu. Tapi kenapa desanya masih menganggap bayi kembar buncing membawa aib? Kenapa aturan kuno itu belum dihapus dari awig-awig? Tidakkah mereka sadar hidup di abad dua puluh satu?</p>
<p>Darsa masih ingat, sekitar dua tahun lalu pernah terjadi peristiwa pengasingan bayi kembar buncing di desa tetangganya. Bayi dan orang tuanya diasingkan dekat kuburan. Seluruh isi rumah dianggap leteh dan harus disucikan dengan upacara khusus. Selama masa pengasingan mereka juga tidak dibolehkan memasuki tempat-tempat suci atau bersembahyang di pura. “Tidak manusiawi sekali!” gerutu Darsa dalam hati.</p>
<p>Sampai di rumah Darsa disambut wajah cemas ibunya. “Tadi pagi tetua adat datang menanyakan bayimu. Mereka ingin memastikan kebenaran kabar tentang bayi kembar buncing itu.”</p>
<p>“Lalu Meme ngomong apa?”</p>
<p>“Meme bilang berita itu tidak benar. Tapi tetua adat tidak percaya. Mereka memaksa Meme berkata jujur. Kalau tidak, mereka akan melakukan tindakan yang lebih tegas.”</p>
<p>“Bayi itu tidak bersalah, Me. Kita tidak boleh membiarkan mereka membawa bayi itu ke kuburan untuk santapan leak.”</p>
<p>“Tapi kita bisa apa? Besok sore tetua adat bersama warga akan mengadakan paruman mendadak untuk memutuskan masalah ini.”</p>
<p>“Keluarga kita diundang?”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Berarti mereka akan mengambil keputusan secara sepihak tanpa mau mendengar pembelaan dari kita.”</p>
<p>“Karena keluarga kita dianggap membawa aib. Kita hanya bisa pasrah dengan keputusan mereka.”</p>
<p>“Tidak bisa, Me! Saya harus bicara dalam paruman itu!”</p>
<p>“Kau tidak mengerti tabiat desa ini. Kau sama saja dengan ayahmu!”</p>
<p>Darsa menuju ke kamarnya. Pikirannya berputar-putar, seperti benang kusut. Ia merasa sanksi adat ini sangat tidak adil karena hanya berlaku bagi kalangan rakyat biasa. Hanya keluarga bangsawan yang boleh melahirkan bayi kembar buncing. Dan rakyat harus bergembira sebab kelahiran tersebut dianggap membawa berkah dan kemakmuran. Namun, kalau bayi tersebut lahir dari rakyat biasa dianggap aib karena menyamai raja.</p>
<p>“Sungguh tidak adil! Aturan ini harus dihapus dari awig-awig desa,” gumam Darsa kesal. Karena lelah jiwa dan raga, ia akhirnya tertidur pulas.</p>
<p>***</p>
<p>Balai desa dipenuhi warga. Paruman belum dimulai. Warga membentuk beberapa kerumuman kecil di pinggir jalan, di warung tuak dan warung kopi. Mereka ngobrol sangat perlahan dan hati-hati, melihat kiri-kanan, seakan takut suara mereka akan membangunkan hantu-hantu kuburan.</p>
<p>“Mengerikan! Desa kita akan ditimpa kekeringan berkepanjangan.”</p>
<p>“Panen akan gagal lagi.”</p>
<p>“Sebulan lalu ada anak anjing lahir berkaki lima. Seminggu lalu bunga bangkai mekar di jaba pura. Sekarang bayi kembar buncing! Duh…Dewa Ratu, bencana apa yang akan menimpa desa ini?”</p>
<p>“Beberapa malam lalu saya melihat sinar biru melesat dari arah bukit.”</p>
<p>“Aku juga melihatnya.”</p>
<p>“Ya. Aku juga lihat. Tapi, sinarnya biru bercampur merah.”</p>
<p>“Akhir-akhir ini memang sering terjadi siat peteng di pinggir desa.”</p>
<p>“Kemarin malam aku malah mendengar suara burung gagak di atap rumah Darsa.”</p>
<p>“Kau tahu, hujan sudah hampir tiga bulan tidak turun di desa kita?”</p>
<p>“Semoga desa kita diberi kekuatan mengatasi aib ini.”</p>
<p>Begitulah, wajah warga desa diliputi berbagai kecemasan dan kengerian. Mereka  mengalungkan benang tridatu di pergelangan tangan masing-masing, sebagai penolak bala, pengusir roh jahat yang mengganggu.</p>
<p>Suasana desa benar-benar dicekam ketakutan. Warga sudah mengunci pintu rumahnya sekitar jam delapan malam. Mereka merasa lebih aman berkumpul di dalam rumah ketimbang berkeliaran di jalan yang sampai saat ini belum dipasangi penerangan jalan oleh pemerintah.</p>
<p>Tetua adat memasuki balai desa. Warga menghentikan bisik-bisiknya. Paruman berjalan alot. Dari mulut klian adat meluncur berbagai petatah-petitih dan nasehat agar ketenangan desa dijaga, agar warga bersatu mengusir roh jahat yang mengganggu serta bersama-sama mengatasi aib yang menimpa desa.</p>
<p>Sampai pada pokok masalah, dengan wibawa yang dibuat-buat, klian angkat bicara.“Awig-awig harus ditegakkan. Keluarga Darsa harus diasingkan dekat kuburan selama 42 hari. Mereka harus menggelar upacara caru agung yang akan dipimpin oleh pemangku desa.” Warga desa mendengar dengan santun sambil manggut-manggut.</p>
<p>Untuk memancing reaksi warga, klian kembali angkat bicara, “Ada pertanyaan dari warga sekalian?” Para peserta paruman menundukkan kepala. Klian menatap mereka satu per satu. “Kalau tidak ada pertanyaan, paruman akan…!”</p>
<p>“Saya bertanya, Pak Klian!” Warga kaget seperti melihat leak. Tidak terkecuali para tetua adat. Mereka serentak mengalihkan pandangan ke arah Darsa yang dengan tenang menaiki tangga balai desa dan mengambil posisi duduk di depan warga menghadap klian. Warga saling berbisik seperti dengung kerumunan lebah.</p>
<p>“Saudara sekalian harap tenang!” Pak Klian menatap Darsa lekat-lekat. “Kenapa kamu datang ke paruman ini?! Menurut awig-awig kamu…”</p>
<p>“Maafkan kelancangan saya, Pak Klian. Saya hanya mohon penjelasan kenapa sanksi adat mengenai bayi kembar buncing belum juga dihapuskan di desa ini, sementara pemerintah telah melarangnya puluhan tahun lalu?”</p>
<p>Warga desa tersentak mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Darsa. Sebagian geram dengan kelancangannya yang dianggap tidak menghormati paruman. Sebagian lagi, diam-diam mendukung dan bangga dengan keberaniannya, meski hanya dalam hati. Mereka takut dengan tetua adat.</p>
<p>Beberapa warga sadar bahwa keluarga Darsa dan bayinya tidak bersalah. Bayi tersebut tentu tidak minta lahir dari rahim Luh Sarni, tapi semata-mata hanya karena kehendak Dewata. Sekarang Darsa yang mengalami nasib seperti ini, besok bisa saja menimpa warga lainnya. Namun warga tidak mampu berbuat apa-apa di bawah aturan awig-awig yang walau kolot tapi harus tetap dipatuhi agar terhindar dari sanksi adat yang lebih parah.</p>
<p>Dengan wajah disabar-sabarkan, klian menjawab pertanyaan Darsa yang dianggapnya terlalu lancang. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, Nak. Peraturan itu sudah tersurat dalam awig-awig desa jauh sebelum saya atau kamu lahir. Awig-awig ini sudah di-pasupati. Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mematuhinya. Dan, menurut awig-awig kamu semestinya tidak boleh menghadiri paruman ini karena masih leteh. Atas kelancanganmu, kau wajib membayar denda…,” klian menarik nafas mencoba mengendalikan diri. “Nah, warga sekalian, paruman diakhiri sampai di sini. Sekarang silakan kembali ke rumah masing-masing!”</p>
<p>Klian mengemasi tumpukan lontar yang berisi awig-awig, alat tulis dan buku catatan, kemudian meninggalkan balai desa diiringi tetua adat yang lain. Satu per satu warga pun kembali ke rumah masing-masing. Sekejap balai desa menjadi senyap. Hanya Darsa yang masih duduk tercenung di tangga balai desa. Darah mudanya mendidih. Ia merasa menjadi pecundang di desa kelahirannya sendiri. Ia merasa tidak dipedulikan, pembelaannya tidak didengar oleh tetua adat.</p>
<p>***</p>
<p>Bulan hampir penuh menyembul dari rerimbun pepohonan. Kenangan demi kenangan masa kanak kembali berkelebat dalam benak Darsa. Bermain petak umpet di bawah purnama dengan kawan sebaya. Mandi di kali yang berair jernih hingga sampai lupa waktu. Bersama kakek mengembalakan sapi di sawah sambil mengerjakan PR yang diberikan guru. Darsa begitu mencintai desanya. Desa yang menyimpan manis kenangan masa kanak.</p>
<p>Masih membekas dalam kenangannya bagaimana ia menangis menatap hamparan desanya dari jalan yang melingkari punggung bukit. Saat itu ia baru lulus SMP dan akan berangkat ke kota untuk melanjutkan sekolah dan kuliah. Darsa beruntung mempunyai ayah seorang guru, meski hanya guru SD di desa. Ayahnya yang terus menerus mendorong Darsa agar sekolah dan kuliah di kota.</p>
<p>Namun kesuksesan menyekolahkan anak di kota berbuntut pada tumbuh suburnya rasa iri hati sejumlah warga yang tidak senang pada keluarga Darsa. Apalagi ayahnya dikenal sebagai warga yang paling suka bertanya dalam setiap paruman dan paling kritis dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tetua adat yang seringkali mengatasnamakan awig-awig yang tidak boleh dibantah.</p>
<p>Karena dianggap mengangkangi awig-awig dan wibawa tetua adat, ayahnya dikucilkan dari desa adat sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bahkan ketika ayahnya meninggal, mayatnya tidak boleh dikubur di pekuburan desa adat, kecuali pihak keluarga bersedia mengakui kesalahan almarhum dan membayar denda yang besarnya telah ditentukan oleh awig-awig.</p>
<p>Demi penguburan mayat ayahnya, Darsa bersedia mengakui kesalahan ayahnya di hadapan warga dan membayar denda sesuai ketentuan. Dalam hati, Darsa tidak mengerti apa kesalahan ayahnya? Apakah hanya karena bersikap kritis terhadap awig-awig dan suatu kebijakan adat dianggap kesalahan?</p>
<p>Dendam tetua adat rupanya belum juga surut. Kini keluarganya kembali dikenakan sanksi adat, hanya karena melahirkan bayi kembar buncing. Sebagai seorang sarjana, Darsa merasa malu karena tidak berdaya menghadapi awig-awig desa adatnya sendiri. Ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa untuk membenahi atau meluruskan awig-awig yang kolot dan seringkali dibengkokkan oleh tetua adat untuk kepentingannya sendiri.</p>
<p>Hasil paruman telah diputuskan. Luh Sarni beserta bayinya akan diasingkan di pinggiran desa dekat kuburan. Selain itu, keluarga Darsa diwajibkan menggelar upacara bersih desa. Memikirkan hal itu ia ngeri sendiri, membayangkan kedua bayinya akan hidup di kuburan selama sebulan lebih.</p>
<p>Tiada cara lain kecuali harus menentukan pilihan, meski berat harus dijalankan. Pagi-pagi sekali Darsa menjelaskan rencananya pada ibunya. Perempuan paruh baya itu kaget dan sedih mendengar keputusan anaknya.</p>
<p>“Kau tidak mau menghadapi kenyataan. Kau tahu ayahmu masih di kubur di sini dan belum di-aben?”</p>
<p>“Me, ini pilihan terakhir. Tidak ada jalan lain lagi. Di kota tidak ada sanksi adat yang kolot seperti ini!”</p>
<p>“Kalau itu kehendakmu, silakan kau berangkat sendiri. Biarlah Meme tinggal di sini merawat kuburan ayahmu. Meme masih mencintai desa ini, kau mengerti? Meme yakin suatu saat desa ini akan berubah menjadi lebih baik.”</p>
<p>Darsa tidak mampu berkata apa lagi. Untuk kedua kalinya ia menangis meninggalkan desa kelahirannya. Kini batinnya luka parah karena harus berpisah dengan ibunya.</p>
<p>Kalau keputusan awig-awig itu masih disebut kebenaran, Darsa pun telah memilih kebenarannya sendiri: mengikuti saran istrinya, hidup di kota, bila perlu melepas adat yang diwarisinya sejak lahir. Ia tidak pernah tahu, entah kapan akan kembali ke desa yang sangat dicintainya itu.***</p>
<p>Denpasar, 2004</p>
<p>Keterangan:</p>
<p>Awig-awig                  = aturan-aturan adat yang diwarisi turun-temurun.</p>
<p>Aben/ngaben               = upacara pembakaran mayat.</p>
<p>Bli                                = abang, kangmas, kakak.</p>
<p>Benang tridatu            = benang tiga warna (hitam, merah, putih) sebagai penolak bala. </p>
<p>Caru agung                 = upacara besar/bersih desa, untuk mengusir roh jahat, wabah  dan menetralisir desa dari pengaruh aib.</p>
<p>Jaba                            = luar.</p>
<p>Kembar Buncing         = Kembar laki dan perempuan. Konon, raja Bali kuno pernah memiliki anak kembar buncing, Sri Masula-Masuli. Karena diyakini telah melakukan hubungan intim selama dalam kandungan, mereka akhirnya dikawinkan dan menjadi raja-ratu yang membawa Bali ke arah kemakmuran. Sanksi adat bagi kelahiran bayi kembar buncing telah dihapus oleh DPRD Bali dalam Paswara No.10/DPRD tertanggal 12 Juli 1951, yang ditandatangani oleh Ketua Dewan, I Gusti Putu Merta. Namun sampai kini beberapa desa di pedalaman Bali masih memberlakukan sanksi adat tersebut.</p>
<p>Klian                           = ketua.</p>
<p>Leteh                           = cemar, aib.</p>
<p>Leak                            = orang yang mempratekkan ilmu hitam.</p>
<p>Meme                          = mama, ibu.</p>
<p>Paruman                     = rapat/sidang adat.</p>
<p>Pasupati                      = pemberkatan atau pengesahan senjata pusaka, awig-awig, melalui ritual khusus.</p>
<p>Pemangku                   = pemimpin upacara agama Hindu di Bali.</p>
<p>Siat peteng                  = perang malam bagi  yang suka menguji kesaktian, biasanya perang tanding antar leak berupa benturan-benturan bola api di langit malam.<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/02/01/kembar-buncing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kematian Ayah</title>
		<link>http://jengki.com/2008/02/01/kematian-ayah/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/02/01/kematian-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/02/01/kematian-ayah/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Wayan Sunarta
Dini hari tadi ketika kabut masih bergelayut di ujung-ujung daun kopi, di dahan-dahan cengkeh, di pucuk-pucuk pohon duren, Ayah akhirnya berhasil menyelesaikan hembusan nafasnya yang penghabisan. Ayah pergi dengan sangat tenang, meninggalkan dua istri (satu sudah meninggal), sepuluh anak, lima cucu.
Ledakan tangis ibuku, istri kedua Ayah, menggetar dalam gubug, lalu keluar menerobos kabut, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Wayan Sunarta<br />
Dini hari tadi ketika kabut masih bergelayut di ujung-ujung daun kopi, di dahan-dahan cengkeh, di pucuk-pucuk pohon duren, Ayah akhirnya berhasil menyelesaikan hembusan nafasnya yang penghabisan. Ayah pergi dengan sangat tenang, meninggalkan dua istri (satu sudah meninggal), sepuluh anak, lima cucu.</p>
<p>Ledakan tangis ibuku, istri kedua Ayah, menggetar dalam gubug, lalu keluar menerobos kabut, lalu berhinggapan di dahan-dahan cengkeh, di rerimbun daun kopi, di pucuk-pucuk pohon duren. Seperti layaknya meratapi orang meninggal, Ibu mengguncang-guncang tubuh Ayah, mengurapi dada kurus Ayah dengan air matanya, sambil secara dramatis menyerukan kata-kata cengeng: “Jangan tinggalkan aku! Ajak aku ikut bersamamu!” Saat itu aku baru tahu, ternyata Ibu sangat mencintai Ayah. Lihatlah, air mukanya penuh diliputi kesedihan ditinggal pergi suami ke tempat yang sebenarnya juga akan menjadi tujuan kita bersama.</p>
<p>Aku hanya mampu termangu di sudut gubug. Sambil tanganku mengelus-elus dagu yang tak berjenggot, dengan sabar kutunggui Ibu yang sedang menikmati ratapannya. Mataku masih belum percaya melihat tubuh Ayah. Kebahagiaan macam apa yang telah melingkupi dirinya? Tubuhnya masih hangat, meski nyawanya telah pergi, entah ke mana. Mungkin nyawanya sedang menyelinap di cecabang pohon-pohon kopi. Atau bisa jadi masih berputar-putar di bilik gubug, bingung memperhatikan istrinya menangis atau merasa aneh melihat anaknya bengong seperti orang bego. Atau bisa jadi nyawanya sedang menari-nari gembira bermain kabut di halaman gubug. Sebab merasa telah merdeka, bebas dari kesengsaraan tubuh, dari sakit yang berbulan-bulan dideritanya, dari kemiskinan yang meletihkan, dari berbagai sakit hati yang pernah menggumpal dan menghuni hatinya.</p>
<p>Sesungguhnya aku merasa sangat gembira Ayah meninggal. Malah aku merasa harus memarahi Ibu karena menangis dan meratap-ratap seperti orang sinting saja. Kegembiraanku ini bukan karena aku merasa terbebas dari tugas merawat Ayah. Aku ikut gembira sebab Ayah telah terbebas dari sakit yang dideritanya.</p>
<p>Aku tidak mampu menyembunyikan rasa takjubku melihat wajah Ayah yang begitu damai. Bibirnya yang kisut menyunggingkan sebuah senyum. Senyum kemenangan. Matanya tidak terbelalak, melainkan terkatup seperti bayi yang tidur lelap. Berkali-kali aku bergumam sendiri, kebahagiaan macam apa yang sedang dirasakan Ayah? Belum pernah seumur hidupku, aku melihat wajah Ayah sedamai ini. Pemandangan menakjubkan inilah yang membuat aku termangu di keremangan sudut gubug. Aku tidak sanggup menangis, apalagi berkata-kata. Kalaupun aku menangis, itu pasti bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan.</p>
<p>           </p>
<p>***</p>
<p>Dini hari merangkak menuju pagi. Angin menghembuskan hawa dingin pegunungan. Udara dingin ini membuatku terus terjaga, meski rasa kantuk menyerang begitu rupa. Hampir setiap malam aku mendapat tugas melayani dan menjaga Ayah yang hanya terbaring lemah di bale-bale bambu. Aku harus rela waktu tidurku menjadi sangat berkurang sejak Ayah menderita sakit yang parah. Ada bekas jejak kelabu di bawah kelopak mataku. Jejak yang mampu menggambarkan betapa letihnya aku. </p>
<p>Ibu masih menangis, meski sekarang hanya isak-isaknya saja yang kedengaran. Anggota keluarga lain belum tahu Ayah telah meninggal. Mereka tinggal terpencar. Keluarga yang paling dekat tinggal terpisah dua petak kebun kopi dari gubug. Yang paling jauh tinggal di kota kecamatan, sekitar tiga puluh kilometer dari desa.</p>
<p>Selama Ayah sakit yang menyebabkan separuh tubuhnya lumpuh, hanya beberapa kali saja saudara-saudaraku ikut sibuk membantu menjaga dan merawat Ayah. Boleh dibilang hanya Ibu dan aku yang masih setia merawat Ayah sampai pada hembusan nafasnya yang penghabisan. Aku maklum, anggota keluarga lain sudah tidak tahan melihat penderitaan Ayah. Mereka lebih memilih menghindar dari kenyataan pahit bahwa Ayah menderita lumpuh dan harus dilayani seperti melayani bayi.</p>
<p>Aku dan Ibu bergiliran merawat Ayah. Saat Ibu menjaga Ayah, aku mendapat tugas mengurus kebun kopi yang tidak seberapa luas yang terletak di dekat gubug. Begitu pula sebaliknya. Ketika kami harus sama-sama sibuk di kebun, Ayah terpaksa sendirian menghadapi penderitaannya. Terkadang aku merasa terbiasa dengan erangan, rintihan dan keluhan Ayah. Bahkan tanpa kusadari suara-suara penuh kepedihan itu telah menjelma semacam hiburan dalam hatiku. Namun, pada saat-saat tertentu suka juga aku berdoa dalam hati agar dewa maut segera mencabut nyawa Ayah. Agar Ayah segera terbebas dari segala beban deritanya.</p>
<p>Pada minggu-minggu pertama Ayah sakit, sebenarnya aku juga merasa sangat sedih. Tapi kami sudah berusaha semampu kami untuk mengobati Ayah. Tentu kami lebih banyak mengajak Ayah ke dukun ketimbang dokter. Dari mana kami mendapatkan uang banyak untuk biaya dokter dan obat yang tidak murah? Bahkan jika pun kebun warisan keluarga dijual, tetap saja ongkos untuk perawatan Ayah masih kurang. Apalagi hanya mengharapkan penjualan hasil kebun yang selalu dibeli murah oleh para tengkulak yang banyak bertebaran di desa pegunungan ini.</p>
<p>Aku hanya pernah sekali membawa Ayah ke dokter umum di kota kecamatan. Saat itu dokter hanya memberi Ayah beberapa butir pil sambil mengatakan padaku bahwa Ayah baik-baik saja, perlu istirahat, jangan terlalu banyak pikiran, dan bla..bla..bla. Ketika bicara begitu aku merasa wajah dokter memancarkan kecemasan. Aku tidak mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut sebab-sebab penyakit Ayah. Aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan dokter saat itu. Lagi pula apa untungnya bagi dokter memikirkan penyakit orang gunung seperti Ayah? Belakangan aku tahu dari seorang kawan yang tinggal di kota kecamatan bahwa Ayah terserang stroke, suatu penyakit yang akan membahayakan keselamatan Ayah. Aku hanya manggut-manggut mencoba memahami penjelasan kawanku itu.</p>
<p>Membawa Ayah ke dukun tentu lebih murah mengingat keuangan kami yang terbatas. Hampir semua dukun yang ada di pegunungan ini pernah kami kunjungi atau kami undang ke gubug untuk mengobati Ayah. Seorang dukun yang diyakini warga paling sakti yang kami undang ke gubug kesurupan dan berteriak-teriak tidak jelas. Setelah sadar dari kesurupannya, dukun itu mengatakan bahwa Ayah diserang oleh musuh-musuhnya (seingatku Ayah tidak memiliki musuh) dengan ilmu hitam yang sangat kejam yang menyebabkan separuh tubuh Ayah lumpuh. Untuk itu Ayah harus menjalani ruwatan dengan menggunakan tujuh mata air suci yang ada di pegunungan ini.</p>
<p>Kami pun menuruti saran dukun. Untuk itu aku harus rela bekerja keras mengambil masing-masing satu jerigen air dari tujuh sumber air suci tersebut. Kalau aku membawa langsung Ayah ke masing-masing sumber air suci itu tentu tidak mungkin. Sudah kukatakan, separuh tubuh Ayah lumpuh. Jangankan berjalan, buang kotoran, kencing, mandi dan makan saja harus dibantu, dan seringkali terpaksa dilakukan Ayah di bale-bale.</p>
<p>Tak perlu kuceritakan di sini bagaimana letih dan panjangnya perjuanganku mendapatkan tujuh sumber air suci itu. Ceritaku yang tak berguna itu hanya akan mengurangi pahalaku nantinya.</p>
<p>Begitulah, setelah memandikan Ayah dengan air suci, keajaiban pun terjadi. Ayah menjadi lebih sehat dan segar, meski tubuhnya tetap kurus dan kisut. Namun beberapa hari kemudian Ayah kembali mengeluh tubuhnya tidak bisa digerakkan. Aku pun kembali mengundang dukun itu datang ke gubug. Sambil geleng-geleng kepala dukun sakti itu mengatakan bahwa musuh Ayah sangat hebat sehingga mampu memusnahkan mukjizat tujuh sumber air suci. Dukun itu tidak mampu berbuat apa lagi. Ia pulang sambil geleng-geleng kepala dan bergumam tidak jelas. Kami hanya bisa terpana. </p>
<p>Habis sudah harapan kami. Maka sejak itu, erangan, rintihan dan keluhan Ayah menjadi semacam hiburan bagiku. Maklum di gubug tidak ada hiburan lain, seperti televisi atau radio. Suara erangan, rintihan dan keluhan Ayah sesekali bercampur-baur dengan cericit tikus, suara tokek dan cicak, nyanyian burung-burung hutan, lolong anjing, dan berbagai suara serangga hutan. Gabungan suara-suara itu menjadi nyanyian tersendiri bagiku. Begitu pedih sekaligus menghibur. Namun anehnya, Ibu hanya mampu menangis bila mendengar keluhan-keluhan Ayah. Aku heran, apa Ibu tidak bisa menikmati hiburan itu?</p>
<p>Ketika Ayah meninggal, aku jelas merasa kehilangan. Aku sedih kehilangan hiburan dari suara-suara yang diperdengarkan Ayah, erangan dan rintihan penuh derita yang bercampur-baur dengan suara hewan-hewan di sekitar gubug. Kelak aku akan merindukan hiburan aneh itu.</p>
<p>***</p>
<p>Matahari muncul dengan senyumnya yang sumringah. Kabut perlahan menjauh. Langit mulai hangat dan terang. Aku segera bergegas keluar gubug, pergi ke gubug keluarga terdekat, mengabari ayah telah mati. Mereka terkejut. Atau pura-pura terkejut? Atau hanya basa-basi saja untuk menunjukkan kesedihannya?</p>
<p>Setelah mencuci muka, buang hajat, dan sarapan ala kadarnya, mereka berbondong-bondong datang ke gubug. Karena gubug kami kecil dan tidak muat untuk menampung seluruh kerabat, maka mereka bergiliran menjenguk Ayah ke dalam gubug. Secara bergiliran pula mereka menangis dan meratap-ratap di dalam gubug, di depan tubuh Ayah yang telah dingin. Tentu saja dikomandoi oleh Ibu. Perempuan paruh baya itu selalu saja mendahului menangis menjerit-jerit dan meratap-ratap sehingga bagai kawanan bebek kerabat yang lain ikut menangis dan meratap. Bahkan untuk mempermanis suasana ada saja diantara mereka yang tiba-tiba meraung atau menjerit sambil memukul-mukul dada sendiri.</p>
<p>Aku keluar dari gubug dan berlari menuju kebun kopi. Di tengah kebun aku tidak dapat lagi menahan tawa. Ketawaku yang paling ngakak, yang paling riang, yang paling konyol seumur hidupku lepas berderai. Bahkan aku merasa beberapa bulir air mata menetes membasahi pipi. Bukan karena aku sedih. Tapi aku tidak kuat menahan ketawa menyaksikan tontonan paling lucu yang sedang berlangsung di dalam gubug.</p>
<p>Kerabat lain yang masih menunggu giliran di luar gubug mendengar ketawaku yang ngakak. Mereka bergegas menuju kebun kopi dan secara paksa menyeretku kembali ke gubug. Mungkin mereka mengira aku gila, tertekan oleh kesedihan yang sangat parah sehingga aku tidak mampu lagi menangis, melainkan ketawa ngakak.</p>
<p>Aku meronta, mencoba melepaskan diri dari pegangan dua kerabat berbadan gempal. Mereka bertambah yakin kalau aku benar-benar telah menjadi gila karena kesedihan yang parah. Dengan sekuat tenaga mereka kemudian mengikatku di batang pohon jambu di belakang gubug. Mulutku disumpal dengan kain bekas sobekan baju. Mereka takut ketawaku akan menyinggung perasaan para kerabat yang sedang menikmati kesedihan dan irama tangisannya.</p>
<p>Aku terus meronta-ronta. Mereka tidak melepaskan ikatan. Malah  menambahkan tali agar ikatannya lebih kuat, agar aku tidak lepas dan mengganggu kerabat lain. Kemudian mereka menjenguk ke dalam gubug. Secara bergiliran menangis, menjerit, meratap, memukul-mukul dada sendiri, meraung sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayah yang mulai kaku. Di pagi hari yang cerah itu, burung-burung berkicau merdu, anjing menyalak dengan irama indah. Meski mulutku disumpal, namun kupingku dengan nyaman menikmati hiburan itu.</p>
<p>Akhirnya karena capek meronta, aku tertidur pulas dengan kedua tangan masih terikat di batang pohon jambu. Aku sangat letih karena semalaman begadang, merawat dan menjaga Ayah.***</p>
<p>Denpasar, 2003</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/02/01/kematian-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggu</title>
		<link>http://jengki.com/2008/02/01/menunggu/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/02/01/menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/02/01/menunggu/</guid>
		<description><![CDATA[ Cerpen: Wayan Sunarta
 
 
Lelaki itu duduk bertopang dagu di bangku kayu di sebuah taman rumah sakit. Di langit barat, senja baru saja selesai menarik kuas terakhirnya, membubuhkan warna merah keemasan. Dan seperti biasa, burung-burung yang letih pulang ke pembaringannya, di pucuk-pucuk pohon yang berderet di jalan menuju taman rumah sakit itu.
Aku baru saja selesai mandi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Cerpen: Wayan Sunarta<br />
 <br />
 </p>
<p>Lelaki itu duduk bertopang dagu di bangku kayu di sebuah taman rumah sakit. Di langit barat, senja baru saja selesai menarik kuas terakhirnya, membubuhkan warna merah keemasan. Dan seperti biasa, burung-burung yang letih pulang ke pembaringannya, di pucuk-pucuk pohon yang berderet di jalan menuju taman rumah sakit itu.</p>
<p>Aku baru saja selesai mandi dan mencuci rambut yang lebih dari tiga hari tak terurus. Aku terpaksa melakukan pekerjaan yang menjemukan itu di kamar mandi rumah sakit. Kalau aku pulang ke rumah, siapa yang harus menunggui istriku? Di dunia ini secara sah aku hanya memiliki istriku saja.</p>
<p>Mertuaku kemungkinan besok sore baru tiba di Bali. Mereka aku telepon kemarin malam, mengabari bahwa istriku akan segera melahirkan cucu pertamanya.  Mudah-mudahan cucu yang sehat, cantik seperti ibunya atau ganteng seperti ayahnya. Yeah, aku perlu menghibur diri untuk menghadapi fenomena alam yang baru kali ini menghampiri hidupku. Sesungguhnya aku ngeri membayangkan, apalagi melihat perempuan melahirkan. Bau amis darah dan jerit kesakitan sudah cukup membuatku bergidik.</p>
<p>Aku pernah mendengar peristiwa melahirkan terkadang memakan korban. Setelah si bayi lahir dengan selamat, ibunya malah meregang nyawa, menunggu saat tangan lembut maut meraih ujung rambutnya. Aku teringat kawan baikku yang kini menjadi pemabuk. Dia frustasi. Maut telah merampok istrinya saat menunaikan tugas mulianya sebagai perempuan: melahirkan titipan Sang Pencipta.</p>
<p>“Tuhan memang brengsek. Jahaman besar!” umpatnya suatu kali di meja bar, tempat kami biasa nongkrong melepas kepergian malam menuju pagi.</p>
<p>“Apakah Tuhan mempunyai hati nurani seperti manusia?” tanyanya pada udara hampa. Lima botol bir habis  ditenggaknya.</p>
<p>“Kalau Tuhan Maha Baik, kenapa Dia merampok istriku dari diriku dan anakku?!”</p>
<p>Begitulah, malam tuntas dilumatnya, dicampurnya dengan cairan arak dan bir. Dan wajah Tuhan pun habis diludahinya dengan umpatan dan cacian. Aku terkadang kasihan padanya. Terkadang juga kesal dan kecewa melihat tinggkahnya, walau aku berusaha paham kesedihannya  sangat mendalam. Aku tahu betul, kawanku itu dulunya sangat rajin sembahyang, memanjatkan pujian-pujian untuk Tuhan. Bahkan ia cenderung fanatik membela Tuhan kalau kebetulan kami berdebat tentang agama. Kini, terjadilah apa yang telah digariskan: istri kawanku mati saat melahirkan anak pertamanya. Dan dia mulai membenci Tuhan.</p>
<p>Malam mulai membuka matanya dan akan segera berjalan-jalan menyapa pepohonan, menyapa orang-orang yang bersahabat dengannya, menyapa embun, menyapa bulan, menyapa apa saja yang dihampiri atau menghampirinya. Itulah hakikat malam yang sopan dan santun pada mahluk di bumi.</p>
<p>Lelaki yang bertopang dagu itu masih saja duduk di bangku kayu taman rumah sakit. Malam pun menyapanya dengan ramah, namun ia seakan tak peduli dengan sapaaan malam yang ramah itu. Malah dia membentak malam dengan kejam.</p>
<p>“Mengapa kau harus selalu datang, hai malam jahanam!”</p>
<p>Lelaki aneh, pikirku. Sebenarnya aku berniat juga untuk menyapanya, seperti malam menyapanya. Tapi aku keder juga bila mulutnya menyemprotkan kata-kata kasar ke arahku. Aku lelaki perasa yang gampang tersinggung bila ada sesuatu yang menyinggung perasaanku. Sesuatu itu bisa saja umpatan atau makian.</p>
<p>Nah, benarkan apa kataku? Malam menangis. Air matanya menjadi gerimis. Ternyata malam perasa juga seperti aku. Wahai, malam, kita ternyata punya perasaan yang tidak berbeda. Tapi apakah malam juga akan menangis bila istrinya mati saat melahirkan anak pertamanya yang bernama fajar itu? Untuk yang satu itu, ah, malam tidak akan menangis karena anak-anaknya akan selalu lahir dari istri-istrinya yang lain.</p>
<p>Kau tahu, aku pernah juga menjumpai seekor gagak yang menangis serak. Tapi bukan karena istrinya mati melahirkan. Gagak bukan jenis hewan yang melahirkan anaknya. Tapi gagak itu menangis karena tidak tega memakan bangkai orok yang dibuang  dengan sengaja oleh ibunya di tegalan belakang sebuah kampus di kotaku. Aku menyaksikan sendiri bagaimana gagak itu menangis serak sambil meratapi bangkai orok yang entah apa jenis kelaminnya. Mungkin si ibu orok itu sekarang lagi berdandan di depan cermin besar di meja riasnya untuk menghadiri sebuah pesta muda-mudi. Mungkin si ibu yang habis membuang hasil karyanya itu pergi ke sebuah diskotik dekat pantai  dan berjingkrak-jingkrak sampai pagi, seirama musik yang memekakkan kuping. Mungkin dia menyesal, dan melupakannya dengan hura-hura. Kenapa dia tidak mati saja sekalian dengan oroknya agar musnah segala yang bernama duka dunia?</p>
<p>Aku kembali teringat  pada kawanku yang frustasi itu. Tentu dia kini ada di sebuah bar yang sering kami singgahi dulu. Tentu dia minum lima botol bir dengan nikmat sambil memaki Tuhan dan melupakan penderitaan hidup sebagai manusia.</p>
<p>“Kawan, jangan kau sampai punya istri,” katanya suatu kali padaku, kali itu ia tidak dalam keadaan mabuk.</p>
<p>Aku agak kaget mendengar sarannya yang ganjil itu. Sesungguhnya manusia dilahirkan ke dunia membawa misi untuk mengembakbiakan keturunan Adam dan Hawa. Ya, dengan cara beristri itu, dengan menikah itu. Aneh-aneh saja usul kawanku itu.</p>
<p>“Kenapa aku tidak boleh menikah?”</p>
<p>“Agar kau tidak seperti aku.”</p>
<p>“Tapi jalan hidup kita berbeda, Bung.”</p>
<p>“Ya, memang jalan hidup kita berbeda. Tapi aku sarankan, janganlah kau menikah. Kau akan menderita seperti aku ini.”</p>
<p>“Tapi aku juga ingin menikmati manis madunya perkawinan.”</p>
<p>“Tapi kau  akan menikmati pahit getirnya juga.”</p>
<p>Aku terdiam. Benar juga kata kawanku itu. Sebuah pernikahan tidak hanya untuk menikmati manis madunya saja, tetapi juga pahit getirnya. Saat kawanku berkata begitu sesungguhnya aku sedang mempersiapkan rencana pernikahanku, dan rencana itu sudah kubicarakan dengan pacarku. Apakah aku harus membatalkan pernikahan itu hanya karena ketakutan menghadapi pahit getirnya pernikahan.</p>
<p>Sesungguhnyalah aku sangat takut kehilangan, terutama kehilangan orang yang aku cintai. Pernah suatu kali aku begitu uring-uringan karena pacarku pulang ke Jawa sampai sebulan lamanya. Aku cemas. Sesungguhnya yang aku cemaskan adalah kalau terjadi sesuatu dengannya saat dia pulang atau balik ke Bali.</p>
<p>Aku pernah membayangkan peristiwa mengerikan terjadi pada pacarku. Aku bayangkan dia tewas dengan sangat mengenaskan karena bus yang ditumpanginya disruduk truk tronton. Aku bayangkan dia duduk paling belakang. O, betapa mayatnya hancur, dan apakah aku akan mencaci-maki Tuhan dalam menghadapi kenyataan itu.</p>
<p>Lain waktu, aku membayangkan kapal ferri yang ditumpanginya terhantam badai malam hari karena gelombang besar. Kapal oleng dan karam dengan tandas. Semua penumpang mati karam, pacarku salah satunya. Tragisnya, mayat pacarku tidak ditemukan. Mungkin saja terbawa arus atau nyangkut di kapal yang karam atau dimakan hiu. Selalu saja, bila pacarku jauh dariku, aku cemas. Namun aku tidak pernah tahu, apakah pacarku merasakan perasaan yang sama dengan perasaanku? Atau jangan-jangan dia tidak pernah peduli denganku?</p>
<p>Aku pikir nasehat kawanku yang pemabuk itu ada benarnya juga. Setelah melewati berbagai pertimbangan, karena semacam perasaan ragu-ragu yang kuat dalam diriku, aku pun memutuskan untuk menikah dengan pacarku. Pada saat acara pernikahan, kawanku datang dan mengucapkan selamat karena aku telah berani mengambil sebuah keputusan yang sungguh luar biasa, bahkan cenderung nekat. Menurutnya,  aku harus bersiap-siap merasakan pahit getirnya sebuah pernikahan.</p>
<p>Di sudut taman rumah sakit aku termangu. Lelaki yang duduk bertopang dagu tadi berjalan ke arahku. Aku pura-pura tidak melihat. Aku cemas, jangan-jangan kehadiranku telah mengusik ketentramannya.</p>
<p>“Apa Saudara sedang menunggu kerabat yang sakit?” Ia bertanya dengan sangat formal sambil menawarkan rokok kretek. Aku menolak dengan halus, padahal aku ingin sekali merokok dan kebetulan pula rokokku habis. Tapi setelah ia setengah memaksa, aku ambil saja sebatang kreteknya dan meminjam apinya dan menyedotnya dalam-dalam. Ah, nikmatnya sebatang rokok dan malam tanpa awan.</p>
<p>“Saya menunggu istri  melahirkan anak pertama kami.”</p>
<p>Lelaki itu menatapku dengan  aneh.</p>
<p>“Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”</p>
<p>Lelaki itu tidak menjawab. Tapi matanya nampak berkaca-kaca. Lelaki itu menangis. Yeah, ternyata ia perasa juga. Ternyata tak beda dengan diriku yang gampang menitikkan air mata.</p>
<p>“Kenapa Bapak menangis. Apa atau siapa yang Bapak tangisi?” Wajarkah aku bertanya seperti itu pada lelaki yang sedang menangis ini? Aku jadi ragu, jangan-jangan pertanyaanku yang jujur ini malah tambah menyinggung perasaannya.</p>
<p>“Istriku mati kemarin malam, saat melahirkan anak pertama kami.”</p>
<p>Lelaki itu terisak-isak. Malam beringsut menyingkir. Ternyata malam suka nguping percakapan orang. Jangan-jangan malam ditugasi Tuhan sebagai intel, memata-matai setiap gerak-gerik manusia yang hendak melakukan kudeta terhadap diri-Nya.</p>
<p>“Malam jahaman, pergi kau jauh-jauh, jangan tampakkan dirimu di depanku!” bentak lelaki yang menangis itu. Malam dengan langkah gemetar pergi ke sudut taman yang gelap dan menangis di situ. Air matanya menjadi awam, turun menjelma hujan.</p>
<p>“Jangan begitu, Pak. Malam sahabat kita juga.” ujarku hati-hati.</p>
<p>“Justru malam adalah musuhku. Dialah yang merenggut nyawa istriku kemarin. Malam membuka pintu bagi Sang Maut yang merampok nyawa istriku.” </p>
<p>Aku tidak tega melihat lelaki itu meratap dan mengumpat. Aku biarkan ia menumpahkan kekesalannya pada malam.</p>
<p>“Saudara, hati-hatilah, mungkin istri saudara juga akan mengalami nasib yang sama dengan istri saya.”</p>
<p>“Jangan membuat saya cemas, Pak. Istri saya sehat-sehat saja. Selama hamil saya sangat telaten menjaga makanannya agar cukup gizi, agar anak kami lahir sehat, cantik seperti ibunya, atau ganteng seperti saya.” ujarku membesarkan hati.</p>
<p>Namun, sesuatu rasa yang asing tapi akrab menjalar perlahan dalam diriku.</p>
<p>“Ha..ha..ha&#8230;takdir tidak bisa diajak bercanda, Saudara. Ya, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang merisaukan pada istri Saudara. Saya permisi dulu!  Terkutuk kau, malam. Kenapa kau renggut nyawa istriku, heh?”</p>
<p>Lelaki itu berdiri dan pergi sambil tertawa-tawa dan mengutuki malam. Ia menghilang di sudut taman yang kelam. Apakah lelaki itu Sang Maut yang menyamar dan ingin mengabarkan sesuatu pada diriku? Kini aku seorang diri di taman yang bisu dan sunyi ini.</p>
<p>Aku melangkahkan kaki ke ruang bersalin tempat istriku terbaring pasrah. Menurut perkiraanku, tengah malam nanti anak kami yang pertama akan lahir.  Semoga lahir selamat dan sehat. Cantik seperti ibunya, atau ganteng seperti aku. Akan kuberi nama: Hening Malam.</p>
<p>Namun langkahku terasa berat. Kepalaku juga terasa berat. Langit terasa berat. Malam terasa berat. Perlahan hidup memberat di pundakku. Di depan lorong menuju ruang bersalin, seorang bidan menyapaku dengan gusar: “Saudara kemana saja? Saya kebingungan mencari Saudara.  Istri melahirkan kok tidak ditunggui. Tega sekali Saudara ini! Ayo cepat temui istri Saudara!”</p>
<p>Bidan itu nampak tergesa-gesa. Amis darah sangat tajam tercium dari tangannya yang putih bersih itu. Aku ingin bertanya sesuatu. Tapi mulutku seakan terkunci. Tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku hanya bisa melongo seperti orang bego.</p>
<p>Aku bergegas. Kakiku kembali melangkah menuju taman rumah sakit. Di bangku kayu yang bisu aku duduk termangu, menopang dagu, dan menunggu. Aku takut. Aku cemas. Aku belum siap menghadapi hukum alam yang akan jatuh di atas kepala istriku. Juga diatas kepalaku.***</p>
<p>Denpasar, 2001<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/02/01/menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kutukan</title>
		<link>http://jengki.com/2008/02/01/kutukan/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/02/01/kutukan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:14:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/02/01/kutukan/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Wayan Sunarta
                       
Langit masih mendung. Sejak sore tadi hujan turun tiada hentinya. Di jalanan sampah-sampah berserakan akibat got-got yang meluap. Sambil sedikit menggigil Pastika mengendarai motor bebeknya, membonceng kekasihnya, Maya. Mereka mampir di sebuah warung jagung bakar yang banyak bertebaran di sepanjang jalan di kawasan Renon. Dingin-dingin begini pasti asyik makan jagung bakar, apalagi bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Wayan Sunarta</p>
<p>                       </p>
<p>Langit masih mendung. Sejak sore tadi hujan turun tiada hentinya. Di jalanan sampah-sampah berserakan akibat got-got yang meluap. Sambil sedikit menggigil Pastika mengendarai motor bebeknya, membonceng kekasihnya, Maya. Mereka mampir di sebuah warung jagung bakar yang banyak bertebaran di sepanjang jalan di kawasan Renon. Dingin-dingin begini pasti asyik makan jagung bakar, apalagi bersama kekasih tercinta, pikir Pastika.</p>
<p>Di warung jagung bakar, pasangan kekasih itu memilih tempat duduk di sudut yang agak remang. Mereka ngobrol sambil berpegangan tangan, mesra sekali.</p>
<p>“Sayang, kapan kita kawin?” Pastika meremas tangan kekasihnya.</p>
<p>“Kapan-kapan saja.” Maya mengulum senyum, bermanja-manja. Pastika gemas, tapi kemudian juga ikut senyum-senyum. “Kamu harus cari kerja dulu. Kalau kita kawin duluan, nanti makan apa?”</p>
<p>“Ya…kalau tidak ada nasi, jagung bakar juga boleh,” jawab Pastika sekenanya saja. Giliran Maya yang gemas.</p>
<p>“Siapa sudi makan jagung bakar terus,” Maya pura-pura menggerutu.</p>
<p>Pastika merangkul pinggang Maya. Mereka tertawa-tawa kecil. Beberapa butir jagung bakar yang masih dikunyah hampir saja menyembur dari mulut Pastika. Orang-orang di sekitar melirik mereka, tentu dengan perasaan cemburu akan kebahagiaan pasangan kekasih itu.      </p>
<p>“Habis ini kita ke mana, Yang?” Maya menatap Pastika mesra.</p>
<p>“Lapangan Renon, yuk?”</p>
<p>“Tapi ‘kan masih gerimis.”</p>
<p>“Tapi ‘kan sepi…”</p>
<p>“Dasar otak pasir!”</p>
<p>Mereka kembali tertawa-tawa. Benar-benar pasangan kekasih yang membuat iri orang-orang yang melihatnya. Setelah membayar jagung bakar, Pastika memacu motornya menuju Lapangan Renon yang tidak seberapa jauh.</p>
<p>Malam itu Lapangan Renon memang sepi. Langit masih mendung. Gerimis masih terasa dalam udara lembab. Pasangan kekasih itu seakan tidak peduli dengan cuaca yang tidak bersahabat. Atau malah cuaca saat itu sangat bersahabat: dingin, sepi&#8230;. Sebenarnya dalam hati mereka mengharapkan cuaca terus seperti itu, sampai mereka puas memadu kasih. Siapa pula yang akan melihat atau mengintip mereka? Lapangan Renon sepi. Langit mendung dan gerimis membuat orang malas ke luar rumah. Biasanya, bila malam minggu, Lapangan Renon akan ramai dengan pasangan kekasih yang memadu cinta.</p>
<p>“Syukur sekarang bukan malam minggu,” Pastika girang.</p>
<p>“Tapi aku takut sepi-sepi begini,” wajah Maya pura-pura cemberut kemudian berubah kemanja-manjaan, “kamu pasti akan lebih nakal dari biasanya.”</p>
<p>“Tenang saja. Aku tidak akan menggigit kamu. Lagi pula tidak akan ada yang mengintip,” gurau Pastika sembari meyakinkan Maya.</p>
<p>“Yang, aku takut…” rengek Maya.</p>
<p>Pastika tidak peduli dengan rengekan Maya. Dia mengarahkan motornya ke tengah lapangan, memarkirnya di bagian yang remang. Mereka duduk di atas sepeda motor. Pastika mendekap Maya dari belakang. Pasangan yang sedang kasmaran itu berciuman penuh gairah. Tangan Pastika, seperti biasanya, menjamah bagian-bagian empuk tubuh Maya.</p>
<p>Mereka bermesraan di tengah-tengah lapangan bukan bermaksud pamer. Pamer pada siapa? Lapangan Renon sepi. Namun begitu, mereka lebih baik berjaga-jaga agar segera bisa melihat orang atau pasangan lain yang tiba-tiba melintas ke arah mereka. Tapi satu hal yang mereka lupa, lapangan itu sangat luas dan suasana remang membuat mata susah melihat orang pada jarak tertentu, apalagi ketika sedang asyik berciuman.</p>
<p>Langit masih mendung dan udara basah. Detik berjalan perlahan menuju detik, menit terasa melambat, waktu menjadi beku dalam kehangatan mereka. Tiba-tiba…</p>
<p>“Apa yang kalian lakukan di sini, heh!” bentakan suara berat itu menghentikan aktivitas alamiah pasangan kekasih itu.</p>
<p>Jantung mereka seakan berhenti berdetak. Dengan gugup Pastika menoleh ke arah sumber suara. Dalam keremangan tampaklah wajah sangar dengan kumis tebal dan mata melotot, berjalan bergegas ke arah mereka. Entah dari mana datangnya lelaki yang mengenakan jas hujan itu, tiba-tiba saja sudah siap menyergap mereka.</p>
<p>“Saya polisi! Apa yang kalian lakukan?! Kalian berzinah, ya?!”</p>
<p>Bukan main gugupnya pasangan kekasih itu. Pastika gelagapan mencari-cari alasan. Wajah Maya mendadak pucat pasi, sebentar kemudian dia mulai menangis. Lelaki gempal yang mengaku polisi itu semakin mendapat angin untuk melancarkan gertakannya.</p>
<p>“Ayo, kalian ke pos!” bentak lelaki itu sambil memencet-mencet ponsel dan menunjukkannya di depan mata Pastika. “Kau lihat, ini nomer Pos Keamanan. Saya akan panggil teman untuk menjemput kalian!”</p>
<p>Pastika tambah gugup dan mencoba menjelaskan perkaranya. “Jangan, Pak! Maafkan kami, Pak! Kami tidak berzinah. Kami hanya cium-ciuman saja.”</p>
<p>“Apa kau! Diam kau!” lelaki kasar itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Saya intip kalian dari teropong ini! Kalian tidak mau ngaku, ya?! Berapa nomer telpon rumahmu?! Akan saya panggil orang tuamu!”</p>
<p>Wajah Maya semakin pucat. Pastika merasakan tangan kekasihnya gemetar. Maya takut sekali kalau gertakan orang itu sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Maya cemas kalau orang tuanya benar-benar ditelpon, semuanya akan hancur. Sebab selama ini orang tua Maya tidak tahu kalau dia menjalin hubungan dengan Pastika.</p>
<p>“Ampun, Pak! Maaf, Pak! Jangan laporkan ke orang tua kami!” Maya terus memohon-mohon. Lelaki itu tampak semakin senang dan menang. Perlahan Pastika mulai bisa membaca situasinya. Lelaki itu tidak sungguh-sungguh dengan gertakannya, dia rupanya ingin memeras.</p>
<p>“Umurmu berapa? Lihat KTP-mu?”</p>
<p>Pasangan kekasih itu terdiam.</p>
<p>“KTP-mu mana, heh!” lelaki itu melotot ke wajah Maya yang saking takutnya hanya bisa menunduk saja.</p>
<p>“Tidak bawa, Pak!” jawab Maya gemetar.</p>
<p>“Tidak bawa?! Siapa namamu? Kau dari mana?” Masih dengan nada kasar dan sungguh sangat tidak berperikemanusiaan, lelaki itu terus menggertak Maya. Kalau benar lelaki itu polisi, Maya tidak habis mengerti kenapa ada polisi sekasar itu? Apa kesalahan yang mereka lakukan? Mereka tidak mencuri. Mereka hanya pacaran. Apa ada larangan atau aturan tidak boleh pacaran di Lapangan Renon? Padahal saat itu masih jam sembilan malam. Mereka hanya menjalankan hak sebagai manusia. Kenapa ada polisi yang semena-mena seperti itu dan beraninya hanya memeras orang pacaran?</p>
<p>“Kau dengar tidak!? Siapa namamu?”</p>
<p>Maya gemetar. Pastika geram dan marah. Ingin rasanya dia menjotos mulut lelaki yang mengaku polisi itu. Pastika sadar lelaki itu hanya ingin memeras uangnya saja.</p>
<p>“Sudahlah, Pak. Kita damai saja. Kami mengaku salah. Maafkan kami, Pak!”</p>
<p>Pastika terpaksa mengalah. Meski dia tahu berpacaran dengan pasangan yang sah bukan perbuatan melanggar hukum. Pastika tidak mau mencari perkara lebih jauh lagi. Dia lebih memikirkan keselamatan Maya yang memang tidak biasa menerima teror, ancaman dan bentakan seperti itu. Sedangkan Pastika sendiri sudah berpengalaman diintimidasi, apalagi saat dia masih rajin memimpin demonstrasi mahasiswa beberapa tahun lalu. Saat itu dia sering diincar intel dan diteror lewat telpon, bahkan sempat juga digebuk pasukan anti huru-hara.</p>
<p>Pastika berpikir lelaki itu pasti akan menggunakan segala cara untuk memeras isi dompetnya. Apalagi Lapangan Renon sangat sepi, tidak akan ada orang yang membantunya bila terjadi pemukulan atau perkelahian. Bisa jadi juga lelaki itu mengajak teman yang sembunyi entah di semak-semak mana di sekitar lapangan itu.</p>
<p>Pastika merogoh dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang.</p>
<p>“Kau mau sogok saya, ya?! Kita ke Pos saja, bila perlu saya panggil wartawan biar kelakuan kalian ditulis di koran!”</p>
<p>Pastika berusaha tenang. Maya semakin pucat.</p>
<p>Pemeras yang mengaku polisi ini benar-benar munafik, pikir Pastika. Ingin rasanya dia menginjak-injak muka orang yang menyebalkan itu. Sudah lama dia tidak mempraktekkan ilmu kuntaw yang pernah dipelajarinya. Amarahnya terpaksa diredamnya demi keselamatan Maya. Kembali dia teringat pesan guru kuntawnya, “Gunakan akalmu. Mengalahlah untuk menang!”</p>
<p>Seandainya saja Maya jago karate tentu pemeras itu akan menyesal seumur hidup, atau paling tidak tulang rusuknya patah. Tapi tidak ada gunanya berandai-andai di saat-saat genting seperti itu. Pastika tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengalah.</p>
<p>“Pak, saya bukan mau menyogok. Uang ini hanya sebagai tanda maaf kami,” Pastika menyodorkan uang sepuluh ribuan lima lembar kepada pemeras yang mengaku polisi itu. Dengan cepat tangan pemeras itu menyambar uang yang ada di tangan Pastika.</p>
<p>Pemeras itu menghitung uang sambil berkata, “Uang ini untuk menyogok saya, ya?!” </p>
<p>“Tidak, Pak. Itu hanya tanda maaf  kami. Sungguh, Pak!” Pastika membayangkan akan kelaparan seminggu, sebab uang terakhir dalam dompetnya telah berpindah tangan.</p>
<p>Setelah mendapatkan apa yang diinginkanya, pemeras itu menyuruh mereka cepat-cepat pergi dari Lapangan Renon. Sepintas Pastika melirik, pemeras itu menyeringaikan senyum puas.</p>
<p>           </p>
<p>***</p>
<p>Setelah bebas dari mulut singa, kini Pastika harus berjuang keras menenangkan Maya yang sudah terlanjur shock dan trauma dengan kejadian itu. Bahkan sampai berhari-hari kemudian Maya masih dihantui wajah pemeras dan segala perlakuannya yang kasar.</p>
<p>Suatu senja Pastika mengajak Maya bersantai di Pantai Sanur. Dengan menatap hamparan biru lautan dan merasakan desir angin pantai, Pastika berharap Maya menjadi terhibur.</p>
<p>“Lupakanlah peristiwa itu, Maya. Anggap saja kita sedang sial. Aku yakin kita bukan korban pertama. Suatu saat pemeras itu akan menemui karmanya sendiri. Kau tahu, salah satu dosa yang tidak bisa diampuni adalah mengganggu atau memeras orang yang sedang pacaran,” bujuk Pastika, setelah berkali-kali melihat Maya murung.</p>
<p>Maya hanya terdiam saja. Matanya menerawang ke arah cakrawala. Debur ombak seakan saling sahut dengan gemuruh batinnya.</p>
<p>“Dalam kisah Mahabharata, ayah Pandawa, Pandu, pernah dikutuk pertapa sakti, akan mati saat berhubungan intim dengan istrinya. Dosa Pandu adalah memanah sepasang kijang yang sedang berkasih-kasihan. Pandu tidak tahu kalau kijang yang dipanahnya adalah jelmaan pertapa sakti yang sedang kencan dengan istrinya. Pandu akhirnya mati lemas (mungkin impoten) saat bersenggama dengan istrinya…”</p>
<p>Maya masih diam bagai arca. Wajahnya murung. Perlahan air matanya meleleh membasahi pipinya yang bersih. Pastika bisa memahami trauma kekasihnya itu, sebab dia juga pernah mengalami trauma seperti itu.</p>
<p>“Aku benci sekali dengan orang itu. Setiap aku bengong sendiri peristiwa itu seakan kembali terulang menghantui pikiranku. Aku sangat takut sekali…,” Maya terus terisak-isak. Pastika girang Maya akhirnya mau bicara, meski sambil menangis. Pastika mendekapnya erat, membelai rambutnya penuh kasih.</p>
<p>Tiba-tiba, Maya melepaskan dekapan Pastika. Matanya jalang memandang langit, wajahnya yang lembut berubah beringas, nafasnya tidak teratur seperti ingin menumpahkan amarah yang lama terpendam. Maya seperti gunung berapi yang siap menyemburkan lahar panas. Dan…</p>
<p>“Demi langit dan bumi, aku mengutuk pemeras itu agar impoten seumur hidupnya! Agar matinya tidak wajar!” Setelah melontarkan kutukan itu, tubuh Maya lemas dan jatuh dalam pelukan Pastika.</p>
<p>Mendadak langit menggelegar oleh gemuruh halilintar, angin kencang datang menggugurkan daun-daun ketapang di sekitarnya. Pastika bergidik ngeri dengan cuaca yang tiba-tiba berubah itu.</p>
<p>“Agaknya sebentar lagi akan datang badai. Kita pulang, ya?!”</p>
<p>Maya mengangguk lemah.</p>
<p>Mendengar kutukan kekasihnya, Pastika menjadi ngeri sendiri. Konon, kutukan perempuan yang teraniaya sangat ampuh.</p>
<p>Tiga minggu kemudian Maya sudah kembali ceria dan manja. Pada sebuah sabtu sore Maya mengajak Pastika makan jagung bakar di warung langganannya di kawasan Renon. Sambil menanti jagung matang, Pastika membaca-baca koran sore yang dibelinya dari loper koran yang berjualan di sekitar warung itu. Dia biasanya hanya membaca kepala-kepala berita yang dicetak tebal-tebal. Dan, betapa kagetnya dia membaca sebuah kepala berita yang menjadi headline hari itu: Pemeras Tewas Dibacok di Lapangan Renon.</p>
<p>Dengan semangat ingin tahu Pastika membaca berita yang mengejutkan itu. Kejadiannya malam kemarin. Ciri-ciri korban yang tubuhnya penuh luka bacokan itu persis seperti lelaki yang mengaku polisi yang pernah memeras mereka: badan gempal, tinggi 170 cm, kumis tebal, mata belok, rambut pendek ikal.</p>
<p>Di samping mayat ditemukan teropong infra merah dan sebuah ponsel Nokia terbaru. Pelakunya belum diketahui. Menurut pedagang asongan yang sering berjualan di Lapangan Renon, korban memang sering mengaku polisi dan suka memeras pasangan yang sedang berpacaran. Kata pedagang asongan yang tidak mau disebutkan namanya itu, korban sering beroperasi saat Lapangan Renon sepi, mendung dan gerimis, atau di atas jam sepuluh malam.</p>
<p>Pastika menyodorkan koran itu kepada Maya. “Kutukanmu telah mengenai sasarannya. Pemeras itu mati dibacok!”</p>
<p>Usai membaca berita itu, wajah Maya seketika pucat. Namun tidak berapa lama senyumnya mengembang puas dan bahagia. Seperti kepuasan Drupadi yang berhasil mencuci rambutnya dengan darah Dusasana. Pastika takjub. Belum pernah ia melihat wajah kekasihnya secerah itu.***</p>
<p>             </p>
<p>Denpasar, 2004</p>
<p>                                                                                         </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/02/01/kutukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ratih</title>
		<link>http://jengki.com/2008/02/01/ratih/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/02/01/ratih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:13:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/02/01/ratih/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Wayan Sunarta
Lebih dari lima kali Ratih menatap jam tangannya, namun wisatawan yang ditunggunya belum juga tiba. Kini jam di pergelangan tangannya telah menunjuk angka dua dini hari. Mestinya pesawat yang mengangkut wisatawan itu telah mendarat di Bali sejam lalu. Ah, mungkin ada gangguan teknis atau keterlambatan pemberangkatan, gumam Ratih lirih.
Meski diliputi gelisah, perempuan berusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Wayan Sunarta</p>
<p>Lebih dari lima kali Ratih menatap jam tangannya, namun wisatawan yang ditunggunya belum juga tiba. Kini jam di pergelangan tangannya telah menunjuk angka dua dini hari. Mestinya pesawat yang mengangkut wisatawan itu telah mendarat di Bali sejam lalu. Ah, mungkin ada gangguan teknis atau keterlambatan pemberangkatan, gumam Ratih lirih.</p>
<p>Meski diliputi gelisah, perempuan berusia 30 tahun itu berusaha sabar menunggu. Bandara Ngurah Rai menggigil dalam balutan angin dini hari. Sambil menahan kantuk, Ratih duduk selonjor dan tidur-tidur ayam di ruang tunggu bandara. Berbagai masalah lama kembali berkelebat dalam benaknya, terlebih lagi sejak dia memutuskan bekerja menjadi guide di sebuah biro perjalanan di Denpasar.</p>
<p>Bagi Ratih menjadi guide merupakan cita-citanya sejak kuliah Sastra Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Bali. Selain memperoleh penghasilan yang lumayan, Ratih memang menyukai pekerjaan yang mengutamakan interaksi dan komunikasi dengan orang asing. Ratih juga menyadari profesi guide merupakan pekerjaan yang tidak teratur waktu dan jadwalnya. Seperti menunggu wisatawan menjelang dini hari, seperti yang sekarang dilakukannya. Kadang seharian menemani wisatawan mengunjungi sejumlah objek wisata di Bali. Atau mengantar wisatawan ke bandara tengah malam. Namun Ratih telah siap dengan tugas-tugas seperti itu, meski seringkali harus bertengkar dengan suaminya.</p>
<p>Suaminya hanyalah seorang karyawan biasa dengan gaji yang juga biasa. Bagi Ratih itu tidaklah menjadi soal utama. Dia masih bisa membantu menggelembungkan ekonomi keluarga, bahkan mampu membeli berbagai barang, seperti televisi, mesin cuci, kulkas, sofa empuk, dan sebagainya.. Namun yang menjadi masalah dan seringkali berakhir pada pertengkaran adalah kecemburuan suaminya yang terlalu berlebihan. Seperti kejadian suatu malam ketika Ratih pulang agak larut karena harus mengantar wisatawan ke bandara. Sampai di rumah, telinga Ratih dengan pasrah harus menerima kata-kata kasar dari suaminya.</p>
<p>&#8220;Kau selalu pulang larut malam. Apa saja kerjamu dengan bule-bule itu!&#8221;</p>
<p>Meski tidak ada gunanya, Ratih mencoba membela diri. &#8220;Saya bekerja bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga juga. Pekerjaan guide ya memang seperti ini, waktu dan jadwal serba tidak tentu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah! Banyak omong kau. Mentang-mentang gajimu besar, beraninya kau melawanku. Aku suamimu, kepala keluarga di rumah ini. Berapa kali kubilang agar minta tugas siang, kau tidak pernah menggubrisnya!&#8221;</p>
<p>“Bukan begitu. Kebetulan beberapa hari terakhir ini saya kebagian tugas malam terus. Penggantinya juga tidak ada. Nanti juga dapat tugas siang lagi!”</p>
<p>“Ahh…sudah! Sudah! Percuma ngomong denganmu!”</p>
<p>Kalau sudah menyembur kata-kata seperti itu, Ratih tidak bisa berbuat apa lagi. Lebih baik dia diam atau langsung tidur. Penjelasan sudah tidak ada gunanya, itu hanya akan memicu pertengkaran yang lebih parah.</p>
<p>Sopir travel yang menemani Ratih ke bandara telah tidur nyenyak di dalam mobilnya. Sedangkan Ratih sambil tidur-tidur ayam masih harus sabar menunggu wisatawan yang belum juga tiba. Bekerja menjadi guide memang berat dan harus mampu beradaptasi dengan jadwal kerja yang tidak teratur. Apalagi Ratih seorang perempuan Bali, yang selain bertanggung jawab dengan hampir semua pekerjaan rumah tangga, juga terkadang disibukkan oleh berbagai kegiatan agama dan adat.</p>
<p>Kalau ada upacara kematian atau perkawinan atau kegiatan adat dan agama lainnya, Ratih harus mampu menyiasati waktunya untuk hadir dan terlibat dalam upacara itu. Ketidakhadirannya akan membuka peluang menjadi bahan gunjingan para tetangga. Biasanya kalau upacara agama atau adat bersamaan dengan tugasnya sebagai guide, maka dengan terpaksa Ratih memohon ijin dari kantornya untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Namun Ratih seringkali merasa malu kalau terlalu sering minta ijin. Mengatasi hal itu, kadang-kadang Ratih tukaran jadwal dengan kawan sekantornya, itu pun kalau ada kawan yang bersedia.</p>
<p>Desir angin di bandara begitu dingin. Mata Ratih bertambah berat menahan kantuk. Suaminya tentu sedang mendengkur dalam selimut hangat. Namun yang seringkali menjadi beban pikiran Ratih bila tugas malam adalah anak perempuannya yang baru berumur 3 tahun. Ratih seringkali merasa bersalah meninggalkan anaknya di rumah. Anak itu masih terlalu kecil untuk ditinggal sampai larut malam.</p>
<p>Suatu kali ketika Ratih pulang malam, anaknya terbangun dari tidurnya. &#8220;Mama ke mana aja, kok pulangnya malam terus?”</p>
<p>Pertanyaan polos anak itu seperti gugatan yang menekan jiwa Ratih. Sekejap saja pelupuk matanya telah basah tak kuasa menahan haru.</p>
<p>&#8220;Mama kerja, sayang. Cari duit buat beliin sayang boneka-boneka lucu. Kalau Mama tidak kerja, Mama gak bisa beliin sayang boneka.&#8221; Sambil mengucapkan kata-kata hiburan itu, biasanya Ratih membelai kepala anaknya hingga tertidur kembali.</p>
<p>Bandara Ngurah Rai terjaga 24 jam. Selalu saja ada orang yang datang dan pergi. Terkadang Ratih suka bertanya-tanya sendiri, entah dari mana asal mereka dan mau ke mana sesungguhnya mereka? Namun agaknya begitulah kehidupan ini, manusia tidak pernah tahu ke mana sesungguhnya mereka berangkat.</p>
<p>Sejak Bandara Ngurah Rai dibuka untuk penerbangan internasional makin banyak wisatawan mengunjungi pulau mungil ini. Pariwisata telah membawa banyak perubahan pada kehidupan masyarakat Bali. Anak-anak muda Bali memang banyak yang bekerja di sektor pariwisata, namun bisa dihitung dengan jari yang mampu menduduki posisi penting. Kebanyakan harus puas menjadi karyawan biasa. Kemakmuran dan kesejahteraan meningkat seiring kegamangan menghadapi berbagai benturan budaya yang belum tentu selaras dengan budaya setempat.</p>
<p>Dulu sekitar tahun 1980-an, pekerjaan guide biasanya hanya dilakoni oleh kaum lelaki saja. Perempuan merasa risih terjun dalam pekerjaan ini karena berbagai nilai sosial dan budaya Bali yang seringkali menjadi penghalang. Masyarakat saat itu masih memandang miring kepada perempuan yang bekerja sampai larut malam. Ratih menilai hal itu terlalu menyudutkan kaum perempuan.</p>
<p>Bahkan ketika Ratih melamar menjadi guide, suaminya dengan keras menentang. Setelah melalui berbagai penjelasan, akhirnya suaminya mengijinkannya bekerja menjadi guide, meski dengan berat hati. Terbukti suaminya menjadi lebih sering curiga bila Ratih pulang larut malam.</p>
<p>Namun Ratih berusaha realitis memandang kehidupan. Kalau hanya mengandalkan gaji suami yang tidak seberapa, tentu keuangan keluarga akan morat-marit. Apalagi harga-harga sembako semakin menjerat leher. Dengan pertimbangan itulah Ratih memutuskan bekerja untuk ikut menopang perekonomian keluarga.</p>
<p>Seringkali Ratih menerima perlakuan ganda dari suaminya. Di satu sisi suaminya merasa enggan kalau Ratih pindah pekerjaan karena penghasilannya terbukti mampu mendukung perekonomian keluarga. Tetapi di sisi lain Ratih tidak jarang mendapat teguran dan kata-kata kasar dari suaminya karena pulang larut malam. Ratih menjadi serba salah. Namun dia hanya bisa memendam sakit hatinya lebih dalam lagi.</p>
<p>Taksi-taksi mulai berseliweran mencari muatan. Ada sejumlah guide yang juga sedang melakukan tugas yang sama. Menurut rencana yang telah disusun kantornya, wisatawan yang dijemputnya akan diantar ke hotel yang telah dipesan untuk mereka. Setelah itu dengan mobil travel kantor, mereka mengadakan perjalanan ke beberapa objek wisata sesuai jadwal.</p>
<p>Risiko sebagai guide perempuan seringkali harus dihadapi Ratih dengan kepala dingin dan ketabahan. Selain perlakuan suami yang tidak mengenakkan hatinya, kadang-kadang Ratih juga menerima perlakuan kurang sopan dari beberapa wisatawan yang dipandunya. Ada saja yang iseng ingin mengajaknya kencan. Bahkan ada juga yang sampai berani mencoba menyentuh tubuhnya. Menghadapi wisatawan yang tidak sopan seperti itu, Ratih selalu menahan diri agar tidak marah karena khawatir menyinggung perasaan tamunya.</p>
<p>Dalam menjalankan tugas malam, beberapa teman sekantor juga pernah berbuat atau berkata-kata bernada pelecehan seksual, seperti mengajak selingkuh, dan sebagainya. Ratih seringkali merasa risih dan jijik dengan sikap mereka itu. Bukannya Ratih berlagak alim atau munafik, tetapi dia menyadari siapa dirinya, dia berusaha setia dengan suami dan keluarganya.</p>
<p>Suatu kali Ratih pernah digosipkan selingkuh dengan sopir kantornya karena sering menjemput dan mengantar wisatawan bersama. Ratih tidak tahu entah dari mana datangnya gosip itu. Mungkin dari teman kantor yang iri dengan karirrnya yang terus menanjak. Gosip itu sampai ke telinga suaminya. Suaminya yang pencemburu dengan mudah termakan gosip itu. Dan suaminya tambah percaya setelah berhasil mengintip Ratih diantar pulang oleh sopir kantor tersebut.</p>
<p>“Siapa lelaki itu!?” selidik suaminya.</p>
<p>“Pak Made, sopir kantor,” jawab Ratih tanpa beban, apalagi gugup. Ratih merasa tidak berbuat suatu kesalahan apa pun.</p>
<p>“Kau pasti selingkuh sama lelaki itu!?” tuduh suaminya.</p>
<p>Ratih terperanjat. Meski Ratih sadar suaminya mengidap penyakit cemburu yang parah, namun dia tidak menyangka suaminya bisa melontarkan tuduhan sekeji itu. Meski berusaha terus mengalah, namun kali ini Ratih benar-benar tidak kuasa menahan emosinya. Harga dirinya sebagai perempuan merasa diinjak-injak, justru oleh orang yang sangat dicintainya.</p>
<p>“Jangan seenaknya menuduhku seperti itu! Beberapa kali aku minta kau menjemputku, tapi kau tidak mau. Tapi ketika aku diantar sopir kantor pulang, kau marah-marah. Maumu apa, heh!? Mentang-mentang kau suamiku, jangan semena-mena begitu!” Ratih benar-benar tidak mampu lagi menahan sakit hatinya.</p>
<p>“Diam! Banyak omong lagi!” bentak suaminya.</p>
<p>Wajah suaminya memerah mendengar kata-kata yang menyembur dari mulut Ratih. Dia tidak menyangka Ratih berani melawan dirinya. Tangan suaminya gemetar menahan amarah, dan sebuah tamparan mendarat pada pipi Ratih. Ratih terjerembab di ranjang. Anaknya sudah sejak dari tadi menangis ketakutan menyaksikan pertengkaran orang tuanya. Tertekan dengan keadaan itu, suaminya membanting pintu dan pergi meninggalkan Ratih yang menangis terisak-isak.</p>
<p>Karena stress dengan berbagai tekanan yang dialaminya, Ratih sempat memutuskan berhenti bekerja. Tetapi suaminya malah menolak dan memohon agar Ratih tetap bekerja sebagai guide. Suaminya sempat menawari diri mengantar atau menjemput Ratih di kantor. Namun hanya berlangsung beberapa hari saja. Suaminya capek sendiri karena pagi-pagi harus berangkat kerja.</p>
<p>Perlahan suaminya mulai mengerti akan posisi Ratih sebagai guide. Gosip-gosip mengenai dirinya pun perlahan menghilang. Namun karena suaminya sering cemburu tanpa alasan jelas, tetap saja pertengkaran-pertengkaran kecil tidak bisa dihindari, seperti menjadi duri yang menyakitkan dalam kehidupan rumah tangga mereka.</p>
<p>Hampir jam setengah tiga dini hari. Orang-orang makin ramai keluar masuk bandara dengan berbagai kepentingan. Udara terasa basah. Ratih merindukan anaknya. Mungkin dia telah terbuai dalam mimpi-mimpi kecilnya. Atau mungkin terbangun dan tidak mendapati ibunya di sisinya.</p>
<p>Bandara Ngurah Rai menggigil dalam cuaca dini hari. Waktu terasa lambat. Sudah dua jam lebih Ratih menunggu. Wisatawan yang ditunggunya belum juga tiba. Apa mungkin terjadi keterlambatan pemberangkatan? Atau ada suatu masalah dengan pesawat mereka? Ratih berusaha menepis pikiran-pikiran buruknya. Selain Ratih, sejumlah orang yang juga menunggu kedatangan pesawat itu, sejak tadi telah merasakan kecemasan yang sama.</p>
<p>Akhirnya, Ratih memutuskan untuk pulang. Dia merasa sangat letih. Sekali lagi dia bertanya kepada petugas bandara mengenai kedatangan pesawat yang ditunggunya. Namun, jawaban yang didapat sungguh mengejutkannya. “Sejak dua jam lalu, kami kehilangan kontak dengan pesawat itu.…” ujar petugas bandara, berusaha tenang.</p>
<p>Denpasar, 2003<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/02/01/ratih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
