Cerpen: Wayan Sunarta
Ia, lelaki yang sejak pertemuan pertama telah menggetarkan hatiku karena rayuan-rayuannya yang romantis, entah mengapa menjelma sosok mengerikan melebihi monster yang pernah kami tonton saat pacaran dulu.
Ia memanggilku Oni. Panggilan mesra, kata ia. Aku baru mengenalnya lima bulan ketika memutuskan menerima lamarannya. Saat itu usiaku dua puluh dua. Tergolong masih bau kencur bagi [...]
Cerpen : Wayan Sunarta
Udara gemetar dingin. Aroma tanah basah. Daun-daun tua yang digugurkan angin memenuhi jalan. Gerimis masih terasa derainya. Lampu-lampu merkuri sepanjang jalan bersinar muram. Sebagian besar penghuni kota telah nyenyak di bawah selimut tebal.
Satu dua motor berlalu menyalip motor yang ditunggangi Dampar. Hanya motor tua, seringkali mogok bila terguyur hujan. Lajunya juga tidak [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Bekas jejak pada pasir basah itu masih tampak jelas. Jejak-jejak kaki orang dewasa itu seperti mengarah pada suatu tempat. Yang jelas bukan menuju laut, tapi ke arah rerimbunan semak belukar.
Laut menghempaskan gulungan-gulungan gelombang ke tepian pantai. Sesekali mendamparkan beberapa cangkang kerang yang kosong, sebab penghuninya telah mati atau mungkin berpindah tempat. Kekasihku memunguti [...]
Cerpen : Wayan Sunarta
Pagi belum sempurna. Aku masih betah membungkus tubuh dalam selimut. Hangat tubuhmu menjalari tubuhku. Kau menggeliat, aku mempererat dekapan. Kau melenguh. Pagi akan segera merekah, mekar seperti bunga.
Tapi ini Jakarta, bisikmu, tidak ada pagi yang mekar seperti bunga. Pagi selalu layu diinjak orang-orang yang bergegas berangkat kerja, seakan ngeri ditinggalkan waktu. Ya, [...]
Cerpen : Wayan Sunarta
Hampir semua penduduk di kota kecil itu, terutama kusir dokar dan penjaja batu akik, mengenal lelaki tua yang suka menenteng tas kresek itu. Di kalangan kusir dokar, lelaki tua yang tubuhnya masih sehat dan tegap itu, biasa dipanggil Randu. Sedangkan di kalangan penjaja batu akik, lelaki yang topinya hampir tidak pernah lepas [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Sejak kedatangan orang-orang berbadan tegap itu ke desanya, wajah keriput Mangku Teguh sering terlihat murung. Sakit rematiknya juga sering kambuh. Bahkan rambutnya yang separuh uban banyak yang rontok. Sementara itu, wajah-wajah warga desa tampak sumringah.
Orang-orang berbadan tegap itu sejak tiga bulan lalu telah melakukan survei dan pendekatan dengan tetua adat dan masyarakat desa. [...]
Cerpen : Wayan Sunarta
Hampir dua jam aku menunggu di terminal ini. Namun, bus yang penuh gelisah kutunggu itu, belum juga tampak memasuki terminal. Lewat SMS yang kuterima sebelum baterai ponselku mati, istriku memang sempat mengabarkan bahwa sekitar pukul tujuh malam bus yang ditumpanginya sudah akan tiba di terminal. Aku masih berusaha bersabar, meski pikiran-pikiran ngawur [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Jimi seekor anjing lucu, peliharaan keluargaku. Ia termasuk jenis anjing pendek berbulu lebat dengan tampang sangat menggemaskan. Setahun lalu, Ibu membelinya dari penjaja anjing yang sering lewat di depan rumah. Persis seperti memperlakukan anak kecil, Jimi dirawat sangat telaten oleh Ibu dan adik bungsuku. Anjing lucu itu biasa diberi makan teratur dalam sebuah [...]
Cerpen: Wayan Sunarta
Bocah itu sangat suka menyaksikan purnama bertengger di pucuk-pucuk meru pura. Cahaya purnama telah memesona dan menyihir mata kanak-kanaknya. Sementara warga desa lainnya sibuk sembahyang, ia bersama kawan-kawan sebayanya bermain petak umpet di areal pelaba pura dekat pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Ia paling senang menyembunyikan diri di balik pohon beringin satu-satunya [...]
cerpen Wayan Sunarta
Berdebar-debar aku menantikan hari yang membahagiakan itu. Hari yang akan menyelamatkan martabat keluargaku dari cemooh dan sindiran orang-orang sedesa. Cemooh dan sindiran yang seringkali menyakitkan hati orang tuaku, meski belakangan mereka tidak menghiraukannya lagi. Atau lebih tepatnya menyimpannya diam-diam dalam lubuk hati paling dalam sebagai suatu nasib yang mesti dijalani.
Karena aku perempuan, [...]