Cerpen: Wayan Sunarta
Pada sebuah pelataran candi tua di tepian sungai yang juga tua, aku menyaksikan patung tua berlumut. Patung setinggi tubuhku itu mencitrakan sosok dewi (atau bidadari?). Meski berlumut dan nyaris lapuk, wajah patung itu begitu anggun dengan mahkotanya yang terukir indah. Kedua tangannya di dada mencakup kendi yang terus mengucurkan air bening, mengairi sebuah [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Laut itu masih selalu kelabu, sejak berabad-abad lalu. Warna langit yang biru dan sedikit kelam terpantul di lautan kelabu. Pasir yang menghampar hitam seperti tersepuh warna muram. Angin menyisir pohon-pohon nyiur. Jiwaku berdesir…
Entah apa yang memedihkan hatiku ketika menatap lautan kelabu itu? Selalu saja kakiku ingin melangkah ke situ, duduk di sebuah warung [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Pantai Kuta. Malam Minggu. Hampir jam delapan. Beberapa pasangan kekasih asyik bercumbu. Pasir masih menyisakan hangat matahari senja.
“Dika, tolong antar aku ke Legian, ya.”
Dengan perasaan berdebar lelaki gondrong itu menatap mata biru Birgit yang bagai lautan musim panas. Dalam mata itu, terbayang kamar hotel yang sederhana, namun hangat. Birgit mengambil bir dari kulkas. [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Meski belum begitu yakin, Darta merasa sangat bahagia mendengar kabar dari istrinya, Rastiti. Akhirnya setelah lima tahun menunggu dalam kesabaran dan ketidakpastian, benih yang ditebarkannya ke dalam rahim Rastiti agaknya telah menunjukkan tanda-tanda tumbuh. Menurut surat keterangan dokter yang ditunjukkan di hadapannya, Rastiti positif hamil. Itu artinya Darta akan segera memiliki seorang bayi [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Sudah berabad-abad aku menghuni danau. Di dasar danau aku bermain-main, berenang-renang dari tepian ke tepian bersama ikan-ikan dan ular-ular air. Sesekali aku bercengkerama dengan kerang dan ganggang. Aku menjadi raja dan memimpin segala jenis hewan air di danau yang damai ini. Danau ini telah menjadi kerajaan abadiku.
Aku tidak bisa lagi mengembara dari hutan [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Hanya gerimis. Ya, hanya gerimis masih turun renyai. Bulan tidak muncul. Bintang-bintang juga tidak. Seakan-akan para penghuni langit itu sepakat untuk menciptakan suasana malam yang muram.
Di pinggir jalan sepi di sebuah desa yang dikelilingi hutan jati, sebuah warung berdiri bersahaja. Hanya sebuah warung kopi. Ya, sebuah warung kopi di tengah gerimis. Penjaga warung [...]
Cerpen : Wayan Sunarta
Langit senja dihiasi kabut tipis putih keabuan dan rapuh. Udara dingin menyusup ke dalam pori-pori tubuh. Kami bertiga saja, tiba di Lembah Batur tepat sebelum senja berangkat petang. Rencana pendakian besok pagi telah kami susun sedemikian rupa. Gunung Batur memang terlihat gampang didaki. Tapi tetap saja kami perlu mempersiapkan segala sesuatunya. Kami [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Lagu dangdut mengalun lirih. Lampu di ruang itu menyala temaram. Aku duduk di sudut remang. Sebotol bir hitam di meja dan rokok kretek kukepit di jari tangan. Malam minggu kulalui bersama uap alkohol dan rayuan-rayuan manja perempuan penjaja cinta. Mungkin dengan cara ini aku bisa mengobati luka batin dan kesepian-kesepianku. Sudah hampir lima [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Debu-debu dari kibasan sayap ayam yang beradu menerpa wajah-wajah tegang para bebotoh. Wajah-wajah itu penuh dialiri keringat masam bercampur debu. Arena tajen minggu itu begitu ramai dan sumpek, penuh riuh-rendah para bebotoh yang sedang bertaruh.
“Mana Tangeb?” seorang lelaki kekar dengan tatto di kedua lengannya berteriak lantang ke tengah arena. “Hari ini aku harus [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Muli sikep yang mengayuh perahu itu kembali muncul dari balik gumpalan kabut. Dia mengayuh perahu sangat tenang, penuh irama, penuh rasa,
seakan menghayati gerak kabut yang perlahan tersibak oleh alunan laju perahu.
Dia terus mengayuh perahu menyibak permukaan danau. Air danau berkecipak bercumbu dengan dayung. Kabut masih setia membuntutinya. Bentangan
gemunung penuh sapuan [...]