<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com &#187; Esai dan Artikel</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/category/esai-dan-artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gerhana di Pekarangan Tubuhku</title>
		<link>http://jengki.com/2010/06/08/gerhana-di-pekarangan-tubuhku/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/06/08/gerhana-di-pekarangan-tubuhku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 02:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Undangan Terbuka
 
 
Malam Purnama, Gerhana Bulan, Gerhana Puisi, Gerhana di “Pekarangan Tubuhku”
 
 
“gerhana itu tiba di bulan juni, meniupkan wangi puisi…”
PEKARANGAN TUBUHKU (Penerbit Bejana, Juni 2010) karya Wayan ‘Jengki’ Sunarta, akan disemai, ditaburi, ditanami, disirami, dipupuki, dipanen, dan diluncurkan pada hari: Sabtu, 26 Juni 2010; jam 18.35 wita menjelang puncak Gerhana Bulan, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Undangan Terbuka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Malam Purnama, Gerhana Bulan, Gerhana Puisi, Gerhana di “Pekarangan Tubuhku”</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>“gerhana itu tiba di bulan juni, meniupkan wangi puisi…”</p>
<p><strong><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/06/pekarangan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-467" title="pekarangan" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/06/pekarangan-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a>PEKARANGAN TUBUHKU</strong> (Penerbit Bejana, Juni 2010) karya Wayan ‘Jengki’ Sunarta, akan disemai, ditaburi, ditanami, disirami, dipupuki, dipanen, dan diluncurkan pada hari: <strong>Sabtu, 26 Juni 2010; jam 18.35 wita</strong> menjelang puncak Gerhana Bulan, di Toko Buku Diskon TOGAMAS Denpasar, Jl. Hayam Wuruk No. 175, Tanjungbungkak, Desa Sumerta, Denpasar Timur, telp/fax 0361 262375. Acara peluncuran dan bedah buku puisi ini terbuka untuk umum (gratis).</p>
<p>Acara akan dibuka oleh Bapak I Gusti Ngurah Gede Pemecutan (pelukis, penulis puisi, pemilik Museum Lukisan Sidik Jari). Kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi “Puisi – Rupa” oleh Wayan Sunarta dan pelukis Ketut ‘Kabul’ Suasana dan Gede Gunada. Acara akan semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Made Adnyana Ole, Muda Wijaya, Kadek Surya Kencana, Putu Vivi Lestari, Pranita Dewi, Ni Made Purnamasari, Ni Made Frischa Aswarini, Ayu Winastri, Mira Novianti Astra, Ni Putu Rastiti, Ni Ketut Sudiani, Joan Valentina, dan spontanitas dari para hadirin. Dalam sesion spontanitas, terbuka kesempatan bagi yang ingin sukarela mengisi acara dengan: baca puisi, musikalisasi puisi, teaterisasi puisi, repertoar, atau kreasi menarik lainnya.</p>
<p>Setelah itu, akan digelar obrolan ringan-santai perihal “Proses Kreatif, Jalan Kepenyairan, Proses dan Problem Penerbitan Buku Puisi”, yang dimoderatori oleh Moch Satrio Welang. Dalam sesion ini, kawan-kawan apresian dan hadirin bisa berdiskusi dan berbagi pengalaman perihal puisi dan kepenyairan, impian dan pengalaman menerbitkan buku puisi, dan hal-hal yang berkaitan dengan puisi serta proses kreatifnya. “Pekarangan Tubuhku” juga membuka peluang bagi yang ingin mengapresiasi, mengritisi, mengritik, mencaci-maki, memuji, menguji, mempertanyakan, dan sebagainya.</p>
<p>Di “Pekarangan Tubuhku” juga dirayakan ulang tahun ke-35 Wayan Sunarta. Ulang-alik kontemplasi kelipatan lima, ziarah resah batin; buana alit &#8211; buana agung, sembari menghitung helai-helai uban di rambut dan helai-helai puisi di laci meja. Bagi yang merasa lahir di bulan Juni, yang merasa di bawah naungan rasi <em>Mithuna</em> dan <em>Kataka</em>, Gemini dan Cancer, ayooo…ikut meriahkan Pesta Gerhana Bulan, Pesta Ulang Tahun masing-masing dengan kembang api warna-warni puisi. Para dermawan yang ingin menyumbang kue tart, pisang/kripik goreng, ketela/singkong rebus, kacang rebus, atau birrrr….(*hidup bir) dengan sangat senang hati diterima di Malam Gerhana Bulan, disertai doa semoga bahagia seumur hidup dan berlimpah rejeki.</p>
<p><strong>Wayan Sunarta</strong> alias Jengki lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat mencicipi kuliah seni rupa di ISI Denpasar. Mulai menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah <em>Cakra Punarbhawa</em> (Gramedia, 2005) dan <em>Purnama di Atas Pura </em>(Grasindo, 2005). <strong>PEKARANGAN TUBUHKU</strong> (Bejana Bandung, Juni 2010) adalah buku kumpulan puisi (anak rohani) keempat Wayan Sunarta, setelah “Pada Lingkar Putingmu” (bukupop, Jakarta, 2005), “Impian Usai” (Kubu Sastra, Denpasar, 2007), “Malam Cinta” (bukupop, Jakarta, 2007).  Kini, ia bergiat di Yayasan Metropoli Indonesia sebagai koordinator program seni budaya untuk anak-anak desa di Karangasem, Bali. Selain itu, juga menjadi koresponden Majalah Seni ARTI untuk wilayah Bali. Email: <a href="mailto:myjengki@yahoo.com">myjengki@yahoo.com</a>. Web: www.jengki.com.</p>
<p>“Pekarangan Tubuhku” merangkum sekitar 68 puisi baru (2007 &#8211; 2010) dengan beragam tema dan gaya ungkap. Buku ini bisa didapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda. Ada diskon khusus untuk buku “Pekarangan Tubuhku” pada saat acara peluncuran ini.</p>
<p>“Sangatlah bijak dan bajik orang yang sudi membeli buku puisi, karena ikut membantu keberlangsungan penerbitan buku puisi…”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/06/08/gerhana-di-pekarangan-tubuhku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Mati bila Bali &#8220;Koh Ngomong&#8221;</title>
		<link>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 06:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta*


Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.
Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>oleh: Wayan Sunarta*</strong></p>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p>Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.</p>
<p>Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang sederhana ini sekarang hampir hilang dari pendengaran kanak-kanak Bali, digantikan lagu-lagu anak-anak modern.</p>
<p>Kini, di Bali, antara mitos dan realitas telah menjadi suatu yang paradoks, berlawanan, bahkan saling menghancurkan. Nilai-nilai lama digantikan oleh nilai-nilai baru. Kondisi ini sangat potensial memunculkan chaos dalam ruang batin orang-orang Bali: kebingungan menentukan sikap, antara rendah hati menerima kritik atau memunculkan ego kekuasaan untuk menyerang balik si pengkritik.</p>
<p>Bagi sebagian orang Bali, kritik sering kali dianggap sebagai serangan langsung terhadap personal atau sebuah kekuasaan yang mapan. Misalnya, dalam rapat-rapat di balai banjar atau balai desa—sebuah lembaga yang seharusnya bijaksana mengakomodasi kritik—ternyata hampir tidak pernah terjadi perbedaan pendapat atau kritik yang mencolok.</p>
<p>Semua pendapat atau kritik terakumulasi menjadi satu kata ”setuju” ketika tokoh-tokoh penting yang berkuasa dan berpengaruh dalam rapat meneriakkan ”setuju?!”. Apakah ini wujud ketakutan orang Bali terhadap kekuasaan kolektif sebuah komunitas, atau pengejewantahan budaya koh ngomong (malas bicara) yang sering membelenggu pikiran orang Bali?</p>
<p><strong>”Kramak-krimik” Bali</strong></p>
<p>Di Bali, berani berbeda pendapat, apalagi meluncurkan kritik terhadap kekuasaan komunitas, berarti siap menerima pengucilan atau perlakuan tidak adil dari kekuasaan yang dikritik. Kekecewaan dan ketidaksetujuan terhadap keputusan rapat biasanya muncul dalam kasak-kusuk, keluhan-keluhan kecil di warung kopi atau warung tuak. Orang Bali sangat ngeri untuk berbeda pendapat atau melancarkan kritik dalam komunitas yang sangat menjunjung tinggi kolektivitas (walaupun terkadang bersifat semu). Dari sinilah tradisi kritik tidak muncul secara meyakinkan di Bali. Kalaupun ada, kritik akan menjalar dalam bentuk kramak-krimik atau gosip di warung-warung atau di tempat-tempat berkumpul lainnya.</p>
<p>Secara umum orang Bali tumbuh dan besar dalam tradisi yang begitu menakuti kritik. Sebisa mungkin jangan sampai ada kritik demi keharmonisan dan kestabilan komunitas. Dalam tradisi kolot itu, kritik yang muncul harus diberangus, dan pencetus kritik harus di-puikang (dimusuhi). Maka, berkembanglah tradisi basa-basi, asal bapak senang, mulut manis, dan berbagai bentuk budaya hipokrit lainnya.</p>
<p>Memang, Bali selalu penuh dengan paradoks. Seperti, misalnya, budaya koh ngomong yang berkembang di Bali. Budaya ”tutup mulut” ini sering kali menjadi perlawanan orang-orang Bali terhadap kekuasaan yang mapan. Koh ngomong yang sebenarnya diturunkan dari ajaran sekar alit di atas merupakan sikap ”jangan mengira diri pintar”.</p>
<p>Koh ngomong sering kali dipraktikkan dalam rapat banjar atau rapat desa. Penganut budaya ini sadar bahwa apa pun pendapatnya apabila tidak sesuai dengan pendapat kekuasaan jelas akan diberangus, dan tentu saja akan bisa berakibat fatal bagi si penyampai pendapat yang berlawanan dengan arus besar.</p>
<p>Di sisi lain, koh ngomong juga menjadi salah satu bentuk perlawanan diam orang Bali terhadap kritik yang menyerang dirinya. Namun, justru inilah kekuatan yang bisa berbahaya bagi si pengkritik karena bukan tidak mungkin orang yang melakukan gerakan koh ngomong diam-diam akan bereaksi tanpa menghiraukan kritik, atau menyerang (kalau muncul pikiran jahat) si pengkritik dengan kekuatan lain, misalnya dengan teror ilmu hitam dan lain sebagainya.</p>
<p>Untuk menghindari chaos lebih parah, perlu memupuk sikap rendah hati menerima kritik. Tentu saja harus ada keberanian dan kejujuran menyampaikan kritik secara terbuka.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Penulis adalah Penyair, Menetap di Bali</em></p>
<p>(Dimuat di rubrik Teroka, Kompas, Sabtu, 21 November 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pertemuan dengan puisi</title>
		<link>http://jengki.com/2007/12/11/pertemuan-dengan-puisi/</link>
		<comments>http://jengki.com/2007/12/11/pertemuan-dengan-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 01:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2007/12/11/pertemuan-dengan-puisi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta<br />
 <br />
Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.</p>
<p>Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang.</p>
<p>Suatu kali, ketika asyik membongkar-bongkar rak buku di perpustakaan, saya menemukan Hari-hari Akhir Si Penyair karya Nasjah Djamin, yang menceritakan kehidupan penyair legendaris Chairil Anwar. Karena tertarik pada judulnya, saya lahap habis buku tipis itu dalam sehari. Akhirnya, saya kemudian terpesona pada puisi-puisi Chairil Anwar, pada sikap berkeseniannya, pada proses kreatifnya, pada gaya bohemian, eksentriksitas, serta jalan hidupnya yang dramatis. Dan “candu” puisi pun mulai bekerja pada jiwa remaja saya.</p>
<p>Sejak saat itu saya mulai suka mengkhayalkan diri sebagai penyair. Lantas saya mencoba merangkai dan menulis kata-kata indah yang saya bayangkan sebagai puisi. Hasilnya cukup melegakan diri saya. Buku tulis, sampul buku pelajaran, dan meja kelas menjadi korban pertama. Saat sekolah sepi, kadang-kadang saya suka menempel puisi-puisi itu di koran dinding. Keesokan harinya, kawan-kawan saya gempar dan meledek saya habis-habisan karena puisi-puisi itu mereka anggap terlalu gombal. Namun, saya tidak terlalu peduli, yang penting puisi telah mampu mewakili perasaan saya.</p>
<p>Memang, seseorang sering kali menjadi penulis karena memiliki kegemaran membaca. Sebelum mengenal perpustakaan sekolah, bacaan pertama saya kebanyakan adalah komik yang saya pinjam dari kakak sepupu. Saya menyukai cerita komik silat Tiongkok, silat Nusantara, Wiro Sableng, sampai kisah Ramayana dan Mahabharata dengan gambar-gambar indah karya R.A. Kosasih. Saya sering larut dalam kisah dan imajinasi yang dibangun serial komik itu; bisa jadi saya menyukai momen-momen puitis dan romantisnya.</p>
<p>Memasuki dunia “putih-abu” di SMAN 3 Denpasar, tahun 1992, saya semakin tergila-gila menggauli puisi, sambil menjalani kegemaran mendaki gunung, menyusuri hutan, menyisir pantai, dan bersepeda ke beberapa pelosok desa di Bali. Di sekolah, kebetulan saya terlibat dalam kelompok pecinta alam. Namun, sampai saat itu, saya belum menemukan pergaulan kreatif di bidang sastra. Saya asyik seorang diri dengan dunia baru yang menggoda saya: puisi.</p>
<p>Setiap kali mendaki gunung, kemah, atau menyusuri hutan dan pantai, saya suka membawa notes atau buku diari yang siap sedia menampung untaian kata-kata yang mengisahkan keindahan alam, rahasia kabut, misteri laut, ketakjuban pada embun, kengerian akan kelam malam, pukau maut, pesona Tuhan, kerinduan, kecemasan, sampai pada rasa putus asa sebab cinta yang tak terbalas. Hal-hal inilah yang kemudian seringkali membekas dan mengerak pada puisi-puisi saya kelak.</p>
<p>Seperti benih, bakat alam akan tumbuh subur bila menemukan wadah yang tepat. Begitulah, akhirnya di tahun 1993 saya menemukan pergaulan sastra yang telah lama saya impikan. Percintaan dengan puisi pun semakin menggelora, seiring keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), sepanjang 1993-1995. Boleh dikatakan, di sinilah bakat, proses kepenyairan, pemahaman dan pengalaman saya dimatangkan, melalui diskusi-diskusi, kritik, pujian, pertemuan kreatif, apresiasi, motivasi, publikasi, dan sebagainya. Pada masa inilah saya belajar menulis puisi yang benar-benar puisi, yang tidak sekadar mengandalkan bakat alam saja.</p>
<p>Kegemaran nongkrong di perpustakaan terus berlanjut, seirama rasa dahaga akan bacaan bermutu. Selain buku sastra, saya juga tertarik membaca buku-buku filsafat, religi, antropologi, mitologi, dan kisah-kisah kemanusiaan. Saat itu, minat saya pada puisi seakan mengalahkan segalanya, pun pelajaran di sekolah nyaris berantakan. Saya pinjam dan pelajari sejumlah buku teori dan teknik puisi karya kritikus dan penyair ternama. Saya berkenalan dan studi-banding dengan puisi-puisi Kirjomulyo, Goenawan Mohamad, Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Frans Nadjira, dan Umbu Landu Paranggi.</p>
<p>Belakangan kemudian, wawasan dan pengetahuan puisi saya diperluas melalui pertemuan dengan para penyair dunia lewat dua jilid buku Puisi Dunia (Balai Pustaka, cet.II, 1967) susunan M. Taslim Ali. Kemudian, saya tertarik dengan puisi-puisi Prancis modern, terutama keliaran puisi Arthur Rimbaud. Untuk beberapa waktu, saya juga sempat menyerap teknik puisi dari karya-karya erotisme penyair Meksiko, Octavio Paz.</p>
<p>Perkenalan saya dengan puisi-puisi para penyair itu juga berkat diskusi dan pergaulan di SMK. Namun sayang, karena suatu persoalan internal yang tidak mampu diselesaikan, SMK membubarkan diri pada Agustus 1995, tepat di usianya yang ke sepuluh. Saya dan sejumlah kawan muda merasa kehilangan wadah yang sangat bermakna bagi proses kreatif kami. Meski SMK telah bubar, namun sampai sekarang para alumninya masih suka bernostalgia, saling mengunjungi, reuni, menggelar pertemuan-pertemuan kreatif, dan sebagainya. Bahkan, terkadang kenangan pada SMK menjadi suatu pembicaraan yang romantis dan sentimentil.</p>
<p>Yang jelas, pengalaman dan pergaulan di SMK terus membekas dan menjadi semangat kreatif dalam diri saya untuk membangun pergaulan-pergaulan kreatif lainnya. Misalnya, akhir 1995, saya bersama sejumlah kawan mendirikan Sanggar Purbacaraka di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Pada tahap awal, kami menggunakan tradisi, pola pergaulan, dan kegiatan ala SMK, seperti menggelar lomba cipta dan baca puisi nasional, diskusi sastra, jalan-jalan kreatif mencari hawa puisi, dan sebagainya. Kemudian, pada September 2000, saya bersama beberapa kawan membentuk Komunitas KembangLalang, sebagai wadah kreativitas para pecinta dan pekerja sastra, teater, dan seni rupa di Denpasar.</p>
<p>Saya percaya komunitas dan pergaulan kreatif seringkali menjadi salah satu fondasi dan wadah untuk mengukuhkan serta menumbuhkan bakat, minat, obsesi, impian, dan kecenderungan individu dalam suatu proses berkesenian. Justru dari interaksi dan komunikasi yang intens itu pengaruh-mempengaruhi dalam berkarya tidak lagi menjadi suatu yang tabu, melainkan tumbuh alamiah. Pencapaian “karakter” atau “ciri khas” dalam suatu karya, pada dasarnya juga berjalan seiring proses kreatif, kedewasaan, wawasan, pemahaman dan pengalaman berkesenian. Kalau pun ciri khas kemudian diperjuangkan, bagi saya, itu tidak lebih sebagai bagian dari sikap dan proses kreatif masing-masing individu yang sangat beragam.</p>
<p>Pertemuan dengan puisi merupakan suatu karunia yang tak bisa dinilai dengan ukuran-ukuran material. Kalau pun kemudian puisi mendatangkan honor (yang tidak seberapa) atau mengantar penyairnya jalan-jalan ke sejumlah kota—diundang membaca puisi, menjadi pembicara pada seminar sastra, dibukukan, dibicarakan, bahkan dimitoskan orang—bagi saya, itu hanya berkah dari pergaulan yang intens dengan puisi. Namun, puisi sendiri tetap merupakan wilayah sunyi dan sublim yang—meminjam sebaris puisi Frans Nadjira—hanya orang-orang tak waras yang berani menyeberangi batas angan milik penyair. Dan saya beruntung menjadi bagian pergaulan orang yang “tak waras” itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2007/12/11/pertemuan-dengan-puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi, Ular Kundalini dalam Diri</title>
		<link>http://jengki.com/2007/12/03/puisi-ular-kundalini-dalam-diri-2/</link>
		<comments>http://jengki.com/2007/12/03/puisi-ular-kundalini-dalam-diri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 01:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2007/12/03/puisi-ular-kundalini-dalam-diri-2/</guid>
		<description><![CDATA[Puisi dan kehidupan adalah sebuah teks. Keduanya berkelindan dalam kepala setiap pembaca yang melahirkan beragam tafsir, sesuai dengan ketelitian dan kekuatan pembacaan. Tidak ada tafsir tunggal. Setiap pembaca sah menafsirkan teks, puisi atau kehidupan. Dan dengan penafsiran itu pula ia menjalani apa yang diyakininya.
Dari setiap penafsiran itu pula puisi menemui jalan hidupnya sendiri ketika ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puisi dan kehidupan adalah sebuah teks. Keduanya berkelindan dalam kepala setiap pembaca yang melahirkan beragam tafsir, sesuai dengan ketelitian dan kekuatan pembacaan. Tidak ada tafsir tunggal. Setiap pembaca sah menafsirkan teks, puisi atau kehidupan. Dan dengan penafsiran itu pula ia menjalani apa yang diyakininya.</p>
<p>Dari setiap penafsiran itu pula puisi menemui jalan hidupnya sendiri ketika ia diserahkan dengan ikhlas ke khalayak dan sang penyair mati dengan indah atau penuh kecemasan. Sebuah puisi bisa bernasib malang di tangan redaktur sastra karena dianggap tidak layak muat atau menjadi mujur ketika dimuat atau dibukukan dan diapresiasi pembaca dengan penghargaan tinggi. Puisi bisa pula bernasib tragis ketika ia diberangus karena dianggap menghina agama atau kekuasaan. Nasib puisi sama halnya dengan nasib manusia. Jalan hidup puisi adalah ketidakterdugaan.</p>
<p>Puisi harus dibaca sebagai sebuah teks yang di dalamnya mengandung berbagai unsur kehidupan yang berkelindan, yang memeram makna tak terduga, yang bagai lapisan kulit bawang. Bahkan kata atau metafora yang membangun puisi adalah juga teks-teks yang saling berjalinan. Puisi tidak mengharapkan hal-hal yang berlebihan dari pembacanya. Karena segala hal yang berlebihan akan dikembalikan kepada Sang Pencipta. Yang dirindui puisi hanyalah rasa cinta dan kasih yang tulus, yang jauh dari kesewenang-wenangan, pemaksaan kehendak, arogansi atau bentuk-bentuk penghakiman lainnnya. Sebab pada intinya puisi mencintai dirinya sendiri, sekaligus pembacanya.</p>
<p>Puisi memberikan ruang untuk keberagaman, untuk perbedaan yang diharapkan akan membangun penghargaan terhadap kemanusiaan kita. Itulah pula sebabnya mengapa kitab-kitab suci disusun dalam bentuk syair (puisi), bukan prosa? Mengapa pula mantra dibuat dalam bentuk puisi? Karena puisi menghargai perbedaan pembacaan terhadap dirinya. Dengan kata lain, tidak ada tafsir absolut terhadap puisi. Puisi memiliki jiwa yang berbeda dengan prosa. Puisi adalah kejujuran hati, sedangkan prosa adalah penipuan diri. Puisi adalah matahari, sedangkan prosa adalah bulan. Puisi adalah kesetiaan, sedangkan prosa adalah pengingkaran pada diri sendiri.</p>
<p>Ketika penyair menyusun kata-kata menjadi puisi, pada prinsipnya ia sedang menenun dunia dan kehidupan untuk dirinya dan khalayak pembaca. Membaca puisi sebagai teks adalah memasuki rimba raya lambang. Puisi adalah rimba, dan pembaca adalah pemburu atau mungkin petualang yang tersesat.</p>
<p>Pembaca sebagai pemburu tentu sudah menyiapkan senjata, bekal dan segala perkakas untuk berburu. Di dalam rimba puisi, ia berburu makna, atau berburu keindahan yang dirinduinya. Ia bisa pulang bahagia dengan membawa hasil buruan, atau kecewa tidak menemukan apa-apa di dalam rimba puisi. Ada sedikit pemburu yang mau memasuki rimba puisi karena merasa tidak akan menemukan hewan-hewan berharga di sana, atau karena berburu di dalam rimba puisi lebih sulit ketimbang di dalam rimba prosa. Pemburu dalam hal ini adalah kritikus atau orang yang menobatkan dirinya sebagai kritikus sastra. </p>
<p>Pembaca sebagai petualang yang tersesat adalah ketidakterdugaan yang indah. Hanya karena karunia keindahan yang menyebabkan ia tersesat ke dalam rimba puisi. Dengan ragu dan cemas ia menyusuri belantara, berharap menemukan jalan kembali. Ia tidak akrab dengan rimba puisi. Namun di dalam keraguan dan kecemasan ia perlahan mencoba mengikhlaskan dirinya. Ia berusaha mencintai setiap pepohonan, belukar, duri, bunga-bunga, buah segala buah, dan berupaya menghindari sergapan binatang buas. Ia akhirnya menemukan tempat yang aman dan nyaman. Perlahan rimba puisi membuka segala keindahannya untuk si petualang yang tersesat itu. Ada kolam bening di mana ia bisa mengacakan wajah, meraba atau membaca bayangan dan kenangan.. Ada bunga yang perlahan merekah di hadapan mata sehingga ia bisa menyentuhkan jari-jarinya ke sari bunga yang indah itu. Ada duri yang ia biarkan menyusup di telapak kaki sehingga kepedihan tiada terasa nyeri lagi. Si petualang yang tersesat merasa menemukan nirwana di situ. Ia tidak ingin pulang lagi, ia menyatu dalam rimba puisi.</p>
<p>Puisi memberi kita banyak hal untuk belajar tentang kehidupan, keindahan sekaligus kepedihannya. Puisi berutang pada kehidupan, dan kehidupan berutang pula pada puisi. Namun sesungguhnya mereka saling melengkapi satu sama lainnya. Mereka saling mencintai. Tidak ada kekuasaan apa pun di muka bumi yang mampu memisahkan keduanya, tidak raja tidak pula kaisar. Pemberangusan, pencekalan, penindasan atau pembredelan tidak akan melemahkan puisi dan kehidupan. Justru mereka semakin kuat untuk bersenyawa.</p>
<p>Kekuatan dan kemenangan puisi adalah justru karena ia menjadi bara yang bersemayam dalam jiwa setiap manusia. Puisi mampu menghangatkan hati, atau menghanguskan hati. Puisi seperti kundalini, ular mistik yang terlelap dalam cakra dasar manusia. Manusia yang dungu tidak akan mampu membangunkan ular itu dari tidur purbanya, manusia yang peka adalah pawang bagi si ular kundalini.</p>
<p>Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya.***</p>
<p>Wayan Sunarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2007/12/03/puisi-ular-kundalini-dalam-diri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serpih-serpih Kisah Bersama Umbu</title>
		<link>http://jengki.com/2007/11/19/serpih-serpih-kisah-bersama-umbu/</link>
		<comments>http://jengki.com/2007/11/19/serpih-serpih-kisah-bersama-umbu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Nov 2007 09:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2007/11/19/serpih-serpih-kisah-bersama-umbu/</guid>
		<description><![CDATA[ 
(Umbu Landu Paranggi) 
Oleh: Wayan Sunarta
Pertemuan pertama saya dengan Umbu adalah sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan. Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.
Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/01/umbu-2.jpg" title="umbu-2.jpg"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/01/umbu-2.jpg" alt="umbu-2.jpg" /></a><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/01/umbu-2.jpg" title="umbu-2.jpg"></a> </p>
<p align="center">(Umbu Landu Paranggi) </p>
<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p>Pertemuan pertama saya dengan Umbu adalah sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan. Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.</p>
<p>Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah menengah atas, saya diajak oleh seorang kawan menonton pertunjukan teater di sebuah sanggar di Sanur, Denpasar. Kata kawan saya, Umbu pasti datang dalam acara itu. Kata dia lagi, kesempatan bertemu Umbu sangat langka, maka sangat rugi kalau saya tidak datang.</p>
<p>Ya, memang rugi kalau saya tidak ketemu Umbu, sebab pada waktu itu saya memang sedang tergila-gila ingin bertemu mantan “Presiden Malioboro” itu, sejak beberapa penyair senior di Bali “meracuni” otak saya dengan cerita-cerita nyleneh tentang Umbu. Pada waktu itu saya baru belajar menulis puisi dan baru mencicipi pergaulan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), tempat kongkow penyair Denpasar, seperti Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, GM Sukawidana, Putu Fajar Arcana, K. Landras Syailendra dan banyak lagi. Umbu sekali waktu suka mampir ke SMK yang bekas toko klontong itu.</p>
<p>Tapi ketika itu saya belum pernah bersua dengan Umbu di SMK. Maka ketika kawan saya mengabarkan Umbu akan hadir di acara pentas teater itu, saya mempersiapkan diri untuk pertemuan yang bagi saya akan sangat bersejarah dalam karier awal kepenyairan saya. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mengirim puisi (hampir setiap minggu) ke Bali Post yang gawang redaksinya dijaga ketat oleh Umbu. Setelah lebih dari 30 puisi saya menumpuk di meja Umbu, akhirnya dimuat hanya satu biji puisi yang berdampingan dengan karya beberapa penyair belia seangkatan saya. Tentu saya sangat girang dengan pemuatan perdana tersebut. Setelah perjuangan dan penantian yang meletihkan, akhirnya puisi saya diakui juga oleh Umbu. Saya pun merasa telah menjadi seorang penyair karena puisi saya dimuat Umbu, meski masih kelas penyair “Kompetisi.”</p>
<p>Saya datang ke acara pentas teater itu dengan mengayuh sepeda. Kawan saya yang sudah lebih dulu di sana menarik tangan saya dan dengan wajah gembira mengabarkan Umbu benar-benar datang pada acara itu. Tentu saja saya penasaran dan clingak-clinguk mencari-cari orang yang bernama Umbu itu. Dalam bayangan saya, Umbu berperawakan tinggi besar, agak gemuk, wajah sedikit brewok. Tapi perkiraan itu sedikit meleset setelah kawan saya menunjukkan orang yang bernama Umbu. Umbu tidak gemuk, meski tubuhnya memang tinggi besar dan berotot. Wajahnya bersih, tidak ada bulu sedikit pun, hidungnya besar dan mancung, sorot matanya tajam namun menyejukkan, bibirnya lebar tapi jarang menyunggingkan senyum. Umbu nampak berwibawa di bawah naungan topi yang tidak pernah lepas dari kepalanya. Bertahun-tahun kemudian saya tahu kalau topi itu memang sengaja dipakai untuk menutupi rambutnya yang rontok dan mulai botak.</p>
<p>Umbu termasuk lelaki modis. Dia suka mengenakan t-shirt yang dipadu kemeja jeans dengan lengan digulung. Celana yang dipakainya juga kebanyakan jeans, kadang dengan variasi kantong di lutut. Pada kesempatan lain dia suka memakai baju lurik khas Yogya, sorjan. Rambutnya panjang sebahu. Dia suka memakai sendal semi sepatu sebagai alas kaki. Di pergelangan tangan kirinya melingkar gelang akar bahar hitam. Kadangkala lehernya dilingkari syal. Dia punya banyak koleksi topi yang secara bergantian dipakainya, mungkin juga disesuaikan dengan warna baju yang dikenakannya. Namun yang agak ganjil, kalau bepergian dia suka jalan kaki sambil menenteng tas kresek yang entah berisi apa. Kata seorang kawan, tas kresek itu mungkin berisi puisi-puisi yang akan dieksekusi sambil minum kopi di suatu warung di sudut pedesaan Bali.</p>
<p>Dada saya berdebar ketika Umbu lewat di depan saya. Kawan saya menyuruh saya segera menghampirinya dan memperkenalkan diri. Tapi jangankan memperkenalkan diri, menyapa dia saja saya kehabisan kata-kata. Pesonanya begitu kuat bagi jiwa remaja saya yang terlanjur mengaguminya gara-gara mitos yang ditanamkan ke benak saya. Dari kejauhan saya melihat dia asyik menerima salam dari para seniman senior yang hadir di sana. Umbu nampak takzim dan sesekali senyum tipis mendengar ocehan seniman-seniman yang banyak lagak itu. Pada mulanya saya hanya memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Tapi kesempatan tidak datang dua kali, pikir saya. Maka dengan menghimpun segenap keberanian, saya mendatangi Umbu yang lagi asyik ngobrol sambil berdiri dengan seorang seniman yang tidak saya kenal. Saya menjulurkan tangan agak ragu sambil memperkenalkan nama saya. Tak lupa saya tambahkan bahwa puisi saya pernah dimuat di rubriknya, tentu dengan harapan dia mengingat saya. Tapi Umbu hanya menjabat tangan saya sekilas dan ngloyor pergi bersama temannya, meninggalkan saya yang terbengong-bengong sendiri. Saya pikir dia akan mengajak saya berbincang-bincang agak lama perihal proses kreatif saya, menanyakan sejak kapan menulis puisi, apa ada puisi baru, dan berbagai pertanyaan basa-basi lainnya, sebagaimana umumnya perkenalan pertama. Sejak itu pupuslah impian saya untuk ngobrol panjang lebar dengannya, dan kekaguman saya pada Umbu tiba-tiba saja menguap entah ke mana. Kesan pertama saya benar-benar berantakan tentang Umbu. Pada waktu itu hanya ada tiga kata dalam benak saya ketika orang bertanya tentang Umbu: “Umbu? Manusia angkuh!”</p>
<p>Belakangan kemudian saya tahu, Umbu bukanlah tipe orang yang suka basa-basi dan memang terkesan dingin bila berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi sebenarnya Umbu termasuk tipe lelaki pemalu. Kalau berbicara dengan Umbu, jangan harap dia mau menatap mata kita, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya. Biasanya kalau diajak bicara, dia akan mengalihkan pandangan dari wajah lawan bicaranya.</p>
<p>Namun di balik semua kesan dinginnya, Umbu seorang pemerhati yang sangat hangat. Dia tidak jarang mengunjungi seorang calon penyair yang dianggapnya berbakat. Kadangkala dia datang membawa sejumlah buku puisi sebagai kado ulang tahun calon penyair itu. Pada kesempatan lain dia datang hanya untuk mengajak calon-calon penyair main kartu dan makan pisang rebus. Umbu memiliki cara tersendiri, seringkali tidak terduga, untuk memotivasi calon-calon penyair yang dianggapnya berbakat besar.</p>
<p>Mengenai hal itu saya pernah punya pengalaman diberi hadiah nasi bungkus oleh Umbu yang diistilahkannya sebagai nasi bungkus “Republika.” Pada waktu itu, tahun 1994, puisi saya untuk pertama kalinya dimuat koran nasional, Republika, bersama beberapa penyair senior Bali. Umbu sangat senang dengan pemuatan itu dan mendatangi saya secara khusus di SMK sekitar jam sepuluh, malam Minggu. Kebetulan waktu itu saya sedang asyik diskusi puisi dengan Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana dan beberapa kawan lain, Umbu tiba-tiba muncul di pintu sanggar dan menjulurkan sebuah tas kresek kecil pada saya. “Jengki, ini nasi Republika, nasi khusus untuk kamu! Makanlah!” ujarnya sambil ketawa senang. Tentu saja saya kaget dengan hadiah mendadak itu, apalagi yang memberikan orang sekaliber Umbu yang telah menjadi mitos itu. Teman-teman lain yang sudah paham kebiasaan Umbu hanya ketawa-ketawa kecil. Pembicaraan pun beralih pada puisi-puisi yang dimuat Republika itu. Belakangan saya tahu kalau nasi bungkus itu merupakan jatah makan malam Umbu dari Bali Post yang memang khusus dibawakan untuk saya karena berhasil menembus media nasional. Biasanya Umbu setiap hari Sabtu bekerja hingga malam di Bali Post untuk mempersiapkan rubrik sastra yang terbit setiap Minggu. Di luar hari Sabtu itu kami tidak pernah tahu Umbu berada di mana. Dia punya banyak tempat persinggahan yang selalu dirahasiakannya.</p>
<p>Lelaki yang bernama lengkap Umbu Wulang Landu Paranggi itu merupakan cucu salah seorang raja Sumba. Umbu dilahirkan di Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1945. Yogyakarta merupakan tempat kelahiran kedua bagi Umbu. Kota Yogya telah membuat Umbu jatuh hati, yang dalam istilahnya, seakan rata dengan tanah. Jalan Malioboro dan barisan pohon cemara di depan kampus UGM adalah tempat yang paling berkesan bagi Umbu selama di Yogya. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya di Sumba, Umbu ingin melanjutkan sekolah di Taman Siswa Yogya, tapi terlambat karena pendaftaran telah ditutup. Akhirnya Umbu meneruskan sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta.</p>
<p>Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur dan seringkali menelantarkan pelajaran lainnya. Di sekolah Bopkri itu pula Umbu menemukan  seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian, Ibu Lasia Sutanto, guru Bahasa Inggris.  Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Umbu sendiri tidak mengerti, yang istilah Umbu entah setan atau dewa apa yang menyebabkannya begitu. Padahal Umbu sudah ditegur beberapa kali karena dianggap mengganggu jalannya pelajaran dan konsentrasi teman-temannya di kelas. Akhirnya karena jengkel dengan ulah Umbu, kawan-kawannya mendesak Ibu Lasia agar menghukum Umbu membaca puisi di depan kelas. Ibu Lasia berpikir dan merenung, kemudian memutuskan bahwa nanti kalau puisi Umbu sudah dimuat koran, baru dikritik. Ibu guru yang pernah menjadi Menteri Peranan Wanita pertama RI itu kemudian memasukkan puisi Umbu ke laci mejanya, dan pelajaran pun kembali berjalan. Tapi Ibu Lasia penasaran juga dengan apa yang ditulis Umbu, puisi itu dikeluarkan lagi dari laci mejanya, dimasukkan lagi, dikeluarkan lagi, begitu seterusnya. Mungkin saat itu Umbu berpikir bahwa Ibu Lasia berminat pada karyanya dan memberikan angin segar bagi proses kreatifnya. Sebab semestinya Umbu pantas dihukum karena sudah beberapa kali melanggar aturan kelas. Sejak itulah Umbu rajin menulis puisi dan kemudian dimuat di beberapa koran.</p>
<p>Tamat dari Bopkri, ibunya menginginkan Umbu melanjutkan kuliah ke fakultas Kedokteran Hewan, tapi Umbu menolak dengan alasan dia lemah dalam pelajaran Ilmu Alam. Diam-diam Umbu kemudian melanjutkan kuliah di Fisipol UGM jurusan Ilmu Sosiatri dan di Universitas Janabadra jurusan Sosiologi.</p>
<p>Di Yogya, sejak tahun 1950-an, Umbu sudah menulis puisi dan esai. Tetapi puisinya jarang yang menonjol dan menarik perhatian para kritikus sastra. Perannya dalam perkembangan puisi Indonesia modern adalah sebagai bidan bagi kelahiran penyair-penyair muda yang kelak menguasai dunia perpuisian mutakhir di Indonesia. Pada tahun 1968, di Yogya, bersama penyair Suwarna Pragolapati, Iman Budi Santosa, dan Teguh Ranusastra Asmara, Umbu membidani dan mengasuh Persada Studi Klub (PSK) yang menguasai rubrik puisi di Mingguan Pelopor Yogya. Komunitas sastra itu kemudian melahirkan nama-nama besar, seperti Emha Ainun Najib, Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Yudistira Adi Nugraha. Umbu pun dikenal sebagai Presiden Malioboro dan penyair yang punya bakat mendidik.</p>
<p>Di Yogya-lah Umbu mengawali petualangan batinnya. Dia seperti kuda Sumba yang gampang-gampang susah dikendalikan. Keyakinannya pada puisi seperti angin sabana, mengalir terus tanpa ada yang mampu menahannya. Darah petualang, puisi dan angin sabana pula yang membuat Umbu terdampar di Tanah Dewata, yang mungkin menjadi tujuan terakhir pengembaraannya.</p>
<p>Umbu yang menetap di Bali sejak tahun 1979 selalu punya cara-cara unik untuk menggairahkan dunia perpuisian dan membangkitkan gairah apresiasi sastra. Dia membuat jadwal pertemuan rutin, kunjungan ke semua kabupaten untuk mengadakan apresiasi puisi, atau dengan sentuhan-sentuhan pribadi yang membuat anak-anak muda merasa berada dalam sebuah ikatan keluarga besar. Di Bali, pada era 1980-an dan 1990-an Umbu mengklasifikasikan puisi-puisi yang dimuat di ruang sastranya ke dalam 4 kelas, yakni: kelas “Pawai” bagi pemula yang baru belajar menulis puisi, kelas “Kompetisi” bagi penyair yang cukup gigih mengirim puisi ke gawangnya dan siap diadu dengan penyair lain yang selevel, kelas “Kompro” atau “Kompetisi Promosi” bagi penyair yang telah lolos dalam sejumlah babak kompetisi dan siap diadu di luar kandang, kelas “Posbud” atau “Pos Budaya” bagi penyair yang telah dianggap handal menggoreng dan menendang bola kata-kata ke gawangnya hingga gol. Umbu menggunakan berbagai cara untuk menggugah kepercayaan diri penyair Bali, salah satunya Umbu pernah mencantumkan besar-besar slogan “Posbud = Horison” di ruang sastranya. Artinya puisi-puisi yang berhasil masuk kelas Posbud kualitasnya dianggap sama dengan puisi-puisi yang dimuat Majalah Sastra Horison. Tapi efeknya pada era itu karya penyair Bali jarang yang muncul di media nasional karena mereka sudah merasa puas setelah menembus Posbud di ruang Umbu. Belakangan muncul kelas “Solo Run” bagi penyair yang karyanya ditampilkan tunggal dalam satu halaman penuh koran. Dan tentu saja ini kelas yang sangat sulit ditembus penyair.</p>
<p>Sistem yang dibuat Umbu itulah yang bikin para penyair muda Bali “mabuk kepayang” dan tergila-gila menulis puisi. Apalagi pada setiap kesempatan pemuatan puisi-puisi kelas Pawai dan Kompetisi, Umbu rajin mengontak dan menggoda para penyair muda lewat kata-kata yang membakar semangat untuk berkarya lebih bagus. Seringkali dibarengi dengan pemuatan foto para penyair yang dikontak Umbu lewat kolom kecil bertajuk “Stop Press.” Anak muda yang awalnya tidak suka puisi pun jadi ikut-ikutan menulis puisi, mungkin karena ada keinginan fotonya dimuat Umbu. Bahkan kelas Pawai dan Kompetisi pun terbagi menjadi sejumlah angkatan yang beranggotakan 5-10 penyair muda. Saya masuk dalam penyair “Kompetisi Angkatan Ke-17”.</p>
<p>Kegemaran Umbu menonton sepak bola mengilhaminya membuat sistem unik untuk ruang sastranya, seperti konsep pos pawai, kompetisi, solo-run. Sistem seperti itu ternyata berhasil menggugah anak-anak muda di Bali untuk bersastra dan berkompetisi menunjukkan karya yang paling unggul. Apalagi Umbu juga memuat esai-esai dan kritik puisi dari para penulis muda itu. Rubrik sastra Umbu yang unik dan meriah itu pun menjadi ruang polemik sastra (puisi) di antara mereka. Penyair A mengomentari karya penyair B, penyair C membantai puisi penyair D, penyair E membela penyair D, begitu seterusnya. Saya rasa pada era itu ada seratusan penyair di Bali yang berebutan menendang bola kata-kata ke gawang Umbu. Dan Umbu adalah penjaga gawang yang bertangan dingin menangkap bola demi bola kata itu.</p>
<p>Pada era 2000-an, Umbu mengubah konsep rubriknya menjadi “Posis” atau “Pos Siswa” sebagai ruang untuk menampung tulisan-tulisan dari para siswa, “Posmas” atau “Pos Mahasiswa” bagi tulisan-tulisan dari mahasiswa, dan “Pos Solo Run” bagi penulis yang tampil tunggal. Umbu juga menyediakan ruang bagi para guru yang suka menulis esai-esai pendek. Terkadang sejumlah puisi dan prosa berbahasa Bali pun dimuat di rubriknya sebagai bentuk perhatiannya pada sastra daerah.</p>
<p>Pada Agustus 1995, SMK bubar karena suatu permasalahan intern. Saat itu SMK menjelang perayaan ulang tahun ke-10. Banyak anggota SMK yang merasa kehilangan tempat berkumpul. Mereka tercerai-berai dan tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Umbu yang suka menyambangi para penyair yang berkumpul di SMK juga merasa terpukul dan kehilangan. Sanggar yang berlokasi di jantung Kota Denpasar itu merupakan tempat yang ideal dan romantis bagi Umbu karena berdekatan dengan Pasar Kumbasari yang buka 24 jam. Mungkin Umbu terkenang Pasar Beringharjo di Yogya saat dia dulu mengembalakan penyair-penyair muda Yogya.</p>
<p>Di pasar Kumbasari itulah Umbu suka mengajak para penyair muda Denpasar menyelami kehidupan yang sebenarnya dan membuka hati pada rakyat kecil yang bekerja membanting tulang hingga dinihari. Umbu suka memperhatikan kesibukan ibu-ibu pedagang sayur, gadis-gadis buruh junjung, pedagang nasi jenggo, kusir dokar dan kegiatan rakyat jelata lainnya. Kadangkala Umbu mengajak penyair-penyair muda pesta soto babad di sudut pasar itu sambil ngobrol ngarol-ngidul dan memperhatikan kesibukan pasar. Apalagi kalau purnama bercahaya indah menghiasi langit malam Denpasar, Umbu akan terkenang lagu “Denpasar Moon” yang dinyanyikan Maribeth. Umbu memang penyair romantis. Pernah suatu kali dia mengajak saya dan beberapa kawan penyair melihat bulan terbit di tepi sawah di ujung timur Kota Denpasar sambil nongkrong di warung kopi tepi jalan. Dia berseru kegirangan ketika bulan bulat merah muncul perlahan dari sawah yang berbatasan dengan laut Sanur itu. Kami duduk berlama-lama di sana sampai bulan merambat tinggi.</p>
<p>Setahun setelah SMK bubar, kami menggunakan sebuah rumah kecil di Jalan Bedahulu, di sudut utara Kota Denpasar, sebagai markas. Pada awalnya rumah itu ditempati oleh Nuryana Asmaudi, Raudal Tanjung Banua dan Riki Dhamparan Putra atas kemurahan hati seorang anggota keluarga Puri Kesiman yang memiliki rumah itu. Saat itu Raudal dan Riki baru setahun tinggal di Bali. Saya sering berkunjung ke rumah itu bersama kawan-kawan seniman, ngobrol ngarol ngidul hingga menjelang dinihari. Di depan rumah itu ada tegalan tak terurus yang ditumbuhi rumpun bambu, di sebelahnya ada sungai kecil dan masih dekat dengan persawahan. Seringkali angsa-angsa peliharaan tetangga memecah keheningan malam dengan lengking suaranya. Suatu kali Umbu datang ke sana dan langsung jatuh cinta dengan tempat itu.  Umbu memberi nama tempat itu “Intens-Beh” yang merupakan akronim dari “Institut Tendangan Sudut Bedahulu”. Dia mengkavling sebuah kamar kosong yang kadang-kadang saja ditempatinya. Seniman-seniman muda suka berkumpul di sana, diskusi, ngobrol kebudayaan, baca-baca puisi, merayakan ulang tahun teman, main gitar, pacaran, ngrumpi. Di tempat itulah saya mengenal Umbu lebih dekat dan akrab, mendengar petuah-petuahnya, konsep-konsepnya tentang dunia perpuisian.</p>
<p>Jauh sebelum Umbu memindahkan “pusat pemerintahan” ke padepokan Intens-Beh, Umbu dikenal sebagai penyair yang berumah di atas angin. Tak seorang pun tahu di mana tempat tinggal tetapnya. Di mana Umbu suka, di situlah rumah baginya. Dia jarang mau datang ke acara-acara kesenian, meski diundang secara khusus. Tapi dia akan muncul tiba-tiba ketika acara itu menarik perhatiannya, atau hanya mengamati jalannya acara dari jarak yang jauh atau dari balik kegelapan. Pernah seorang kawan penyair mencoba membuntuti Umbu berharap menemukan tempat persembunyiannya, tapi kawan itu kehilangan jejak ketika Umbu tiba-tiba membelok di sebuah tikungan. Dia seperti tahu sedang dibuntuti. Kebiasaan Umbu ini tercermin dalam salah satu baris puisinya: sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.</p>
<p>Umbu memiliki banyak tempat persinggahan di Bali. Hampir di setiap kabupaten ada kawan akrab Umbu yang menyediakan ruang khusus bagi tempat semayamnya. Umbu suka muncul tiba-tiba di tempat-tempat persinggahannya itu dan biasanya dia akan diladeni secara khusus. Kalau sudah begitu Umbu benar-benar mirip seorang raja yang sedang melakukan kunjungan ke bawahannya. Biasanya kawan yang dikunjungi Umbu merasa mendapat kehormatan menjamu tamu istimewa itu. Sejumlah anak muda yang tertarik pada puisi kemudian berkumpul di tempat itu dan dengan takzim mendengar petuah-petuahnya tentang dunia puisi dan pentingnya puisi bagi pertumbuhan mereka. Tidak hanya itu, Umbu juga memotivasi mereka akan pentingnya komunitas sastra yang mampu mewadahi aspirasi dan kreativitas mereka. Maka bermunculanlah sanggar-sanggar sastra dan kelompok-kelompok teater yang dimotivasi Umbu. Kota Negara di Jembrana dan Singaraja pernah ramai dengan komunitas-komunitas kecil dan kegiatan sastra dan teater yang tidak bisa dilepaskan dari peranan Umbu.</p>
<p>Umbu juga menggairahkan kehidupan bersastra di sejumlah pelosok desa di Bali, seperti Desa Marga di Tabanan. Biasanya Umbu bekerjasama dengan seniman-seniman yang dipercayainya di tempat itu untuk membuat kegiatan-kegiatan apresiasi sastra dan sebagainya. Dan tentu saja Umbu tidak pernah kekurangan orang untuk melakukan kerja-kerja kesenian kayak itu, meski tanpa bayaran. Mereka dengan senang hati dan terhormat mengikuti petunjuk-petunjuk Umbu.</p>
<p>Umbu bukan tipe redaktur sastra yang hanya duduk di belakang meja. Dia menjalankan konsep “turba” atau “turun ke bawah” dengan senang hati dan keyakinannya pada jalan puisi. Yang paling membahagiakan jiwanya adalah puisi mampu merasuki jiwa generasi muda dan bisa menjadi pelengkap hidup mereka. Tidak ada keinginan Umbu mencetak mereka menjadi pasukan penyair, sebab dunia kepenyairan adalah pilihan sadar dalam kehidupan. Yang terpenting bagi Umbu adalah membekali generasi muda dengan puisi sehingga lahir dokter yang berwawasan puisi, insinyur yang paham puisi, dan sebagainya. Sebab puisi bagi Umbu adalah empati dan simpati pada kehidupan dalam maknanya yang sangat luas. Bagi Umbu, puisi adalah kehidupan dan kehidupan adalah puisi. Penyair Bali generasi 1980-an, 1990-an, 2000-an, rata-rata pernah bergesekan dengan vibrasi Umbu, meski tidak semuanya lantas menjadi penyair yang dikenal di tingkat nasional. Cara Umbu memperkenalkan mereka pada puisi dan juga kesenian kini seringkali menjadi klangenan dalam obrolan para mantan penyair yang kebanyakan telah menjadi orang penting di Bali.</p>
<p>Umbu memang termasuk orang yang susah ditemui dan dilacak jejaknya. Dia akan segera menghilang jika ada tamu istimewa yang mencarinya. Emha Ainun Najib beberapa kali gagal bertemu Umbu, padahal Emha adalah murid kesayangan Umbu saat di Yogya. Umbu menghindari Emha adalah semata-mata untuk menjaga rasa kangennya dengan Emha dan Yogya. Taufik Ismail pun gagal bertemu Umbu ketika penyair Horison itu berkunjung ke Bali. Pendek kata, banyak sastrawan berkelas nasional yang ingin bertemu Umbu, tapi Umbu selalu menghilang, menghindari pertemuan. Pertemuan akan terjadi hanya karena dua sebab: Umbu memang ingin bertemu dan Umbu dijebak.</p>
<p>Jika Umbu ingin bertemu dia akan mengontak orang itu secara khusus lewat telepon atau lewat kurir kepercayaannya dan tempat pertemuan pun telah disiapkan. Atau Umbu akan datang tiba-tiba nyamperin orang yang ingin ditemuinya. Pertemuan juga bisa terjadi secara terpaksa karena Umbu dijebak. Ada cerita menarik tentang hal ini. Karena kebelet ingin bertemu Umbu, Emha pernah menjebak Umbu di rumah Hartanto, seorang kawan dekat Umbu. Hartanto tidak tega melihat Emha yang uring-uringan ingin ketemu gurunya itu dalam sebuah kunjungannya ke Bali. Hartanto kemudian memancing Umbu keluar dari sarangnya dengan umpan sop ikan kesukaan Umbu. Tentu dengan senang hati Umbu datang ke rumah Hartanto. Di meja makan Emha telah menunggu dengan rasa kangen yang amat sangat. Umbu pun tidak bisa lari. Mungkin pintu ruangan juga telah dikunci dari luar oleh Hartanto. Konon, Emha dan Umbu hanya saling berdiam diri, masing-masing seperti mengukur dan menakar perasaan.</p>
<p>Pergaulan di Tensut-Beh menjadi kenangan tersendiri bagi saya, terutama ketika berhadapan dengan sosok Umbu. Meski Umbu lebih suka berdiam diri dan hening, dia termasuk sosok pribadi yang sederhana dan hangat. Pada masa-masa Umbu betah di Tensut-Beh, kami biasa berdiskusi berbagai macam persoalan, mulai dari dunia kesenian, mutu puisi mutakhir, persoalan politik bangsa, hasil pertandingan bola, kegiatan mahasiswa, sampai persoalan remeh temeh lainnya, seperti gosip penyair, pacar penyair, menu masakan dan merek rokok kesukaannya. Biasanya Umbu akan bicara atau berkomentar jika dipancing duluan. Dan ada saja di antara kami yang memancing Umbu bicara tentang suatu pokok persoalan. Biasanya kami ngobrol sambil menunggu makan malam disiapkan oleh penghuni tetap Tensut-Beh, yakni Mas Nuryana. Mas Nur, begitu panggilan Nuryana, selain sebagai penulis dikenal juga jago masak. Dia paling banyak tahu masakan kesukaan Umbu, seperti sayur daun pepaya, daun singkong, jukut (sayur) gonde, nasi beras merah. Dan kami tidak pernah kekurangan makanan. Ada saja yang membawa oleh-oleh buat Umbu. Beras merah dan sayur gonde dibawa dari Marga, Tabanan, oleh seorang kawan dari sana. Daun pepaya dan singkong dipetik langsung dari kebun belakang rumah. Habis makan malam obrolan kembali sambung menyambung ditemani kopi dan rokok, bahkan sering sampai dinihari. Umbu sangat kuat merokok, sama kuatnya dengan kebiasaannya duduk berjam-jam beralaskan kardus bekas plat koran yang dibawanya dari Bali Post. Dia hanya akan berdiri jika mau kencing atau masuk kamarnya. Dengan beralaskan kardus itu pula kami merebahkan diri di lantai karena mata letih. Masing-masing penghuni Tensut-Beh memiliki satu lembar kardus yang dihadiahi Umbu, lengkap dengan memo dan tanda tangannya. Biasanya ada saja kawan yang mampu menemani Umbu ngobrol sampai dinihari, sementara kawan-kawan lain tergeletak dan ngorok di lantai.</p>
<p>Umbu suka minum bir. Biasanya ada saja kawan yang membawakan bir untuknya. Kemudian bir itu dibagi-bagikan kepada kami. Seorang kawan pecinta sastra yang bekerja sebagai bar tender kadangkala juga membawakan sisa-sisa minuman mahal untuk Umbu dan kami. Di Tensut-Beh kami seperti keluarga besar dengan Umbu sebagai “God Father”-nya. Ada saja tamu-tamu yang datang khusus untuk menemui Umbu di sana. Kalau Umbu tidak berkenan bertemu biasanya dia akan ngumpet seharian di kamarnya, tentu sambil menahan kencing. Dia akan nongol lagi jika tamu itu sudah pergi, kadangkala sambil menenteng botol aqua yang berisi air seni.</p>
<p>Kamar Umbu di Tensut-Beh tidak pernah terbuka lebar, selalu tertutup. Kordennya juga ditutup rapat-rapat. Karena penasaran, saya pernah mengintip kamarnya dari kisi-kisi lubang angin. Luar biasa! Samar-samar saya melihat seni instalasi. Lembaran kardus bekas plat koran dan tikar bersusunan membentuk kasur. Di samping kasur-kardus, koran bekas bertumpuk-tumpuk seperti benteng. Di sela-sela “benteng koran” itu, kertas-kertas yang mungkin berisi berkas-berkas puisi dan catatan-catatan kecil juga bersusunan. Umbu suka bersila berlama-lama di depan berkas-berkas itu sampai tiba jam makan. Botol-botol plastik kosong bekas air mineral berjejer rapi di pinggir dinding kamar Umbu. Yang menggelikan kamar yang berukuran kira-kira 3 x 4 meter itu dibelah oleh seutas tali nilon tempat Umbu menggantung pakaian-pakaiannya dan tas-tas kresek yang entah berisi apa. Umbu menata kamarnya dengan sangat rapi dan unik.</p>
<p>Umbu sangat memperhatikan kesehatan. Setiap bangun tidur, hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, topi pet dipakai terbalik, dia akan langsung ke belakang sambil menggigit tangkai sikat gigi. Umbu paling cemas dan menjadi sangat pemurung jika mendengar kabar kematian, apalagi yang menimpa sahabat-sahabat dekatnya. Bahkan dia sangat cemas berboncengan dengan sepeda motor. Saya pernah memboncengnya dengan motor butut Suzuki RC 80 yang doyan mogok. Karena badannya yang berat tentu saja motor saya oleng memboncengnya. Dengan nada suara cemas dia wanti-wanti mengingatkan saya agar pelan-pelan dan hati-hati. Dalam hati saya tertawa geli, saya tidak sadar kalau sedang membonceng seorang keturunan raja yang sangat dihormati dalam dunia perpuisian.</p>
<p>Sebagai penyair, karya-karya Umbu tidak terlalu banyak dan tidak begitu dikenal luas. Dia lebih dikenal sebagai seorang pendidik, guru puisi, motivator, “provokator kegiatan sastra”, pencari bakat penyair, sahabat dan ayah yang tulus. Dia sangat jarang mempublikasikan karya dan terkesan menghindar dari publisitas. Pernah pengurus salah satu penerbit besar di Jakarta datang menemuinya ke Bali karena ingin mengumpulkan dan membukukan seratus puisinya. Umbu menyanggupi. Tapi sampai sekarang Umbu tidak pernah menyetorkan puisi-puisinya ke penerbit tersebut.</p>
<p>Sepertinya, Umbu menulis puisi hanya untuk dirinya sendiri. Puisi-puisi tersebut tersimpan rapi dalam map-mapnya dan mungkin tak seorang pun pernah melihatnya. Segelintir puisi Umbu hanya bisa ditemui dalam beberapa buku kumpulan puisi bersama, seperti “Tonggak” yang dieditori Linus Suryadi AG, “Bonsai’s Morning”, “Teh Ginseng.”  Dalam rangka memasyarakatkan puisi-puisi Umbu, penyair Tan Lioe Ie yang juga seorang mantan penyanyi pub mengaransemen sejumlah puisi Umbu menjadi karya musikalisasi puisi dan telah terkumpul dalam sebuah album sederhana berjudul “Kuda Putih.”</p>
<p>Pembicaraan mengenai sosok Umbu tidak akan pernah habis. Hampir setiap seniman yang pernah bersentuhan dengan Umbu, akan mempunyai kenangan dan cerita tersendiri tentang Umbu. Kalau cerita-cerita itu dikumpulkan tentu akan menjadi sebuah buku yang cukup tebal. Umbu memang sosok manusia yang langka dan unik. Kecintaannya pada dunia puisi seakan melebihi segalanya. Hal itu tercermin dalam salah satu baris puisinya yang berjudul “Melodia”: cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan, karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.***<br />
(Bali, 30 Maret 2007)<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2007/11/19/serpih-serpih-kisah-bersama-umbu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
